“Dongeng” Kaum Tasawuf Mendewakan Raja (7) (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Dongeng-dongeng kuno baik pusaka orang Hindu atau pusaka orang Griek (Yunani) sangat besar pengaruhnya ke dalam “Ilmu Tasawuf” setelah datang zaman kemundurannya. Di dalam kitab-kitab “Veda” kuno tertulis kepercayaan orang Hindu tentang asal usul kejadian alam ini. “Indra” adalah Dewa Yang Paling Agung, dialah yang disebut Dewata Mulia Raya atau Sang Hyang Tunggal. Dia juga lambang dari langit. Dia dibantu oleh dua dewa lagi, yaitu “Radera” dan “Ageni”. Di samping itu adalah dewa yang menciptakan maut, yang dinamai “Gama”, kemudian itu disebut pula dari fajar, yaitu Usyasa”. Kepercayaan Hindu yang paling tua ini, jauh sebelum kepercayaan Brahma tentang Wishnu, Krishna dan Shiwa.

Tuhan-tuhan atau dewa-dewa orang Hindu itu menyerupai pula kepercayaan Yunani tentang “Zeus” dewa yang maha tunggal, Athena, Apollo dan lain-lain.

Kemudian disebut pula dewanya orang Hindu yang disebut “Pratiwi”, yaitu dewa ibu dan bumi. “Dhewasa”, artinya bapa atau “langit”. “Bayu” sebagai dewa dari angin dan “Parajania” dewa dari hujan dan “Ayasha” dewa dari air. (Di sini dapat kita lihat bahwa kata-kata “ibu pratiwi” yang selalu digembargemborkan dalam semangat cinta tanah air sekarang ini, asal usulnya ialah daripada menuhankan bumi. Jadi sangat jelas pangkalnya daripada menyembah selain Allah, sehingga kata “nasionalis” dan “patriot” dijiwai oleh ke-hindu-an!)

Adapun di tanah air kita Indonesia sendiri terdapatlah kepercayaan yang sangat istimewa terhadap kepada dewa laut. Dewa laut itu sifatnya ialah perempuan. Sebab itu lebih sesuai kalau disebut “Dewi”.

Kepercayaan kepada Dewi Laut itu merata pada seluruh bangsa Indonesia, terutama pada suku bangsa Jawa dan Melayu. Tersebut di dalam “Sejarah Melayu” (Ceritera Kedua).

“Sebermula pada suatu hari hanyut buih dari hulu sungai Palembang itu terlalu besar, maka dilihat orang di dalam buih itu seorang budak perempuan, terlalu baik parasnya. Maka dipersembahkan orang ke bawah duli Sang Suparba, maka disuruh baginda ambil, maka dinamai baginda Puteri Tunjung Buih. Diangkat anak oleh baginda terlalu sangat dikasihi baginda.”

Darihal Puteri Tunjung Buih itu terdapat juga menjadi dongeng kepercayaan pada raja-raja Banjarmasin. Di dalam sari dongeng raja-raja Melayu di Deli, Serdang dan Langkat muncul lagi dongeng Puteri “Tunjung Buih” dengan nama lain, yaitu “Puteri Hijau” yang hidup di dalam lautan di sekitar Selat Malaka.

Pada kepercayaan suku Indonesia Jawa ialah tentang adanya “Nyi Roro Kidul”, yang bertakhta di dalam Lautan Selatan Jawa. Setiap tahun dalam upacara adat yang tertinggi raja-raja Kerajaan Jawa (Surakarta dan Yogyakarta) mengantarkan pakaian-pakaian tua istana ke tengah lautan Selatan untuk pakaian “Nyi Roro Kidul”, atau para pengiringnya. Ada lagi kepercayaan bahwa sejak zaman Senapati setiap raja-raja Jawa ada hubungan kerabat dengan “Nyi Roro Kidul”. Kembang “Wijayakusuma” yang tumbuh di atas batu-batu karang di Pulau Nusa Kembangan (Nusa artinya pulau, Kembangan artinya tempat tumbuhnya kembang yang bertuah itu). Kembang Wijayakusuma bukan saja sunting Raja Jawa seketika baginda naik nobat, diapun sunting penghias sanggul Nyi Roro Kidul. Dalam khayal yang indah, apabila hari sudah sore, seketika ombak yang besar-besar itu menggulung-gulung di pantai laut Selatan, demikian besar dan dahsyat hempasannya, karena tidak ada pulau-pulau yang melindungi, maka terkhayallah seakan-akan “Nyi Roro Kidul” sedang naik kendaraan keemasannya, berkudakan empat ekor kuda semberani di atas “tunjungan buih” ombak itu. Memang sifat laut di sebelah Selatan pulau Jawa itu amat menyeramkan.

