Heroisme Dan Konyolnya Negara

Kasus tewasnya beberapa wartawan di kapal Lavina 1 semestinya tidak hanya dibaca sebagai tragedi-dramatik yang herois dari profesi jurnalis. Ia sebetulnya lebih memberi pesan bahwa negeri ini bukanlah negeri hukum.

Di sekitaran tahun 2005, seorang wartawan tabloid The Sun pernah berhasil menerobos kompleks Akademi Militer Sandhurst di Surrey, Inggris. Wartawan tersebut memasuki sekolah yang juga dihuni oleh pewaris tahta Kerajaan Inggris, Pangeran Harry, dengan cara menyamar sebagai mahasiswa.

Pesan dari The Sun tak lain adalah membuktikan betapa lemahnya sistem keamanan di kompleks militer itu. Si wartawan bisa dengan mudah berkeliling dan membuntuti Pangeran Harry dari jarak yang sangat dekat, yang dibuktikannya dari gambar yang berhasil ia peroleh.

Hal yang sama juga ditunjukkan oleh sejumlah wartawan Indonesia yang menaiki kapal Levina 1. Mereka dengan leluasa menaiki kapal tersebut tanpa ada petugas yang merasa dirinya harus menegakkan Standard Operation Procedure (SOP). Tidak ada perintah tegas penggunaan pelampung atau memberi informasi tentang kelaikan kapal untuk dinaiki. Petugas sendiri tak merasa penting untuk mensterilkan Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk kepentingan investigasi petugas.

Wartawan tentu saja tak bisa disalahkan. Wartawan itu ibarat air yang selalu mencari celah lubang. Bahkan untuk yang tak ada lubang pun ia akan berupaya menjebolnya. Masalahnya lebih pada siapa yang menjaga lubang tersebut. Kenapa tugas penjagaan tersebut tidak dijalankan?

Jawabannya tentu saja didasarkan kedekatan (atau kemampuan merayu) wartawan dengan petugas. Jika dekat, apa saja boleh. Apalagi jika punya uang untuk menyogok. Semua pasti lancar dan cepat. Lihat saja jumlah penumpang kapal Levina 1 sendiri. Hingga saat ini belum di dapat kepastian berapa orang yang sebetulnya ada di kapal tersebut. Palang Merah Indonesia menyebut 440 orang; Administrasi Tanjung Priok 316 penumpang; sedangkan di dalam Manifes Penumpang Levina 1, 307 penumpang.

Bisa dipastikan, petugas memang tidak begitu hirau pada daya angkut dan jumlah penumpang, apalagi kenyamanan. Mereka biasanya lebih fokus pada bayarannya. Meski tidak mendapat tempat duduk, seperti yang juga terjadi di bus atau kereta api, petugas tetap memunguti uang penumpang.

Pola yang sama juga ditunjukkan di rubrik Suara Pembaca harian Kompas (26/02). Di sana tertulis betapa sistem keamanan di Bandara Soekarno-Hatta sangat rapuh. Meski jelas tertulis penjemput yang mau masuk harus melalui pintu di lantai bawah, ternyata sejumlah orang bisa juga memasuki pintu keberangkatan tanpa punya PAS Bandara.

Sudut pandang dari semua hal di atas adalah kebaikan hati sang petugas. Dan tentu saja, kebaikan ini merupakan budi yang harus dibalas dalam bentuk uang. Ada uang persoalan selesai, begitu konon kabarnya.

Rasanya tak ada lagi yang bisa berpikir panjang bahwa harga yang harus dibayar atas lemahnya penegakkan aturan ini bisa sangat mahal. Dan kita baru ribut besar setelah ada kapal tenggelam, kereta api tabrakan, pesawat jatuh, atau bom meledak. Dan itu pun mensyaratkan jumlah korban haruslah besar. Kualitas kesakitan atau ketidaknyamanan rasanya selalu menjadi faktor X yang tak pernah bisa dikenali oleh kesadaran kebanyakan orang Indonesia.

Saya yakin, tak satupun orang Indonesia yang merasa asing dengan fenomena tersebut. Dalam diam kita bisa berucap “inilah Indonesia”. Apa yang menjadi hitam di atas putih, sama sekali tidak menyublim dalam kesadaran kolektif orang Indonesia. Kertas tetap kertas, dan di lapangan kenyataan berbicara lain. Bahkan sejak kuliah sudah ada pameo bahwa teori itu berbeda dengan praktek; bahwa kejaran orang bersekolah adalah ijazah.

Tidak perlu kita jauh-jauh berbicara hal-hal besar yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945, seperti kasus Suharto yang harus diadili, atau harus terpenuhinya anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN. Di tingkat individu pun, masyarakat Indonesia memang abai terhadap peraturan, entah itu di jalan raya atau mengurus surat-surat tertentu.

Satu hal yang bisa dibaca dari kenyataan ini adalah betapa masyarakat indonesia, secara kolektif, belum sampai pada kesadaran pentingnya sebuah aturan untuk ditegakkan. Artinya, jika level yang tertulis itu belum melekat di dalam pikiran, apalagi di level etika.

Siapa yang tak khawatir jika TKI yang dikirim ke luar negeri menjadi bahan penyiksaan, misalnya? Pasalnya, pelatihan keterampilan untuk para TKI memang hanya keharusan yang datang dari nurani. Tak tertulis bahwa pelatihan itu sebagai sesuatu yang harus ditegakkan.

Serta merta kita kembali pada soal di atas. Jika pun sudah tertulis, tak ada jaminan etika itu akan membuahkan perilaku. Dan sulit untuk menyetop pertanyaan, kita ini bangsa apa? Darimana kita berasal hingga begitu berbeda dari bangsa lain? Jika yang tertulis sudah tidak dihiraukan, apa jadinya masa depan kita?

Maret 2007

One thought on “Heroisme Dan Konyolnya Negara

  1. Pada kasus tenggelamnya kapal Levina I yang memakan korban wartawan. Para wartawan itu sudah diperingatkan utk memakai pelampung & tidak berada diatas kapal.
    Tapi, para wartawan itu setengah memaksa, dan sebagian diantaranya menolak memakai pelampung dgn alasan susah krn hrs membawa kamera.

    Akhirnya para wartawan naik keatas kapal. Dan tenggelamlan kapal itu.

    Petugas sudah memperingatkan. Jika, seandainya, petugas itu menerapkan SOP yg ketat, bukan tidak mungkin petugas itu dituduh (oleh wartawan yg ada saat itu) menghalangi tugas jurnalistik, menghalangi publik mendapat informasi, dan melanggar UU Pers no.40/1999. Alhasil, “menyerahlah” para petugas pada kemauan wartawan.

    Alangkah baiknya jika menulis sesuatu secara lebih objektif dan tidak mengedepankan solidaritas yg berlebihan.

    Salam hangat!
    -Yana-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s