“Dongeng Kaum Tasawuf Mendewakan Raja (9) (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Raja-raja itu sendiripun telah berusaha mengisi jiwanya dengan Tasawuf, baik Tasawuf yang campur aduk, ataupun Tasawuf menurut Sunnah Nabi. Gunanya ialah untuk penambah “wibawa” dan kebesaran disertai kemurnian jiwa, sehingga beroleh kekuatan memerintah.

Kitab-kitab Tasawuf yang dalam-dalam disuruh menyalin ke dalam bahasa Melayu. Naskah- naskahnya yang asli disimpan dalam perbendaharaan istana. Guru-guru yang besar didatangkan dari luar negeri, baik dari tanah Arab atau dari India. Di zaman Sultan Iskandar Muda Mahkota ‘Alam Aceh berduyunlah guru-guru Tasawuf itu datang, sehingga di dalam abad ketujuh belas, masa pemerintahan beliau, perbendaharaan perpustakaan Islam menjadi kaya karena usaha demikian. Sampai terjadi pertikaian fikiran yang mendalam di antara golongan Hamzah Fansuri dengan golongan Nuruddin.

Sultan Daud Badaruddin Palembang menitahkan kepada Syekh Ahmad Kemas agar dia mengarangkan riwayat hidup dan ajaran dari Guru Tasawuf yang masyhur di Madinatul Munawwarah, bernama Syekh Mohammad Samman. Sampai kepada masa sekarang inipun wirid- wirid dan doa ajaran Syekh Samman itu masih menjadi pegangan ahli-ahli Tasawuf di negeri Palembang. Di dalam kitab itu ada tersebut bahwasanya apabila seseorang ditimpa oleh suatu bahaya, janganlah dipanggil nama Tuhan, karena doa dan seruan kita makhluk lemah ini tidaklah akan langsung kepada Tuhan, kalau tidak memakai perantaraan (wasilah), dan wasilah itu ialah Syekh Samman. Sebab itu panggillah “Ya Samman!”

Banyaklah raja-raja yang selalu didampingi oleh ahli Tasawtzf. Syekh Yusuf Taju’l Khalwati Makassar, menantu dari Sultan Ageng Tirtayasa Bantam, adalah ahli Tasawuf Tharikat Khalwatiyah yang telah mencapai derjat tertinggi, sehingga beroleh gelar “Taju’l Khalwati”.

Raja-raja Islam di Jawa amat mementingkan ajaran Tasawuf itu untuk memperkuat “wibawa”, sebagai kita katakan di atas tadi. Ada di antara Sultan-sultan itu yang melakukan puasa setiap hari Senin dan Kemis, mengerahkan “penghulu istana” menyuruhkan para santri membaca Surat-surat Yaasin dan doa-doa munajat dalam mesjid. Terutama malam Jum’ at.

Sultan Mohammad Yusuf, yaitu Sultan Riau yang dari keturunan Bugis itu, di ujung namanya menyuntingkan Tharikat yang baginda anut, yaitu “Al Khalidi”. Maka nama resmi beliau ialah Sultan Mohammad Yusuf “Al Khalidi” An Naqsyabandi. Untuk memperdalam pengalamannya dalam Tasawuf baginda pernah memasuki Suluk di bawah pimpinan Syekh Isma’il Al Minangkabawi, berasal dari Simabur Batusangkar dan berulang-ulang datang ke Riau Pulau Penyengat.

Sultan Langkat yang pertama, Sultan Musa Al Moazzam Syah dan puteranya Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmatsyah pun amat tertarik kepada kehidupan Tasawuf, sampai baginda itu mendatangkan guru besar Tharikat Naqsyabandi dan mengadakan sebuah kampung yang khusus untuk orang belajar Tharikat dan memasuki Suluk. Kampung itu sampai sekarang masih terkenal, yaitu kampung Besilam! Khabarnya konon kata Besilam itu berasal daripada “Babus Salam”.

