Joko Kian Menyerupai Sukarno

Sampul buku "Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung", 1987.

Sampul buku “Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung”, 1987.

“Satu-satunya yang gigih menyokong Indonesia adalah RRT di Peking, namun Rusia sendiri dengan negara-negara satelitnya memperlihatkan sikap acuh tak acuh di dalam pertikaian Malaysia ini, tulis Anak Agung.

Ini adalah sebuah lingkaran yang agaknya mereplika dirinya.

Pertama, Presiden Joko membuat pernyataan keras yang diarahkan kepada negara-negara tetangga. Dia kasih perintah untuk menenggelamkan kapal-kapal nelayan yang menerobos perairan Indonesia. Kedua, presiden ini dekat dengan Cina. Ketiga, masa pemerintahannya, yang baru itu, memakan banyak korban luka, juga tewas, sebagai reaksi terhadap aksi demonstrasi mahasiswa/masyarakat (lihat laporan Tribun Makassar: “Satu Tewas di Lokasi Bentrok Mahasiswa UMI dan Polisi”, Kamis, 27/11). Keempat, relasinya dengan faksi muslim tidak baik.

Di masa ini ada penyerangan terhadap muslim, yakni penyerbuan ke Mushala dan Masjid, dalam rangka mengejar demonstran. Satu penyerbuan tersebut terjadi di Pekan Baru (Riau) (lihat laporan Gagasan Riau: “Terkait Aksi Tolak Cabut Subsidi BBM, Polisi Gebuk Mahasiswa Hingga ke dalam Mushala”, Selasa, 25/11), satu lagi di Makassar (Sulawesi Selatan) (lihat laporan Tribun Makassar: “Polisi Tembakkan Gas Air Mata ke Masjid UMI, Jamaah Berhamburan”, Kamis, 27/11).

Empat hal di atas agaknya bukan barang baru. Ia bisa dirujuk ke masa silam, masa Sukarno.

Pertama, Presiden Sukarno, dengan sokongan faksi Komunis, bersikap keras terhadap negara tetangga, Malaysia dan Brunei, bahkan dalam level memerangi negara Islam tersebut (lihat “Sang Diktator dan Seputar Konfrontasi dengan Malaysia”). Kedua, presiden ini juga dekat dengan Cina, dan mendapatkan dukungan dari negeri mata sipit itu dalam memerangi Malaysia. Ketiga, masa pemerintahannya menimbulkan banyak sekali korban, tak saja luka tetapi juga kehilangan nyawa. Sesiapa yang berbeda, dia perangi. Madiun (Jawa Timur) dia serbu, Sumatera dia serang, Sulawesi dia gempur, lalu Malaysia (juga Brunei) dia ganyang. Tapi yang terakhir dia gagal. Keempat, relasinya dengan faksi muslim dalam negaranya pun tak baik. Di eranya juga banyak sekali tokoh-tokoh muslim dia tangkap dan penjarakan tanpa pengadilan. Masyumi dibubarkan di masa dia.

Kesamaan keduanya, Joko dan Sukarno, juga nampak dari pengabaian sejarah yang bersaling silang antara penduduk yang hari ini disebut Indonesia, Malaysia, Philipina, Thailand, juga Australia. Ketika Indonesia kerap menuduh Malaysia sebagai pencuri, pelaut-pelaut Indonesia pun sering dituduh pencuri dan ilegal oleh negara-negara tetangga. Australia, misalnya, sering menuduh pelaut-pelaut Indonesia mencuri ikan di perairan Australia Barat.

Yang berkuasa abai bahwa sudah ratusan tahun, para pelaut Sulawesi, Maluku, atau Papua, menganggap kawasan tersebut sebagai kawasan tradisional. Begitu juga Tanjung Berakit, Bintan, yang kerap menjadi tempat saling tangkap antara Indonesia-Malaysia, pun sebetulnya merupakan halaman dari Kesultanan Johor, Malaysia kini. Nenek moyang masing-masing dimakamkan di wilayah yang kini berdiri negara-negara baru.

Penguasa yang disebut pertama dan kedua pun tak memandang bahwa terbentuknya negara-negara di Asia Tenggara merupakan hasil dari pembagian kue kekuasaan antara Inggris dan Belanda, juga Spanyol, di abad ke-19 hingga 20. Landasan pembagiannya semata berdasarkan kepentingan ekonomi dan politik mereka sendiri. Bahkan, praktik bagi-bagi daerah ini dilakukan di London, Inggris, atau Den Haag, Belanda, tanpa izin, bahkan sepengetahuan subjek-subjek tempatan; seolah tidak ada manusia dan peradaban di wilayah-wilayah tersebut.