Niscaya kepercayaan yang sudah sangat tua itu “dicarikan” sandarannya setelah Agama Islam masuk ke tanah air kita. Niscaya bahan-bahan itu dapat diperlengkapkan daripada buku-buku Tasawuf, karena Agama Islam berkembang di Indonesia ialah di zaman Tasawuf sudah sangat jauh dari pangkalannya yang asal, yakni telah banyak dicampuri oleh dongeng-dongeng Israiliyah dan Hindiyah!

Di dalam kitab “Insan Kamil”, karangan Syekh Abdulkarim Jaily (Jailany) amat banyaklah “bahan” yang dapat dipergunakan buat menguatkan kepercayaan yang sudah berurat berakar itu. Di antaranya ialah bahwa lautan “baharulah” itu adalah tujuh banyaknya. Di dalam dasar lautan itu ada raja yang memerintah. Persis menurut dongeng (mithos) orang Yunani tentang dewa Neptunus dengan puterinya. Inilah yang menjadi inspirasi buat menyusun cerita tentang Raja Suran masuk ke dalam dasar laut, berjumpa dengan Raja Laut yang bernama “Aftabul Ardh” dan kawin dengan puterinya yang bernama “Mahtabul Bahr”.

Di dalam kitab “Insan Kamil” itu juga disebutkan bahwa Nabi Khidhir adalah wazir besar daripada Raja Iskandar Zul Qarnain, maka Nabi Khidhir itulah yang mengakadnikahkan puteri raja Kida Hindi yang bernama “Syahrul bariyah”, dengan Iskandar Zul Qarnain.

Kisah lautan agak panjang lebar diterangkan oleh Syekh Abdulkarim Jailany dalam kitab tersebut. Di antara dua penanjung terletaklah selat. Di selat itulah pertemuan di antara Musa dan Khidhir, di sanah bertemu Maul Hayat (Air kehidupan), dan sempatlah Khidir meminum air itu sehingga dia tidak mati-mati buat selama-lamanya. Adapun Iskandar sendiri tidaklah meminum air itu, sehingga diapun mati sebagai manusia biasa. Di dalam kitab itu disebutkan juga bahwa “Plato” (dalam bahasa Arab dituliskan “Iflathun”) telah sampai ke sana dan sempatlah dia mereguk “Maul Hayat” itu. oleh sebab itu sampai sekarang “Iflathun” itu masih hidup!

Adapun “pertemuan di antara dua lautan” tempat pertemuan Nabi Musa dengan Nabi Khidhir itu, mengalirlah dia dari jihat Barat, dari satu negeri bernama “Azil”. Khasiat lautanan, siapa yang minum akan dia tidaklah mati! Dan kalau berenang di dalamnya, dapatlah dia memakan limpa ikan yang bernama “Bahmut”. Bahmut itu ialah nama ikan dalam lautan yang luas itu, dan di atas ikan itu berdirilah seekor lembu yang bernama “Barhut” dan bumi kita ini terletak di ujung tanduk lembu Barhut itu. Apabila digelengkannya kepalanya, terjadilah gempa!

Disebut juga dalam “dongeng” kaum Tasawuf itu bahwa selain daripada Khidhir, maka yang menurutkan Iskandar ke lautan itu ialah “Aristun” murid dari “Iflathun”. Aristun ialah Aristoteles!

Lalu disebutkan lagi bahwasanya Lautan Bahrul Muhith itu tidaklah berapa jauh letaknya dari bukit yang bernama “Qaaf”. Laut di seberang bukit Qaaf itu sudah berlainan sifatnya. Siapa saja yang terminum airnya, matilah dia seketika itu juga. Dan ombak lautan ini memenuhi di antara langit dengan bumi, seribu-seribu (sejuta) kali.

Kadang-kadang disebutkan juga sikap dan kelakuan penghuni lautan itu.

