Usaha Kedua Kali Merebut Malaka (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Awal Abad Kedelapan Belas

Kekuasaan Kompeni Belanda telah bertambah besar. Satu persatu Kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Indonesia ini telah dilemahkan. Kerajaan Mataram pusaka Sultan Agung, Kerajaan Banten pusaka Sultan Hasanuddin demikianpun yang lain-lain. Tidaklah dapat lagi naik takhta kerajaan. Tinggallah sebuah Kerajaan Melayu yang masih besar dan berkuasa penuh, yaitu di Kepulauan Riau. Kerajaan Riau di abad kedelapan betas adalah seakan-akan Kaisar Melayu. Dia meliputi Johor, Lingga, Pahang, Terenggano, Indragiri dan Kampar. Bahkan Sultan-sultan Melayu, terutama Kalimantan Barat pun mengakui pertalian adat istiadat ke Riau. Seumpama Mempawah, Sambas, Sukadana, Matan, Sanggau. Dan seketika Syarif Abdurrahman keturunan bangsa Said Al Qadri Jamalul Lail mendirikan Kerajaan Pontianak, adalah memohonkan kebesaran ke Riau juga.

Nyaris Kerajaan Riau itu padam kebesarannya karena peperangan sesama sendiri, tatkala Raja Kecil dari Siak menyerang Riau, Lingga dan Johor.

Maka datanglah lima orang anak-anak Raja Bugis dari Luwuk, mengembara di perairan Selat Malaka. Mereka adalah pahlawan-pahlawan perang yang gagah berani. Mereka tolong Raja Riau mengalahkan Raja Kecil. Lalu mereka menjadi “Jamtuan Muda “di Riau. Jabatan Jamtuan Muda adalah sebagai Perdana Menteri yang berkuasa penuh, dan Sultan di Riau tetap menjadi lambang Kerajaan.

Jamtuan Muda Riau pertama Daeng Marewah (wafat 1728) yang kedua Daeng Celak (wafat 1795), yang ketiga Daeng Kamboja (wafat 1777), dan yang keempat adalah Raja Aji putera dari Jamtuan Kedua Daeng Celak.

Pada zaman Raja Aji inilah Kerajaan Melayu mencapai kemajuan dan kebesarannya. Dan bercampurlah darah Bugis dan darah Melayu, yang akan menjadi dasar teguh kelaknya dari apa yang sekarang kita namai Kebangsaan Indonesia! Dan berusahalah alim ulama mengisi Kebudayaan Melayu dengan Agama Islam.

Dengan Kompeni Belanda mereka membuat perjanjian persahabatan. Berulang-alihlah utusan kerajaan ke Jakarta dan ke Malaka, perniagaan menjadi subur dan Belanda berjanji tidak akan mengganggu bangsa Melayu dengan adat istiadat dan agamanya. Bangsa Melayu pun memegang teguh suatu janji, bahwasanya musuh Kompeni Belanda adalah musuh Melayu, dan musuh Melayu adalah musuh Kompeni. Rugi tanggung kedua dan keuntunganpun dibagi berdua.

Pada suatu hari masuklah kapal dari “musuh bersama” ke daerah Riau, yaitu kapal Inggris. Kekayaan pada kapal itu amat banyak. Datang Angkatan Kompeni dari Malaka, diambilnya rampasan itu semuanya dan tidak dibaginya.

Raja Aji keberatan, karena itu adalah pelanggaran janji. Diutusnya satu delegasi ke Malaka, menuntut dibicarakan tentang janji yang telah diperbuat itu, dan minta diserahkan separo dari rampasan kapal itu. Tetapi Belanda tidak mau menerimanya.

Amat murkalah Raja Aji atas janji yang tidak dihargai itu. Kabarnya konon, surat-surat perjanjian itu dirobek-robeknya karena sangat murkanya.

Karena persahabatan telah berganti dengan permusuhan, Kompeni pun mendapat kesempatan yang baik menyerang Riau (1783). Dan Raja Aji deirgan balatentara dan pahlawannya mempertahankan Riau dengan gagah perkasa. Sembilan bulan lamanya berperang. Pusat pertahanan tempat mengatur komando perang ialah pulau kecil yang terletak di hadapan Tanjung Pinang sekarang itu, pulau Penyengat.

