Negara dan Agama, Catatan Lima Baris

Relasi negara dan agama sudah menjadi debat tak berkesudahan. Ada dua kutub yang bertolak belakang dalam memandang peran dan hubungan keduanya. Yang satu memandang negara harus ikut dalam pemahaman agama. Yang lain mengatakan negara tak usah ikut-ikut dalam soal agama.

Kedua pandangan ini sebetulnya memiliki akar kultur dan sosial di Kepulauan Melayu ini. Dan akar itu berbeda-beda. Yang satu, pada masanya, keislamannya didinamisir oleh negara yang berbentuk kesultanan. Pematangan kajiannya dilakukan melalui madrasah-madrasah. Di sini, sang sultan memiliki otoritas keagamaan bersama, katakanlah, dewan datuk.

Sementara yang lain, keislamannya didinamisir oleh kelompok-kelompok masyarakat, melalui pesantren-pesantren. Hal ini dikarenakan negaranya ketika itu masih berbentuk kerajaan bercorak Hindu. Jadi, kuatnya tekanan Islam yang datang dari bawah, dari kelompok-kelompok masyarakat itu, membuat negaranya terpaksa mensekulerkan diri. Sebab, dengan sekulerisme, Hindu tak hilang Islam pun dapat.

Kedua kultur ini kemudian mendadak berada dalam satu panggung dengan format yang bersusun tunggal, tak beragam.

Wallahu a’lam bissawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s