Catatan Pendek Ihwal Pengaruh dan Karakter pada Bahasa Melayu

Tiap bahasa memiliki karakter. Ia punya dunianya sendiri, dan menjadi jalan untuk memandang yang-ada secara khas. Dan inilah yang membuat kerja-kerja penerjemahan menjadi sesuatu yang menakutkan: tak semua memiliki timbangan dan padanan semakna. Tapi bukan hal ini poinnya, melainkan apa yang terjadi ketika ia kemudian hari berjumpa dan mempengaruhi bahasa di luar dirinya, yang memiliki watak berbeda.

Pada bahasa Melayu, misalnya, sejumlah bahasa dunia telah memberikan perbendaharaan kosa katanya, lengkap dengan nilai-nilai atau cara pandang terhadap dunia (worldview) yang terkandung di dalamnya. Cara pandang dunia yang diberikan itu pada gilirannya turut membentuk karakter bahasa Melayu itu sendiri..

Dipengaruhi

Pada 1852, John Crawfurd mencatat ada tujuh belas bahasa yang mempengaruhi bahasa Melayu. Bahasa-bahasa itu adalah Arabic, Malay of Batavia, Malay of Bencoolen, Bugis, Chinese, Dutch, English, European, Hindi, Javanese, Lampung, Persian, Portuguese, Rejang, Sanskrit, Sunda, dan Telinga.

Spiritual
Dari Arab, seperti:
Adab – Adat – Adil – Alam – Akal – Akhlak – Akibat – Allah – Dabus – Doa – Falsafah – Ikhlas – Ilmu – Insan – Kalbu – Kotbah – Masjid – Makhluk – Musabab – Nafsu – Napas – Nasib – Paham – Roh – Sadar – Salam – Sebab – Ulama – Ustad – Wafat – Wujud – Yakin – dst.

Dari India, seperti:
Agama – Dewa – Dewi – Dosa – Jampi – Jiwa – Mantera – Neraka – Puasa – Puja – Surga – Pendeta – Upacara – dst.

Dari Portugis, seperti:
Gereja – Minggu – Natal – Paskah – Rosario – dst.

Dalam perkembangannya, spiritualitas bahasa Melayu yang disuntikkan oleh India maupun Arab ini kemudian mengalami kontestasi. Wan Mohd Wan Daud, Direktur Centre for Advance Studies on Islam, Science and Civilization (CASIS) Malaysia, mengatakan adanya sejumlah kata dari India yang mengalami islamisasi. Kata-kata itu, di antaranya, “dosa”, “surga”, “neraka”, dan seterusnya. Kata-kata ini diisi dengan worldview Islam (Hidayatullah.com, 23 Mei 2014).

Selain mengalami Islamisasi, James Sneddon (2003) juga mencatat adanya istilah yang digantikan, seperti “Dewata Mulia Raya”. Dewata berasal dari India (Sansekerta), sedangkan “Mulia” dan “Raya” berasal dari Melayu. Ini semacam “Tuhan maha besar dan maha mulia”. Kemudian ia digantikan oleh frase “Allah Subhanahu wa taala”, yang juga bermakna “Tuhan yang maha suci dan maha tinggi/mulia”.

Hal serupa juga dilakukan pada ritual peribadatan macam “sembahyang”. “Sembah” berasal dari Melayu dan “Hiyang” dari India/Buddha. Ini kemudian digantikan dengan salat dari Arab.

Adapun bahasa dari Portugis nampaknya relatif tidak mengalami Islamisasi.

Tubuh
Dari Arab, seperti:
Badan – Dubur – Rahim – Sehat –Wajah – dst.

Dari India, seperti:
Bahu – Kepala – Muka – Roma (bulu badan) – Sendi – dst.

Benda dan Makanan
Dari Cina (Hokkien), seperti:
Capcai – Cawan – Cengkih – Gandum – Mi/Bakmi – Tahu – Tauge – Teh – Teko – dst.

Dari Portugis, seperti:
Kaldu – Keju – Ketela – Mentega – Nanas – Pepaya – Garpu – dst.

Sistem
Untuk sistem kemasyarakatan, bahasa Melayu dipengaruhi oleh sejumlah bahasa. Di antaranya:

Dari Arab, seperti:
Adat – Hadirin – Hakim – Hukum – Mahkamah – dst.

Dari India, seperti:
Desa – Kota – Menteri – Perdana Menteri – Raja – dst.

Penanda Waktu
Dari Arab, seperti:
Abad – Ahad – Senin – Selasa – Rabu – Kamis – Musim – Jumat – Saat – Sabtu – Zaman – dst.

Dari Portugis:
Minggu

Mempengaruhi

Selain dipengaruhi, bahasa Melayu juga turut mempengaruhi banyak bahasa lain di dunia. Di antara yang dipengaruhi tersebut adalah bahasa Inggris.

Berdasarkan tulisan R. Clyde Food (1895) dan kamus Oxford, serapan bahasa Melayu pada bahasa Inggris dapat dibagi dalam beberapa kategori.

Makhluk Hidup (tumbuhan, buah, hewan)
Babirusa (babiroussa dalam bahasa Perancis): seekor babi liar dengan beberapa tanduk seperti taring terbalik
Bamboo: bambu
Bantam: bantam
Banteng: sapi hutan yang menyerupai sapi dalam negeri
Cassowary: kasuari
Catechu: kacu
Cinnamon (Clyde masih meragukan asal katanya)
Cockatoo: kakaktua
Cooties: kutu
Dammar: damar
Durian: durian
Dugong: duyung
Gambier: gambir
Gutta-percha: getah perca
Kapok: Kapuk
Mangrove: mangi (mangi-mangi)
Mangosteen: manggis
Meranti: meranti
Orangutan: orang hutan
Paddy: padi
Rambutan
Rattan: rotan
Siamang: siamang, atau
Trepang: teripang

Peralatan/Ruang
Bankshall: bangsal
Compound: kampung
Godown: gudang
Gong: gong
Junk: jung (kapal)
Kris: keris
Parang: parang
Proa: perahu
Sarong: sarung
Veranda: (Clyde masih meragukan asal katanya)

Lain-Lain
Amuck: amuk
Camphor: campur
Caddy: kati
Java: jawa
Ketchup: kecap
Launch: lancar
Malacca: malaka
Malay: melayu
Mandarin: mandarin
Pantoum: pantun
Papua: papua
Sambal: sambal
Satay: satai/sate

Sumber

Hamid Fahmy Zarkasyi, Jurnal ISLAMIA Republika, Kamis, 24 Oktober, 2013.
Hidayatullah.com, 23 Mei 2014.
James Sneddon, The Indonesian Language Its History and Role in Modern Society, 2003.
John Crawfurd, A Grammar and Dictionary of the Malay Language, 1852.
Oxford Dictionary.
R. Clyde Food, “Malay Words in English” dalam jurnal Publication of the Modern Language Association of America (PMLA) Vol. 10, 1895.
R. O. Winstedt, Shaman, Saiva, and Sufi – A Study of the Evolution of Malay Magic, 1924.
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah dan Peradaban Melayu, 1990.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s