Jemputan untuk Mendukung LenteraTimur.com

Beberapa malam lalu ada kabar yang membesarkan hati. Satu pembaca LenteraTimur.com yang kemudian menjadi kawan baik berkenan menyisihkan sedikit dari penghasilannya untuk media ini. Bukan besaran angkanya yang membuat kami menarik nafas dalam-dalam, tetapi keinginannya supaya media ini tidak menjadi mendiang.

Belakangan, orang banyak bertanya soal kemunculan naskah LenteraTimur.com yang menjadi tak tentu waktunya. Dalam satu bulan, seringkali naskah yang muncul hanya dua atau tiga. Begitu juga isu-isu penting yang berlalu begitu saja. Perkaranya sebetulnya sederhana saja: dana. Kami kehabisan daya.

Dengan kondisi semacam ini, niat kawan baik tersebut seperti seruan untuk menegakkan kapal yang tengah oleng. Beberapa waktu sebelumnya, sebetulnya banyak kawan, satu persatu, yang menyatakan keinginannya untuk membantu pendanaan LenteraTimur.com. Bahkan, salah satu di antaranya ingin supaya Perkumpulan Lentera Timur, yang menjadi payung LenteraTimur.com, membuatkan satu pertunjukan teater mengenai kesederajatan. Dukungan moril juga nampak dari survei yang kami selenggarakan.

Ingatan kami kemudian memantul ke belakang, ke sekitar tahun 2012. Di forum LenteraTimur.com di Facebook, ada kawan yang meminta supaya LenteraTimur.com melakukan peliputan di Mesuji, Lampung. Saat itu, isu Mesuji sedang merebak karena ada konflik amat besar namun misterius. Media-media sudah melakukan liputan ke sana, tapi hasilnya memang membingungkan. Satu media yang sudah melaporkan hal tersebut malah tak tahu konflik itu di Lampung atau Sumatera Selatan. Media lain, televisi, bahkan memakai jenis huruf macam grup band metal berwarna merah dengan teks semacam “Mengungkap Konflik Mesuji!”. Hanya saja, jika ditengok, peliputannya taklah menjawab persoalan, tetapi justru mengarahkannya pada pertanyaan balik mengenai apa sebetulnya yang terjadi di Mesuji.

Pada kawan yang meminta LenteraTimur.com melakukan peliputan di Mesuji, kami mengatakan belum memiliki kesiapan dari pendanaan. Tapi kawan lain mengatakan siap membantu secara patungan. Hal ini cukup mengagetkan kami. Belum pernah ada hal semacam ini terjadi dalam perjalanan profesional kami sebagai jurnalis. Dan kami pun bertanya bagaimana dengan pertanggungjawabannya. Kawan yang lain lagi menyampaikan ide supaya segala kwitansi, entah itu kapal laut, taksi, bus, ojek, dan sebagainya, di-scan dan dimasukkan ke forum tersebut. Itulah bentuk pelaporannya.

Ketika itu, meski memiliki struktur redaksi yang relatif lengkap, kami belum betul-betul menyanggupinya. Dan ini terkait dengan model pendanaan LenteraTimur.com yang kemudian hari nyatanya menjadi bandul di kaki awak redaksi.

***

LenteraTimur.com didirikan pada 2010 oleh sejumlah jurnalis yang (pernah) bekerja di beberapa media massa bermodal besar. Ketika mendirikan media ini, beberapa orang di antaranya memang sudah keluar dari kantornya semula. Di awal, kami diikat oleh pandangan bahwa kehidupan bermedia sedang berjalan tidak pada kepatutan. Tidak saja soal kepatuhan kepada etik, cara pandangnya terhadap masyarakat juga kami pandang telah menjadi jahat.

Tapi, ide nekat terkadang sering tak terukur. Kami orang-orang muda yang rupanya berjalan tak di atas tanah. Singkat cerita, dana habis untuk media ini. Sempat kami mencari dan mendapatkan iklan. Dan ia dapat menopang redaksi untuk beberapa waktu. Tapi, cari iklan itu bukanlah mudah. Pun kami memang tak punya kawan yang ahli di bidang ini.

