Pendidikan Bung, Pendidikan!

Sudah lewat dua tahun semenjak reformasi 1998 kita hanya menyaksikan bola yang dimainkan generasi muda diambilalih oleh orang-orang oportunis yang tidak peka terhadap bangsa
Indonesia. Selama dua tahun itu pula kita kembali kuliah, berpesta, membaca atau pun hanya berdiam diri di rumah. Kini setelah dua tahun kita hanya melongo melihat kaum oportunis bergaya yang menyesakkan dada kita yang gelisah, rasanya kita perlu untuk mengkaji kembali ada apa dengan negara ini. Kemana reformasi sosial yang kita maksudkan bersama dulu? Kita harus kembali berkumpul untuk menyesuaikan pendapat dalam bentuk aksi. Aksi kali ini haruslah berbeda dengan gerakan 66 atau pun 98. Ketika itu mahasiswa kecolongan karena tidak adanya thinkthank yang merumuskan setelah penguasa jatuh lalu apa. Mungkin ketika reformasi sosial 98, cakupan mahasiswa terlalu luas, sehingga banyak celah yang kita tinggalkan untuk untuk diputarbalikkan kaum oportunis tadi. 

Reformasi yang kita gulirkan kemarin haruslah kita kaji kembali. Kata reformasi di segala bidang terkesan terlalu angkuh, sepertinya kita hanya mampu berteriak-teriak di jalanan. Untuk hanya berteriak-teriak seperti itu, tidak perlu kaum terpelajar, pencopet pun bisa. Langkah pertama yang harus kita benahi haruslah bermula dari sistem pendidikan. Dominasi penguasa yang sangat tidak ilmiah mulai terasa sangat mengganggu pikiran kita.
Ada dua permasalahan yang harus kita gugat disini. Dan dua persoalan besar itu sangat logis untuk kita gugat karena permasalahan tersebut secara fundamental merugikan kita, khususnya mahasiswa, sebagai generasi pewaris negara ini.
 

Permasalahan pertama, kelas. Negeri ini sepertinya sangat suka sekali memisah-misahkan rakyatnya berdasarkan aturan main feodalisme. Di kereta api, ada kelas eksekutif, bisnis atau pun ekonomi yang sepertinya hanya pantas untuk ditempati oleh kambing-kambing, dikarenakan tidak manusiawinya kelas ekonomi itu untuk mengangkut banyak manusia. Perbedaan kelas seperti itu dapat kita jumpai juga di berbagai bidang, termasuk pendidikan. Bukankah suatu keganjilan adanya universitas negeri yang ditopang oleh negara dalam masalah fasilitas dan universitas swasta yang minim fasilitas ? Mengapa negara harus memisahkan universitas menjadi dua bagian? Mengapa negara membantu pendanaan universitas tertentu? 

Kita sebagai generasi muda, yang dengan berani kita klaim masih berpikiran jernih dan masih berpihak dengan idealisme, harus tergerak melihat fenomena pendidikan di negeri kita yang tercinta ini. Apakah salah kita kalau kita tidak masuk universitas negeri ? Mungkin ketika kita tidak lulus UMPTN, kita berpikir kalau kemampuan kita terbatas dibandingkan dengan mereka yang lulus UMPTN. Tetapi jika kita melihatnya secara kritis, itu bukanlah salah kita. Itu dikarenakan bangku perguruan tinggi negeri terbatas. Permintaan lebih besar dari kemampuan. 

Dan sangat kejam dan naïf jika perguruan tinggi negeri hanya menyandarkan diri berdasarkan NEM SMA dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, yang berakibat masuknya mereka ke universitas swasta dan langsung menyandang gelar (secara tak langsung) sebagai warganegara kelas dua dalam pendidikan. 

Akibat lainnya pertama, sulitnya kita bersaing dalam dunia ‘nyata’, karena pasar diluar sana telah termakan image yang diciptakan penguasa tadi, kedua, dengan sistem seperti itu, secara tak langsung membina mental mahasiswa swasta menjadi lembek dan malas belajar. 

