Plularisme, eh, prurarisme, eh, pluralisme, eh plurarisme, eh…. apa nama kau?

“Oh, samalah kalau begitu. Kami juga pluralisme”.

Begitu respon seorang kawan atas pertanyaan ihwal haluan pandangan saya yang tak seberapa ini (ke luar) dalam satu diskusi. Saat itu saya menjawab “multikulturalisme”. Ini topik biasa dalam percakapan dengan kawan yang sama-sama baru kenal.

Respon itu secara bersamaan mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, rumah makan. Itu macam bertanya engkau makan apa? Oh ikan. Saya sayur. Selesai.

Kedua, Mukhlis PaEni. Tuan guru ini pernah bilang bahwa ramai orang tak paham, dan karenanya mencampuradukkan, akan istilah “pluralisme” dan “multikulturalisme”.

Kawan baru itu, dan kawan-kawannya yang juga kawan saya, dikenal atau mendakwa diri sebagai “pembela keberagaman”. Konsentrasinya pada perkelaminan, masjid, gereja, vihara, dan semacamnya, dengan tatapan mata yang mengarah kepada faksi Islam.

Mereka ini, barangkali, yang agaknya mengawinkan konsep pluralisme (kadang-kadang multikulturalisme juga disebut) dengan keyakinan (agama).

Apa yang dipandang oleh PaEni memang mewujud total pada orang-orang semacam kawan itu. Mereka toh diam saja ihwal dijalankannya atau dilanjutkannya program kontroversial “kolonisatie” yang oleh Sukarno istilahnya ditukar menjadi “transmigrasi”.

Padahal, isu migrasi adalah bahan dasar dari seluruh pembahasan ihwal pluralisme dan multikulturalisme. Itu sebab isu-isu macam perkelaminan (wadam, gay, lesbi, dan semacamnya) cenderung tak otomatis masuk dalam ranah kajian ini.

Akan tetapi, barisan kawan itu tak peduli pada apa-apa selain apa yang terpandang. Ia hanya maukan hak ini dan itu terpenuhi tanpa periksa siapa/kaumnya dan dimana. Ia tak peduli keberagaman ini harus mendapat kritik terus menerus karena ia lahir tak natural, melainkan karena penetrasi modal di masa silam, yang mencampuradukkan tikus dan kucing dalam satu kotak.

Kelompok macam ini tak peduli dengan bumiputera yang marah ketika bangun dari tidur ada orang asing sedang bercocok tanam, atau membangun rumah ibadahnya sendiri, atau membuat pasar, atau membuat jalan sendiri (dari dana penguasa yang mengirimkan mereka), atau membuat kegiatan sendiri di samping rumahnya. Atau menamakan nama kampungnya suai nama kampung orang asing itu.

Beberapa tahun lalu, di Jakarta, hal itu mewujud sempurna. Kelompok Salihara yang menggelar acara bedah buku mengenai lesbi atau semacamnya diserang FPI-FBR. Yang terakhir ini bercakap bahasa Melayu berlogatkan Betawi.

Yang diserang bilang: “Ini kan Jakarta”. Maksudnya, ini adalah ruang bebas, jadi suka-suka dia untuk berbuat apa. “Harus ada jaminan kebebasan,” begitu tambah mereka.

Dan penyerang bilang: “Ini kampung gue”. “Kampung gue” bermakna ada nilai-nilai penduduk asli yang harus dihormati pendatang. “Satu berbuat maksiat, sekampung kami kena getahnya,” kata mereka.

Bumiputera Jakarta/Betawi memang agaknya ditekan habis. Ekspresi kebudayaan mereka hanya dapat di temui di kelurahan-kelurahan. Di sistem administrasi ke atas, hingga kegubernuran, ia sudah tak tergapai.

Saat itu rombongan kawan itu menggerutu tak sudah. Bisa jadi dia orang baik, hanya tidak tahu duduk perkara bahwa keberadaan kaumnya yang setabiat itu, yang kemudian menciptakan keberagaman, terjadi akibat adanya pemusatan modal yang dilakukan secara gila-gilaan di kampung orang.

Orang putih bilang, seeing is not believing. Tapi orang kadang-kadang memang sulit mencium bau hidung sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s