Bahasanya Sama, Logatnya Berbeda

Mengapa ada dialek atau logat yang berbeda dari suatu bahasa yang sama?

R. Clyde Food, dalam esainya “Malay Words in English” (1895), pernah menjelaskan bahwa adanya perbedaan dialek pada bahasa Melayu dikarenakan watak dari aksara Arab-Melayu/Jawi itu sendiri. Aksara ini, seperti diketahui, tak menggunakan harakat atau tanda baca. Alhasil, abjad-abjad yang tersebar luas ini, yang terkait dengan sebaran Islam, dapat dibaca sesuai intonasi sendiri-sendiri.

Dia kasih contoh pada abjad b, n, t, l (ba, nun, ta, lam). Ini bisa dibaca “bintol”, “bantal”, “bentil”, dst.

Maka, tak heranlah jika masing2 kampung ada yang mengucapkan, misalnya, “mulia”, “mulie”, “mulio”, “mulie” (“e” macam pada “tembak”); “ape”, “ape” (“e” macam pada “preman”), “apa”, “apo”, dst.

Kesamaan bahasa dan perbedaan logat ini kadangkala tak memandang laut atau sungai, atau perbedaan daratan pulau, sebagai pemicu varian dialek. Sebab, sangat sering terjadi perbedaan dialek terjadi bahkan bagi mereka yang berbeda bukit.

Ketiadaan harakat yang menimbulkan macam-macam dialek ini juga diikuti dengan tidak tertampungnya ekspresi bahasa Melayu itu sendiri secara penuh-betapapun ia sudah memiliki aksara sendiri. Di antaranya adalah tidak adanya medium abjad bagi pelafalan “e” yang dapat membedakan antara, misalnya, “semak” dan “memang”. Padahal, aksara Arab-Melayu/Jawi merupakan modifikasi serta penambahan dari aksara Arab/Hijaiyah supaya dapat memediasi alam pikiran orang dan bahasa Melayu.

Aksara Arab-Melayu/Jawi ini memiliki 34 abjad, dimana 29 di antaranya ditembuskan dari aksara Arab/Hijaiyah. Penyempurnaan terhadap aksara Arab/Hijaiyah pada aksara Arab-Melayu/Jawi ini di antaranya dengan menambahkan abjad yang tak ada dalam fonem Arab, seperti “nya” atau “nga”.

Hal serupa juga terjadi pada hari ini. Ekspresi bahasa Melayu tak seluruhnya termuat dalam aksara Latin/Rumi yang saat ini berkuasa di muka bumi. Sebut saja tiadanya abjad yang dapat membedakan “e” pada “lemak” dan “e” pada “cengeng”. Tiadanya abjad itu pada Latin/Rumi membuat orang juga bingung dalam menentukan cara pengucapan kata, misalnya, “semen” atau “lentera”. Seperti diketahui, abjad dalam aksara Latin/Rumi berjumlah 26 buah.

Namun, keterbatasan aksara Latin/Rumi ini tak hanya melanda bahasa Melayu. Bahasa Inggris pun demikian. Dengan aksara Latin/Rumi, orang sulit untuk membedakan pelafalan “e” pada “earth”, best”, atau “sheet”.

Maknanya, tidak secara otomatis setiap aksara dapat menampung geliat kebahasaan dan ekspresi alam pikiran suatu bangsa. Aksara Arab-Melayu/Jawi pun agaknya belum memadai bagi orang Melayu. Ia harus terus menerus diperbaharui.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s