Menjadi, Cepat, dan Loyalitas

Udara sedang-sedang saja kala itu. Tak dingin tak juga panas. Di sudut sebelah kiri kamar, tampak Iqbal sedang asyik membolak balik buku-buku filsafat. Begitulah keseharian anak muda yang mengidolakan pemikiran Hegel dan semangat Marxis ini di kamar kosnya yang berukuran 3 X 4.

Nada suaranya datar, rambutnya ikal, bulatan kacamata menempel persis di hidungnya. Hanya sesekali saja mulutnya menyemburkan asap rokok filter. Iqbal, mahasiswa Jurnalistik ’97, baru-baru ini berhasil menelurkan buku novel berjudul Sabda Dari Persemayaman yang diterbitkan oleh Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo), Jakarta.

Anak muda pemilik nama asli Tengku Muhammad Dhani Iqbal ini rasanya berhasil mencatat rekor sebagai penulis buku termuda di
Indonesia. Tepatnya sebuah novel berbau filsafat yang dibumbui romantika mahasiswa. Pria yang lahir 3 Januari 1979 ini telah menghabiskan waktu selama dua tahun untuk menggumuli karyanya itu. Buku itu bercerita tentang seorang anak muda yang mencoba melacak misteri kehidupan, sumber pengetahuan, hakikat diri, sampai mengapa kita harus melakukan revolusi pendidikan sebagai pengejawantahan pencarian itu.

Di antara buku-buku yang ia baca, The Philosophy of History yang ditulis Georg Wilhem Frederick Hegel merupakan buku yang paling memberikan inspirasi terbesar terhadap novelnya. Selain itu, menurut mahasiswa berdarh Melayu kelahiran Medan ini, kelahiran novelnya disebabkan kemarahan dan ketidakpuasannya terhadap realitas yang ia temui. Menurutnya, realitas budaya-sosial-politik yang carut marut adalah hasil dari pendidikan yang kacau balau. “Lihat saja polemik RUU Sisdiknas. Mereka malah ribut soal administrasi agama, bukannya perdebatan paradigmatik filosofis,” sesalnya.

Iqbal pun ingin mengompori dosen-dosen yang hanya berkutat di urusan administratif belaka, termasuk dosen-dosen yang berpolitik di dunia akademis. “Dosen kok berpolitik di dunia akademis. Orang seperti itu pastilah karena kalah saing dari dunia politik sebenarnya. Begitu juga dengan dosen yang kerjanya hanya menyampaikan silabus. Orang-orang ini pasti karena tidak mampu mencari pekerjaan lain,” kesalnya.

Mahasiswa yang dikenal kontroversial ini adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Bersama keluarganya ia pernah menetap di sejumlah tempat, Medan, Aceh, Jakarta, dan Bandung untuk menyelesaikan kuliahnya. Ayahnya adalah mantan dosen kedokteran di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, yang kini telah pensiun dari Eselon Satu Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat. Sementara abangnya juga pernah menjadi dosen di Institut Teknologi Indonesia (ITI), Serpong. Sedangkan kakak perempuannya hingga kini masih sebagai dosen ekonomi di Universitas Atmajaya, Jakarta.

Menjadi, Cepat, dan Loyalitas adalah moto hidup dari mahasiswa yang aktif di sejumlah gerakan kemahasiswaan ini. Selain aktif di Keluarga Mahasiswa Jurnalistik (KMJ), ia juga pernah berkutat di Litbang Dewan Mahasiswa (DEMA), Grup Diskusi Forum Pergerakan Pemikiran Mahasiswa (FPPM), Grup Diskusi Komunitas Tangga Batu (KTB), dan pernah menjadi wartawan di pers mahasiswa Potret – Media Pencerahan yang kini telah mendiang.

Itulah Iqbal, sosok penulis yang karya pertamanya dikomentari oleh DR. Mudji Sutrisno SJ., dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta; Ahmad Taufik, jurnalis, mantan aktifis mahasiswa dan bekas tahanan politik; dan Slamet Rahardjo Djarot, sang maestro film.

Namun di balik itu, bujang ini masih harus merampungkan kuliahnya yang sudah berjalan selama enam tahun. “Mudah-mudahan selesai awal 2004,” ungkapnya mengakhiri.

Herman Santoso,

Pers Mahasiswa Suara Mahasiswa (SM), Edisi 3/Thn. XIII/8/2003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s