Setelah itu kita melihat betapa enaknya universitas negeri, sehingga sangat wajar jika mahasiswa-mahasiswanya pintar-pintar, kritis dan juga arogan. Yang terakhir, sudah menjadi rahasia umum, tetapi itu sebenarnya bukanlah kemauan mereka, itu ulah penguasa yang – mungkin sudah buntu pikirannya – sengaja menciptakan kelas dalam pendidikan agar dapat selalu dikontrol, agar mahasiswa
Indonesia sulit bersatu.
 

Sepertinya kita terpaksa dilempar tak berdaya ke universitas swasta yang kita tahu sendiri fasilitasnya. Untuk itu kita harus menuntut penguasa untuk membiayai universitas swasta atau stop pendanaan bagi universitas negeri. Atau jika otonomi kampus telah berjalan, yang berarti pemberhentian dana bagi universitas negeri, maka kini pemerintah haruslah membiayai universitas swasta. Sebab walaupun subsidi bagi universitas negeri telah dicabut, mereka telah berada dua langkah di depan universitas swasta. Dengan di stopnya subsidi untuk negeri dan dibantunya swasta, setidaknya pemerataan nantinya akan didapat antara universitas negeri dan swasta. Hapuskan kata-kata negeri dan swasta dalam pendidikan. Biarkan setiap universitas bersaing sempurna dan sehat, dengan begitu kemajuan ilmu pengetahuan bagi negeri ini dapat dengan cepat kita raih. 

Permasalahan kedua, kurikulum. Masalah kurikulum tidak dapat dilepaskan dari permasalahan pertama tadi. Mahasiswa – baik negeri maupun swasta – diwajibkan untuk tunduk terhadap kurikulum yang begitu membosankan dan boros.Adanya mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD), Sistem Sosial Budaya Indonesia (SSBI), Komunikasi Sosial Pembangunan (KSP) adalah sebuah bukti betapa tidak tepat gunanya kurikulum. Bukankah sudah ada mata kuliah pengantar antropologi dan pengantar sosiologi yang memang bergelut dengan pemikiran itu ? Kemudian masih dipisahnya mata kuliah Sistem Politik Indonesia (SPI) dengan Sistem Ekonomi Indonesia (SEI). Dalam kondisi sekarang, masih dapatkah ekonomi melepaskan diri dari politik atau sebaliknya? 

Begitu juga dengan mata kuliah Bahasa Indonesia. Mata kuliah Bahasa Indonesia tak berbeda sama sekali dengan pelajaran Bahasa Indonesia di SMA atau SMP. Di mata kuliah Bahasa Indonesia sama sekali tidak dibahas sama sekali permasalahan semiotika. Yang lebih ditekankan adalah penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sepertinya kita dianggap tidak mengerti sama sekali bahasa ibu kita itu. 

Yang tak kurang lucu adalah adanya mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar (IAD). Sepertinya ini titipan dari ilmu fisika untuk ilmu sosial, yang entah apa gunanya itu. Adanya mata kuliah IAD ini hanya menguatkan anggapan kuno bahwa hanya fisikalah ilmu satu-satunya, yang menjadi standar ilmu sosial. 

Dibalik ketidaktepatan kurikulum, terdapat permasalahan lain di strata satu yaitu antara teori dan praktek. Sistem sosial pendidikan saat ini membagi pendidikan secara hirarki, makin tinggi makin teoritis. Di bawah S1 ini masih banyak sekolah-sekolah profesi seperti D1, D2, D3 atau kursus-kursus, dan diatasnya masih ada S2 dan S3. Dedy Mulyana pernah mengatakan, apa yang membedakan lulusan program S1 dengan lulusan S2 atau S3 atau bahkan dengan D3? 

