Pengamat Kejar Tayang

Isu pergantian kabinet terjawab sudah. Dari Yogyakarta, Presiden mengumumkan pergantian menteri-menteri di wilayah ekonomi. Perombakan ini mungkin sedikit melegakan orang, meski entah apa yang terlegakan. Namun ada yang layak untuk disorot kali ini, yaitu peran pengamat.

Petang tanggal 5 Desember 2005, stasiun televisi SCTV mendatangkan dan menayangkan seorang narasumber bernama Effendi Ghazali (EG). Beliau seorang Doktor Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, EG mencoba memaparkan apa yang dia sebut riset kecil-kecilan berbasis etnometodologi tentang pergantian sejumlah menteri di Kabinet SBY. Dan hasilnya, sejumlah spekulasi yang diantaranya menyebutkan bahwa ada unsur spiritual atau klenik yang menyebabkan Presiden mengumumkan pergantian tersebut di
Yogyakarta.

Ketika mengucapkan hal tersebut, ada sedikit tawa dari Effendy Ghazali. Dalam semiotika, segala sesuatu adalah teks. Dan teks harus selalu dibaca dengan konteks. Artinya, tawa itu adalah tanda, yang ketika terhubung dengan konteks spiritualitas, tentu mengikutsertakan makna tertentu.

Makna itu terbaca sebagai sebuah pelecehan atau peremehan, tidak saja terhadap daya spiritualitas, tetapi juga terhadap kota Yogyakarta karena menyimpan sejumlah misteri alam. Kalau saya salah membaca, lantas apa makna sejatinya? (Meski dalam dekonstruksi saya tak perlu menanyakan hal ini).

Dalam masyarakat ilmiah, sebagaimana beliau selalu mengidentifikasikan diri di setiap media, spiritualitas memang sesuatu yang nihil alias tak ada. Bahkan mental pun tak ada, seperti dalam behaviorisme radikal. Tapi tugas seorang ilmuwan adalah terus mencari kebenaran. Dan jika Bung EG masih mengikuti perkembangan paradigmatik ilmu pengetahuan, spiritualitas dan sains adalah dua sisi dari satu mata uang.

Kedua domain tersebut membahas hal yang sama dengan bahasa yang berbeda. Dan perkembangan ilmu sosial (juga ilmu alam) sendiri kini telah menjauh dari asumsi-asumsi materialisme-positivistik. Jika Bung EG merasa bahwa filsafat materialisme telah sempurna, bagaimana menjelaskan fenomena-fenomena tak linear dan kreatif alam manusia dan alam benda? Bagaimana dengan kehadiran Teori Kuantum, Teori Chaos? Bagaimana menjelaskan kenyataan tentang teori Butterfly Effect?

Pertama, kita semua tentu ingin tahu bagaimana Bung Effendy Ghazali, dengan ilmu neologisme-nya, melakukan pembantahan terhadap Ilya Prigogine dengan Dissipative Structure-nya? Terhadap Erwin Schrodinger dengan Schrodinger cat-nya? Terhadap Warner Heisenberg dengan Ketidakpastian-nya? Atau terhadap Fritjof Capra dengan kabar kemenyatuan alam?

Kedua, kita semua juga ingin tahu etnometodologi macam apa yang dijadikan alas hingga keluar spekulasi bahwa Presiden bermuatan motif klenik di Yogyakarta? Kebebasan berpetualang dalam persepsi memang dimungkinkan dalam metodologi ini. Etnometodologi memang memuat suatu karakteristik penelitian yang longgar.

Namun, bukankah ia juga menuntut si peneliti sebagai tangan pertama dalam menggauli subjek? Lantas, benarkah riset kecil-kecilan itu melibatkan teknik wawancara? Siapa yang diwawancarai? Apakah lingkar Presiden dan Presidennya sendiri? Apakah riset itu hanya label dari kotak kecil yang berisi khayalan dan spekulasi-spekulasi tak berdasar? Apakah karena Presiden orang Jawa, dan Yogyakarta adalah kota Jawa, dan Jawa penuh dengan mitologi-spiritualistik, maka segera ditarik benang merah bahwa Presiden bermotifkan spiritual dengan pergi ke Yogya? Karena spekulasi itu telah berani diumumkan ke publik melalu medium yang masif, saya berharap saya salah.

Ketiga, etnometodologi, sebagai sebuah pendekatan kritis, juga bertujuan untuk mengungkapkan kesadaran palsu (false consciousness) dibalik apa yang dinilai objektif. Ini harus menjadi catatan tersendiri. Kesadaran apa yang terbungkus dan terbaca oleh Bung EG dengan Yogyakarta sebagai tempat Presiden merombak kabinetnya? Apa yang harus dibongkar? Apa sih kritik sosialnya? Apa tujuan risetnya? Dan yang terpenting, apa signifikansinya?

Etnometodologi, saya yakin Bung EG tahu, menuntut sebuah pembahasan yang lebih mendalam ketimbang sekedar penggambaran fenomena, yakni suatu pembahasan yang lebih bersifat naratif. Dari yang diumumkan ke publik, rasanya tidak ada yang mendalam dan membantu otak individu agar berpikir, selain menambah perbendaharaan gosip masyarakat yang telah digempur oleh infotainment. Yang lebih tampak adalah telah terseretnya kaum universitas pada gaya kejar tayang dunia pertelevisian.

Desember 2005

One thought on “Pengamat Kejar Tayang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s