Drama yang Gagal

“Cara tertawa merupakan indikator yang baik untuk
menilai seseorang, dan menjadi tanda
memiliki pribadi yang cukup baik”
Fjodor Dostoyevski

Dalam filsafat, masalah dirumuskan sebagai selisih antara das sollen dan das sein, antara harapan, teori, dan kenyataan. Dan saya menaruh harapan bisa terhibur saat menonton komedi situasi Parodi Jali-Jali yang ditayangkan Lativi pada hari Jumat, 26 Agustus 2003 pukul 21.30. Tapi harapan itu seperti terbentur dengan realitas yang ada.

Parodi Jali-Jali yang bertempat di sebuah café ini diberi judul Soto Ayam Kampus. Para pemainnya adalah Basuki dan Cut Mini sebagai suami istri pemilik café, dan Rieke serta Ipeh sebagai mahasiswi yang diindikasikan sebagai ayam kampus. Selebihnya adalah para figuran yang terlihat hanya sebagai tempelan, seperti dua orang yang duduk di sebuah salah satu meja dan Joni yang tiba-tiba datang menjelang akhir acara.

Cerita dimulai dengan Basuki dan Rieke (pengunjung café) yang sedang duduk mengobrol di salah satu meja. Kesan yang ingin ditimbulkan adalah mereka sedang bermesraan. Saat itu Basuki menyebut dirinya berprofesi sebagai dosen. Namun tiba-tiba Cut Mini datang dan langsung menjewer telinga Basuki. Ia merasa cemburu suaminya duduk berdekatan dengan tamu perempuan.

Saat ketiganya sedang membicarakan duduk perkaranya, datang seorang tamu lagi yang tak lain adalah teman Rieke, Ipeh, yang juga seorang mahasiswi. Sementara keduanya saling tegur sapa, Cut Mini duduk di tengah kamera dan Basuki kembali mendatangi meja kedua mahasiswi itu di pojok sebelah kanan.

Di sana Ipeh menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu hendak meminta tandatangan dosen untuk skripsi. Dan saat Basuki mengenalkan dirinya sebagai dosen, Ipeh terlihat senang seraya langsung meminta tandatangan. Tapi Cut Mini yang merasa tidak nyaman dengan obrolan itu segera mendatangi mereka untuk menjelaskan bahwa suaminya bukan siapa-siapa. Namun demikian penjelasan ini tidak membawa perubahan ekspresi (dramatik) yang berarti pada diri Ipeh.

Tapi Basuki bersikeras, sambil berbisik, bahwa dirinya adalah dosen. Dan kepada kedua mahasiswi itu ia meminta agar menunggu di warung sebelah. Ucapan Basuki itu terdengar lagi oleh Cut Mini, namun segera diplesetkan Basuki bahwa mereka disuruh ke tempat sebelah karena makanannya lebih enak.

Ketika keduanya pergi, datang seorang pemuda yang bernama Joni yang rupanya telah dijanjikan ayam kampus oleh Basuki. Namun saat Basuki pergi ke dalam, Joni justru mengutarakan niatnya pada Cut Mini. Kesalahpahaman terjadi. Untung Basuki segera datang seraya mengatakan bahwa ayam kampus yang dimaksud bukan istrinya, melainkan perempuan yang telah menunggu di warung sebelah.

Kemudian Joni pergi. Tak lama kedua mahasiswi tadi, Rieke dan Ipeh, datang sambil marah-marah karena barusan ada seorang pemuda yang ‘menawar’ mereka berdua. Setelah keempatnya berkumpul, Basuki baru menyadari bahwa ia salah membaca situasi. Kalimat minta tanda tangan kedua mahasiswi itu diartikan Basuki sebagai tanda bahwa keduanya bisa dibeli.

Dan cerita pun berakhir ketika seorang lelaki mengaku dosen masuk dan meminta kedua mahasiswi untuk segera masuk kelas.

***

Sejarah komedi situasi bermula di Amerika Serikat pada tahun 1940-an lewat acara yang menjadi fenomena sekaligus primadona televisi, I Love Lucy. Dengan berkiblat pada acara tersebut, dan melalui sejumlah peniruan-peniruan inovatif (spin off), lahirlah sejumlah komedi-komedi situasi yang kelak menjadi sebuah genre tersendiri dalam dunia humor pertelevisian dunia.

