Sekilas Ihwal Kamus Bahasa “Indonesia”

Sewaktu baru-baru bekerja di media massa, ada satu editor yang namanya cukup terkenal. Ruangan dia banyak buku. Mulutnya jarang bicara. Kacamatanya setebal pantat botol.

Satu waktu dia bilang Kamus Besar Bahasa Indonesia itu salah menulis kata ‘telepon’. Menurut dia, apa-apa yang berasal dari kata yang ujungnya pakai huruf ‘p’ harusnya berubah menjadi ‘f’. Sebut saja ‘saxophone’ menjadi ‘saksofon’, ‘microphone’ menjadi ‘mikrofon’, ‘megaphone’ menjadi ‘megafon’, ‘homophone’ menjadi ‘homofon’, dan seterusnya. Karena itu, ‘telephone’ semestinya menjadi ‘telefon’, bukan ‘telepon’.

Lalu, tadi saya menengok tulisan pendek kawan, Rusdi Mathari, yang menggunakan kata ‘berhantam’, bukan ‘berantam’. Di kamus bahasa Indonesia itu rupanya memang tertulis ‘berhantam’ dan bukan ‘berantam’ seperti yang saya pikirkan. Kamus itu ternyata masih ingat bahwa kata dasarnya memang ‘hantam’ dan bukan ‘antam’.

Entah sejak kapan, bahasa yang disebut Indonesia itu agaknya cenderung menghapuskan huruf ‘h’ pada kata. Sebut saja ‘baharu’ menjadi ‘baru’, ‘bahagian’ menjadi ‘bagian’, ‘cahari’ menjadi ‘cari’, ‘tahadi’ menjadi ‘tadi’, ‘sahaya’ menjadi ‘saya’, ‘mahu’ menjadi ‘mau’, ‘sahaja’ menjadi ‘saja’, ‘khan’ menjadi ‘kan’, ‘khabar’ menjadi ‘kabar’, ‘hisap’ menjadi ‘isap’, ‘himbau’ menjadi ‘imbau’, dan seterusnya.

Kata-kata yang sebelum diubah itu masih dapat dijumpai pada orang-orang tua hari ini.

Tapi, seperti kata ‘telepon’ yang tak konsisten itu, penghapusan huruf ‘h’ ini pun serupa. Jika ‘baharu’ diubah menjadi ‘baru, ‘hisap’ menjadi ‘isap’, ‘mahu’ menjadi ‘mau’, mengapa ‘hantam’, ‘dahulu’, ‘tahu’, ‘bahagia’, ‘hilang’, dan seterusnya tidak?

Akan tetapi, meski telah diubah, dalam beberapa kasus orang akan tetap memakai atau menjumpai kata mulanya. Kalau orang menulis mengenai energi, misalnya, mudah dijumpai sampai hari ini bahwa yang dia tulis adalah “energi yang diperbaharukan”, bukan “energi yang diperbarukan”. Begitu pula pada kata “cari”. Untuk soal pekerjaan, orang masih menulis “mata pencaharian”, dan bukan “mata pencarian”.

Hanya saja, pada kasus-kasus demikian, orang akan dibingungkan dengan kata dasarnya. Jika ‘pencaharian’, misalnya, tentu kata dasarnya adalah ‘cahari’. Tapi kamus bahasa yang disebut Indonesia itu telah mengubahnya menjadi ‘cari’. Begitu juga dengan ‘perbaharukan’. Tak ada di kamus itu kata dasar ‘baharu’.

Terkait dengan kata dasar, saya teringat pula pada kata ‘mengerti’. ‘Mengerti’ memiliki kata dasar ‘erti’. Tapi, di kamus itu tak ada lagi ‘erti’, melainkan ‘arti’. Jika kata dasarnya adalah ‘arti’, maka kata ‘mengerti’ seharusnya menjadi ‘mengarti’ dan ‘pengertian’ menjadi ‘pengartian’.

Barangkali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s