Islam dan Majapahit (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Meskipun telah hidup di zaman baru dan penyelidik sejarah sudah lebih luas daripada dahulu, masih banyak juga orang yang mencoba memutarbalikkan sejarah. Satu di antara pemutarbalikan itu ialah dakwaan setengah orang yang lebih tebal rasa rindunya daripada Islamnya, berkata bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam. Padahal bukanlah begitu kejadiannya. Malahan sebaliknya. Continue reading

Usaha Kedua Kali Merebut Malaka (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Awal Abad Kedelapan Belas

Kekuasaan Kompeni Belanda telah bertambah besar. Satu persatu Kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Indonesia ini telah dilemahkan. Kerajaan Mataram pusaka Sultan Agung, Kerajaan Banten pusaka Sultan Hasanuddin demikianpun yang lain-lain. Tidaklah dapat lagi naik takhta kerajaan. Tinggallah sebuah Kerajaan Melayu yang masih besar dan berkuasa penuh, yaitu di Kepulauan Riau. Kerajaan Riau di abad kedelapan betas adalah seakan-akan Kaisar Melayu. Dia meliputi Johor, Lingga, Pahang, Terenggano, Indragiri dan Kampar. Bahkan Sultan-sultan Melayu, terutama Kalimantan Barat pun mengakui pertalian adat istiadat ke Riau. Seumpama Mempawah, Sambas, Sukadana, Matan, Sanggau. Dan seketika Syarif Abdurrahman keturunan bangsa Said Al Qadri Jamalul Lail mendirikan Kerajaan Pontianak, adalah memohonkan kebesaran ke Riau juga. Continue reading

Dekat Malaka Akan Jatuh (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Masyhurlah nama Malaka di akhir abad kelimabelas, sebagai sebuah negeri besar di sebelah Timur ini. Dia terletak dan berdiri di antara dua Kerajaan Besar yang megah, yaitu Cina dan Hindustan. Dan Hindustan ketika itu diperintah oleh raja-raja keturunan Afghanistan Islam. Continue reading

Federalisme, Unitarisme, dan Kedaulatan Rakyat yang Saling Menimpa

Beda federalisme/persatuan dan unitarisme/kesatuan:

Federalisme: wilayah-wilayah beserta manusia beserta teritorinya, juga aturan main (tertulis atau tak tertulis) dalam kehidupannya, sudah ada terlebih dahulu. Wilayah ini kemudian masuk ke dalam suatu wilayah yang lebih besar. Tujuan penggabungan ini umumnya untuk bekerjasama dalam mencapai taraf kehidupan yang lebih baik. Karena sudah ada lebih dahulu, maka ia besifat otonom. Daulatnya tak lepas. Pada wilayah yang lebih besar itu ia pun mendelegasikan sejumlah kewenangan untuk diurus oleh pengurus/pemerintah wilayah besar itu. Continue reading