Dan Indonesia, sebagaimana lazimnya, tak luput dari pengaruh-pengaruh dunia Barat yang sayangnya seringkali bias. Menurut Garin Nugroho, upaya spin off di Indonesia sering melupakan makna aslinya, bahwa proses meniru unsur-unsur pada dasarnya adalah penciptaan kembali, yang di dalamnya dibutuhkan kemampuan adaptasi, mendefinisikan ulang persoalan, dan meramu dengan materi-materi yang ada (1998:94).

Ucapan Garin tersebut seperti menemui realitasnya saat kita melihat Parodi Jali-Jali dengan judul Soto Ayam Kampus ini. Gaya yang ditampilkan adalah gaya Bagito Grup (dulu) atau Srimulat. Dan bau peniruan bulat-bulat ini langsung tercium saat adegan pertama dimulai.

Marilah kita bedah satu persatu apa yang menjadi persoalan dalam Parodi Jali-Jali ini.

1.      Waktu.

Pada sejumlah harian, Kompas misalnya, disebutkan bahwa Parodi Jali-Jali tayang pukul 21.30. Akan tetapi secara faktual acara tersebut tayang pukul 21.45. Hal ini spontan mengingatkan kita akan cacat TVRI.  Pada tanggal 24 Agustus 1972 (bayangkan, 31 tahun yang lalu!), harian Kami, Jakarta, telah mengkritik kemampuan TVRI atas seringnya acara dibatalkan atau diubah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada penonton (Kitley, 2001:92). Dianggap apakah pemirsa televisi itu? Anak kecil sebagaimana pandangan TVRI tempo dulu, atau dianggap pasar yang aktif, sebagaimana yang dijelaskan oleh uses and gratification theory? Belumkah disadari bahwa kepercayaan itu mahal harganya?

2.      Judul

Jika kita melihat secara keseluruhan, kita akan disadarkan bahwa betapa tidak adanya korelasi antara judul Soto Ayam Kampus dengan cerita yang dibangun. Saya menduga kata ‘Soto’ merujuk pada latar-tempat dimana cerita bermain. Dan ‘Ayam Kampus’ merujuk pada inti cerita. Jika ini benar, betapa asal-asalannya judul dibuat! Karena latar-tempat di café, yang bisa jadi menjual soto (karena sepanjang cerita tidak ada indikasi café tersebut menjual soto), dan cerita bermain di seputar wacana ayam kampus, maka diputuskanlah judul dengan kalimat Soto Ayam Kampus – sebuah logika parsial yang penuh kecacatan..

3.      Karakter

3.1  Karakter Cerita

–         Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, tidak ada spin off yang terjadi pada Parodi Jali-Jali. Karakter cerita sangat mirip dengan komedi-komedi situasi di saluran-saluran lain. “Lawakan yang terjadi akhir-akhir ini di televisi, tak ada kreativitas. Hanya pengulangan gaya melebih-lebihkan atau plesetan,” demikian ungkap Asrul Sani yang dikutip oleh Garin Nugroho (1998).

Kita tahu bahwa, seperti halnya industri di era gelombang kedua (Alvin Toffler), ada irama kultur televisi yang menuntut sebuah penyeragaman gaya penayangan. Namun demikian dibalik penyeragaman itu terkandung pula prasyarat-prasyarat tertentu, yakni ‘sebanyak-banyaknya’ (massifikasi) dan ‘sebaik-baiknya’ pada industri modern. Tapi pada Parodi Jali-Jali, unsur ‘sebaik-baiknya’ sama sekali tidak terlihat.

Satu-satunya cara untuk memahami hal ini adalah melalui kacamata budaya, bahwa peralihan budaya kerja agraris (tanpa konseptual, seragam) ke budaya kerja industri (yang tak hanya menuntut sebanyak-banyaknya, tapi juga sebaik-baiknya, yang pada gilirannya mengharuskan keberagaman demi kompetisi) ternyata menimbulkan persoalan. Banyak produser ternyata tidak memahami bahwa kedua budaya yang menancapkan kukunya sekaligus di Indonesia itu memiliki perilaku kerja yang berbeda.

