Teater Tragedi di 1 Mei 2005

Ada pertunjukkan luar biasa yang terjadi di awal Oktober 2005. Sebuah kelompok teater meledakkan diri di panggung. Ceritanya begitu dramatis, hingga membuat penonton tak pelak mengidentifikasikan kesakitan tersebut pada dirinya.Pertunjukkan itu memang hebat. Sebelum bom meledak, mereka membangun sebuah cerita dramatik tentang kekisruhan dahsyat yang diakibatkan dari dunia luar. Panggungnya dirancang sedemikian rupa. Cahaya merah, putih, hitam, dan abu-abu dimainkan dengan acak dari belakang-atas panggung. Suram, bingung, takut. Di sana, seorang aktor mondar-mandir berpikir. Matanya merah. Ada adegan shalat tahajut. Di belakangnya sekelompok orang menjadi buntut.

Sesaat orang-orang itu membisu, panggung pelan menggelap. Dan tiba-tiba, tepat pukul 12 malam tanggal 1 Oktober 2005, gendang ditabuh. Lampu menyala-nyala. Di sana sini muncul gema pekik mirip kuda yang meringkik. Lalu muncul sebaris orang berbaju rapi dan mahal. Wajahnya datar. Mereka tak berbicara. Salah seorang, di baris terdepan, hanya mengangkat sebelah tangannya, seperti salam-nya Hitler. Dan, meledaklah bom itu. Pertunjukkan berakhir. Tapi, seluruh bangunan turut runtuh. Sengaja atau tidak, sadar atau tidak, entahlah.

Penonton terhenyak. Pertunjukkan gila, pikir mereka. Sesaat mereka tak lagi memperhatikan para aktor, tetapi mulai merasakan perih pada dirinya. Dada sesak, kepala pusing, marah meluap, lesu luar biasa, pincang. Mereka semakin bingung ketika lampu dimatikan. Hiruk pikuk ini dilihat oleh seorang aktor sebagai “keberhasilan sebuah pertunjukkan yang mampu melibatkan penonton sebagai pemain secara fisik dan psikis”. Tapi dasar aktor, wajahnya tetap murung.

Memang, usainya pertunjukkan itu membuat penonton menjadi aktor baru. Panggung meluaskan diri. Mereka mulai menjadi subjek. Mereka balik ditonton sebagai gerombolan panik yang mulai bertumbangan, melarat, tak bisa bekerja, gila, bahkan tewas. Muncul adegan dimana pencarian nafkah terhalang oleh hitung-hitungan berbagai macam biaya transportasi atau makan.

Sementara itu, sang aktor pertama juga turut menderita. Tapi mereka hanya sebatas panas kuping akibat banyak dicaci orang, yang kemudian berbalik marah-marah dengan menyuruh orang untuk tidak naif dengan tetap hidup seperti sebelum pertunjukkan dimulai. Hanya ini. Maklum, uang mereka banyak, tempat tidurnya empuk, kalau berkendaraan tak pernah kena macet.

Dalam adegan itu muncul pula suara dumelan yang berdengung. Dan ketika lampu di-zoom in, tampak seorang yang mengaku ilmuwan, sudah Ph.D, sebagaimana ia gembar gemborkan sendiri, dari ilmu neologisme yang sedang sibuk membicarakan cara berkomunikasi kelompok teater tadi. Ia asyik berbicara tentang penampilan, sesekali diakitkan dengan tafsirnya sendiri, mengenai mulut aktor yang terlalu lebar, mata aktor yang terlalu tajam, atau ketidakmampuan penonton untuk meng-SMS para aktor. “Model komunikasi seperti ini memicu percepatan stimuli menjadi respon. Inilah teori komunikasi politik untuk pertunjukkan itu,” katanya yakin.

Untuk menjawab keluhan ilmu ini, kelompok teater tadi cukup pintar. Secara simbolik, mereka meresponnya hanya dengan memberikan sebuah toa. Tak perlu otak cerdas untuk menjawab orang tadi memang, cukup dengan corong semata.

Tapi kemudian lampu bergerak, menuju ke kerumunan yang berada jauh dari titik sang ilmuwan tadi. Ternyata kelompok itu adalah kelompok mahasiswa. Dari mereka terdengar beragam rencana aksi demonstrasi. Terkadang mengerikan. Dan di dekat mereka, ada sekelompok orang yang jumlahnya jauh lebih kecil. Kata orang-orang pintar, mereka itu para ilmuwan. Ada yang dari ekonomi, hukum, psikologi, dan kebudayaan.

Dari kelompok ini terdengar suara-suara yang begitu kritis, berupaya keras mencari celah logika para aktor. Dan mereka ngotot bahwa aktor tadi tak perlu meledakkan diri untuk mencapai klimaks. Ada banyak jalan untuk menutup pertunjukkan dengan tetap mengejutkan, jikapun kejutan adalah sesuatu keniscayaan.

Untuk menghadapinya, kelompok teater tadi mengirimkan mesin pemikirnya. Begitu kewalahan, mereka tambah lagi mesinnya. Terus begitu. Debat dan caci bercampur. Saking kesalnya, mereka ingin mengirimkan tentara. Dan kemudian disimpulkan bahwa memang tak ada yang namanya kebenaran, semuanya masalah pilihan. Berdasarkan ini kelompok teater menutup diskusinya.

Ternyata mereka tak sekhawatir yang dibayangkan orang. Tak ada masalah jika tak bisa punya kemampuan berpikir. Sebab, kelompok teater ini sudah menyiapkan kotak bernama “kewajaran” yang siap menampung kegelisahan itu. Apalagi tidak ada orang yang sanggup berdemonstrasi atau mengumpat terus menerus.

Oktober 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s