Tak Ada Sales, Jurnalis Pun Jadi

Kondisi tubuh yang kepayahan tak begitu saya hiraukan hari itu. Demam, flu, dan tulang yang berderik saya bawa serta memenuhi sebuah panggilan. Dalam satu percakapan telefon, saya diminta bergabung dengan sebuah koran mingguan baru skala nasional yang segera diterbitkan.

Dengan pegal di sekujur tubuh, saya menunggui mesin printer mencetak file riwayat hidup. Siang itu juga, lembaran-lembaran dokumen ini akan saya bawa langsung ke sebuah tempat di Jakarta Timur. Seseorang yang bertelefon dengan saya pagi tadi menunggu saya hari itu juga.

Sejak dari telefon hingga sudah di perjalanan, saya berpikir bahwa orang-orang ternyata masih berani menerbitkan media cetak di tengah gempuran media televisi dan online. Masih ada orang-orang yang hendak berbisnis media dengan informasi yang selalu tertinggal disampaikan dibanding medium-medium lain yang sudah dapat menyampaikannya secara real-time.

Hebat. Berani. Begitu pikiran saya berkelebat. Media cetak memang takkan pernah punah, khususnya yang bukan harian, betapapun orang-orang sudah menduga spesies itu sedang menuju gerbang kematian. Tapi tunggu dulu. Sebentar lagi akan ada ajang pemilu. Hampir seluruh media kini berlomba-lomba menyambut hiruk pikuk demokrasi ini. Bahkan media-media itu sudah menasbihkan diri sebagai media pemilu. Tujuannya jelas: iklan. Media-media bersiap atau sudah mulai menangguk untung disaat orang-orang atau partai-partai membutuhkan suatu popularitas.

Apakah media yang akan saya datangi ini akan seperti itu? Entahlah. Yang pasti, ada juga media yang didirikan, biasanya secara mendadak, dengan tujuan bukan uang hasil penjualan ruang iklan, melainkan popularitas orang yang diusung atau untuk menghantam rival-rival politiknya. Orang-orang semacam itu hanya membutuhkan panggung untuk berdendang.

Tak terasa saya sudah sampai dengan lokasi yang dituju. Setelah tanya sana sini, akhirnya saya temukan alamatnya. Hmm… Sebuah rumah, bukan kantor…. Kerja dengan suasana rumah bisa jadi menyenangkan ketimbang di suasana kantor. Atau siapa tahu rumah ini memang bukan bakal kantor medianya, demikian pikiran saya.

“Siang Bang!” sapa saya sambil bersalaman dengannya.

“Siang, Iqbal! Apa kabar?”

Untuk beberapa saat basa basi meluncur dari mulut kami berdua. Di sela obrolan, saya menyerahkan map berisi riwayat hidup saya. Dia membaca sebentar dan mengangguk-anggukkan kepala.

“Jadi bang,” kata saya suatu saat untuk membawa pertemuan ke maksud sebenarnya, “koran apa ini yang mau didirikan?”

“Ini koran mingguan,” katanya sambil mengetik sesuatu di komputernya. Orang itu memang sesekali berkutat dengan komputernya. Bukan mencatat omongan saya seperti polisi pada tahanan, tetapi ada sesuatu yang memang sedang dikerjakannya.

“Kau pernah tau Koran Wartawan[i]?”

Saya seperti tak asing dengan nama koran itu. Saya berusaha mengingat-ingat. “Oh! Iya iya! Saya tahu, Bang! Teman saya ada yang pernah di sana.”

“Ya. Koran itu sudah tidak terbit lagi. Jadi saya mau menerbitkannya kembali. Tapi dengan periode mingguan.”

Saya hanya manggut-manggut. “Pemrednya[ii] siapa, Bang?”

“Ada, si Chicago[iii]. Dia pemred Koran Wartawan dulu. Tapi orangnya agak… gimana ya… agak susah ya. Tapi saya berencana sebentar saja memakai dia.”

