Kuasa Politik yang Patah dalam Relasi Islam dan Indonesia

Mengapa orang bisa berpuasa secara massal di bulan Ramadhan? Tentu karena Nabi Muhammad pegang kuasa politik. Dan, singkat cerita, kisah itu dilanjutkan melalui kuasa politik dari negara-negara atau kesultanan-kesultanan atau daulah-daulah Islam di kemudian hari.

Bertaburannya masjid yang bagus-bagus dan menjadi pusat-pusat pendidikan juga dimungkinkan karena adanya kuasa politik. Begitu juga rusaknya masjid-masjid dikarenakan hilangnya kuasa politik.

Bahasa yang dipakai ini pun ada kaitannya dengan kuasa politik kesultanan-kesultanan di masa silam. Sementara aksara yang tergunakan ini juga dikarenakan kuasa politik dunia Barat yang belakangan amat kuat. Pun demikian halnya dengan penggunaan uang kertas yang melaju kencang. Semua karena kehendak dan kuasa politik.

Ini sekadar catatan kecil yang memantul atas pikiran-pikiran semacam “pertama-tama engkau adalah orang Indonesia baru kemudian orang Islam” dari satu dua kelompok yang merasa sedang di atas angin. Arus sungai sejarah penyebaran Islam itu terasa sekali hendak dihentikan.

Ia seperti hendak mengatakan, “kalian telah kami kuasai, dan kami adalah alas segalanya”.

Jika menjadi orang Indonesia adalah mula-mula, ia tak masuk akal. Atribut-atributnya bernuansa Hindu, bukan yang umum digunakan dalam dunia politik muslim masa silam, macam bulan bintang atau yang menggunakan aksara Arab/Hijaiyah.

Jika pakai logika demikian, tentulah bahasa yang digunakan negara Indonesia saat ini adalah bahasa Sansekerta. Tapi nyatanya yang menjadi lingua franca bukan bahasa dari India itu.

Dan simbol-simbol itu tentu saja bukan asal taruh. Ia agaknya lahir dari suatu pemikiran, seperti asap yang muncul dari air yang sedang dimasak.

Adalah sesuatu yang tak bisa dibantah bahwa atribut-atribut itu nyatanya menenggelamkan simbol-simbol kekuatan politik Islam, macam bulan bintang atau aksara Arab/Hijaiyah yang tersebar rata seantero Asia Tenggara. Aksara Arab-Melayu/Jawi yang digunakan menjelang pengesahan lambang negara Republik Indonesia Serikat pun nyatanya dihapuskan.

imageDan tak hanya aksaranya yang diganti menjadi Latin/Rumi, tetapi juga bahasanya. Dari yang semula teruntai kalimat “Republik Indonesia Serikat” ditukar menjadi “Bhinneka Tunggal Ika” dari bahasa di India, yang merupakan simbol sinkretisme Hindu-Buddha, dengan aksara Latin/Rumi.

Relasi Islam dan negara baru Indonesia yang menjadi polemik ini dapat muncul karena ia menjadi tak kompatibel. Satu bercorak nasionalistik/fasis, satu lagi internasionalistik. Ia berbeda dengan relasi Islam dengan negara-negara/kesultanan-kesultanan/daulah-daulah lama, yang telah dapat diselesaikan dengan ikrar “Adat bersendikan syariah, syariah bersendikan kitabullah”.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s