Jejak Republiken dan Konservatif dalam Aksara dan Pelafalan

Pernah mendengar orang-orang tua menyebut “masalah” dengan “mas’alah”? Rupanya perbedaan pengucapan itu punya jalan cerita yang tidak main-main. Masih adanya orang yang menyebut “mas’alah” nampaknya merupakan sisa dari sesuatu yang hendak dihapus oleh kelompok Republiken di masa silam. Pada masa pemilu presiden Indonesia 2014 lalu, beberapa cerdik pandai melakukan kategori atas dua kubu yang berseteru. Yang satu disebut Konservatif, satu lagi disebut Liberal. Lalu seorang kawan baik coba mengklasifikasikan bahwa yang disebut konservatif itu tak lain adalah republiken.

Membaca esai dari Henri Chambert-Loir berjudul “Kisah Petualangan Sebuah Huruf Arab di Indonesia” ini (dalam buku Iskandar Zulkarnain, Dewa Mendu, Muhammad Bakir dan Kawan-Kawan – Lima Belas Karangan Tentang Sastra Indonesia Lama, 2014), nampaknya menempatkan Republiken sebagai pihak Konservatif adalah tidak tepat.

Segala pengubahan yang dibahas oleh Henri ini menyiratkan pelakunya adalah Republiken, yakni ia yang mendaur ulang masyarakat (re-publik). Karena kehendak mendaur ulang masyarakat inilah maka segala macam kaum yang datang belakangan, macam Komunis, Sosialis, Liberalis, Nasionalis, dll dapatlah dimasukkan ke dalam kategori ini.

Sementara kelompok yang diubah-ubah dan didikte-dikte, Melayu/Islam, sejatinya merupakan kelompok Konservatif. Adapun dinding sandaran yang kokoh di kaum Konservatif ini adalah Aceh (juga Pasundan?), yang nampaknya tak tunduk pada “ejaan republik”.

Kategori Republiken dan Konservatif ini dengan sendirinya berbeda dengan di Amerika Syarikat, dimana Republiken memang merupakan kaum konservatif yang tak hendak bergerak dari nilai yang sudah ada.

Sekadar catatan, proses pengubahan ejaan dan pelafalan ini agaknya merupakan pukulan yang cukup telak bagi redup atau sirnanya aksara Arab-Melayu/Jawi, yang tetaknya membuat rebah Islam itu sendiri.

Dan, ini yang juga menarik, jika apa yang diubah oleh kaum tersebut bersifat konsensus, tidak main sendiri-sendiri, mengapa kemudian hari banyak pernyataan yang menyesalkan tenggelamnya aksara Arab-Melayu? Selalu ada pertanyaan mengapa Thailand, Jepang, bisa mempertahankan tradisinya dan kita tidak? Jika pengubahan tersebut bersifat konsensus, sekali lagi, mengapa ada kerinduan atau upaya-upaya untuk mengembalikan aksara itu ke ruang-ruang publik, di jalan-jalan, dan tak hanya tersimpan di foto-foto atau rak-rak buku di balik-balik tembok?

Sila baca/download “Kisah Petualangan Sebuah Huruf Arab di Indonesia” (2014) – Henri Chambert-Loir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s