“Maksudnya?”

“Ini hanya karena saya mau koran ini bisa terbit segera. Kalau media yang sama sekali baru, kan lama ngurus ini itunya. Harus ke sana kemari lagi. Kelamaan. Kalau pakai Koran Wartawan kan tinggal jalan. Sebab yang namanya media, itu perlu PT, enggak bisa Yayasan. Jadi intinya saya hanya memerlukan PT korannya si Chicago itu. Sebab itu kan atas nama dia.”

“Terus?”

“Ya jadi terpaksalah saya pakai si Chicago itu dulu. Tapi saya punya rencana. Enggak lama koran ini terbit, kita akan pisah. Saya sudah ada feeling. Biasanya ujung-ujungnya ribut. Nah, nanti kamu yang pegang media baru itu.”

Saya diam menunggu penjelasan. Tapi di dalam hati, agak kecut juga saya mendengarnya. Sebab saya biasanya mencurigai orang yang belum apa-apa sudah menjelek-jelekkan rekannya sendiri. Wah, bisa-bisa saya nanti yang dibegitukan, pikir saya.

Dan untuk posisi di koran ini, saya memang tidak diberitahu akan menjadi apa. Saya hanya diminta bergabung dan datang.

“Jadi nama koran ini nanti tetap sama, Koran Wartawan?”

“Ya. Tapi itu sementara saja. Nanti kita bikin baru.”

Dia diam sejenak.

“Apa ya nama yang bagus buat media kita nanti? Pengadilan Rakyat? Atau Revolusi apa gitu? Pokoknya harus yang keras-keras, hahaha…”

Saya hanya menelan ludah, tidak menjawab.

“Jadi sementara ini biar si Chicago itu saja dulu yang jadi pemred,” katanya melanjutkan. “Nanti kau baik-baiklah dulu sama dia. Enggak lama kok.”

“Begitu ya, Bang…” Saya tidak tahu mau bicara apalagi.

“Iya,” katanya. Dan kemudian dia mengulangi lagi pendapatnya tentang Chicago itu.

“Oya,” kataku kemudian. “Kalau pemrednya Chicago, pemimpin perusahaannya siapa, Bang?”

“Ada. Kawan dia. Bekas Koran Wartawan juga.”

“Kalau Abang jadi apa?”

“Saya pemimpin umum.”

“Jadi abang pemilik tunggal koran ini ya, Bang?”

“Iya. Tugas saya cuman memastikan koran ini terbit dan anak-anak bisa bekerja.”

Percakapan ini sudah cukup membuat saya malas menanyakan menjadi apa saya di sini. Dan saya hendak beralih menanyakan tentang koran yang hendak diterbitkan itu.

“Eh, kamu mau kopi, Bal? Atau teh?”

“Apa sajalah, Bang.”

Kemudian dia memanggil seorang pembantu dan memerintahkannya untuk membuat dua gelas kopi.

“Oke Bang. Terus, konsep koran ini sendiri bagaimana?” lanjut saya.

“Apanya bagaimana?”

Wah, dia malah balik bertanya. “Eee… Maksud saya, apakah ini akan menjadi media umum atau khusus bidang tertentu?”

“Oh, umum dong. Kita bikin berita politik, sosial, pendidikan… Yah yang kayak begitu-gitulah.”

“Segmennya siapa, Bang?”

“Maksudnya?”

“Siapa sasaran pembacanya?” Saya benar-benar merasa heran. Bagaimana bisa pertanyaan-pertanyaan standar yang saya tanyakan tidak diketahui artinya oleh orang yang hendak mendirikan media.

“Kita kan koran umum. Jadi siapa saja. Lagipula kita kan belum jadi koran besar. Jadi enggak begitu perlu segmen-segmen begitu.”

“Nanti akan dipasarkan dimana, Bang?

