Ayong dan Serpihan Gergaji

Dua buah rel kereta api membelah wilayah Pademangan Timur dan Pademangan Barat, Jakarta Barat. Seorang lelaki botak bertubuh tegap sedang membungkuk-bungkuk tepat di atas rel itu. Di pukul dua belas siang, kepalanya bersinar ditimpa matahari. Di sekililingnya serpihan kayu berserakan. Berselang seling dengan sampah yang menyerak. Satu dua kambing hilir mudik di sekitarnya.

Ayong, nama lelaki itu, memang tak khawatir ditabrak kereta api. Sebab, kereta api hanya datang di kala pagi dan sore hari. Di usianya yang 54 tahun, tangannya masih terlihat kekar. Ada bulu-bulu halus yang memutih di sekujur lengannya. Rahangnya keras. Dan urat-uratnya menegas di sisi-sisi leher. Kemeja abu-abunya kusam, nyaris berwarna kuning.

Setiap hari Ayong bekerja di antara dua rel kereta api yang ada di wilayah Stasiun Kereta Api Ancol. Dari pagi sampai sore, dia menyisir serpihan kayu dengan menggunakan alat yang biasa dipakai para tukang untuk menyaring pasir. Serpihan-serpihan halus kayu itu diistilahkannya tai gergaji. Tai gergaji ini hanyalah nama lain dari pupuk. Butuh waktu dua sekitar dua jam agar serpihan kayu halus terkumpulkan dalam satu karung. Serpihan kayu-kayu itu sendiri didapatinya dari perusahaan-perusahaan kayu yang banyak bertebaran di sekitar Stasiun Ancol.

“Mereka tidak marah serpihan kayunya Bapak ambil?” tanyaku yang sedari tadi berdiri disampingnya.

Dia menggeleng. “Kenapa mesti marah? Saya ijin kok. Lagian mereka juga sudah enggak perlu.”

Sesekali Ayong berdiri dari bungkuknya. Dia pegangi pinggangnya yang mungkin terasa pegal. Senyampang itu, punggung tangannya menyeka keringat yang mengucur hebat dari dahi. Tapi hanya sebentar. Setelah itu dia kembali membungkuk, memadatkan serpihan kayu ke dalam karung berwarna hitam. Dengan sekali hentak, karung itu sudah di atas pundaknya. Digotongnya karung itu ke tepi dinding yang sejajar dengan rel kereta api namun sedikit berada di bawah jalan raya Pademangan. Jaraknya sekitar sepuluh meter.

Hingga sore menjelang, tak kurang dari lima belas karung bisa dihasilkannya. Selalu begitu setiap hari. Dan sebelum malam mengganti terang, karung-karung itu dimasukkan ke dalam rumahnya yang terbuat dari triplek. Ukurannya empat meter kali enam meter. Posisi rumahnya sendiri tepat berada di depan tempat kerjanya.

Setiap dua hari sekali, puluhan karung hitam berisi serpihan kayu itu dijualnya ke seorang tukang bunga yang berdomisi di Tangerang. Katanya, tai gergaji atau pupuknya akan bermanfaat untuk tanaman-tanaman si pelanggan. Dan tanaman itu kelak dijual dengan harga beragam ke pedagang bunga lainnya di berbagai tempat di Tangerang dan Jakarta. Harganya mulai dari 30 ribu sampai dua juta rupiah.

Tapi Ayong tak mau ambil pusing. Dia tak peduli apa yang dikerjakannya bernilai berkali-kali – bernilai untuk pedagang tumbuhan pertama dan seterusnya, serta bernilai untuk pembeli atau konsumen terakhir.

Baginya, yang penting Maimunah, istrinya, bisa makan. Selain itu, anak-anaknya, dan juga cucu-cucunya, yang ada di Karawang, Bekasi, bisa terbantu kehidupannya. Dalam satu minggu, keringat Ayong menghasilkan sekitar dua ratus ribu rupiah. Dan itu cukup untuk membayar listrik ke Perusahaan Listrik Negara serta bayar uang keamanan kepada para preman.

