Mengapa Media Bertumbangan?

Ada kenyataan yang menarik dari perkembangan kehidupan penerbitan media di Indonesia. Dari yang semula mengalami ledakan kuantitas paska kekuasaan Soeharto, menjadi surut perlahan-lahan. Harian Kompas (8/2/01) pernah mencatat bahwa ada grafik penurunan tiras yang cukup tajam dari media cetak, yaitu 5.1 juta eksemplar pada tahun 1997 menjadi 4.7 juta eksemplar pada tahun 2001.

Pada tahun-tahun berikutnya, penurunan terus terjadi di setiap media-media besar yang bersifat umum atau sosial politik berskala nasional. Namun, belakangan (relatif sudah lama) penurunan tidak lagi tersoroti dari segi jumlah tiras semata, melainkan dari penerbitan meda itu sendiri. Perlahan tapi pasti, sejumlah media besar mulai bertumbangan. Yang teringat, sebut saja, Harian Pelita, Harian Surabaya Post, Majalah Pilars, dan yang terbaru adalah Harian Merdeka dan Neraca. Data ini tentu hanya secuil dari keseluruhan kenyataan yang terjadi.

Sebenarnya, apa yang terjadi? Jika ditilik dari perspektif manajemen pers, akan mencuat empat pilar penopang kehidupan media, yaitu redaksi, distribusi, iklan, dan promosi. Kebangkrutan sebuah media tentulah diakibatkan kemandulan oleh satu atau lebih diantaranya, atau tidak sinerginya pilar-pilar tersebut.

Kerja redaksi yang setengah hati, berubah-ubah pada gaya dan rubrikasi, tidak fokus, tentu membuat orang malas untuk membacanya. Atau, jika redaksi baik, mungkin distribusi yang tidak jalan, sehingga orang tidak dapat mengetahui keberadaannya, yang kemudian tentu saja tidak membelinya. Atau, jika redaksi dan distribusi berjalan lancar, barangkali iklan yang tidak bekerja banyak, sehingga pemasukan lebih bersumber pada pembelian eceran, yang tentunya akan membuat perusahaan media tersebut tekor. Atau, jika redaksi, distribusi, dan iklan berjalan, promosilah yang kurang, sehingga, ditengah banyaknya media lain, media yang bersangkutan tidak terpatri di sanubari masyarakat.

Sebenarnya ada satu lagi yang bisa dijadikan penyebab kemandulan sebuah media, yaitu faktor kepemilikan. Kepemilikan yang dipenuhi tarik menarik kepentingan akan menyebabkan perwajahan media tersebut juga akan berubah-ubah. Dampaknya sangat besar pada citra. Dan jika citra sebagai media yang tidak konsisten melayani kebutuhan masyarakatnya sudah menggaung (meski dengan sangat pelan), tentu saja seluruh lini penerbitan akan menjadi mandul, dimana acapkali masing-masing lini memang merasa tidak bersalah.Namun, ketika seorang leader telah keluar dari kotak yang keruh dan mencoba melihat dari atas (helicopter view) kondisi medianya, dan kemudian melakukan perbaikan paling revolusioner sekalipun, ternyata hasil yang didapat bisa saja tetap nihil. Jika demikian, tentu ada yang berubah dalam kondisi global.

Pada saat yang bersamaan, muncul media-media lokal di setiap daerah atau kawasan, baik yang muncul secara independen maupun yang berperan sebagai anak cucu sebuah grup penerbitan. Belakangan media-media kecil ini mulai mewabah. Mereka, para pengelola media lokal, mulai memberi penekanan lebih pada salah satu nilai berita, seperti kedekatan (proximity), seks, dan sebagainya.

Misalnya Info Gading, Star Gading (majalah dan tabloid di kawasan Kelapa Gading, Jakarta), Umbul-Umbul (majalah di kawasan Lippo Karawaci), Jakarta, Warta Grogol (koran harian di Jakarta dan kawasan Grogol, Jakarta), Radar Bogor, Pakuan (koran harian di Bogor), Tribun Jabar, Radar Bandung (koran harian di Bandung), Tribun Kaltim (koran harian di Kalimantan Timur), dan lain-lain. Ini belum termasuk berbagai media televisi lokal, seperti Jak-TV, O Channel (Jakarta), CTV (Banten), BTV (Bandung), Yogyakarta TV (Yogyakarta), Bali TV (Bali), dan sebagainya.

Sementara media kawasan bermunculan, muncul pula ledakan media yang biasa disebut media komunitas. Media komunitas ini tidak mengikatkan diri pada suatu kawasan tertentu, melainkan pada suatu konsep pemikiran atau gaya hidup tertentu. Misalnya, media yang berbicara tentang gaya hidup yang mengumbar seksualitas perempuan (FHM, ME, Popular, Matra), gaya hidup untuk perempuan dewasa (Femina, Kartini, Dewi, Bazaar)), gaya hidup remaja atau anak muda (Ripple, Hai, Gadis), yang mengumbar nama tokoh (Demokrasi), yang bericara agama (Sabili, Hidayah, Hikayah), yang mengkaji filsafat atau seni (Basis, Transformasi, Horison, Visual Art), jurnal-jurnal ilmiah (komunikasi, sosiologi, antropologi, hukum), dan seterusnya.

Berhubungankah perkembangan media-media kecil ini dengan merosot oplah suatu media besar hingga mampu menumbangkan beberapa diantaranya? Besar kemungkinan ya. Sebagaimana setiap perubahan pasti menimbulkan gesekan, demikian pula dengan peta media di Indonesia. Media-media kecil ini mulai menggerogoti eksistensi media besar yang berbicara luas dan jauh (bukan dalam).

