Menjual Nihilisme Dalam Retorika

SofismeDemokrasi menuntut keahlian berpidato. Ini konsekuensi yang tak terhindarkan. Ketika tiap individu ingin dan berhak turut serta berbicara dan mengetahui apa yang telah dan akan terjadi pada wilayahnya, pada saat itu pula retorika menjadi sentral.

Kebebasan yang dibawa demokrasi memungkinkan dan juga mengharuskan orang untuk pandai dalam berpikir dan renyah dalam menyampaikan. Jika orang yang berbicara tidak meyakinkan dan tidak sedap diikuti, orang pun bebas untuk berpaling. Kondisi seperti itu tentu merugikan bagi sejumlah orang yang memiliki kepentingan tertentu.

Jika retorika dekat dengan demokrasi, lain halnya dengan sistem monarki absolut atau fasis. Dalam sistem-sistem seperti ini, keahlian berpikir atau berbicara cenderung tidak diperhatikan. Sebab, tidak dibutuhkan keterampilan berbicara untuk, misalnya, memobilisasi orang atau massa agar melakukan sesuatu. Sudah ada perangkat negara yang senantiasa siap melakukan pemaksaan, dan juga kekerasan. Tak diperlukan penumbuhan sikap yang seolah-olah berasal dari individu yang disasar (persuasif).

Dalam bahasa Yunani, orang yang cerdik pandai atau ahli berpidato dan memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan disebut sebagai sophos. Sophos, atau yang biasa disebut sebagai sofis, adalah gelar bagi tiap-tiap orang yang pandai bersilat lidah. Yang terkenal dari masa ini adalah guru-guru filosofnya, yang kemudian dikenal sebagai kaum sofis.

Scuola di Atene by RaffaelloGuru-guru sofis ini berpusat di Athena dan berkeliling di jalan-jalan seantero Yunani. Gerakan ini populer pada sekitar tahun 450 SM. Kedatangan mereka membawa perubahan besar dalam kebiasaan mengajar, juga keyakinan filsafat Yunani. Selama ini, ilmu filsafat diajarkan di dalam gedung-gedung tenang dan sunyi. Tetapi, guru-guru sofis menerobosnya dengan mengajar di jalanan.

Dengan memakai teknik-teknik argumentasi baru (yang sebelumnya tidak dikenal) yang didasarkan pada eksploitasi skeptisisme, mereka meremehkan dan mengolok-ngolok seluruh filosof yang berusaha mencari dan memegang kebenaran, terutama Parmenides (± 515-450 SM) yang meyakini bahwa segala sesuatu tak ada, dan yang berubah hanyalah penampakkannya belaka. Kaum sofis memandang bahwa kita tidak akan pernah mampu mengetahui kebenaran universal.

Heraklitos by Johannes MoreelsePandangan ini memang mirip dengan perkataan Herakleitos (± 540-480 SM) yang sangat terkenal, panta rhei khai uden menei, yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal mantap. Hanya saja, Herakleitos menujukan konsepsinya pada kosmos atau makro, sedangkan kaum sofis pada manusia atau mikro.

Kontroversi terjadi. Lalu muncul dua pendapat umum yang bernada menyerang. Pertama, tindakan kaum sofis dinilai sebagai sebuah pelecehan terhadap ilmu suci. Arti penting filsafat di Yunani barangkali memang sebanding dengan tradisi religius di Timur Tengah. Dan asumsi pelecehan juga dikarenakan kaum sofis itu tidak semata mengajarkan pengetahuan mereka demi kebaikan dan kebenaran itu sendiri, melainkan menjualnya demi keperluan hidup.

Kedua, kaum sofis telah melecehkan kebenaran. Pendapat kedua ini terutama datang dari Sokrates, yang kemudian menjadi penantang berat guru-guru itu dalam beradu pendapat (Sokrates memang unggul di sini. Namun demikian, sesungguhnya Sokrates berada pada jalur yang sama dengan guru-guru sofis. Gaya berdebatnya juga selalu menghasilkan ketidaktahuan atau kebingungan mengenai kenyataan. Dengan membuat batas standar pengetahuan yang tinggi ketimbang kaum sofis, seperti menerapkan tes-tes dialektika ketat, Sokrates menjadi jauh lebih radikal). Tapi apanya yang melecehkan kebenaran sehingga Sokrates berang? Di sini kita mesti memeriksa sekelumit tentang doktrin sentral dari sofisme. Ini penting karena beberapa pemikiran yang kelak disebut sebagai revolusi Einstein, postmodern, dan sederet istilah lainnya, ternyata menunjukkan kesamaan dengan doktrin kaum sofis ini.

