“Islam Nusantara”? Kau Sajalah

“Islam Nusantara” ini lama-lama akan menjadi sekte nampaknya. Ia menciptakan frase “Islam Arab” sebagai tangga untuk dapat hadir dengan definisi-definisinya sendiri. Pembelahan ini mengingatkan orang pada Snouck Hurgronje dan kelompoknya, yang memberikan teori adanya yang original, terisolir, dan siap ditemukan.

Istilah “Nusantara” ini sendiri mengandung problem. Riwanto Tirtosudarmo dalam artikel berjudul “The Orang Melayu and Orang Jawa in the ‘Lands Below the Winds’: Notes on the Historical Imprints of the ‘Civic-Ethnic’ Distinction in Indonesia and Malaysia” dalam jurnal Centre for Research on Inequality, Human Security and Ethnicity (CRISE) Queen Elizabeth House, University of Oxford, Inggris, mencatat bahwa Nusantara adalah versi Jawa untuk menggantikan Alam Melayu.

Faktanya, penulis-penulis Jawa atau yang terjawakan memang selalu mengganti istilah “Alam Melayu” atau “Dunia Melayu” dengan “Nusantara”. Sementara, di dunia ini, kontestasi Alam Melayu, atau yang diinggriskan menjadi “Malay Archipelago”, bukanlah pada “Nusantara”, tapi pada “India Timur” atau “India Belakang”. Sejajar dengan itu, ia adalah kontestasi Islam dan Hindu. Dan ia akan mengingatkan orang pada hubungan Pakistan dengan India, Kashmir dengan India, Himalaya dengan Nepal, Patani dengan Thai/Siam (Buddha/India), Rohingya dengan Burma, dst.

Selain itu, penggantian istilah ini juga tidak tepat baik secara bentangan wilayah maupun pada nuansa kata yang sudah terberikan. Alam Melayu memiliki bentangannya sendiri dan nuansa Islam yang kental. Apakah itu berarti Islam Melayu adalah Islam Arab? Saya baru dengar ada istilah Islam Melayu, pun Islam Arab. Tanya pada orang-orang tua, pun sama baru mendengar.

Yang orang Melayu tahu, Islam telah menyuntikkan dan selanjutnya menimbulkkan ledakan peradaban intelektual yang begitu massif dan luas kepada orang Melayu yang tidak ada padanannya di era sebelumnya: bahasa, aksara, kesusasteraan, perbintangan, fiqih, tasawuf, kesehatan, cara berpikir, cara berpakaian, sistem pemerintahan, dst. Sementara “nusantara” memiliki nuansa Jawa atau klenik yang kental. Setidaknya itu pandangan orang Melayu yang saya ketahui.

Jadi, jika ada yang alergi terhadap Arab, apalagi umpatan-umpatannya menggunakan bahasa Melayu ini (yang lagi-lagi diubah namanya menjadi Indonesia), itu akan menggelikan. Sebab, di sekujur tubuh bahasa ini terkandung bahasa Arab yang telah termelayukan. Dan tak hanya bahasa, tapi orang demikian harus berpikir keras untuk menggusur worldview yang telah tertanam di bahasa ini.

Sementara alergi dengan Arab, pada kenyataannya Indonesia selalu memproduksi bahasa-bahasa dari India: “nawacita” adalah istilah yang aktual, yang tak dipahami maknanya oleh orang ramai. Atau “wisata”, yang menggusur “lancong” (Melayu) atau “tamasya” (Arab).

Dari segi kesusasteraan, kitab2 Melayu pada kenyataannya memang bersumberkan pada Islam, yang tentu saja ada Arab di sana. Macam mana membelah Arab dan Islam dalam konteks ini? Ini mustahil, sebagaimana membelah Islam dan Melayu. Sama mustahilnya membelah Kejawen dengan Jawa, atau Kaharingan dengan Dayak, atau Hindu dengan Bali.

Bayang-bayang Snouck ini belakangan muncul lagi di era pemerintahan Joko. Dia nampaknya mengajak orang Melayu untuk sama-sama terisolir. Bagi faksi pemerintah, yang asing adalah Dunia Arab dan Dunia Melayu. Sementara bagi faksi Islam/Melayu, yang asing adalah Cina, Barat, atau India. Satu sama lain sudah berbeda dalam memandang siapa kawan siapa lawan. Hanya saja, yang satu demikian agresif, dan satu lagi diam.

Wallahu a’lam bishawab

2 thoughts on ““Islam Nusantara”? Kau Sajalah

  1. Rasanya Aneh Atau Tuna Sejarah,Ketika “Islam Nusantara” Mengadang-Ngadang Peradaban Jawa Kejawen,Karena Kedatangan Islam untuk Pertama Kalinya.Ke Nusantara/Kepulauan Melayu,Melalui Aceh. Jadi Kenapa Bukan Peradaban Aceh Yg Digadang-Ngadang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s