Musuhmu adalah Kawanku, Catatan Pendek Ihwal Bendera Israel

Bendera Israel kini menjadi bahan perbincangan dimana-mana. Ia terkait dengan satu peristiwa pembakaran bangunan-bangunan, termasuk masjid, dan penembakan di Tolikara, Papua. Beberapa (semua?) media Islam nampaknya meradang, seperti sakit hati. Sebab Israel dalam kosmologi orang Islam adalah musuh. Ia menjadi begini kira-kira: negara dimana ia berpaut ternyata berkawan dengan musuhnya.

Tapi nampaknya bendera Israel itu bukan hanya ada di Papua. Sewaktu melintasi daratan Sulawesi, beberapa masa silam, nampak bendera yang sama juga tegak di Sulawesi Utara. Saya dan kawan-kawan, yang muslim ini, sempat tertegun memang. Tapi kami berpikir ini negeri orang. Asal jangan di negeri kami ia ditegakkan.

Dan ketika orang-orang ribut dengan bendera ini karena meletupnya kasus Tolikara, saya jadi berpikir bahwa kaum-kaum yang ada di negara Indonesia memang tak saling kenal satu sama lain. Pertautan seluruh kaumnya kepada negara diikat bukan secara horizontal selayaknya suatu bangsa yang menjadi negara, tapi secara vertikal dimana pucuknya adalah Jakarta. Dan mengapa Jakarta dapat menjadi pemegang ikatan? Jawabnya terpulang pada masa silam, yang dibayangkan sebagai pusat perlawanan terhadap Belanda, yang sebetulnya juga menjadi pusat kegiatan atau operasi Belanda di India Belakang/India Timur.

Mengapa disebut dibayangkan? Karena kalau orangorang mau jujur, dan tak sekadar mengiyakan pendapat yang berkuasa, tak semuanya berlaga dengan Belanda. Banyak yang justru berkawan rapat dengan Belanda. Tapi yang berkawan rapat dengan Belanda ini bisa dipastikan berlawan dengan Jepang. Sementara yang hendak berkuasa ketika itu justru menjadi perpanjangan tangan Jepang dalam berlaga dengan Belanda.

Posisi Belanda dan Jepang ini agaknya serupa dengan Israel dan Islam. Bagi kaum yang bertaut pada Islam yang ada di dalam Indonesia, Israel sudah menjadi musuh secara kultural. Sementara bagi kaum lain yang juga ada di Indonesia, yang berpaut pada Kristen Protestan, entah bagi seluruh atau sebagian sektenya, Israel ada dalam suatu hubungan emosional atau menjadi yang dihormati. Tanah yang dijanjikan. Mohon maaf dan koreksi jika ini tak tepat. Ini pendapat yang disampaikan seorang pace di Papua. Saya belum mempelajarinya lebih jauh.

Karena itu, teringatlah pada catatan Tengku Hasan di Tiro dan Buya Hamka. Kedua tokoh ini pernah mengatakan bahwa ikatan Indonesia itu tak lain adalah Islam. Tidak ada ikatan lain. Dan pandangan kedua tokoh besar itu sebetulnya juga pantulan dari media yang terbit sebelumnya, yakni Al-Imam yang terbit di Singapura pada 1906, juga Bintang Hindia yang terbit di Amsterdam pada 1902.

Al-Imam menyatakan, seperti ditulis oleh Michael Laffan dalam Islamic Nationhood and Colonial Indonesia, The Umma Below the Winds (2002), watan (kampung halaman) bagi orang-orang yang ditindas adalah negeri-negeri orang Islam, “umat Melayu”, “umat Islam kita di sini”, atau “umat kita sebelah sini”. Dengan posisinya ini, Al-Imam tak memandang Inggris atau Belanda sebagai penjajah yang berbeda, tetapi semua mereka itu adalah satu penjajah bagi umat Islam. Dengan demikian, ikatannya adalah Islam.

Sementara bagi Bintang Hindia, watan itu adalah tanah dimana Belanda menjajah di kepulauan ini, yang disebut India Belanda. Dan ini menjadikan ikatannya berdasarkan siapa yang menjajah. Dan di sinilah problemnya, bahwa “yang kau sebut penjajahmu bukanlah penjajahku”.

Bahkan, barangkali, di antara yang sama-sama memang dijajah, sangat besar kemungkinan satu sama lain memang tidak saling mengenal. Yang mengenal dan memegang kunci itu adalah Belanda atau Inggris. Dan berhubung kedua negeri orang putih itu sudah tak ada secara fisik, maka harus ada yang meneruskan atau memegang tongkat estafet “kepemimpinan” itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s