Pada dasarnya kaum sofis memandang bahwa kebenaran sejati itu tidak ada. Kebenaran bagi mereka hanyalah perubahan demi perubahan. Dan karena kebenaran sejati tidak ada, serta tidak akan pernah tercapai, maka hilanglah perbedaan yang benar dan yang salah. Masing-masing memiliki kebenaran yang berbeda satu sama lain.

Akan tetapi, kebenaran yang dianut masing-masing orang pun akan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Konsekuensinya, relativisme mencuat dari skeptisisme absolut ini. Relativitas mereka menerjang ke semua hal. Mereka merelatifkan segala sesuatu menjadi semacam relativitas tanpa lantai. Filsafat mereka pun akhirnya terkesan sebagai sebuah pembongkaran ketimbang pembangunan.

Namun demikian, meskipun terkesan lantai mereka adalah keraguan absolut, sungguhnya kita bisa merasakan, kaum sofis sedang tidak membawa ajaran tentang keraguan atau relativisme. Mereka justru sedang mengabarkan suatu keyakinan yang sangat teguh mengenai dunia!

ProtagorasAda beberapa dari guru sofis yang sangat terkenal. Protagoras (± 490-420 SM), misalnya. Filosof yang juga murid Herakleitos ini dikenal karena meyakini bahwa manusia adalah ukuran bagi segala-galanya. Semuanya harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendiri, sebab kebenaran umum itu tidak ada.

Keyakinannya bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat universal didasarkan pada pandangan bahwa barang yang terpandang berlainan dengan barang yang dipandang. Ketika kita melihat sesuatu, kita memang dapat mengetahui tentang adanya sesuatu itu, tetapi itu bukanlah pengetahuan tentang sesuatu itu sendiri. Ia tetap tinggal di dasar pengetahuan kita. Oleh karena itu, satu-satunya yang dapat kita ketahui adalah kesan tentang barang itu sendiri. Dengan kata lain, kesanlah satu-satunya kenyataan. Dan karena itu pula tiap-tiap pandangan bersifat subjektif.

Selain Protagoras, ada pula guru bernama Gorgias (± 483-376 SM). Secara radikal, Gorgias meyakini bahwa tak ada segala sesuatu. Ada tiga alasan kenapa ia menihilkan segala sesuatu. Pertama, kalau ada sesuatu, mestilah ia terjadi selamanya dan ada selamanya. Jika terjadinya sesuatu dari yang ada, maka ia harus selalu ada selama-lamanya dan tak berhingga. Dan itu mustahil. Begitu juga yang timbul dari yang tidak ada atau yang sering dikenal dengan istilah creatio ex nihilio, penciptaan dari yang tiada. Karena tidak ada memang berarti tidak ada.

Kedua, jika sekiranya ada sesuatunya, ia tidak dapat diketahui. Disini Gorgias mengikuti Protagoras tentang kesan, yaitu yang ada hanyalah pengetahuan bahwa sesuatu itu terpandang, tetapi bukan sesuatu itu sendiri yang masuk ke dalam pikiran. Sedangkan yang ketiga, jika kita mengetahui sesuatu, kita tidak dapat mengabarkannya kepada orang lain. Sebab, tiap-tiap gambar berlainan dengan barang yang digambar. Kita tidak dapat membawa dan mengabarkan sesuatu yang hanya berupa kesan sebagai sesuatu itu sendiri.

Pendapat Gorgias ini bisa kita sebut sebagai nihilisme. Akan tetapi, kiranya perlu dicatat bahwa nihilisme pada dasarnya memiliki dua pengertian. Bagi Nietszche, dan juga Gorgias, nihilisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu tidak ada. Sementara itu, nihilisme bagi Albert Camus bukanlah percaya pada ketiadaan, melainkan tidak percaya pada apa yang mengada.

Pemikiran sofisme ini kemudian mengarah juga ke Tuhan. Menurut mereka, kita tidak dapat mengetahui ada atau tidak Tuhan itu. Itu sesuatu yang sangat gelap untuk diketahui. Sebab, usia manusia sangatlah pendek untuk mampu menerobosnya.

Filsafat sofisme ini mengguncangkan seluruh keyakinan yang ada, termasuk sistem pergaulan hidup dalam kenegaraan. Banyak orang yang menuding dengan tidak ramah terhadap kaum ini. Kekacauan hidup orang dalam pergaulan segera dialamatkan kepada kaum sofis yang dinilai mengenyampingkan tanggung jawab. Orang-orang menganggap bahwa pengaruh dari kaum sofis-lah yang membuat demokrasi yang telah berjalan baik tiba-tiba jadi berpaling kepada anarki. Mungkin karena ajaran sofisme ini berakar pada relativitas yang memandang segala-galanya adalah sementara, maka filsafat demokrasi pun tentu saja juga akan kena libas tanpa pandang bulu.

