Maluku Utara Yang Terbelah

Subuh di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten. Sepinya bandara membuatku sempat untuk melamun, membayangkan Pulau Ternate yang kecil, juga pulau Tidore dan Maitara sebagaimana terlihat di lembaran uang seribu. Dan ke sanalah aku akan berangkat. Aku akan menjadi kaca pembesar untuk melihat apa yang terjadi di sana. Sebab siang tadi, Menteri Dalam Negeri baru menetapkan Thaib Armayn dan Gani Kasuba sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Utara.

Sebelum ini, Maluku Utara sudah aku kunjungi sebanyak dua kali. Pertemuan dengan Maluku Utara diawali dengan decak kagum. Kerajaan Ternate adalah kerajaan yang tidak saja sanggup mengusir penjajah Eropa, tapi juga memburu dengan dendam kesumat sampai ke Philipina dan Timor Leste. Dan dalam pertemuan terakhir, akulah yang dikejar-kejar. Salah satu kubu yang bertikai tidak menyukai kehadiranku dan timku.

Kini aku kembali ke Ternate. Di Bandara Sultan Baabullah, di siang hari yang terik, aku menarik napas dalam-dalam. Di sekelilingku suasana masih sama. Sepi. Tak banyak aktivitas. Saat itu hanya ada satu pesawat yang parkir. Dan begitulah di sini. Satu maskapai hanya melakukan penerbangan sekali dalam satu hari. Itupun tidak setiap hari. Jadi, aku harus betul-betul melakukan perhitungan kapan harus keluar dari Maluku Utara jika terjadi apa-apa.

Setelah mendapatkan mobil sewaan, aku dan kameramenku, Edward, mendapat informasi bahwa siang tadi telah terjadi bentrokan antara massa pendukung Abdul Gafur dan Abdurrahim Fabanyo dengan massa pendukung Thaib Armayn dan Gani Kasuba. Tidak ada korban jiwa dan material. Tapi, kata pak supir, suasana sempat mencekam di tempat bentrokan.

Semula aku hendak langsung mencari hotel dengan mobil sewaan ini. Hanya saja pikiranku berubah di tengah jalan. Aku harus berhati-hati. Tidak ada yang tahu supir ini simpatisan siapa. Apalagi dia sepertinya tahu sekali tentang politik. Pola pikirnya juga terlihat agak condong ke salah satu kubu. Jelas dia bukan orang awam. Aku tidak mau dia tahu dimana aku dan Edward menginap. Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi kontributorku, Burhan, yang ketika itu sedang berada di warnet. Pada pak supir, aku minta diturunkan di sana.

Burhan bukan kawan baru buatku. Terakhir ke sini, bersama dirinyalah aku bersembunyi usai kami dan beberapa kawan media lain dinyatakan dicari untuk dibantai.

“Burhan!” seruku begitu melihat mukanya. Senang rasanya melihat kawan seperjuangan.

“Akhirnya abang kembali juga,” katanya sambil riang.

Burhan sebenarnya lebih tua dariku. Tapi entah kenapa dia selalu memanggilku Abang. Mungkin begitulah caranya menyapa orang, seperti Mas di Pulau Jawa.

Dari warnet, aku dan Edward di antar ke sebuah hotel. Katanya, dan ini kusetujui, daerah hotel ini netral dan aman, sekaligus dekat ke gedung DPRD, kantor Gubernur, dan warnet.

Usai mengantarkanku dan Edward ke hotel, Burhan pun pergi. Dia kembali ke warnet untuk mengirimkan gambar bentrokan siang tadi. Sementara itu, aku mencoba menghubungi kawan-kawan yang kukenal di kota ini sembari membaca kembali peta konflik yang tengah berlangsung.

***

Sore hingga malam harinya, aku, Edward, dan Burhan, mencoba mengelilingi kota Ternate. Di sela-selanya kami mengontak wartawan-wartawan lokal dan juga aktivis-aktivis partai yang tengah bertikai. Tapi saat hendak meliput suasana tenang di pusat kota, sekitar pukul 12 malam, mendadak muncul informasi serius. Massa kedua belah pihak bentrok di Kelurahan Tanah Tinggi.

Mobil yang kukendarai segera meluncur ke sana. Tanah Tinggi selama ini memang kerap menjadi tempat pecahnya bentrokan. Sebab, di kelurahan itulah rumah Gani Kasuba, calon wakil gubernur dari Thaib Armayn, berdekatan dengan rumah Abdul Gafur.

Sesampainya di lokasi, beberapa ruas jalan sudah diblokir oleh kedua belah pihak. Massa yang bertikai telah membelah jalan Yos Sudarso menjadi dua bagian. Dan jarak keduanya tak sampai lima ratus meter. Di tengahnya, di perempatan Tanah Tinggi, yang dikuasai massa Gafur, beberapa ban bekas sedang dilalap api. Bau karet terbakar begitu menusuk hidung.

