Dominasi Perspektif

“Tiga imam, Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, dan Daud Beureuh adalah pejuang, mereka juga ulama. Bagi republik, mereka pahlawan sekaligus lawan. Berjasa luar biasa, namun berada di persimpangan zaman yang beranjak senjakala. Tak cuma DI-TII, Indonesia harus menghadapi Permesta, PRRI, RMS, dan pemberontak lain yang masih saudara… Di masa lalu, pemerintah juga lalai. Demi kepentingan politik, sengaja memelihara anak singa, tanpa sadar singa tetaplah seekor singa.”

Demikian kalimat penutup dari presenter program Mata Najwa yang ditayangkan oleh stasiun televisi asal Jakarta, Metro TV, Rabu (30/3), dengan tajuk acara “Revolusi Tiga Imam”.

Apa yang salah dari pernyataan di atas? Sejurus, tak ada yang keliru. Dan memang tak ada yang salah benar dalam konteks penayangan itu. Hanya saja, ia yang menggunakan frekuensi publik, berskala nasional, dibiayai seluruh rakyat Indonesia, ternyata hanya membawakan perspektif satu pihak. Ini memang soal monopoli perspektif. Macam negara ini dibangun oleh satu pihak dan bersifat instruksional.

Penyebutan pemerintah lalai hingga memelihara anak singa jelas-jelas merupakan perspektif yang menyudutkan. Apanya yang lalai? Bagaimana jika yang disebut singa itu memang sedarimula berperang dengan tujuan sebagaimana yang mereka inginkan? Bagaimana jika ternyata pemerintah pusat yang dianggap melakukan pengkhianatan, sehingga ialah yang layak disebut pemberontak?

Acara itu jelas-jelas memposisikan indikator kebenaran adalah pemerintah Jakarta. Pun narasumber sesi terakhir, yang orang Jakarta, nampaknya tak memiliki ikatan emosional dengan pihak selain pemerintah Jakarta; nampak hanya pembaca buku dan pemeta belaka.

Apakah sopan menyebut perjuangan orang sebagai pemberontak karena niat mereka teguh sesuai cita-cita? Apakah santun jika orang marah karena daerah mereka dihisap untuk pusat tapi lantas disebut pemberontak?

Sentralisme belum hilang dari bumi Indonesia. Media massa, utamanya televisi, bak menari riang gembira dengan langgam itu. Atau, memang sebaiknya acara itu fokus saja di soal kejadian 65, sebagaimana biasa sejumlah daerah di Indonesia berbicara, yakni dari 1945 langsung melompat ke 1965. Toh skalanya lebih kecil, umumnya hanya terjadi di separuh (atau kurang?) pulau Jawa, sehingga mungkin lebih memudahkan. Minimal mendatangkan narasumber ke Jakarta taklah mahal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s