Mimpi Besar Asia Tidak di Indonesia

Berkali-kali materi kebudayaan Indonesia dipergunakan oleh Malaysia untuk kepentingan pencitraan. Pertanyaan utama semestinya bukanlah ada apa dengan dengan Malaysia kini, tetapi sedang mimpi apa Indonesia selama ini?

Menjelang akhir 2004, negeri ini begitu hiruk pikuk dengan politik. Partai-partai sibuk menggelar berbagai macam rapat. Media-media massa terhuyung dengan isu-isu agenda partai. Sementara kelompok-kelompok dan individu-individu dalam jumlah yang sangat besar terus merayap mencari celah-celah rejeki di bidang politik.

Dan tiba-tiba semua terdiam tatkala tsunami menghantam. Jiwa dalam jumlah ratusan ribu melayang. Negeri ini koyak. Infrastruktur berantakan.

Usai tsunami, politik kembali menjadi pusat perhatian. Partai-partai kembali rapat menyusun kekuasaan. Media-media massa kembali terseret dengan agenda-agenda politik partisan. Dan kelompok-kelompok dan individu-individu kembali mengais rejeki dari politik.

Dan tiba-tiba semua tersentak ketika negeri tetangga satu demi satu merayapi material negeri ini. Pulau Sipadan dan Ligitan, yang semula begitu dingototi sebagai milik Indonesia, namun begitu sampai dan ditilik di sidang internasional, ternyata milik Malaysia. Dan tak butuh waktu lama, Malaysia mengembalikan kedua pulau itu ke Indonesia, bukan dalam bentuk fisik, tetapi iklan. Malaysia mengajak orang Indonesia, melalui media massa, untuk mengunjungi Sipadan dan Ligitan yang tampak cantik.

Seterusnya apa yang tampak sebagai sebuah agresi bagi Indonesia terus berlanjut. Malaysia kian menelusuri berbagai hal, sebut saja “Reog”, “Rasa Sayange”, atau naskah-naskah Melayu. Memang bisa jadi perdebatan akademis bahwa apakah apa-apa yang kita yakini sebagai milik kita memang tak dimiliki oleh negeri-negeri lain. Sebut saja wayang yang juga ada di Thailand atau Jepang. Atau batik yang ragam motifnya tersebar tidak hanya di kawasan-kawasan di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Namun dari perspektif Indonesia, Malaysia tak ubahnya seperti orang Arab yang pernah mengambili pemikiran-pemikiran Yunani. Mereka seperti ingin menguatkan citra sebagai representasi Asia yang sejati.

Secara keseluruhan, mudah untuk diendus bahwa Malaysia memiliki sebuah mimpi besar tentang Asia, tentang ras Melayu Raya, dan Indonesia tidak. Malaysia bermimpi menjadi garda depan nusantara, sedangkan Indonesia hanya sibuk dengan urusan kriminal macam korupsi serta mengais rejeki dalam hura-hura dan huru-hara pemilihan-pemilihan politik lokal.

Apakah gerakan kejutan dari Malaysia ini membangunkan Indonesia? Rasanya belum ada jejak yang bisa diamini. Orang-orang Indonesia justru menampilkan diri sebagai gerombolan reaksioner. Orang-orang Indonesia justru sibuk melakukan pernyataan-pernyataan abstrak: Indonesialah yang kaya kebudayaan, Indonesialah yang hebat, Indonesialah yang segalanya. Dan Malaysia, pencuri belaka!

Tak lama setelah tarian Pendet dari Bali ada dalam iklan promosi Malaysia, yang sejatinya dibuat oleh pihak ketiga, yakni orang-orang kulit pucat di nun jauh di sana, muncullah hiruk pikuk. Salah satu bunyi dari kehirukpikukan itu adalah isu somasi terkait lagu “Terang Bulan” yang oleh Malaysia digubahjadikan sebagai lagu kebangsaan.

Sikap panik kaum reaksioner ini sebetulnya sungguh memalukan. Ada kesan orang-orang Indonesia tak kuat diingatan. Sebab, pada akhir 1950-an, Sukarno melalui radio pernah mengumumkan larangan agar lagu “Terang Bulan” tak lagi dinyanyikan rakyat. Lagu itu sudah menjadi lagu kebangsaan Malaysia.

Apakah larangan Sukarno merupakan bentuk penghormatan kepada Malaysia? Atau Sukarno sadar bahwa “Terang Bulan” adalah milik orang lain? Entahlah. Tapi tak kurang dari seniman Remy Silado menyatakan bahwa lagu tersebut memang bukan milik kita. “Terang Bulan” sudah ada sejak 1800-an, jauh sebelum lagu itu popular di Indonesia dan Singapura.

Tapi apakah karena mimpi besar itu Malaysia bebas dari seluruh kesalahan? Jawabnya tentu tidak. Ada perasaan-perasaan yang tersinggung dalam gerakan mereka. Dan kita memang berhak marah. Malaysia bukanlah satu-satunya negera tempat bangsa Melayu berhimpun. Bangsa Melayu terserak di seantero Asia dan Afrika dan kemudian berkeping menjadi negara-negara akibat penjajahan bangsa Eropa. Dan di dalam Bangsa Melayu itu ada suku-suku, macam Bali atau Jawa, yang juga punya catatan sejarah panjang dan patut dihormati.

Ada pernyataan dari orang Malaysia bahwa Melayu harus bangkit dari ketertinggalannya. Sebagai bangsa, sebagai ras kulit kuning, Melayu harus berhadapan dengan bangsa lain yang kuat-kuat, yakni China, India, Jepang, dan Eropa. Dan fundamen dasar perlawanan itu adalah penguatan budaya. Budaya China yang kuat atau budaya Eropa yang agresif harus dilawan dengan budaya Melayu yang jauh lebih kokoh. Sebab, seperti sebuah rumah, dasar dari sistem sosial, mengutip Francis Fukuyama, adalah kebudayaan. Sistem nilai budayalah yang menentukan gerak-dinamika ekonomi dan politik.

Dan itulah rasanya yang menjadi jawaban ketika Mahathir Muhammad lantang menolak campur tangan bangsa berkulit pucat untuk mengurusi negerinya. Bagi Indonesia, tindakan Mahathir adalah sebuah nostalgia yang sampai kini tak lagi mewujud.

Indonesia pernah punya mimpi yang sama, dahulu, ketika negeri ini dipimpin Sukarno. Sukarno hendak menjadikan Indonesia memimpin perlawanan terhadap barat tatkala ia membuat gerakan NonBlok sembari menggandeng negeri-negeri di Asia-Afrika-Amerika Latin.

Tapi kenapa Malaysia yang sekarang punya mimpi ini? Kenapa Indonesia tidak?

TM. Dhani Iqbal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s