Kebijakan jenis macam apakah yang tak menimbang perspektif sosio-kultur penduduk?

***

Kisah mengenai Joko dan Sukarno sudah bertebaran di mana-mana, baik yang tipu-tipu maupun yang baik-baik. Untuk Joko, waktu sedang mencatatnya. Dia belum habis, bahkan baru mulai. Catatan-catatan kekerasan yang mulai menumpuk di era kuasanya itu barulah catatan-catatan dalam hitungan kurang dari dua bulan dia berkuasa.

Demikian pula untuk Sukarno. Tokoh satu ini amat terkenal. Di sejumlah kalangan dia disakralkan laksana sumber iman. Namun, ada satu buku menarik mengenai Sukarno ini. Judulnya Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung – Menjunjung Tinggi Keagungan Demokrasi dan Mengutuk Kelaliman Diktatur (1987). Buku ini berisi surat menyurat antara dua petinggi Indonesia, yakni Muhammad Hatta dan Ida Anak Agung Gde Agung.

Hatta adalah mantan Wakil Presiden Negara Republik Indonesia (NRI) Yogya, mantan Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat (RIS), dan mantan Wakil Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sementara Anak Agung adalah mantan Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT) dari Bali, mantan Menteri Dalam Negeri RIS, dan mantan Menteri Luar Negeri NKRI.

Surat-surat ini terbentang semasa Ida Anak Agung Gde Agung ditangkap oleh Sukarno, dalam apa yang disebut masa ‘Demokrasi Terpimpin’, hingga menjadi Duta Besar untuk Australia pada masa Suharto. Anak Agung, bersama Sutan Syahrir, dan lainnya, yang dianggap dekat dengan Anak Agung, ditangkap dengan tuduhan subversif pada 16 Januari 1962. Mereka yang ditangkap ini dituduh melakukan rapat gelap di Puri Agung Gianyar, Bali, dalam suatu undangan yang dilakukan oleh Anak Agung bertalian dengan upacara adat agama Hindu Dharma pada 18 Agustus 1961.

Banyak tuduhan yang dialamatkan kepada para tahanan ini. Di antaranya adalah percobaan pembunuhan terhadap Sukarno di Ujungpandang, Sulawesi Selatan. Mereka dituding terlibat dalam suatu kelompok yang disebut VOC, yakni Verenigde Ondergrondse Corps, sebuah organisasi bawah tanah yang bertujuan menumbangkan pemerintahan Sukarno. Sementara itu, disebutkan pula tuduhan lain, yakni “melakukan tindakan-tindakan yang mungkin menghalang-halangi terlaksananya revolusi Indonesia”.

Di buku tersebut, pada surat bertarikh 10 Februari 1964, Hatta menuliskan bahwa pada masa itu penyakit ekonomi Indonesia sudah begitu mendalam. Karena sudah sedemikian rusak, ia tak dapat diperbaiki sambil lalu. Dan yang terjadi pada pemerintahan Sukarno bukannya memperbaiki pokok kesulitan, tetapi ranting-rantingnya saja.

“Pertentangan kaya dan miskin sangat hebat, belum pernah ada sebelumnya dalam sejarah Indonesia,” tulis Hatta.

Pada saat yang sama, Hatta memaparkan bahwa rakyat mulai bermatian di mana-mana karena kelaparan.

“Tapi kenyataan itu tidak sampai kepada Bung Karno,” tulis Hatta kepada Anak Agung. “Surat kabar tidak boleh memuatnya, pegawai-pegawai yang bersangkutan tidak melaporkannya. Karena itu beberapa waktu yang lalu Bung Karno dapat berkata kepada rombongan mahasiswa Amerika yang meninjau ke Indonesia dalam membantah tuduhan-tuduhan dan gambaran palsu tentang Indonesia: ‘Tunjukkanlah, di mana ada orang mati kelaparan di Indonesia ini’.”