Sebenarnya cukup mengherankan bagi kita, bagaimana bisa peradaban filsafat Yunani yang terkenal rasional dapat dengan “mudah” dipengaruhi oleh filsafat sofisme ini. Jawabnya tak lain karena sofisme juga rasional, bahkan sangat rasional sehingga dapat mempengaruhi orang banyak. Ada baiknya jika kita juga melihat situasi masyarakat Yunani pada waktu itu.

YunaniBangsa Yunani atau yang disebut juga Grik tidaklah berada dalam sebuah negara, melainkan tersebar dan terpecah dalam ratusan kota-kota yang banyak dihalangi oleh gunung-gunung atau lautan. Tiap kota yang berdiri sendiri itu pun tak jarang saling bermusuhan. Namun, persatuan kiranya mulai digalang ketika mereka sadar harus berserikat untuk menghadapi Persia (Iran sekarang) yang selalu melancarkan serangan-serangannya, yang dimulai pada tahun 492 SM. Pada tahun 477 SM, terdapat kesepakatan untuk menjadikan Athena sebagai pusat kekuatan. Dan pada pertengahan abad kelima SM, bangsa Yunani berhasil memenangkan pertempuran melawan Persia. Ini membuat Athena semakin memancarkan sinarnya. Lambat laun, Athena – dibawah kepemimpinan Perikles – menjadi pusat peradaban Yunani, dimana aktivitas-aktivitas seperti perdagangan, pengetahuan filsafat dan seni mulai mencapai kemajuan luar biasa. Dibawah pimpinan Perikles, rakyat dimajukan pendidikan dan kemakmurannya. Ini adalah masa gemilang yang sering disebut masa emas Yunani.

Bagaikan pepatah ada gula ada semut, semua orang pun lantas berduyun-duyun mengunjungi Athena. Mereka melihat Athena sebagai kota yang banyak manfaat, dan mereka ingin mengambilnya dari sana. Termasuklah diantaranya guru-guru sofis, yang tak lain juga murid-murid filosof terkenal terdahulu.

Seperti yang telah diceritakan, kaum sofis datang dengan melakukan praktik perdagangan pengetahuan demi kebutuhan hidup. Ilmu pengetahuan dijual bagaikan rempah-rempah. Sepertinya mereka melihat potensi “pasar” di Athena. Mereka tahu, sistem demokrasi membutuhkan pengetahuan, terutama pengetahuan tentang retorika.

Saat inilah filsafat mulai tampak bergeser. Dari yang semula sebagai keyakinan orang untuk pencarian kebenaran, diubah karakternya sebagai usaha penundukkan orang-orang dengan daya kata-kata. Bentuk dan kemasan berpidato dianggap lebih penting ketimbang prinsip-prinsip isi pidato itu sendiri. Oleh karena itu, keyakinan menjadi hilang. Penggerogotan filsafat Yunani tidak berhenti di situ saja. Jatuhnya Athena pada bangsa Sparta di tahun 431 sampai 404 SM juga turut memberikan andil besar bagi senyapnya filsafat Yunani.

Kemudian, setelah Macedonia berhasil menghalau bangsa Sparta dari Yunani, pelan-pelan filsafat Yunani mulai bercampur dengan berbagai aliran, seperti teologi-teologi Timur Tengah, seiring dengan perluasan wilayah Macedonia. Filsafat “baru” ini pun mulai dikenal dengan istilah filsafat Hellenistik.

Masa-masa penguasaan Sparta itu sering disebut sebagai masa kegelapan Athena. Bagi sebagian orang, kehancuran itu dimulai dari kedatangan kaum sofis, yang tidak saja memperlakukan ilmu suci seenaknya di tengah jalan, tetapi juga mendangkalkan rasa tanggungjawab dan hormat pada kebenaran.

Sementara bagi sebagian yang lain, jaman sofistik ini adalah jaman kesadaran dan pembukaan pikiran. Sofisme adalah pemicu bagi lahirnya epistemologi. Pukulannya yang telak pada Parmenides dan seluruh materialis Yunani yang meyakini kebenaran melekat pada benda membuat sofisme menjadi yang menjadi pertama dalam meragukan kemungkinan adanya pengetahuan mengenai kenyataan.

Namun demikian, ketika kaum positivisme, yang merupakan anak kandung materialisme, berjaya dalam mempengaruhi dunia, sofisme mendapat julukan yang begitu buruk. Dalam terminologi positivisme-kuantitatif, sofisme diartikan sebagai kesesatan berpikir yang disengaja untuk menyesatkan orang lain.

