Nama Bahasa yang Memecah Belah

Hamka, Naquib Al-Attas, Adian Husaini, juga James T. Collins, cukup “mengganggu” belakangan ini. Meniti para ahli itu membuat satu pemahaman bahwa nama bahasa “Indonesia” ini bukanlah pemersatu, tetapi pemecah belah.

Sedari lahir, lingkungan saya mengatakan ini bahasa Melayu. Dan kalau saudara-saudara atau kerabat-kerabat saya dari Semenanjung, Malaysia, datang ke rumah, mereka bicara dengan bahasa yang sama dengan kami. Kalau di ruang-ruang privat, kami sepakat ini namanya bahasa Melayu. Tapi begitu ada acara di ruang-ruang publik, kedua belah pihak mengatakan hal berbeda.

Begitu juga di sekolah-sekolah. Nama bahasa ini disebut dengan nama bahasa Indonesia. Orang-orang di lingkungan saya, yang tadi mengatakan ini bahasa Melayu, rupanya turut mengatakan ini bahasa Indonesia di lingkungan kerjanya, entah di sekolah-sekolahnya (pendidik/ustad/guru) atau di kantor-kantornya masing-masing.

Kelak, ketika saya bepergian ke sana kemari, saya selalu menanyakan hal ini pada orang tua-tua. Terakhir saya bertanya ini pada 2012, di Siren, tetangga negeri Sumbawa. Dan jawabannya seratus persen sama.

Seketika nampaklah ada dua kepribadian di tubuh masing-masing mereka. Tapi, apa yang terjadi sebetulnya?

Di masa yang belum begitu jauh, bahasa ini adalah bahasa orang Islam di Asia Tenggara. Ia menjadi bahasa segala macam doa, pun menjadi pengantar untuk mencapai tangga pemahaman keilahian melalui berbagai kiasan dan metafora.

Macam2 kitab Islam pun diterjemahkan ke bahasa ini, juga Injil. Bahkan, aksara Arab/Hijaiyah dimodifikasi untuk dapat menampung ekspresi bahasa ini, serta untuk maksud tertentu. Tak hanya penerjemahan, penulisan kitab-kitab Islam, juga kesusasteraan, kesehatan, perbintangan, dll, juga bermunculan secara mendadak, massif, dan merata di seluruh wilayah dengan bahasa yang sama.

Akan tetapi, ada yang mengatakan bahwa penyebaran bahasa ini bermula sejak di zaman Buddha. Tapi ini tak begitu kuat agaknya. Pertama, betapapun monumen-monumen berupa candinya ada di mana-mana, namun tak dapat diketahui apa keyakinan yang dianut masyarakat di zaman itu. Ia diasumsikan sebagai keyakinan yang pusarannya hanya ada di balik tembok istana. Karena tapaknya tak berbekas hari ini, yang dapat disebut tak mengakar, ada pendapat bahwa petinggi-petinggi istana Buddha itu bukanlah bumiputera, tetapi para perantau belaka dari India.

Kedua, jika zaman Buddha ada penyebaran bahasa, tentulah ia bukan bahasa Melayu, tetapi India (Sansekerta). Tapi, seperti nasib keyakinannya, tapak bahasa ini juga tidak mengakar di wilayah pangkal penyebarannya.

Hal-hal macam demikian membuat penyebaran bahasa ini tak bisa dipandang bermula pada masa pra-Islam.

Adanya bahasa yang sama, dengan variasi aksen masing-masing, yang dipicu dari aksara yang tak berharakat, tak pelak menciptakan kondisi persatuan muslim di seluruh Asia Tenggra atau alam Melayu. Tak ada nasionalisme, yang datang dari Eropa itu, yang melakukan pembelahan secara kaku. Macam-macam negeri dapat menyerbu Malaka demi membebaskan negeri penting itu dari cengkraman Portugis di masa silam, misalnya.

Lalu, ketika zaman kian tak menentu, zaman yang membingungkan pada pertengahan abad 20, muncul gerakan mengubah nama bahasa ini dengan nama bahasa lain.

Alasan yang mengemuka cukup aneh, yakni khawatir nanti timbul pertanyaan mengapa bukan bahasa puak lain yang jadi lingua franca. Selanggam dengan pikiran macam ini adalah adanya sentimen negatif terhadap Arab. Yang unik, alasan-alasan yang diarahkan kepada Melayu dan Arab itu menggunakan bahasa ini pula, yang disekujur tubuhnya memiliki worldview Islam.

Apakah itu tiba-tiba, mendadak bagai buah yang jatuh? Agaknya tidak demikian. Ada catatan bahwa di suatu wilayah pedalaman bahasa ini pernah ditolak karena terlampau melekat pada keislaman. Jika ia masuk, maka keyakinan tempatan, termasuk kekuasaan Belanda di sana, dapat goyah.

Meski demikian, Belanda agaknya hanya menolak untuk wilayah itu saja. Ia tak terlampau kurang ajar dengan mengganti nama bahasa bersejarah ini di sana.

Yang menggantinya adalah Jepang melalui instrumen kekuasaan. Tapi itu pun ia beda-bedakan. Di sini ia bilang itu bahasa Melayu, di sana bahasa Indonesia. Adapun kumpul-kumpul anak-anak sekolah pada 1928 itu, tentu saja, tak dapat dipandang sebagai sesuatu yang penting. Mereka bukan ahli-ahli etnolinguistik. Yang patut disorot adalah mereka yang puluhan tahun kemudian melakukan monumenisasi atas pertemuan remaja-remaja itu.

Dengan mengubah namanya, otomatis ia menciptakan perpecahan di kalangan muslim Asia Tenggara. Satu sama lain dibuat sebagai pihak asing yang tak saling mengenal. Sementara itu dilakukan, substansi bahasa ini nyatanya juga kian tergerus di tangan media-media massa yang tak mengenal dengan baik riwayat bahasa ini.

Hamka menulis:

“Thomas Carlyle Pujangga Inggris pernah mengatakan. ‘Amerika telah berpisah dengan kita. Namun bahasa selalu mempertemukan kita dengan Amerika.’ … Mari mudikki sejarah ke hulu. Di mana tersekat lekas elakkan. Pusaka nenek yang dulu-dulu. Sama dibuhul, sama diikatkan. Sebaris tiada yang lupa. Setitik tiada yang hilang. Yang diarah, yang dicita. Pegangan teguh malam dan siang.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s