Berhulukan Keyakinan

Orang yang gemar menggunakan terminologi ‘Sengkuni’, ‘Mahabarata’, ‘Wayang’, ‘Baratayuda’ dan semacamnya sebetulnya bisa dilacak asal keyakinannya.

Sebaliknya, orang yang sering menggunakan istilah ‘Sunnah’, ‘Badar’, ‘Zakat’, ‘Zapin/Jepen’, ‘Laila Ma’jnun’ dan semacamnya pun dapat dilacak hulunya.

Ini terminologi bukan sembarang terminologi. Di balik penggunaannya, terbentang kontestasi dua narasi di kepulauan yang sama. Yang pertama menyatakan kewajarannya dengan istilah kebudayaan, bahwa Hindu lebih dahulu hadir dan mengakar ketimbang yang kedua, Islam. Karena lebih dahulu, ia pun dibenarkan sebagai agama yang mengadat. Semacam bumiputera.

Adapun yang kedua disebutkan datang belakangan, dan kemudian hari dikonstruksi sebagai pendatang. Dan berabad kemudian, hari ini, di sejumlah wilayah di Asia Tenggara ini, citra atau kosmologi yang kedua memang tak muncul dalam iklan-iklan, media-media besar, serta kepemimpinan dan institusi-institusi formal yang ada.

Dan agaknya bukanlah kebetulan jika penjelasan semacam itu rupanya serupa dengan skema Snouck Hurgronje dan Brieven van Jean Pierre Moquette. Keduanyalah yang membuat pembabakan linear, berurutan, setanding, sepadan, sama luas, dan benar. Sebagai orang yang pernah sekolah, napas Snouck ini terasa masuk ke dalam kurikulum.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s