Perusahaan Televisi Laksana Belah Bambu, Satu Diinjak Satu Diangkat

Dulu, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dan Remotivi pernah melakukan protes atas tayangan Primitive Runaway, produk PT Televisi Transformasi Indonesia. Caranya: berunding dengan mediasi pihak ketiga. Hasilnya: gagal. Perusahaan hanya mengganti nama produknya menjadi Ethnic Runaway dengan konsep yang sama.

Lalu, dulu juga, Front Pembela Islam juga pernah melakukan protes tayangan suatu film, lupa judulnya apa, yang disebarkan perusahaan televisi lain, yang juga lupa namanya. Caranya: bawa massa langsung ke perusahaan tersebut dengan muka yang tak main-main. Bukan berunding, tapi menuntut. Hasilnya: berhasil. Tayangan itu berhenti.

Lalu, kini, sekarang ini, rupanya ada lagi tayangan pernikahan pemain sinetron eks kasus narkotika yang disebarluaskan ke seluruh negara oleh PT Rajawali Citra Televisi Indonesia.

Orang-orang di dalam tayangan itu, dalam perspektif orang Islam/Melayu, berpakaian amat tidak seronok, tak patut. Auratnya kemana-mana. Penulis/peneliti yang tak terlatih akan membuat ikon Indonesia dengan apa yang tampak di televisi semacam itu.

Apa yang ada di televisi, termasuk pesta pernikahan yang ditayangkan di televisi berfrekuensi publik itu, yang nampak seolah menjadi cctv sebuah gedung, membuat saya berpikir, apakah benar muslim itu mayoritas? Jika benar, bagaimana mungkin adat yang mengumbar aurat kemana-mana itu bisa muncul dan merangsek kaum muslim melalui tayangan-tayangan semacam itu.

Bukannya orang muslim harus melarang acara semacam itu. Yang harus dilakukan adalah mendorong supaya perusahaan televisi semacam itu keluar dari negeri-negeri muslim. Harus ada garis demarkasi yang tegas dan ekual antara kami dan kalian. Hal sebaliknya juga harus dilakukan. Misalnya, jangan siarkan hari raya Idul Adha yang menyembelih suatu hewan ke negeri-negeri Hindu yang justru menghormati hewan yang sama.

Memperdebatkan bahwa itu sumber daya alam, frekuensi publik, penyalahgunaan kewenangan, dan seterusnya, rasanya sia-sia belaka. Sudah tahunya orang-orang perusahaan itu. Tapi tak ada yang berdaya atas geliat liar perusahaan televisi ini. Sampai-sampai presiden pun pakai medium lain, youtube, untuk bicara.

Kalau presiden saja tak sanggup kendalikan penguasaan sumber daya alam, konon lagi gerutuan-gerutuan lisan maupun tulisan. Mengapa bisa demikian? Barangkali, selain … (sensor), perusahaan-perusahaan televisi ini adalah entitas yang memperkuat persatuan negara unitaristik. Dia satu-satunya medium yang mampu memindahkan sesuatu dari satu benak ke benak lain sehingga menciptakan (seolah) kesamaan nasib dan batin. Dan pada sejarahnya, televisi memang dibagi-bagikan atau dijual murah oleh pemerintah Indonesia/Sukarno sebagai mesin propaganda.

Tahu atas kemampuannya yang demikian, maka undang-undang penyiaran takkan pernah ‘berbunyi’ di perusahaan televisi, mau senyinyir apapun orang-orang yang memegang norma menengok lenggak lenggok pakaian-pakaian di televisi-televisi itu. Itu ‘harga’ dari otoritas atas kesewenang-wenangan perusahaan. Kayaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s