“Seluruh daerah. Kita akan membentuk biro-biro di daerah-daerah.”

“Sudah ada biro-biro itu, Bang?”

“Kayaknya sih sudah ya. Tapi itu urusan si Chicago-lah.”

“Mau dicetak berapa eksemplar?”

“Paling sekitar dua ribu.”

Wow! Saya terkejut di dalam hati. Dua ribu eksemplar dan menyebut diri koran nasional? Jumlah itu relatif sama dengan jumlah warga di kecamatan saya. Dan mendadak saya curiga.

“Nanti biro-biro itu kita bagikan masing-masing sekitar lima eksemplarlah.”

“Lima?”

“Ya, lima saja cukup. Buat bukti saja.”

“Bukti? Maksudnya?” Saya pura-pura bodoh saja. Saya kenal dengan modus media semacam ini.

“Ya buat bukti ke narasumber atau pejabat di sana. Jadi bukan fiktif kan.”

Saya mengangguk-anggukkan kepala. Tapi segera saya menghentikan gerakan kepala ini. Saya khawatir nanti dia mengartikannya sebagai tanda persetujuan. Sejauh ini saya hendak menampilkan raut wajah yang netral.

“Apa lagi ini mau pemilu,” sambungnya kemudian.

Begitu mendengar kata ‘pemilu’, saya tersenyum di dalam hati. Dugaan saya sepenuh-penuhnya benar.

“Caleg-caleg[iv] itu kan mau pemilu. Kita bisa manfaatkan kebutuhan mereka buat kampanye. Lumayanlah itu.”

“Ooo…”

“Oya, rokokmu apa?” katanya mendadak.

“Kenapa Bang?”

“Gak apa-apa. Santai saja. Apa rokokmu?

Saya menyebut nama sebungkus rokok. Dan lagi-lagi dia memanggil seorang pembantu dan memerintahkannya membeli dua bungkus rokok. Satu untuknya, satu untuk saya.

“Itu kenapa saya mau koran kita ini segera terbit,” katanya meneruskan percakapan yang sempat terhenti.

“Memang kenapa, Bang?”

“Ya momen pemilu ini. Sebenarnya ide saya ini agak telat. Pemilu sudah sangat dekat. Tapi gak apalah. Masih bisa kita kejar.”

“Ooo…”

Tapi Bal, tujuan saya sebenarnya bisnis cat.”

“Cat?” Saya bingung. Apa lagi ini, batin saya.

“Iya. Kau tahu kan, bisnis saya ini kan cat. Saya ada pabrik cat di Cileungsi[v].”

“Terus, hubungannya apa ya, Bang?”

“Jadi gini,” katanya seraya membakar sebatang rokok yang baru diantarkan oleh si pembantu. “Selama ini saya sudah memegang banyak pengadaan cat untuk sekolah-sekolah di Jakarta. Sekolah-sekolah itu catnya saya yang memasok. Kadang perawatan bangunannya juga. Enaknya main perawatan itu kan karena gak perlu tender. Untuk tender kan ada syarat sekian nominal. Nah, proyek cat atau perawatan itu kan nominalnya kecil. Jadi enggak perlu tender.”

“Meski nominalnya kecil, tapi banyak yang dipegang ya, Bang?” tebak saya sambil turut menyalakan sebatang rokok.

“Iya. Sekolah-sekolah itu paling-paling berapalah perawatan atau catnya… Satu sekolah, paling hebat, 20 sampai 50 juta rupiah. Tapi coba bayangkan, di Jakarta ini ada ribuan sekolah.”

“Terus hubungannya sama koran ini apa ya, Bang?” Saya tidak tertarik membahas bisnis cat.

“Nah, di Jakarta kan saya sudah pegang banyak sekolah. Kan lebih bagus lagi kalau kita melebar ke daerah-daerah. Jadi sekolah-sekolah di daerah itu bisa kita pegang juga.”