Saat aku tiba, kedua kubu masih saling ejek. Masing-masing pihak juga masih sibuk mengonsolidasikan kawan-kawannya untuk merapatkan barisan. Bentak-bentakan kasar terdengar tidak hanya ditujukan pada pihak lawan, tapi juga pada kawan sendiri.

“Hoi, ayo kemari,” teriak seseorang sambil duduk. Tangannya mengibas-kibas. “Jangan jadi pengecut.”

Orang tersebut juga menggunakan kata-kata jorok karena kesal melihat kawan-kawannya masih terserak di belakangnya, seperti tak mau maju.

Tapi seseorang bertubuh besar yang membawa parang mendadak marah pada orang yang duduk itu.

“Kau pun jangan ngomong saja! Kau ngomong saja sambil duduk! Pengecut! Beraninya cuma duduk! Jangan sok berani kau!”

Yang dibentak diam. Dia tak lagi bersuara. Hanya asap rokok yang masih mengepul dari bibirnya.

Tiba-tiba ada batu jatuh tak jauh dari tempatku berdiri. Aku segera mundur. Itu lemparan dari seberang, dari massa Thaib.

Massa Gafur segera bereaksi. Mereka yang tadinya masih terserak di belakang, tiba-tiba mulai merapat ke depan. Mereka mulai membentuk gerombolan besar. Dan beberapa orang yang berada paling depan langsung membelas lemparan batu ke arah massa Thaib. Batu-batu segera melayang ke depan seperti meteor.

Hal sebaliknya juga aku alami. Batu-batu dari seberang makin menderas seperti hujan. Aku spontan bergerak ke sana kemari. Selain menghindari batu, dan memperhatikan kameramenku, aku pun mencari helm. Kulihat kawan-kawan wartawan lain sudah mendapatkannya. Entah darimana mereka dapatkan helm itu. Tapi helm itu tak berhasil kutemukan.

Baku lempar batu ini berhenti mendadak. Entah kenapa. Tapi memang beginilah adanya. Terdengar teriakan-teriakan marah dari kedua belah kubu. Aku tahu, seperti tadi, teriakan marah tidak saja ditujukan pada kubu lawan, tapi juga pada kubu sendiri. Para pimpinan aksi dari kedua belah pihak agaknya kewalahan mengatur barisannya sendiri.

Tak lama, pelan-pelan massa Gafur tercerai berai. Dari perempatan ini, yang berhadap-hadapan dengan massa Thaib, massa berangsur-angsur bergerak ke arah kiri, ke Jalan Tanah Tinggi yang menanjak. Mereka meninggalkan api yang masih melalap ban. Suasana sempat senyap. Dari jauh, kubu Thaib pun mulai terserak.

Tapi tiba-tiba saja terdengar teriakan-teriakan marah dari Jalan Tanah Tinggi itu. Puluhan orang dari massa Gafur kulihat bergerak ke sana kemari dengan menunduk-tunduk. Dan seketika, puluhan massa yang masih berada di perempatan ini berhamburan ke sana. Aku dan Edward, tak lama kemudian, turut serta.

Lokasi bentrokan rupanya pindah. Di sebuah lorong, mereka terlibat aksi saling lempar batu. Seperti perempatan tadi, lorong ini ternyata juga menghubungkan jalan Tanah Tinggi yang dikuasai oleh massa Gafur dengan jalan di seberang yang dikuasai massa Thaib.

“Hei bodoh!” teriak seseorang dari massa Gafur. “Kau jaga perempatan tadi! Mau mati? Kalau mereka masuk dari sana, kita terkepung!”

Tidak jelas dia berbicara kepada siapa. Dan agaknya tak ada yang mau mendengarkan perkataannya. Pelan-pelan, massa di perempatan tadi seluruhnya telah pindah.

Aku merasa bentrokan di sini jauh lebih keras ketimbang di perempatan di bawah tadi.

“PRANG!”

“PRANG!”

“DUG!”

“PRANG!”

“DUG!”

Kaca-kaca rumah milik penduduk yang tinggal di kiri kanan lorong ini pecah. Temboknya juga tak luput dari hantaman batu. Bahkan di dekatku, massa Gafur sedang berusaha mematahkan pagar besi untuk dijadikan bahan lemparan. Entah siapa pemilik pagar yang malang itu.

Aku merunduk sambil bergeser ke kiri dan kanan. Kulihat Edward juga bertindak yang sama. Tapi Edward beberapa kali mendapat bentakan dari massa Gafur. Sebab, lampu kamera yang dinyalakannya menjadi petunjuk tersendiri bagi massa Thaib untuk melempar. Edward serba salah. Kulihat dia mematuhi permintaan beberapa orang untuk mematikan lampu kamera. Hanya saja Edward cukup nekat. Dalam situasi yang memungkinkan, dia nyalakan lagi lampu kamera, sebelum kemudian dia mendapat bentakan lagi.

Tiba-tiba situasi berubah drastis.

“Maju! Maju! Lempar! Bakar!!!”