Dan oleh karena itu tak heran bila Garin mengatakan bahwa penonton hanya diajak ngerumpi dan tertawa bersama bintang, sementara keseimbangan psikologis, sosiologis, estetika dan ekologis penonton terabaikan. Dengan kata lain, masih menurut Garin, kita bahkan tidak tahu ‘untuk apa dan kenapa kita tertawa’ (1998:96).

–         Ada gangguan yang sangat terasa saat musik yang dimainkan oleh sekelompok orang berbaju Jawa masuk begitu saja seperti tanpa rambu-rambu. Kesan apakah yang ingin ditimbulkan dari mereka?

–         Slogan “… Parodi Jali-Jali Nek” terdengar terlalu singkat dan tidak memberikan sentuhan emosi apa-apa pada penonton. Tidak ada rasa atau emosi yang terusik dengan kalimat itu.

3.2  Karakter Pemain

–         Dengan bangunan cerita yang seragam dengan komedi-komedia situasi lainnya, karakter pemain-pemainnya pun nyaris tidak kelihatan. Antar-pemain sering melakukan double-action yang memecah konsentrasi penonton. Misalnya saat Basuki sedang berbicara di telepon yang baru berdering, tapi pada saat yang bersamaan Cut Mini terus berceloteh. Pun demikian saat Joni berbisik dengan Basuki, dimana posisi keduanya benar-benar sedang di tengah kamera, Cut Mini entah kenapa terus saja berbicara dengan suara kencang pada orang-orang yang bergerombol di sebelah kiri kamera. Dikemanakan penonton dalam benak sutradara? Kemana arah cerita difokuskan, Basuki atau Cut Mini?

–         Dan Ipeh, untuk apa ia dihadirkan? Dengan atau tanpanya rasanya cerita tidak berpengaruh. Bukankah simbol ayam kampus sudah cukup diwakilkan oleh Rieke?

–         Yang lebih menjadi keheranan adalah dua orang perempuan yang menjadi figuran, yang mulanya duduk di dekat meja Basuki dan Rieke. Untuk apa mereka dipasang? Dalam semiotika, kehadiran mereka untuk mengesankan bahwa ini adalah café ‘beneran’. Namun kesan ini segera runtuh saat kita melihat segerombolan penonton sebelah kiri kamera. Dengan adanya penonton yang (diharapkan) interaktif seperti itu, keinginan untuk menjadikan latar sebagai café ‘benaran’ melalui dua orang perempuan figuran itu menjadi ternegasikan. Dan hasilnya, dengan adanya dua figuran dan penonton yang bergerombol, keadaan menjadi begitu riuh tak karu-karuan.

–         Menjelang akhir masuk seorang laki-laki, entah siapa, yang berperan sebagai dosen asli. Kedatangannya adalah untuk menyuruh kedua mahasiswi tadi untuk segera masuk kelas. Ini aneh. Sebab mana ada dosen yang menjemput mahasiswi? Jika seseorang membantah dengan mengatakan bahwa tidak perlu untuk merujukkannya pada realitas asli dikarenakan media sedang mempertontonkan realitasnya sendiri (hiper-realitas), maka perlu dipertanyakan juga, mengapa judul mengacu pada realitas asli, dimana fenomena ayam kampus benar-benar terjadi?

4.      Alur

Pola penceritaan yang dibangun terkesan tanpa konsep. Pemain seperti hanya diberikan gambaran umum bahwa, saya menebak, cerita untuk menyindir para ayam kampus. Akibatnya tidak ada dorongan supaya penonton terus tahan menonton. Dialog yang terjadi hanya celetukan-celetukan tanpa makna yang tidak sinergis yang menunjukkan bahwa ini adalah cerita tentang ayam kampus (dan soto?).