Pada tahun 1989, terbit sebuah buku berjudul The Third Wave karangan seorang legendaris bernama Alvin Toffler. Dalam buku itu, ia sudah meramalkan bahwa media-media besar memang akan collaps. Menurutnya, media-media besar terlalu banyak bicara tentang hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat. Ada kebosanan pada masyarakat akan informasi-informasi besar yang tidak berkenaan dengan diri atau lingkungannya. Dalam bahasa C. Sommerville (2000), “siapa yang mau mendengar seluruh dunia hari ini?”.

Jika hendak disederhanakan, merosotnya popularitas media besar, terutama media sosial politik, dikarenakan kekritisan masyarakat yang menghendaki agar tujuh nilai berita dalam jurnalistik, yaitu consequences, sex, human interest, name, proximity, aktuality, dan faktuality, bisa disajikan pada dirinya secara utuh, fokus, dan panjang lebar.

Jika dilihat dari karakteristik media-media yang merosot oplahnya, termasuk yang bertumbangan, kecuali media yang lemah di dana dan SDM, nyaris semuanya yang mengadopsi ketujuh nilai berita itu sekaligus. Padahal, media-media kecil tadi sudah datang lengkap dengan keyakinan bahwa mereka hanya akan mengambil fokus di satu atau dua nilai berita saja.

Juni 2005

7 thoughts on “Mengapa Media Bertumbangan?

  1. tumbangnya Media-media cetak bukan karena minat baca masyarakat yang rendah, lebih dalam lagi dari segi rendahnya daya beli masyarakat.

    bila harga di obral murah mereka mengandalkan pemasukan dari iklan.bila iklan tidak masuk otomatis lambat laun media itu akan tumbang dengan sendirinya.

    ketatnya persaingan antar media memberi keuntungan berlebih pihak konsultan periklanan,mereka akan menekan harga Iklan hingga sebanyak mungkin kalo bisa gratis,ini efek buruk yang timbul dari para konsultan tersebut,sebap banyak dari mereka mengadu domba media-media lokal dan nasional.untuk meraih keuntungan sendiri.

    tidak adanya standarisasi harga iklan untuk nasional menimbulkan persaingan harga tak sehat,1 x tayang gratis tayang di group media,atau 1x tayang bonus 5x tayang,
    belum lagi mereka mematok discount,yang rata-rata 50% dari harga jual iklan bahkan lebih.

    ini jelas merusak media-media yang baru tumbuh,dengan modal tidak besar,ayo dewan pers mulai bekerja mendekatkan dan mempererat kerja sama antar media ,dengan mendukung asas persaingan sehat.sehingga tidak banyak lagi korban media berjatuhan di tanah airtercinta ini.

  2. Tumbangnya media-media cetak bukan krn masyarakat kritis, tp krn minat baca & minat beli yg masih rendah. di Indonesia 1 media cetak dibaca oleh 40 orang. Jauh dari Jepang yang 1 orang membaca minimal 3 media.

    Media-media yang bertumbangan bukan karena kerja redaksi yang setengah hati.
    Menurut observasi saya, pada media yg baru terbitpun, kerja redaksi selalu bersemangat, namun tidak diimbangi dengan kerja manajemen yang sepadan.

    Ketika redaksi sudah bekerja penuh hati dan hampir mati, bagian sirkulasi kesulitan meletakkan medianya di pasaran dan harus berebut pembaca dgn media yang sudah mapan. Bagian Iklan juga susah menggaet pemasang iklan.

    Akhirnya setelah setahun, tidak juga terjadi titik impas modal. Pemilik media yang tidak sabar akhirnya memutuskan gulung tikar&ganti bisnis lain.

    Jelas, media cetak baru yang tidak punya keinginan kuat (meski dengan modal besar) utk bertarung keras di bisnis media, akan tumbang. Tapi media baru yang punya semangat baja dari tim redaksi dan manajemennya, bisa bertahan dalam industri media cetak.

    Dan, jangan lupakan agen media cetak sebagai titik nadi peredaran media cetak!

    NB: Harian Pelita masih ada sampai sekarang, dan tidak pernah berhenti terbit sejak 1974.

    Salam hangat,
    -Yana-
    Sekretaris Eksekutif Serikat Penerbit Suratkabar-Pusat

  3. Dari banyak blog berbahasa Indonesia yang pernah saya kunjungi, tidak banyak yang mampu menyajikan isi yang menarik dan berbobot.

    Blog Anda ini langka, isinya bagus, menarik, berbobot. Saya akan sering mampir kemari, untuk membaca artikel-artikel yang diposting disini, atau malah menempatkan rss Anda dalam blog kami.

    Selamat dan semoga semakin sukses.
    Terimakasih telah berbagi lewat tulisan dalam bentuk blog sehingga kami dapat membacanya secara gratis.

    salam,
    Yustin Wiranaga
    Editor In Chief majalah MediaKawasan
    http://odading.com

  4. Ada sedikit kekeliruan Pak. Harian Pelita masih eksis sejak 1974 hingga pada hari ini (2007), bahkan lebih merdeka saat ini, setelah selama tiga dekade ditarik-tarik ke sana-sini. Gitu pak. Alamat Redaksi Pelita, Jl Minangkabau No35, Manggarai, Jakarta, Telp 83706765

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s