“Maksudnya, Bang? Jadi hubungannya dimana ya?”

“Kalau kita punya media, kan enak tuh. Wartawan kan dekat sama pejabat, sama kepala-kepala instansi.”

Saya melongo.

“Sebab selama ini sales-sales saya itu payah. Sering mereka enggak bisa tembus ke pejabat. Kalau wartawan kan enak.”

Saya sempat menarik napas kecil, meski saya terus berusaha agar mimik muka saya tidak berubah. Luar biasa dongkolnya saya dengan orang ini. Profesi saya hendak disalahgunakan. Tujuh tahun saya belajar jurnalistik, dan di mata orang ini hanya dianggap sekedar alat jual.

“Nanti kita tusuklah dikit pejabat-pejabat daerah itu. Terus kita minta proyek. Lumayan lho. Kalau satu sekolah saja bisa mereka dapat, si wartawan bisa dapat berapa. Daripada mereka ngamen[vi]. Dalam setahun, wartawan-wartawan itu sudah bisa beli mobil.”

Ya Tuhan. Wartawan disamakannya dengan sales. Jika dapat memenuhi target penjualan, maka ia akan mendapat bonus. Mendadak rokok yang saya hisap terasa pahit.

“Caranya bagaimana, Bang?” Saya mau tahu lebih jauh apa yang ada di kepala orang ini.

“Ya sehabis mereka wawancara, bikin berita, datanglah ke pejabat yang bersangkutan. Tawarkan proyek cat kita ini. Itu saja kok, Bal, tujuan saya bikin media ini, supaya bisnis cat saya berkembang.”

“Apa pejabatnya mau begitu saja?”

“Ya sebelumnya kita bikin berita yang agak keraslah. Tusuk dikitlah pejabatnya, hehehe” dia tertawa sedikit, sekedarnya.

“Nah, nanti kau bilang ke reporter-reporter di daerah, termasuk di Jakarta, supaya pejabat-pejabat di sana harus dikerasin sedikit.”

Saya diam saja mendengarkan.

“Jadi, sebagian dari dua ribu eksemplar itu awalnya kita bagikan gratis ke instansi-instansi pemerintah. Tapi tetap mayoritas beredar di Jakarta. Kalau di daerah cukup limalah. Buat bukti saja.”

Saya masih diam.

“Bagus lho, Bal, bisnis cat ini,” katanya seraya mendadak bangkit. “Sebentar, saya tunjukkan contoh-contoh cat saya,” katanya sambil melihat-lihat isi lemari yang ada di belakang saya.

Selagi dia mencari brosur cat, saya menarik napas dalam-dalam. Ya Tuhan, saya dipanggil kemari mau jadi jurnalis atau tukang cat sih, kata saya dalam hati.

“Nah, ini dia.”

Dia memberikan sebuah brosur yang halaman dalamnya tergambar kotak-kotak persegi dengan warna yang beragam. Tak lama, setelah kembali duduk di bangkunya, dia berceloteh mengenai cat. Tak seperti bicara mengenai konsep media, kali ini bicaranya sangat fasih dan lancar. Dan gantian, kali ini saya yang tidak mengerti apa yang dia ucapkan. Tiba-tiba saja saya melihat gerak bibirnya dalam slow motion.

Karena sudah cukup membosankan, saya pun pamit.

“Biar dia yang antar, Bal,” tunjuknya pada seorang pembantu.

“Enggak usah repot-repot, Bang. Saya bisa sendiri.”

Setelah bersamalan, saya berlalu secepatnya dari tempat itu.

Keesokan harinya, orang tersebut menelefon saya. Karena males mendengar suaranya, telefon yang berkali-kali itu sengaja tidak saya angkat. Lalu dia mengirimkan pesan singkat.

“Saya sudah ambil keputusan. Saya akan bikin media yang baru.”