Dalam Kerajaan Deli ada pula dua negeri yang menjadi negeri pusat kegiatan Tasawuf, yaitu negeri Bandar Khalifah dan negeri Firdaus.

Aru Mapanyuki, Raja Bone, bekas anggota Dewan Nasional dan sekarang telah menjadi Kepala Daerah kembali di Bone, dan salah seorang Raja di Bugis yang aktif bersama-sama Dr. Ratulangi melawan pemerintah Kolonial seketika perjuangan kemerdekaan di Indonesia Timur pun baginda itu adalah seorang penganut Tasawuf yang tekun.

Sampai sekarang dalam Kerajaan Goa Makassar masih dilakukan bacaan wirid setiap malam Jum’at, memohon berkat Allah dilimpahkan kepada Sultan Goa yang pertama yang berlantik gelaran “Awwalul lslam”, dan dilimpahkan pula rahmat berkat atas diri guru Islam yang mula-mula datang ke Makassar dari Minangkabau, Datuk Yang Bertiga. Datu Tiro, Datu Bandang dan Datu Patimang dan Syekh Yusuf Taju’l Khalwati.

Raja Minangkabau yang pertama, yaitu Yang Dipertuan Alif (pada tahun 1600), memakai nama kebesaran “ALIF”, pun pemakaian nama itu terang dan nyata sekali dari pengaruh Tasawuf. Alif adalah huruf pertama dari “Al Hamdulillah” dan sebagai simpulan atas nama ALLAH!

Yang Dipertuan Agung Kerajaan Persekutuan Tanah Melayu, Sultan Sir Hisamuddin Alamsyah Al Haj adalah sangat asyik dengan Tasawuf. Bagindalah satu-satunya Sultan di Tanah Melayu (ketika itu) yang telah naik Haji.

Dapatlah dengan jelas kita melihat kian lama Sultan-sultan Islam itu telah berangsur terlepas daripada Tasawuf yang kacau kepada Tasawuf yang berdasar kepada Sunnah. Perubahan itu jelas benar setelah kemenangan Syekh Nuruddin Raniri menantang Tasawuf ajaran Hamzah Fansuri. Maka Sultan Syafiyatuddin dan Sultan Iskandar Istani Aceh memerintah Nuruddin mengisi perpustakaan Islam dengan kitab-kitab Tasawuf atau Fiqhi yang berfaedah, akan ganti Tasawuf yang kacau balau. Di antara karangan beliau ialah kitab “Sirathal Mustaqim”. Sultan TAMJIDI Banjarmasin menitahkan Syekh Arsyad Mufti Kerajaan Banjar mengarang kitab Sabilal Muhtadi. Dan Sultan Pembang menitahkan pula kepada Syekh Abdus Samad Palembang mengambil dari ringkasan Tasawuf Fiqhi Al Ghazali ke dalam bahasa Melayu. Maka keluarlah salinan itu dengan nama “Siyarus Salikin”.

Di Sambas, Syekh Ahmad Khathib Sambas mengarang tuntunan Tasawuf menurut Tharikat Naqsyabandi. Ada kitab-kitab Tasawuf “Kasyful Asrar”, “Daladdul Khairat” yang khusus memuji- muji Nabi. Kitab “Dalail” inilah yang dipegangnya dengan tangan kirinya, dan badik (keris Bugis) di tangan kanan, seketika Raja Haji Riau tewas dalam peperangan dengan Belanda di Teluk Ketapang Malaka.

Dan kitab “Hikam Ibnu ‘Athillah” telah pula disalin ke dalam bahasa Melayu. Sebelum kitab- kitab itu dapat dicetak dengan cetakan moderen, semuanya dari salin ke salin, dari tangan ke tangan, dan terutama terdapat dalam istana raja-raja.