Selanjutnya ia memberikan contoh untuk membaginya dalam porsi 70 % teori dan 30 % praktek untuk S1. Tapi kita dapat bertanya pula apakah universitas atau DEPDIKNAS mengeluarkan kebijakan seperti itu dalam bentuk kurikulum? Dan jika benar, apa jaminannya agar kedua hal tersebut tetap berada dalam porsinya ? Apalagi jika pengajarnya berjiwa praktisi tetapi mengajar kuliah teoritis. 

Intinya, dalam sistem pendidikan sekarang ini, masih ada tawar menawar antara ilmu pengetahuan dengan praktisi. Memang, biasanya kemapanan mengandung korban yang siap membalas di dalam dirinya. Bukan kemapanan seperti itu yang kita maksudkan sekarang, tetapi kemapanan yang selalu terbuka terhadap seluruh pertanyaan dan mampu berubah cepat. 

Kurikulum universitas yang ditentukan penguasa lewat DEPDIKNAS terlihat sangat lamban dalam menyikapi fenomena sosial. Permasalahan modernitas dan posmodernitas, semiotika atau apa pun, tidak termasuk dalam kurikulum untuk didalami mahasiswa dalam bentuk mata kuliah tersendiri. Padahal universitas adalah tempat lahirnya ide-ide baru. Sekali lagi, sepertinya penguasa – yang tidak bodoh itu – memiliki maksud-maksud tertentu. 

Masih dalam permasalahan kurikulum, ada satu lagi keganjilan dalam masyarakat, yaitu berbondong-bondongnya orang untuk extension dari D3 ke S1. Kenapa aneh? Sebab bukankah D3 lebih tertuju kepada aplikasi-aplikasi lapangan sedangkan S1 lebih kepada pemikiran-pemikiran teoritis. Artinya, dengan extension, mereka dididik untuk tahu dulu permasalahan lapangan / kerja untuk kemudian mengetahui teori-teori praktek. Bukankah ini terbalik ? Idealnya orang harus tahu dahulu mengenai teori-teori, baru kemudian menerapkannya di lapangan. Dengan begitu segalanya akan teratur atau sistematis dilihat dari tataran global. 

Mungkin inilah sebabnya negara ini ibarat benang kusut. Kaum idealis sering terbentur dengan realitas seperti ini. Tapi ini adalah kenyataan. Untuk merubahnya memang sulit karena masyarakat – seperti biasanya – selalu menganggap wajar penyimpangan-penyimpangan dari apa-apa yang dianggap ideal. Yang dikhawatirkan adalah lama-lama nanti pikiran ideal malah dianggap salah karena menyimpang dari penyimpangan yang mapan. Sepertinya ideal itu hanya ada di otak mahasiswa. Dan walaupun berat, kita harus merubahnya. Dan pergerakan mahasiswa sebenarnya tidaklah identik dengan pergantian kekuasaan saja. Hariman Siregar mencatat, revolusi mahasiswa di Prancis berhasil merubah sistem pendidikannya. Dan ingat, perubahan selalu berada dibawah bendera universitas! 

Kita yakin,
Indonesia masih bisa dirubah. Cara pertamanya adalah rubah sistem pendidikan menjadi betul-betul ilmiah! Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh supremasi masyarakat sipil (dan pertahanan suatu bangsa ditentukan oleh militernya) dan biasanya berasal dari universitas, karena itu universitas harus dibersihkan dari hal-hal yang tidak berguna bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Karena, senjatanya masyarakat sipil adalah ilmu pengetahuan, bukannya pisau atau pun senjata / tongkat seperti militer, yang bentukan dan ‘doktrin’ kesangarannya masih saja ada dalam lingkungan universitas.
Sistem pendidikan harus bisa kita rubah, karena para pemimpin negara masa depan nantinya akan lahir dari sistem pendidikan sekarang, yang kita sebut kacau balau ini. Kalau tidak kita lakukan, kita akan dikutuk sejarah. Artinya kalau bukan kita mahasiswa yang bergerak, siapa lagi! 

Januari 2000

One thought on “Pendidikan Bung, Pendidikan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s