Dahsyatlah peperangan itu. Terpadulah gagah perkasa Melayu dengan Bugis mempertahankan daulat kebesarannya. Gegap gempitalah bunyi meriam “lelarentaka” dari kedua belah pihak, banyaklah pahlawan yang gugur. Tetapi setelah berperang sepuluh bulan lamanya, Belanda terpaksa mundur ke Malaka, karena beberapa buah kapal perangnya telah tenggelam. Dan terpeliharalah kemerdekaan Riau dan kebesarannya.

Dapatlah suku-suku bangsa kita menarik nafas dan bersyukur kepada Tuhan, karena kemenangan itu. Tetapi ada juga Kerajaan-kerajaan Melayu itu yang dengki, karena mereka merasa akan turunlah kedaulatannya jika Riau beroleh kemenangannya dan akan “terjaminlah” kekuasaannya di atas tanahnya yang setumpak kecil, oleh Kompeni Belanda, jika mereka memisahkan diri dari Riau!

Selangor adalah bertetangga dengan Malaka. Raja di sanapun (Raja Ibrahim) anak saudara dari Jamtuan Muda Riau, merekapun keturunan Bugis. Kemenangan Riau mempertahankan diri dari serangan Belanda di Malaka, membuat semangat mereka naik buat meneruskan tantangan kepada Belanda. Merekapun bersedia melanjutkan serangan merebut Malaka dan mengusir Belanda. Lalu mereka minta Raja Aji datang sendiri ke pantai Selat Malaka, supaya mengepung Belanda dari setiap jurusan.

Ada juga orang besar-besar Riau menasihatkan supaya Jamtuan Muda mengurungkan maksudnya. Tetapi karena keras permintaan Raja Selangor, Raja Aji mengabulkannya juga.

Maka mendaratlah tentara Melayu dari Riau itu di Teluk Ketapang, sebelah Selatan dari kola Malaka. Di sanalah beliau membuat pertahanan yang kuat, Sultan Riau, Sultan Mahmud Syah ikut dalam peperangan itu.

Terjadilah kembali peperangan yang hebat, tiga bulan lamanya. Tetapi sayang sekali, karena beberapa Raja Melayu yang lain, sebagai Terenggano dan Siak telah berpihak kepada Kompeni. Dan orang Melayu yang dalam negeri Malaka sendiri, demikian juga orang Bugis dan orang Jawa dibujuk oleh Belanda supaya berdiri di pihak mereka, dengan rayuan janji-janji yang muluk.

Sungguhpun segala kekuatan telah dikerahkan Belanda buat menentang serangan itu dan mempertahankan diri, sangat lah dahsyat serangan pahlawan Melayu Bugis itu, dengan dibantu oleh saudaranya Raja Ibrahim Selangor. Satu persatu negeri-negeri keliling Malaka itu telah jatuh ke tangan beliau. Bahkan telah masuk ke dalam negeri Malaka sendiri, sehingga Belanda hanya dapat bertahan dalam bentengnya. Sehingga sudah ada usaha hendak memindahkan segala bangsa Belanda orang preman, perempuan dan anak-anak ke tempat lain yang lebih aman. Sebab bantuan dari Jakarta belum juga datang. Serangan Raja Aji kian lama kian dahsyat.

Cucu Raja Aji, Pujangga dan Ulama yang terkenal, yaitu Raja Ali Al Haji, bin Angku Raja Ahmad Al Haj, bin Raja Aji, mengarang buku “Tuhfat an Nafis”, tentang silsilah raja-raja Melayu dan Bugis, mengisahkan hikayat perang Raja Aji itu dengan hidupnya. Bilamana hari siang beliau sendiri yang memimpin peperangan, menyerang dan mengepung kota Malaka. Bilamana hari telah malam, beliau asyik mendengarkan fatwa Ulama yang turut dalam angkatan perang itu. Setiap malam Jum’at, beliau mengadakan wirid membaca kitab “Dadail al Khairat “, ucapan puji-pujian kepada Rasulullah s a w.