Kain lama kian mendalamlah pengaruh Kolonial dalam tanah jajahan. Dengan secara halus, tetapi teratur dan berangsur-angsur, bangsa Belanda memasukkan pengaruhnya ke dalam istana- istana. Salah satu sebab yang menimbulkan murkanya Pangeran Diponegoro, sehingga beliau memberontak melawan Belanda, ialah seketika Sultan Yogya yang masih kecil duduk dalam haribaan tuan Residen Belanda!

Putera-putera Raja yang masih kecil, yang menurut tradisi lama disuruh berangsur diantarkan ke sekolah-sekolah yang didirikan Belanda, khusus untuk anak raja-raja dan orang bangsawan. Itu sebabnya maka Sekolah Belanda yang pertama di Bukittinggi diberi nama “Sekolah Raja”. Dan di tanah Sunda “Sekolah Menak”. Maka ke dalam istana-istana itu diangsurlah memasukkan candu! Mulailah beberapa raja-raja mengisap candu. Anak-anak mereka dikirim ke Sekolah Belanda dan disuruh indekos di rumah orang Belanda. Dan mulailah putera-putera raja tadi belajar meminum minuman keras dan berdansa. Maka apabila mereka pulang kembali ke kampung, kelihatanlah perbedaan hidup di antara ayah dengan puteranya. Ayah yang kurus kering lantaran candu dan anak yang hidup cara Eropa dalam istana Timur. Atau ayah yang masih taat beragama, berwirid malam Jum’ at, masuk Tharikat Suluk, dengan putera yang tidak mengenal itu lagi samasekali. Maka jika ayah mangkat digantikanlah oleh putera yang tidak ada hubungan jiwanya lagi dengan rakyat yang diperintahnya. Kadang-kadang berkelahilah di antara dua putera. Yang tertua berhak menjadi raja, disukai oleh rakyat karena hidupnya masih sesuai dengan kehidupan mereka, dengan adiknya yang telah hidup cara Belanda. Rakyat menyukai yang pertama, tetapi Belanda mengangkat yang kedua!

Zikir yang ramai di istana pada malam Jum’at, berganti harinya dengan riuh suara musik malam Minggu, karena tuan-tuan besar bangsa Belanda datang dengan nyonya berhibur ke istana!

Maka tidaklah ada kehidupan Tasawuf lagi, di istana, baik yang dongeng dan khurafat, atau Tasawuf Imam Ghazali. Melainkan yang ada hanyalah kehidupan yang amat paradox (tanaqudh). Di sebelah luar orang berdansa dan orang minum minuman keras, di istana sebelah belakang kelihatan “haji-haji” berwirid membaca Surat Yaasin! Sekali-sekali muncullah baginda, Sultan yang baru, hadir ke dalam mesjid hendak turut menghadiri pembacaan Maulid, atau pembacaan Mi’raj Nabi, yang dilagukan dengan nyanyian merdu oleh pegawai agama di bawah pimpinan Penghulu. Mufti atau Syaikhul Islam atau Kadhi Besar di Melayu. Sultan gelisah saja duduknya, karena udara mesjid itu tidak sesuai dengan jiwanya.

Adapun dalam kalangan rakyat banyak, maka pusaka-pusaka tulisan dari ahli-ahli yang telah berlalu itu, baik dalam Ilmu Tasawuf atau Ilmu Fiqhi, kian lama kian tidak mereka kenal lagi. Sebab buku-buku itu ditulis dengan huruf Arab (Huruf Melayu nama di Jawa, dan Huruf Jawi namanya di Melayu!), sebab huruf yang terpakai sekarang ialah Huruf “Nasional” peninggalan pendidikan Belanda!

Dan akhirnya sekali menanglah pergerakan kemerdekaan! Belanda pun pergi, pimpinan agama sudah lama terlepas dari tangan Sultan-sultan, sebab sudah lama diganti Belanda dengan anak-anak raja yang tidak mengerti lagi agamanya.

Sehingga datanglah waktunya sekarang, Ulama Islam yang moderen harus melanjutkan usaha, menegakkan Islam dalam suasana yang baru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s