Menyoal Politik Samar-Samar

“Tak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi”. Ini adalah pameo politik yang sudah sangat terkenal. Ia menjadi pembenaran kala sebuah persekutuan pecah. Dari dulu sampai sekarang, dipusaran kepentingan abadi inilah para aktivis bertarung.

Kepentingan abadi yang dimaksud adalah kepentingan rakyat. Cara membaca kepentingan itu tentu saja melalui kacamata ideologi partai yang bersangkutan. Namun demikian, secara historis, sebetulnya pameo ini sudah mengalami pendangkalan makna. Ada pemahaman yang berbeda tentang apa itu kawan dan apa itu kepentingan. Dan jika kita perhatikan, setidaknya ada dua perbedaan makna dalam penggunaan pameo itu dalam kehidupan politik saat ini.

Pertama, pameo itu digunakan hanya sebagai pembenaran atas perasaan suka atau tidak suka terhadap seseorang. Seorang petinggi partai bisa saja memecat atau bahkan mengundurkan diri jika ada orang lain, yang juga petinggi, mendominasi partainya. Mendominasi disini bukan dalam pengertian membelokkan visi partai, tetapi semata-mata karena masalah psikologis, yakni munculnya perasaan terancam atas jabatan atau pengaruh yang sudah dimilikinya. Konflik psikologis ini bisa dan sudah merontokkan suatu partai politik.

Kedua, pameo itu digunakan untuk kepentingan bisnis. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kini pengusahalah yang menggantikan posisi militer dalam berdwifungsi. Selain mengurusi perusahaan, mereka pun mulai mengurusi politik. Orang kini beramai-ramai memasuki sebuah organisasi politik dengan maksud mendapatkan kelancaran bisnis. Konflik yang terjadipun tak jauh dari kepentingan usaha.

Aspek psikologis dan bisnis inilah yang kini mewarnai kehidupan politik Indonesia. Sebagai contoh, sebut saja perseteruan yang terjadi di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Demokrat (PD), Partai Golongan Karya (PG), dan sejumlah partai lain. Saat diwawancarai media, keluarlah pameo politik itu sebagai pembenaran.

Akan tetapi, berbagai pemahaman atas pameo politik itu bukannya terjadinya tanpa sebab. Ada sejumlah hal yang mendasari atau mendorong terciptanya iklim politik yang banal ini, yang semuanya bersumber pada sistem politik Indonesia itu sendiri.

Pertama, sistem politik kita tidak menggunakan unsur oposisi secara tegas. Banyak partai yang sepertinya malu-malu atau sungkan memproklamirkan diri sebagai oposisi. Meski PDIP menyatakan diri untuk menempati posisi oposisi, prakteknya masih jauh dari itu. Lihat saja, misalnya, saat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), lepasnya Sipadan dan ligitan, pengusiran besar-besaran Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia, atau Pedagang Kaki Lima (PKL) yang terus digusur-gusur. Mana partai yang menggerakan massanya? Kenapa mereka hanya bisa menggerakkan massa saat pemilihan umum (pemilu)?

Sejumlah kalangan menyangkal argumen oposisi ini dengan menyatakan bahwa pikiran yang mendikotomikan antara penguasa dan oposisi adalah sempit. Di Indonesia, kata mereka, yang pas adalah partner konstruktif. Artinya, jika ada kebijakan pemerintah yang dirasa keliru, kritik akan dilangsungkan, dan jika ada yang benar, maka harus didukung.

Kuat kesan bahwa pendapat ini datang dari kaum oportunis. Mengapa? Sebab kritik yang berasal dari kawan karib tentu saja tidak memiliki daya tekan yang serius. Mereka akan dirangkul oleh penguasa untuk memahami kesulitan dirinya. Dan bagi pengkritik, mereka dengan sendirinya tidak akan kehilangan belas kasihan dari penguasa.

Di sini, praktek partner konstruktif sebagai pengganti oposisi tentu saja jauh dari pameo politik di atas. Kepentingan abadi itu dengan sendirinya terbelokkan dengan segala macam kompromi dan lobi-lobi. Sadar atau tidak, lobi-lobi itu kerap senjang dengan kepentingan rakyat. Tanpa oposisi, pameo itu betul-betul hanya akan menciptakan banalitas politik.