Lalu kami berpikir untuk mengganti posisi iklan di media dengan satu bisnis yang dapat menopang gagasan media ini, yang oleh sejumlah pendiri lainnya telah ditinggalkan.

Rendang dan teh tarik kemudian menjadi pilihan. Ya, kami menjual kedua produk itu melalui outlet-outlet kecil di tiga titik. Dua di antaranya ada di pelataran pusat perbelanjaan. Supaya bisnis ini punya nilai, kami memesan rendang langsung dari negerinya, Sumatera Barat, yang diolah oleh emak salah seorang anggota redaksi kami. Rendang buatan emak kami itulah yang kami jualkan di Jakarta. Adapun teh tarik, salah seorang anggota kami yang lain rupanya mampu membuatkannya. Dan sedap.

Tapi, penjualan tak hanya diam di tempat. Kami juga melayani pengantaran. Karenanya, tak jarang kami harus mengantarkan pesanan terlebih dahulu sebelum menjumpai narasumber untuk wawancara. Pernah juga ada pengalaman yang menggelikan, dimana rumah pemesan rendang itu ternyata bersebelahan dengan narasumber kami. Dan itu adalah berita baik. Sekali dayung dua pulau terlampaui.

Di masa ini, 2011, kami mulai membuatkan satu buah buku panduan peliputan dan penulisan untuk redaksi LenteraTimur.com.

Setahun berikutnya, kami memenangkan lomba dana hibah untuk perbaikan media. Dari 800 aplikan, kami menjadi teladan pertama dalam hal konsepsi. Kami pun berkeliling ke beberapa pulau dan kota untuk memberikan pendidikan jurnalistik multikultural. Kami membelah daratan Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi, juga mengarungi laut menuju Borneo. Kami menamai pelatihan jurnalistik ini dengan “Menulis untuk Kesederajatan”.

Tak lama berselang, kami juga mendapat pekerjaan untuk melakukan penelitian sosio-kultur di sejumlah kota. Semua ini membuat kami memiliki kesempatan untuk membangun media yang lebih baik. Kami mulai merekrut wartawan dengan sekian persyaratan wawasan dan menyewa satu kantor yang lebih besar.

Tapi kami berpikir, bagaimana jika dana ini habis? Akhirnya, di kantor yang luas itu, kami membuat satu buah kedai kopi untuk menjamin keberlanjutan. Kami membayangkan dua hal, dan itu mewujud. Pertama, kantor itu akan menjadi kantor redaksi yang sekaligus menjadi ruang komunitas. Di sini kami memang menggelar macam-macam dialog, pelatihan, kegiatan sosial, bahkan pertunjukan seni kecil-kecilan. Kedua, gaji redaksi dan honor kontributor tertopang oleh penghasilan kedai ini. Bahkan, dalam perjalanannya kami sempat membuat satu radio streaming. Di antara programnya adalah menyiarkan dialog yang kami selenggarakan di kedai. Selain dialog, dan ini yang menjadi favorit, Radio Lentera setia menyiarkan lagu-lagu bergenre world music.

Hanya saja, di balik dua keuntungan itu, ada dua konsekuensi yang tak kami bayangkan sebelumnya. Pertama, pengeluaran redaksi memang bisa ditutupi oleh penghasilan kedai. Namun, kami alpa mengantisipasi harga sewa kantor itu yang melambung-lambung. Dengan redaksi yang berdiri di pundak, kedai ini mulai kesulitan membayar sewa kantor. Kedua, orang-orang redaksi jadi terlibat dalam dinamika kedai. Kursi-kursi dan meja-meja kayu yang ada di kedai itu dibuat oleh wartawan. Singkat kata, inilah wartawan yang merangkap jadi tukang kayu. Sementara yang lain merangkap tugas sebagai koki dan juru saji.

Tukang kayu, koki, dan juru saji tadi adalah wartawan-wartawan yang karyanya mendapatkan penghargaan di sana sini. Mereka adalah penantang-penantang muda yang marah dengan keadaan tapi tertib nalar dalam tulisan. Ada memang pegawai yang kami pekerjakan untuk kedai. Tapi, nyatanya, bisnis kedai memiliki alamnya sendiri yang harus dipikirkan sematang pendirian media.

One thought on “Jemputan untuk Mendukung LenteraTimur.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s