Struktur Kelas dan Pembaharuan

Datang di pagi hari dan pulang dikala sore. Itu yang terjadi mulai dari kita duduk di bangku sekolah dasar sampai universitas. Hari-hari yang panjang dan melelahkan memang. Pantaslah jika ada yang merayakannya ketika tamat dari suatu jenjang, entah dengan corat-coret baju atau menggelar upacara khidmat.

Sebagian dari kita barangkali menghabiskan belasan tahun itu dengan datang, duduk, dengar, diam, dan pulang. Guru menyampaikan ceramah, murid mengangguk-angguk. Dosen menuliskan sesuatu, mahasiswa mencatat-catat. Karnaval pertunjukkan guru berlangsung lurus, mulus, seolah tanpa ada masalah.

Pola pendidikan yang linear ini sungguh sudah menuai gugatan. Posisi pasif yang didera peserta didik tidak merangsang bangkitnya kreativitas pemikiran dan daya analisa. Ia tidak mencetak pribadi-pribadi yang mampu dan kuat dalam solusi saat berinteraksi dengan masalah atau konflik. Ia jauh lebih berguna untuk diterapkan sebagai pendukung sistem “pendidikan robotik”, yang melulu berisi penghapalan laksana robot yang dicangkokkan program.

Dan entah disadari atau tidak, pola linear itu kian dikuatkan dengan struktur fisik bangunan kelas. Di banyak tempat, mulai dari SD hingga universitas, posisi pengajar lebih ditinggikan dengan cara menaikkan lantai satu tangga di atas para terajar. Pengajar berposisi di depan, di atas, sementara terajar bergerombol di belakang, di bawah.

Struktur ruang kelas ini kian mengokohkan nuansa psikologis dalam diri terajar bahwa sumber pengetahuan adalah pengajar. Kebenaran adalah dia yang sendirian berada di depan. Jika pun ada pengajar yang mengubah tempat duduk terajar menjadi melingkar, bagaimanapun itu hanya bersifat personal, bukan sistem. Sistem pendidikan dengan tata ruang seperti itu jelas mengasumsikan bahwa proses pendidikan (harus?) terjadi secara linear.

Berbagai tayangan televisi yang mengikutsertakan murid atau mahasiswa pun seringkali mencerminkan pengajar sebagai yang utama. Pengajar berada di pusat bersama moderator dan mahasiswa duduk di pinggir-pinggirnya. Rasanya sulit dibantah bahwa memang ada semangat kolektif untuk menguatkan perbedaan posisi pengajar dan terajar melalui struktur fisik.

Adalah Deddy Mulyana (1999) yang membandingkan tata ruang kelas kita dengan SD di Australia. SD-SD di sana, kata Deddy, murid-muridnya duduk melingkar, dan guru mendorong anak-anak untuk mengemukakan gagasan dengan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang dimulai dengan kata tanya “bagaimana” atau “mengapa”. Hal yang sama juga bisa temukan dalam kursus-kursus berbahasa asing.

Tapi itu di negara lain. Di Indonesia, pengajar tidak bertindak sebagai fasilitator atau perangsang lahirnya pemikiran dari terajar. Pengajar lebih bertindak sebagai raja-raja kecil. Dan meski pengajar kerap meminta terajar untuk kreatif dan rajin membaca, yang terjadi justru sebaliknya. Polanya malah menciptakan pikiran “untuk apalagi membaca, toh sudah ada dosen”. Akan timbul kecenderungan keseragaman (kemasalan?) berpikir, status quo, dan pada gilirannya menihilkan kajian-kajian radikal di universitas.

Ini cukup ironis dan ambigu. Satu sisi, makna kreativitas adalah out of mainstream. Jika masih dalam mainstream, itu bukan kreatif, melainkan pengekor belaka. Di sisi lain, praktek pendidikan sendiri menghalangi pribadi-pribadi untuk berani keluar dari pola berpikir biasa.

Yang lebih terjadi adalah indoktrinasi satu paradigma berpikir. Jikapun di beberapa universitas, maksudnya beberapa “oknumnya”, sudah mengakui bahwa setiap dosen memiliki iman paradigmanya masing-masing, tapi, menurut saya, fondasinya tidak kuat. Praktik indoktrinasi yang berkedok pendidikan belum habis sejak dari jenjang awal.

Dulu semua mahasiswa meneliti dengan menggunakan paradigma positivisme. Kini, ketika banyak dosen kritis beralih pada pendekatan-pendekatan paradigma kualitatif, seperti semiotika, mahasiswa pun berduyun-duyun menggunakan semiotika. Padahal, dulu, pribadi-pribadi yang mengusung paradigma tertentu di luar positivisme yang “resmi” bisa dimasukkan ke dalam tong yang disebut “pembangkang”.

Poulo Freire, seorang kritikus pendidikan terkemuka, sudah menyindir keras pendidikan yang tidak membebaskan ini. Kata Freire, teaching is not transfering knowledge. Proses pendidikan tidak boleh bergaya bank, dimana pengajar memberi dan terajar menyimpan. Pengetahuan haruslah ditumbuhkan dari dalam diri peserta didik.

Saya menduga, nilai lokal di Indonesia berupaya penghormatan yang mendalam dan pengakuan bahwa orang tua tahu segalanya, berkolaborasi dengan adagium modernisme the truth is not out there. Kebenaran sudah ada di sana menunggu kita ungkap. Kemudian terjadi kristalisasi keyakinan (dogma), bahwa pengajar yang lebih tua memegang kebenaran (yang diasumsikan ada).

Pengakuan bahwa orang tua tahu segalanya sungguh sulit untuk dipertahankan di jaman ini. Pola komunikasi sosial sudah berubah, dari yang linear menjadi acak. ”Kapanpun siapapun bisa mendapat pengetahuan apapun”. Jika digambarkan dengan skema berupa titik-titik yang melingkar, tidak ada titik yang bisa merasa dirinya di tengah, dimana semua orang menghubungi dan dihubungi dari dan melalui dirinya.

Sementara itu, pikiran the truth is not out there pun bukannya tidak bermasalah. Dan bagaimanapun, itu hanyalah salah satu slogan dari paradigma tertentu. Dan saya termasuk orang yang melihat bahwa pandangan itu berlawanan dengan paradigma konstruktivisme sosial. Dalam konstruksitivisme, manusialah yang mengkonstruksikan pengetahuan, entah itu gender, penyakit, quark (komponen partikel elementer), nasionalisme, negara, bangsa, masa lalu, geometri, emosi, realitas, diri, dan sebagainya.

Bagi saya, dengan mengakui bahwa kitalah yang mengkonstruksikan kenyataan, maka antara pengajar dan terajar akan terjadi kesejajaran. Masing-masing akan menyampaikan gagasannya terhadap suatu masalah tanpa hambatan-hambatan psikologis. Pembaharuan akan jauh lebih mudah lahir dari pola seperti ini.

Jika polanya tetap linear, berapapun anggaran untuk pendidikan akan sia-sia. Lebih jauh dari itu, saya berpikir, meski mahasiswa dan dosen kerap berdemonstrasi menuntut pembaharuan, jangan-jangan lingkungan mereka sendirilah yang menanam benih status quo.

 

September 2006

One thought on “Struktur Kelas dan Pembaharuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s