Reinkarnasi

Aku adalah jiwa yang berdialog dengan raga. Suatu ketika kutanya raga yang telah sangat lama mengurungku. Kenapa kau kunci aku rapat-rapat? Tapi raga malah bertanya balik. Kenapa kau pandang itu sebuah kerangkeng? Lagi pula itu bukan mauku. Aku pun lelah menyimpan kau yang selalu meronta, menendang-nendang. Liar. Begitu kata raga.

Sejenak aku terdiam, memaklumi. Ternyata kami sama-sama lelah. Mungkin terlalu lama bersama membuat kami tak lagi akur. Aku telah melihat raga lain yang tampan, kekar, dan keras. Sementara raga juga sudah melihat jiwa lain yang lembut, halus, dan bersahaja. Masing-masing terpesona, lalu menyiapkan segumpal penyesalan, lalu keresahan, lalu perlawanan.

Siapa yang akan menengahi kami? Jika masalah ini didera sepasang lelaki dan perempuan, mereka akan dengan mudah mencari seorang profesional semacam psikolog. Tapi kami? Kemana kami harus mencari? Masing-masing kami tahu persis perpisahan adalah tak mungkin. Yang bisa memisahkan kami hanya satu, si maut.

Tapi kesadaran semacam itu hanya sebentar. Karena esok keluhan yang sama akan terulang. Aku kembali tak mau tahu. Tak ada lagi yang bisa mengendalikan. Aku begitu bosan melihat kulit tanganku, hidungku, tinggi badanku, batok kepalaku, kakiku, jariku, kukuku, dengkulku, pahaku. Semuanya menjadi jengah. Tak nyaman. Raga sudah tak lagi punya pengaruh baik.

Raga marah. Raga muak denganku. Terlalu liar. Raga sebal denganku yang angkuh, sombong, kepala batu, suka memaki, plintat-plintut. Raga tak mau lagi diperintah. Raga juga sudah sama tak mau tahunya dengan aku yang resah. Raga marah karena merasa tidak lagi diperlukan. Berkali-kali raga mengatakan bahwa dirinyalah yang sangat berguna, bukan jiwa. Jiwa tanpa raga hanyalah gas.

Dibentak seperti itu aku menjadi semakin marah. Kukatakan pada raga, bahwa tanpa jiwa, raga hanyalah seonggok daging yang bisa ditemukan di tempat-tempat sampah. Raga hanya ada bila ada jiwa. Raga akan kehilangan auranya bila jiwa sudah suntuk. Tak ada yang mau menemani raga bila jiwa tak ada.

Tiba-tiba raga menyela dengan geram. Raga bilang supaya ucapan itu diucapkan saja di dalam hati biar bisa kuresapi sendiri. Raga bilang, perkataan itu sebenarnya untukku sendiri. Bukan untuk raga.

Beberapa saat kemudian raga jatuh sakit. Raga kini sering mual, muntah, pusing, dan jantungnya berdebar. Suatu ketika di sebuah jalan yang ramai, raga ambruk dengan kepala yang terantuk aspal. Pingsan. Aduh! Aku semakin marah. Beberapa kali aku menghardik, membentak, berteriak, agar raga bangkit dan kembali berjalan. Tapi raga yang biasanya melawan kali ini diam.

Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Dua puluh menit. Aku terus menerus memaki raga. Kubilang raga payah, lembek, lemah. Raga tetap membisu. Pada menit tiga puluh, aku semakin panik. Sejumlah orang, mungkin sekitar empat atau lima orang berseragam putih, datang dan menggotong kami dengan tandu ke sebuah mobil yang juga berwarna putih. Ada raungan sirene.

Tak berapa lama kami sampai di sebuah rumah sakit dan langsung dimasukkan ke ruang gawat darurat. Itu yang aku baca dari tulisan di papan atas pintu masuk. Aku melihat raga mematung. Kini wajah raga mulai memucat. Di sana sini dimasuki berbagai selang dan penutup. Entah apa nama dan fungsinya. Di sebelah kanan, ada layar komputer yang berisikan garis-garis bergerigi naik turun.

Aku semakin tak karuan. Kugedor-gedor ulu hati raga agar segera bangun dan keluar dari ruangan ini. Di kiri kanan, orang-orang berbaju putih sedang dalam keadaan tegang. Tiba-tiba semua menghela napas. Kulihat garis di layar komputer tadi kini tak lagi naik turun. Seseorang diantara mereka kemudian menutup mata raga.

Aku terdiam, seperti sedang merasakan ada yang sedang tercabik-cabik. Entah kenapa aku kesakitan, pelan-pelan, lalu menghebat. Aku menangis. Dan alangkah kagetnya aku, pada saat yang bersamaan, sudut mata raga juga keluar air mata. Basah mengalir ke pipi dan turun ke pundak. Hening merasuk dan menamparku keras.

Aku terhuyung lemas. sangat lemah. Aku kepayahan. Sekejab melesat kesadaran lama, penghargaan baru akan muncul bila yang dihargai sudah tak ada. Kata menjadi nilai bila ia diam.

Sedetik kemudian aku merasa disedot. Mungkin itu semacam magnet. Cabikan itu semakin kuat. Setengah mati aku berpegangan pada tulang raga. Tapi sia-sia. Hisapan itu diluar kuasaku. Semula hanya segumpal dariku yang tertarik, kemudian dua gumpal, tiga gumpal, lalu seluruhku terbang. Raga tertinggal.

Aku melayang ke atas, melesat menembus atap rumah sakit yang berlantai delapan. Kecepatannya betul-betul membuatku sobek, koyak, sepotong demi sepotong. Ini seribu kali kecepatan cahaya. Aku pecah, menyebar entah kemana.

Setiap potonganku, yang mungkin sudah berjumlah satu juta, menangis. Cabikan yang menyakitkan ini seperti tak berakhir. Lama sekali. Seperti menembus angkasa hitam yang tak berujung tapi bertepikan dinding yang lunak. Berputar-putar seperti didorong kipas angin raksasa. Dingin.

Lama-lama aku tak tahu apakah ini tarikan atau dorongan. Semua orang tahu kedua kata itu berlawanan, tapi mungkin kini hanya aku yang tak tahu. Tahu-tahu aku terdesak keluar dari sebuah lorong yang gelap. Aku terkejut. Aku ternyata telah menyusup ke dalam raga. Tapi, raga ini ukurannya kecil sekali.

Ada yang menggendong dan membelai-belaiku. Maksudku, kami. Banyak mata di sekeliling kami. Tangisanku menghebat. Meraung-raung. Ini bukan ragaku yang dulu!

(dimuat di Sinar Harapan, Agustus 2006)

2 thoughts on “Reinkarnasi

  1. Mau baca cerpen ini, tapi sebelumnya mau komen tentang blog km. Aku mengkopi tulisanmu tentang media, karena ada yang bisa kupakai untuk bahan esai. tapi nggak jiplak, soalnya aku hanya menrangkum intisarinya kok. Keep writing ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s