 

(Dimuat di Harian Kompas, Januari 2007)

10 thoughts on “Menjual Nihilisme Dalam Retorika

  1. terima kasih imgormasi memang penting untuk digali dari itu saya ingin menggali informasi dari mana saja,terima kasih atas informasinya semoga anda menjadi insan yang lebih ber……………………..

  2. Guha, saya memang sudah lama tak lagi mengeluarkan buku. Berat kini rasanya berjibaku dan bertegang-tegang dengan pemikiran dan kenyataan. Bukan berarti saya tidak lagi menulis naskah buku. Saya sedang. Tapi tidak akan terbit dalam waktu dekat. Saya tidak mau ikut-ikutan untuk mengumpul-kumpulkan tulisan -tulisan kecil lalu dijadikan satu agar tampak seperti buku. Tak perlu buru-buru untuk menulis sebuah Buku. Kerdil rasanya jika ada kekhawatiran akan hal itu.

    Dan tenang saja. Saya kerap bangun kemalaman, hingga tak khawatir dengan kesiangan. Apalagi saya tidak punya masalah dengan kemalaman atau setan apapun namanya itu.

    Salam,
    Iqbal

  3. cerita bermula dari tanya. maka tak penting bila semesta memuntahkan segala kata atau isyarat untuk menjawabnya. apa yang dikatakan itu tidak penting, karena apa yang dilakukan tidak menyisakan ruang bagi semesta. tanya adalah sebuah awal, dan jawab adalah tanda koma yang selalu menagih kata, sebelum titik mengubur segala suara. silakan saja berkubang dengan sejumlah tanda baca–tanya atau koma. tapi ingat, titik bukan akhir dari cerita! ia hanya amin di penghujung “doa panjang ini”.

    sahabat, pagi tengah menanti cerita baru darimu, maka kuharap kau jangan bangun kesiangan, sebab nanti kemalaman. kau paham, bukan? buku baru itu rindu pada alfabet dalam buku lamamu, karena ia punya tempat yang lebih indah (peran) untuk mereka. tapi mungkin juga sebaliknya?! salam. bls

  4. Saya juga masih ingat: aku masuk ke ruangan dan melihat lelaki dengan raut muka yang setengah kusut di depan monitor. Hehehe….

    Kabar pers nusantara kita? Jangan tanya saya, dong. Coba tanya Andreas, si P(em)ANTAU jurnalisme di Indonesia! Hihihihi….

    Minggu depan aku ke Jakarta. Main ke Veteran ya. Aku traktir secangkir kopi dan sepiring nasi goreng deh. Sambil cerita-cerita.

    Gimana?

  5. Zen,
    Kabarku baik. Dan tentu saya masih ingat. Waktu itu kau datang ke kantor mendahului matahari, saat aku masih menulis. Dan Muhidin sering cerita tentangmu.

    Apa kabarmu? Dan apa kabar pers nusantara kita?

  6. Saya pernah membaca Apologia, naskah Krito dan naskah Ion. Ketiganya tulisan Plato yang mengisahkan/merekam bagaimana cerdik dan jagonya Socrates berdebat. Tapi dari sana juga saya akirnya ngeh: Socrates sebenarnya menggunakan teknik retorika kaum sofis juga.

    Pernah baca naskah James Fox berjudul Panen Lontar? Lewat naskah itu saya tahu ada perbandingan yang menarik antara Sparta dan Athena dengan orang2 Pulau Sawu dan orang2 pulau Rote.

    Saya terkejut karena tipikal orang-orang Sparta yang punya tradisi berperang dan orang Athena yang punya tradisi berdiskusi/bercakap2, hampir sama dengan karakter orang pulau Sawu yang senang bercakap-cakap, bercerita, dll., dan orang dari Pulau Rote yang lebh banyak diam dan lebih suka menyelsaikan semuanya dengan otot, tenaga, kelahi dan perang. Keduanya juga bertetangga. Dan seperti Athena dan Sparta, keduanya juga sempat bersitegang.

    Apa kabar dirimu, Bung? Masih ingat saya?

  7. Thank you Yana. Ada sejuta jalan memahami tulisan, seperti hitung saja berapa jumlah hurufnya lalu dikali jumlah paragraf. Kalau mau, bisa dibagi dengan tanggal saat membaca, hehehehe… Blogmu oke. Bagus.

  8. i read it in Kompas too, the update version of course.
    But i still can’t understand the aim of.

    btw, i updating my blog, more colorful, more attractive, more Yana.
    see it ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s