Tentang Istilah Agama dan Adat

Sewaktu kuliah, seorang dosen menggambar sebuah segitiga. Di pucuk adalah Allah, dan dua sisi lain dibagi pada agama dan manusia. Agak-agak lupa juga waktu itu bagaimana beliau mendudukkan relasi ketiganya. Seingat saya itu membingungkan, khususnya dalam penjelasan bagian “agama”, dan khususnya bagi saya yang mahasiswa tak seberapa itu. Entitas apa rupanya “agama” ini?

Kemudian baru saya tahu mengapa ia membingungkan. Agama berasal dari India dengan makna “tradisi”. Tapi ada juga yang kasih pengertian bahwa kata itu terbagi atas “a” yang berarti “tidak” dan “gama” yang berarti kacau”. Jadi, “agama” adalah suatu ketertiban. Entah siapa yang kasih pengertian-pengertian macam itu. Sama macam istilah sesat “nusantara” itu. Tapi suka-suka orang itulah.

Dalam banyak rujukan, macam Ensiklopedia Britannica, disebutkan bahwa agama melekat dan senyawa dengan tatanan sosial di India yang merujuk pada kitab Veda/Weda. Karena persenyawaannya itu, maka agama pun tak dapat diceraikan dari tatanan hidup orang India. Agama ini mengacu pada Hindu, Buddha, Jainisme yang dikembangkan Upanishad. Entah siapalah Upanishad ini.

Sementara itu, Arab juga memiliki kata serupa untuk agama itu, yakni “addah”, “al-addah”, atau “hukm al-addah”, yang kemudian menjadi “adat”. Ia bermakna “al-urf”, “custom”, atau “rulling of tradition”. Dan seperti halnya agama yang menempel pada Hindu, Buddha, dan Jainisme, demikian pula adat ini. Adat dipandang sebagai sumber komplementer dalam hukum Islam. Kelak sebagian pemikir putih mencoba menceraiberaikan persenyawaan ini. Entahlah apakah mereka juga coba membelah antara agama dan Hindu di India.

Orang-orang bilang bahwa makna memang berkembang biak. Ada yang mendekonstruksikannya secara sengaja, ada yang tak sengaja. Dan begitulah yang terjadi ketika “agama” dan “adat” masuk ke dalam nadi bahasa Melayu. Seperempat mengkontestasikan keduanya, seperempat lain coba mengharmoniskannya, seperempat lagi memakainya sesuai dengan arah angin dan suasana hati, seperempat lagi… mungkin besok ada jawabannya sendiri.

Jadi, barangkali, gambar itu semestinya garis lurus. Tegak, di mana di setiap ujung ada Allah dan manusia beserta adatnya.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s