Idealnya, cerita pada komedi situasi haruslah diabdikan pada tokoh yang memiliki karakter kuat, sebagaimana kita lihat pada Cosby Show. Kita mengikuti komedi situasi bukan pada apa yang terjadi, tetapi kita mengikuti watak-watak utama yang bereaksi dengan situasi dan muatan peristiwanya. Ruang dalam komedi situasi (kedai minum, ruang tamu, dan lain-lain) adalah ruang relasi yang menghubungkan sekaligus menetapkan jenis pekerjaan, tingkat ekonomi, juga watak-watak utama yang saling berelasi (Nugroho, 1998:93).

Vice President Current Prime Time Series ABC TV, Tony Barr, mengatakan bahwa energi yang dibutuhkan dalam komedi situasi adalah lebih tinggi, dan realitas yang dimunculkan adalah drama itu sendiri (dikutip oleh Nugroho, 1998:94). Ini membutuhkan sebuah keahlian. Dan humor di televisi Indonesia belum banyak yang mampu mengangkat rangsang manusiawi dalam diri pemirsa, seperti keharuan, kegembiraan, cinta, rasa ikatan persaudaraan, dan sebagainya (hal. 102).

Jaman ini adalah jaman dimana logika representasi telah gugur. Kini diyakini bahwa kita tidak merujuk pada keadaan yang sebenarnya di realitas, sebab yang kita dapat hanyalah kesan itu sendiri. Logika representasi berubah menjadi presentasi, dimana pendekatan simulakra Jean Baudrillard tentang Simulakra menjadi relevan.

Oleh sebab itu, tidak bisa mentang-mentang seseorang adalah pelawak atau aktor maka ia diikutsertakan begitu saja dalam komedi situasi (hal. 94). Mengingat logika jaman ini adalah logika simulakra, logika presentasi, maka diperlukan kecakapan-kecakapan tertentu yang mesti dipelajari dalam tataran konsep untuk kemudian didegradasikan melalui interaksi simbol antara pemain, latar, dan seluruh properti yang dihadirkan dalam mengusung sebuah tema.

Kegagalan Parodi Jali-Jali ini, salah satunya, dikarenakan perilaku ekspresif para pemainnya sama sekali tidak bersifat dramaturgis. Tidak terlihat upaya Basuki dan kawan-kawan untuk mengelola kesan bahwa mereka sedang hendak menceritakan sesuatu secara humor. Yang terlihat justru hanya lawakkan-lawakkan yang seperti lepas dari tema.

Dalam dramaturgi, bukan konsep-diri yang dibawa seorang aktor dari situasi ke situasi lainnya atau keseluruhan jumlah pengalaman individu, melainkan diri yang tersituasikan secara spesifik. Artinya, diri harus lebih bersifat sosial ketimbang psikologis (Mulyana, 2001:109).

Namun, Cut Mini, Basuki, Rieke, Ipeh, tetap dengan karakter dirinya yang dikenal publik, tanpa pernah merasa diri harus tersituasikan dengan tema melalui interaksi simbol-simbol bahasa maupun ruang! Penonton yang diharapkan berinteraksi selama pertunjukkan pun sama sekali tidak terjadi sebagaimana yang diharapkan.

Lalu apa yang penonton dapat setelah menyaksikan Parodi Jali-Jali? Senyum? Eeit, tunggu dulu. Lihat ekspresi senyumnya. Jangan-jangan itu bentuk ekspresi yang bukan sang produser senangi….

September 2003
untuk konsumsi terbatas

2 thoughts on “Drama yang Gagal

  1. wow… ulasan yang keren mas.
    saya juga kebetulan kerja di dunia broadcast, jadi tim kreatif di salah satu tv swasta megang acara komedi, stripping, live.
    saya sepakat dengan postingan di atas. setidaknya tulisan ini makin mendorong saya untuk nggak membuat sesuatu yang asal-asalan, apalagi dalam program komedi. saya juga jenuh liat program tv sekarang yang kayaknya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan share rating tinggi.

    ga ada lagi usaha menjaga estetika program itu sendiri, ga terasa lagi upaya untuk membuat program itu menjadi sebuah program eksis, terkenal, dan longlasting. ga ada connecting people (dalam hal ini pemirsa di rumah / penonton di studio), dan itu semua yang sedang saya dan teman2 lakukan.

    Yuk, kita bikin lagi tayangan-tayangan berkualitas, komedi maupun non komedi.

    Salam,
    Fori

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s