“Yang bikin repot, kadang keduanya sering datang bersamaan untuk menagih listrik dan uang keamanan,” kata Ayong sambil mendengus.

Selagi Ayong bekerja, Maimunah juga bekerja sebagai tukang cuci pakaian keluarga dari sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari Stasiun Ancol. Bekerja dari pukul enam pagi hingga siang hari, Maimunah mendapat bayaran 200 ribu perbulan. Sepulang dari rumah majikannya, dia menyiapkan minuman teh manis buat Ayong. Selebihnya dia hanya duduk diam di depan rumah tripleknya. Atau duduk-duduk sambil bersenda gurau dengan ibu-ibu tetangganya.

“Kenapa anak-anak di Karawang Pak?” tanyaku pada Ayong.

“Ya gimana ya,” katanya sambil tetap berkonsentrasi ke pekerjaannya. Tangannya tak lepas dari alat penghalus serpihan gergaji. “Lebih baik mereka di sana. Di sana ada kakek dan neneknya. Sekolah masih murah. Pergaulannya juga masih bagus.”

Dan entah kenapa, Ayong tiba-tiba memintaku untuk maklum karena anaknya banyak. “Orang jaman dululah…. Anaknya kan banyak-banyak.” Dia berkata sambil tersenyum-senyum.

Selintas kuberpikir. Agaknya program Keluarga Berencana di era Jenderal Suharto memang berhasil. Orang seperti Ayong bisa dibuat malu, meski hanya beranak empat. Padahal, banyak sekali pejabat negeri ini yang memiliki anak sampai tujuh atau delapan.

Sebelum bekerja sebagai penghasil tai gergaji, Ayong bekerja serabutan. Dari menjadi tukang loper koran, buruh bangunan, buruh pabrik sepatu, hingga pengamen. Ketika menikah, keyakinannya menguat bahwa dirinya harus berbuat sesuatu. Bukan lagi buat dirinya sendiri, tetapi terutama buat Maimunah. Dan juga keempat anak dan delapan cucu di Karawang sana.

Meski kehidupannya sangat pas-pasan, tak ada raut susah di wajahnya. Bahkan ketika kutanya bagaimana cara bertahan hidup di Jakarta, dia menjawab sambil tersenyum.

“Hidup di Jakarta itu harus rajin,” katanya sambil memandangku sambil tersenyum. Sesaat dia berhenti menyisir kayu dan kembali menyeka keringat di dahinya. “Kalau tidak rajin, susah.”

“Seperti apa mencari uang di Jakarta, Pak?”

“Yah, cari duit di Jakarta itu susah-susah gampang. Yang penting rajin,” ulangnya lagi. “Hidup di Jakarta itu keras. Kalau tidak rajin, kita bisa enggak makan. Nanti jatuh-jatuhnya jadi perampok, copet. Uang yang kita dapat bisa tidak halal buat keluarga.”

“Apa uang hasil kerjaan Bapak cukup buat keluarga?”

Kali ini senyumnya hilang. “Masalah cukup atau tidak cukup, semuanya tergantung kita. Kita harus pintar-pintar mengatur uang.”

Tak lama kemudian kutinggalkan Ayong. Tapi aku tak langsung pulang. Sekitar dua ratus meter dari situ, aku mampir di sebuah warung untuk membeli minuman. Meski tidak melakukan kerja fisik, bajuku basah oleh keringat. Dan teriknya matahari membuat kerongkonganku kering.

Tak ada narasi gombal besar yang heroik di wilayah ini. Warga berlalu lalang seperti sedia kala. Di pinggir rel ini, orang-orang berdagang dengan warungnya, bercengkrama dengan tetangga, dan bocah-bocah tak sekolah yang bermain lompat-lompat. Dari sini kupandangi Ayong. Di depan istrinya yang seperti sedang melamun, dia kembali membungkuk-bungkuk. Sungguh, dia seorang pekerja tangguh.

Dirgahayu, Indonesiaku!

 

Jakarta, Agustus 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s