Suara komando itu terdengar dari seberang, dari massa Thaib. Mereka mendadak merangsek ke depan. Sedikit lagi mereka hampir mendekati mulut lorong yang dikuasai massa Gafur.

“Munduuur!!” Munduuurrr!!!”

Massa Gafur berlari tak karuan. Suara-suara kalut dan panik bergema seperti lebah. Mereka terdesak dan kocar-kacir. Serangan massa Thaib membuat massa Gafur terbelah dua. Sebagian besar ke kiri, ke arah atas, dan sebagian kecil lari ke arah perempatan, di bawah.

Aku dan Edward sendiri sempat terpisah. Aku turut lari ke sebelah kiri, sedangkan Edward ke sebelah kanan bersama wartawan-wartawan lain. Aku tak berani segera menggabungkan diri ke arah Edward dan kawan-kawan wartawan. Sebab, untuk menuju ke arah mereka, aku harus melewati mulut lorong tadi. Sementara, selain hujan batu tak henti-hentinya jatuh di depan lorong itu, besar kemungkinan massa Thaib maju melewati mulut lorong.

Selagi massa Thaib berada di atas angin, massa Gafur rupanya tak berdiam diri. Dari sela-sela sempit rumah penduduk, massa Gafur terus membalas lemparan batu. Perlawanan dilakukan dengan hit and run. Maju sedikit, lempar batu, lalu mundur. Terus begitu. Batu-batu juga melayang di atas rumah-rumah penduduk yang tahu menahu dengan keributan ini. Lama kelamaan massa Thaib kembali mundur ke posisi semula. Dan massa Gafur kembali menyemut di sekitar mulut lorong.

Setelah serbuan massa Thaib tadi, ketegangan tampaknya mulai memudar. Aksi lempar batu tak sedahsyat tadi. Hanya satu dua batu yang masih jatuh di sekitar mulut lorong. Ejekan-ejekan mulai jarang terdengar.

Sekitar pukul dua dini hari Waktu Indonesia Timur, berangsur-angsur massa Gafur pergi. Mereka bergerak ke kiri, menyusuri jalan Tanah Tinggi yang makin menanjak. Entah apa sebabnya kedua belah pihak selesai baku lempar. Aku hanya melihat masing-masing pihak sudah keletihan dan sepertinya sudah tidak tahu apa lagi yang harus diperbuat.

10 menit keributan usai, suara sirene mengaung-aung. Sedikit demi sedikit suaranya kian mengencang. Kulihat puluhan motor polisi mulai masuk ke perempatan Tanah Tinggi. Mereka yang berasal dari kesatuan Brimob Kelapa Dua, menderu-derukan gas motor hingga suasana sangat berisik. Kesatuan yang berseragam hitam-hitam ini cukup disegani oleh kedua belah pihak yang bertikai. Dan kini mereka sedang ditugaskan di Bawah Kendali Operasi (BKO) Polres Ternate.

Sedetik kemudian, muncul satu buah truk angkut berisi puluhan anggota Brimob Kelapa Dua lain. Truk mereka langsung masuk ke jalan Tanah Tinggi, ke mulut lorong yang menjadi tempat pertikaian terakhir.

Satu persatu pasukan Brimob turun dan menutup akses masuk ke lorong tersebut. Kulihat, setiap tangan kanan anggota Brimob sudah menempel di pelatuk, sedangkan tangan kirinya memegang ujung laras panjang yang masih mengarah ke tanah.

Di perempatan Tanah Tinggi, sebuah mobil polisi tampak berjalan perlahan. Dari dalam mobil itu terdengar himbauan melalui pengeras suara, berkali-kali, agar massa membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing.

Hanya selang lima belas menit, daerah Tanah Tinggi dan Yos Sudarso sudah bersih dari kerumunan massa. Tapi bentrokan tidak berhenti dengan sendirinya. Pagi harinya, sudah ada lagi aksi dari massa Gafur yang ingin merusak tenda di halaman Kantor Gubernur Maluku Utara. Pasalnya, tenda tersebut sedianya akan dijadikan tempat perhelatan pelantikan Thaib Armayn dan Gani Kasuba sebagai gubernur dan wakil gubenur Maluku Utara.

Bentrokan antara massa Gafur dan massa Thaib, atau antara massa pendukung dengan polisi, terus terjadi hingga hari ini. Dan seperti kedatangan saya semula, kali ini saya pun mendapat ancaman dari banyak pihak. Tersiar kabar bahwa banyak orang yang mencari-cari saya. Dan saya bukan satu-satunya. Beberapa kawan wartawan lain juga mengalami hal yang sama.

Bukan ancaman itu yang membuat saya letih, tetapi bentrokan ini, yang seperti tak ada habis-habisnya. Jika saya saja capek dan khawatir dengan keributan ini, apalagi masyarakat.

Pagi ribut… siang rusuh… sore ricuh… tengah malam bentrok… pagi huru hara….

Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s