Kedua, sifat partai politik di Indonesia sendiri yang tidak jelas. Biasanya, sebuah partai bisa dipetakan ke dalam golongan kiri, kanan, atau tengah. Kiri artinya berbasiskan kelas bawah, yang bersumber dari buruh-tani; kanan berbasiskan golongan agama; dan tengah berbasiskan golongan nasionalis. Ini peta yang umum terjadi di politik modern. Tidak ada yang bisa mengatakannya kuno karena toh hingga sekarang kesejahteraan, pendidikan, dan keadilan sosial masih compang camping.

Di Indonesia, segala sesuatunya serba samar. PD misalnya. Partai yang tak bisa disebut sebagai partai kader atau partai massa ini tiba-tiba muncul sebagai kekuatan politik yang signifikan. Sekilas ini prestasi. Namun, lama kelamaan kelihatan juga keroposnya. Setelah menjadi partai pemerintah, di tengah jalan ia bisa diselip oleh PG, dan sebentar kemudian partai ini didera konflik internal serius.

Selain masalah karakter, banyak juga partai yang tak jelas di masalah dimana ia berpijak. Lihat saja PDIP dan PG yang bisa disebut dari golongan tengah. Kemudian PKB dan Partai Amanat Nasional (PAN) dari kanan-tengah. Dan sampai detik ini, secara prinsipil, saya tidak tahu apa beda masing-masing partai tersebut di dalam golongannya.

Mungkin hanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menegas di golongan kanan, meski ia masih saja bersekutu dengan pemerintahan tengah. Begitu kental darah kanannya, sampai-sampai ia mampu menggerakkan massa yang sangat besar di seluruh Indonesia untuk kasus Palestina (dan herannya ia tak pernah melakukan hal yang sama untuk masalah-masalah keadilan dan kesejahteraan di dalam negeri).

PKS memang cukup fenomenal. Ia partai kader yang sempat menjadi harapan untuk membuat perubahan dari kehidupan politik yang stagnan. Tapi selain sikapnya yang tidak jelas saat kenaikan BBM, sepintas ia mengingatkan kita pada Partai Masjumi. Apa sebab? Tahun 1950-an, Masjumi tak turut dalam nuansa mengecam Darul Islam yang ingin menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan kini, PKS pun melakukan hal yang sama ketika Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir (HT), dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) hendak menegakkan syariat Islam di Indonesia.

Sementara itu, golongan kiri nyaris tak memiliki penghuni. Begitu Partai Komunis Indonesia (PKI) habis, habis pulalah riwayat kiri. Konsekuensinya, Indonesia tidak lagi memiliki pisau bedah terhadap kapitalisme yang, dengan sendirinya, menjadi begitu purba. Ada memang Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan partai atau organisasi massa yang berbasiskan buruh. Tapi sayang, kekuatan mereka tidak signifikan.

Seseorang bisa saja berkata bahwa materi politik Indonesia berbeda dengan politik barat. Tapi sebenarnya ini bukan bantahan yang cukup muatan intelektualnya. Secara historis, kita punya landasan. Dan toh kita memang menganut prinsip politik modern. Terlebih kemiskinan, yang memiliki efek domino, masih terus mencekik leher rakyat.

Idealnya, sebuah partai bisa mewakili aspirasi suatu kelas atau golongan sosial. Dengannya, barulah bisa berlaku apa yang disebut “tak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi”. Jika anggaran pendidikan tak juga memenuhi amanat UUD atau beras terus menerus diimpor, misalnya, partai-partai berbasiskan golongan yang dirugikan tentu saja akan bergabung untuk membendung kebijakan partai berkuasa (pemerintah). Jika kenaikan terus diberlakukan, pemerintah bisa jatuh.

Tapi jika partai tetap tidak memilih identitasnya, dinamika politik tidak akan pernah terjadi. Pameo tingga pameo. Dan rakyat hanya akan dipikirkan kala pemilu dengan sejuta komat kamit janji.

November 2006

One thought on “Menyoal Politik Samar-Samar

  1. masih banyak hal yang menarik tentang parpol indonesia saat ini, salah satunya adalah fungsi utama parpol untuk memberikan pendidikan politik terhadap rakyat sebagai bentuk pengawalan agar rakyat lebih mudah merespon kebijakan-kebijakan yang dihasilkan pemerintah. saya katakan menarik, karena parpol terkesan melakukan hal itu, nanti saat-saat menjelang kampanye dan sudah jelas berbagai kepentingan politik golongan memboncengi pendidikan politik tersebut. ini juga seharusnya disadari oleh parpol, bahwa pendidikan politik terhadap rakyat seharusnya murni pendidikan, jangan disandingkan dengan kepentingan lain.
    tulisan anda sangat menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s