Pengepungan yang dahsyat atas kola Malaka itu amat menggegerkan kekuasaan Belanda, baik di Jakarta ataupun di negeri Belanda sendiri. Perang yang tadinya sangat diabaikan. Tetapi seorang Raja Melayu raja, mula telah nyata pertahanan di Malaka sudah tidak berupaya lagi, dikirimlah bantuan yang amat besar, terdiri daripada duapuluh kapal dan beribu-ribu serdadu dari Jawa. Sayang sekali sebagian besar serdadu itu adalah bangsa Indonesia juga!

Mereka masuk dari jurusan laut, pendaratan yang paling hebat adalah di Teluk Ketapang sendiri. Beribu-ribu serdadu Belanda masuk mengepung Teluk Ketapang, tempat pertahanan Raja Aji. Kian lama kian mendesak. Panglima-panglima perang Melayu dan Bugis bertahan dengan gagah beraninya, dalam peperangan yang tidak seimbang.

“Maka Arung Lenga pun memacu kudanya, padahal ia tengah sakit, keluarlah dia menempuh baris Belanda, lalu ia mengamuk. Maka matilah dia dengan kudanya, dan Belanda pun banyak juga yang akan membawa itu, meletus dan pecah sebelum berangkat. Muda itu oleh segala orang besar-besar Holanda itu, serta dengan serdadu-serdadunya. Maka mengamuklah pula Daeng Salekong dan Panglima Talebang serta Haji Ahmad. Maka ketiganya mengamuk menyerbukan dirinya kepada baris Holanda yang berlapis-lapis itu. Maka seketika dia mengamuk itu, matilah ia syahid fi Sabilillah ketiganya dengan nama laki-laki. Dan berapa lagi orang baik-baikpun syahid.”

– Demikian Raja Ali Haji mengisahkan hebatnya perang berkecamuk di hadapan benteng itu.

Raja Aji ada dalam benteng. Hati baginda tidak tahan lagi melihat pahlawan-pahlawan pilihannya gugur satu persatu di dalam penyerbuan yang dahsyat dan tidak seimbang.

Allahu Akbar! Tetapi anak cucu dan budak-budaknya, mencoba menahan dan memeluk baginda jangan pergi. Dengan keras beliau kuakkan segala halangan dan beliau tampil ke muka. Tetapi berlakulah kadar Allah, baru saja sampai di muka benteng itu, sedirus datangnya beratus-ratus peluru menembus dirinya dan gugurlah pahlawan Malaya Bugis itu dengan gagah perkasanya. Badik masih di tangan kanannya dan Dalailul Khairat masih di tangan kirinya.

Dengan itu berhentilah perang! Menanglah Belanda. Seluruh orang-orang besar Belanda yang hadir waktu itu semuanya membuka topi memberi hormat kepada Raja Besar dan Pahlawan Perkasa itu!

Besoknya Gubernur Belanda di Malaka meminta kepada orang-orang Malaya dan Bugis supaya jenazah Almarhum itu diurus dengan serba kebesaran. Setelah selesai lalu dimasukkan ke dalam peti mati. Niat Belanda hendak membawanya ke Jakarta, untuk menjadi ingatan sejarah yang besar. Tetapi tak jadi. Maka dikebumikanlah jenazah beliau di belakang kubu pertahanan Belanda. Setelah Malaka kemudiannya jatuh ke tangan Inggris, maka Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi ada menceriterakan bekas kuburan Raja Aji di belakang kubu itu.

Duapuluh lima tahun di belakang itu, anak cucu Raja Aji datang ke Malaka meminta izin untuk membawa tulang-tulang jenazah itu ke Riau, lalu mereka makamkan kembali di Pulau Penyengat sebelah Selatan.

Itulah Almarhum Raja Aji, Marhum Teluk Ketapang, “Asy Syahid fi Sabilillah “, salah seorang pahlawan besar bangsa Indonesia di abad kedelapan belas.

Kejadian ini pada tahun 1784. Dan bangsa Indonesia di Kepulauan Riau sekarang ini, bolehlah berbangga, karena di Riau pun ada pula pahlawan besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s