Selain dari kitab “Insan Kamil” ada lagi kitab-kitab yang lain, bertambah dibaca, bertambah berjumpalah dongeng-dongeng yang indah, yang penuh khayal, yang oleh penduduk yang baru saja memeluk Islam dapat diterima karena menyangka dari buku “Agama”! Di antara kitab itu pula ialah “Badai’uz Zuhur”, yang menerangkan bahwasanya yang disuruhkan oleh Nabi Nuh membuat perahunya yang terkenal itu adalah seorang manusia yang sangat tinggi badannya, entah berapa hasta, sehingga dia sanggup menangkap ikan paus yang sebesar-besarnya dari lautan, dan kakinya hanya terbenam dalam laut sehingga di bawah lututnya sedikit saja. Ditangkapnya ikan itu, lalu dipanggangnya kepada cahaya matahari, dengan mengangkatkan tangannya tinggi-tinggi sehingga hangus. Orang yang sangat tinggi besar itu kata dongeng itu selanjutnya bernama ‘ Ud!

Dongeng ini memudahkan orang Minangkabau buat membina pula satu “Pribadi” bernama Datuk Tantejo Guruwano, yang tingginya 30 hasta! Dia membuat rumah “menarah kayu sambil menelentang, merapatkan papan dinding di dalam air” dan ada kuburnya sampai sekarang di Periangan Padang Panjang! (Tetapi belum ada orang Minangkabau yang berani menggali kuburan itu untuk membuktikan benar-benarkah panjang tulangnya sepanjang kuburannya!).

Sampai ke dalam mantra-mantra dukun menyeludupkan faham dan dongeng Tasawuf kepada kepercayaan Hindu! Di waktu penulis masih kecil, masih menjadi buah mulut tentang “ilmu kasar” dan “ilmu halus”! Kalau suatu mantra dimulai dengan “Hong” atau “Aum”, itu dinamakan “ilmu kasar”.

“Aum”(Hong!), sikurimbak, sikurimbek

Si Mambang Tunggal, si Bujang Hitam !

Nan di Bigak, nan di Bugau, nan di Sirojo Tuo!

Nan dipuncak Gunung Marapi” dsb.

Ini disebut ilmu kasar!

Dan menurut penyelidikan para ahli (di antaranya Prof. Dr.Husein Jayadiningrat), kalimat “Hong” atau “Aum” itu adalah mantra pusaka Agama Hindu Brahmana, sebagai kesatuan seruan terhadap “Trimurti” (Krishna, Syiwa dan Wishnu)!

Setelah orang Indonesia mendapat Agama Islam, dan Islam ketika itu bercampur aduk dengan “Tasawuf” yang cukup mempunyai kitab-kitab dongeng, maka kalimat-kalimat mantra tadi diganti dengan kalimat yang berisikan pengaruh Tasawuf, yang disebut “Ilmu Halus”.

“Hong” atau “Aum” diganti dengan “Haqq”.

Di antaranya:

“Haqq, kata taumanat tauminat!

Jangan engkau berkata-kata,

Aku mengatakan kata tammat!

Tertelungkup bumi, telentang langit,

maka insan akan dapat terkicuh terpedaya kepada Aku!

Diriku tajalli dalam kalimat “La Ilaha Illal Lah”.

Atau:

“Haqq, engkau tak tahu siapa aku!

Besi adalah tulangku, kawat adalah uratku!

Kudaku kuda semberani, pedangku besi khurasani.

Serpihan besi Nabi Allah Adam!

Guruh adalah suaraku, petus adalah pandang mataku!

Akulah Ali harimau Allah

Aku berdiri dalam kalimat “La ilaha Illal Lah!”

Dan sebagai dimaklumi, “Al Haqq” adalah satu di antara nama Allah. Kalimat “Al Haqq”, lebih banyak terpakai dalam kalangan kaum Shufi daripada nama-nama Tuhan yang lainnya. Kadang- kadang dipakai perkataan “Kun”, artinya “Adalah”. Itulah yang dinamai “Kalimat Takwin”, dengan kalimat itu Allah menjadikan Alam. Sekarang oleh karena “insan” sudah bersatu dengan Tuhan, (Kawula Gusti), maka insanpun dapat mengucapkan “Kun”, sebab yang sebenarnya mengucap bukan insan, tetapi Allah:

“Kun! Tunduk, tunduk,

barangsiapa lawanku datang,

Aku mengatakan kata Allah.

Jangan ditentang keningku,

Di sana terguris nama “Allah”.

Jatuh hancurlah engkau, kembali ke asal engkau.

Api, angin, air; tanah!

Berkat “La ilaha Illal Lah!”

Di setiap daerah ada saja mantra-mantra seperti ini!

Demikianlah mantra dukun-dukun sakti pusaka zaman jahiliyah di-“Sesuai”kan dengan ajaran Ilmu Tasawuf, dan dikatakan apabila telah ditukar “Hong” dengan “Haqq” atau dengan “Kun”, namanya sudah menjadi “Ilmu Halus”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s