“Baguslah, Bang,” jawab saya sekedarnya juga melalui pesan singkat. Saya berpikir bahwa si Chicago otomatis tidak bergabung dengan orang tersebut.

“Bagaimana, Iqbal?” balasnya kemudian. “Kamu siap jadi pemrednya? Saya harus tentukan sikap segera.”

“Maaf Bang. Saya sepertinya tidak bisa bergabung.”

“Kenapa?”

“Saya jurnalis profesional dan bekerja di pers profesional. Dan jurnalis adalah jurnalis, bukan salesman.” Sengaja saya tekankan soal jurnalis biar orang itu tahu sikap saya.

“Kalau begitu kita ketemu lagi deh. Coba kamu paparkan ide kamu.”

Orang tersebut sepertinya berhasrat sekali merekrut saya. Tapi pesan dia itu tak lagi saya balas. Pun besok-besoknya. Saya sudah terlanjur sakit hati. Diam adalah upaya saya untuk tidak menghardik orang yang jelas-jelas melecehkan profesi saya, betapapun saya ditawari menjadi pemimpin redaksi. Saya tidak mau mengotori tangan saya dengan perintah untuk menjadi pelacur bagi reporter-reporter saya.

Sepulang dari rumah orang tersebut, meriang dan migren saya menjadi-jadi. Saya merasa sendiri. Sepi. Terhina.

Dan di dalam selimut yang tebal, lamat-lamat saya baca kembali pesan singkat seorang kawan ketika saya mengundurkan diri dari sebuah stasiun televisi berita. “Stand up for what you believe in, even it mean standing alone.”

TM. Dhani Iqbal

Februari 2009


[i] Nama koran yang disebutkan sengaja saya ganti dengan istilah lain. Sebab saya tidak melakukan verifikasi data pada orang-orang lain.

 

[ii] Pemimpin Redaksi.

[iii] Nama pemimpin redaksi tersebut sengaja saya tukar dengan nama lain, sebagaimana nama medianya yang sudah terlebih dahulu saya ganti.

[iv] Calon legislator

[v] Nama daerah tempat pabrik catnya sengaja saya ganti.

[vi] Yang dimaksud ngamen adalah amplop. Dalam jurnalistik, amplop sama dengan suap. Ini merupakan tindakan pelanggaran etika jurnalistik.

6 thoughts on “Tak Ada Sales, Jurnalis Pun Jadi

  1. Salut..salut!! Ditengah maraknya krisis hati nurani, ternyata msh ada org yg berteguh menjunjung tinggi idealisme dlm menjalankan profesinya. Percayalah, idealisme akan membuat kita “kaya”, tdk terbeli oleh materi seberapapun banyaknya.

  2. Idealisme seorang Jurnalis memang mutlak diperlukan dan merupakan syarat utama. Ada wartawan beberapa media menerima (tidak menolak) pemberian amplop (berisi uang)namun tidak mempengaruhi content liputan. Sementara aplop tersebut dimasukkan dalam “kotak sosial” yang disediakan oleh Redaksi media cetak/elektronik yang bersangkutan. maksud saya, tak perlu harus meninggalkan dunia jurnalistik karena masalah amplop. Toh, beberapa departemen atau perusahaan mengalokasikan dana untuk kepentingan publikasi dengan atau tanpa ingin mengintervensi isi pemberitaan media yang bersangkutan.
    namun demikian, sebuah sikap menerima atau menolak adalah pilihan, asal kita konsekwen selamanya dengan pilihan tersebut. Untuk yang satu ini, salut buat Anda. Bagaimanapun, sikap seperti ini merupakan sebuah renungan bagi yang lain. Selamat berkarya.

  3. Salut dengan sikapmu Bal. Hari gini sulit cari orang yang masih memegang teguh prinsip hidupnya, dan lebih memilih menapaki jalan sendiri yang sunyi sepi daripada harus melacurkan diri demi kenikmatan sesaat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s