Surat Hatta itu dibalas oleh Anak Agung pada 20 Februari 1964, dari dalam tahanan di Madiun, Jawa Timur. Anak Agung tak memungkiri bahwa situasi politik dan perkembangan ekonomi sudah sangat muram, sudah sampai pada titik kritis yang amat membahayakan. Bukti-buktinya telah dapat dilihat dari ratusan ribu jumlah penduduk Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Bali telah tertimpa bahaya busung lapar. Ratusan orang bahkan sudah meninggal dunia. Angka ini, kata Anak Agung, dikeluarkan oleh petugas-petugas yang berwenang, seperti wakil gubernur Jawa Tengah.

“Sembilan puluh lima persen rakyat Bali terancam busung lapar. Tiap hari lima orang mati kelaparan dan menggantung diri. Menteri Wakil Ketua DPR-GR I.G.G Subamia dalam rangka kunjungan di Bali pada tanggal 13 November telah mengadakan peninjauan ke daerah Bali…. Masalah yang sangat serius mendapati perhatian menteri adalah 95% dari rakyat Daswati II Bali yang berjumlah 125 ribu waktu ini terancam bahaya busung lapar. Di antara jumlah tersebut 2.819 orang telah diketahui menderita busung lapar…. Penduduk yang terancam busung lapar di daerah Bangli dicatat: Kota Bangli 25.032 orang, Susut 23.416, Tembuku 21.151 orang, dan paling banyak di daerah Kintamani sebanyak 42.210 orang,” tulis Anak Agung mengutip koran Suara Indonesia edisi 15 November 1963.

Selain di Bali, Anak Agung juga mendengar sendiri kelaparan terjadi di Madiun, wilayah tempat dia dan kawan-kawannya ditangkap Sukarno. Sebahagian penduduk desa di sekitar Magetan, Ngawi, dan Ponorogo telah terancam busung lapar. Beratus-ratus orang penduduk dari daerah-daerah itu berbondong-bondong datang ke Madiun untuk meminta sesuap nasi dan memenuhi lapangan-lapangan di kota di mana mereka tidur.

“Bukan lagi manusia biasa yang berjalan dari rumah ke rumah, akan tetapi tengkorak yang menyeret dirinya sepanjang jalan tanpa berketentuan ke mana arahnya,” tulis Anak Agung.

Kepada Hatta, Anak Agung mengaku amatlah sedih mengenai pernyataan Sukarno yang membantah adanya kelaparan.

“Nampaknya sifat masa bodoh terhadap penderitaan rakyat yang demikian hebatnya telah menjadi suatu kebiasaan dari para petugas tinggi di Jakarta,” tulis Anak Agung.

Pada surat yang sama, Anak Agung mengatakan bahwa apa yang dilakukan Sukarno dan para petugas di Jakarta mengingatkan dirinya pada Mao Tse Tung, yang otobiografinya dipaparkan oleh wartawan Edgar Snow dalam buku Red StarOver China. Demonstrasi besar-besaran akibat kelaparan yang melanda provinsi kelahiran Mao di China itu disikapi dengan kekerasan oleh gubernur yang berkuasa. Selain dibubarkan, mereka yang beraksi juga ditangkap.

Dalam menghadapi demonstrasi itu, gubernur berkata: “How come you have nothing to eat? There is a lot of rice in the city. Look at me. I can always find plenty to eat,” tulis Anak Agung yang mengutip bagian dari buku tersebut.

Kelaparan yang membuat banyak orang tewas ini kemudian diikuti oleh kekhawatiran Anak Agung akan gejala-gejala yang menunjukkan terasingnya (isolasi) Indonesia dari dunia internasional. Menurut Anak Agung, tak ada satu pun negara-negara yang mendukung tindakan perang Indonesia terhadap Malaysia. Negara-negara yang tergabung dalam Asia-Afrika pun tidak mau turut menentang Malaysia. Di dalam negeri, ia pun hanya disokong oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Satu-satunya yang gigih menyokong Indonesia adalah RRT di Peking, namun Rusia sendiri dengan negara-negara satelitnya memperlihatkan sikap acuh tak acuh di dalam pertikaian Malaysia ini, tulis Anak Agung.

Buku Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung ini layak sekali untuk dibaca. Apa-apa yang terjadi masa itu nyatanya merembes seperti air yang menyelusup dari lubang-lubang.

“Menolak lupa?” Ah. Frase yang sering muncul di televisi itu biasanya hanya diarahkan kepada Suharto, diktator berikutnya.

One thought on “Joko Kian Menyerupai Sukarno

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s