Mbah Maridjan dan Pertaruhan Sains

Sejak kedatangannya, ilmu pengetahuan selalu berupaya menggerus kepercayaan-kepercayaan lain. Melalui filsafat di jaman yang sangat tua, muncul upaya penolakan terhadap sikap menerima begitu saja pengalaman-pengalaman yang terjadi (receptive attitude) sebagai suatu pengetahuan yang benar. Ada keinginan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar bukan dari otoritas, melankan dari diri sendiri. Didorong oleh keinginan itu, tumbuhlah suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis (an inquiring attitude).

Awalnya sikap ini hanya dimiliki segelintir orang di wilayah Yunani dan Arab. Namun, seperti bola salju, ia mengalami massifikasi di Eropa. Gelombang ilmu menjadi sebuah gerakan kolektif, terutama di abad 16 dan 17, yang dikenal sebagai Jaman Revolusi Ilmiah.

Seiring modifikasi Eropa atas mesin cetak, kompas, dan senjata api, mereka mulai mendendangkan ilmu pengetahuan yang disebut ilmiah ke seantero dunia. Mereka membawa kabar pada setiap bangsa bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan ilmiah; pengetahuan yang tidak lagi melakukan personifikasi atau proyeksi sifat-sifat manusia pada alam atau dewa dewi; pengetahuan yang menihilkan peran apapun di belakang fakta sembari menjunjung tinggi keterhubungan antara realitas dan matematika.

Ada tiga hal yang menjadi kunci dari ilmu pengetahuan ilmiah yang diusung oleh orang Eropa itu, yakni induksi, deduksi, dan verifikasi. Tan Malaka menyebutnya Metode Tiga Serangkai. Satu sama lain saling bertaut dan mengandaikan suatu pemahaman bahwa yang benar belum tentu logis, namun yang logis sudah pasti benar. Dan kebenaran logis itu hanya bisa didapat melalui metode ilmu, yakni hasil dari rentetan daur-daur penyimpul (induksi), penyimpul-khasan (deduksi), dan penyalihan (verifikasi) yang terus menerus tak kunjung usai.

Oleh karena itu, meski ada sesuatu yang sepertinya masuk akal, namun proses penalarannya tidak sesuai hokum-hukum logika formal, maka ia tidak hanya bisa disebut tidak logis, tetapi juga sesat (fallacy).

Munculnya Mbah Maridjan

Dalam pemikiran ilmu pengetahuan yang massif seperti itu, tiba-tiba orang dihadapkan pada satu sosok bernama Mbah Maridjan. Keberadaannya disorot berbagai media bersamaan dengan bergolaknya Gunung Merapi. Pasalnya, Mbah Maridjan berkeras hati untuk tidak mau mengungsi.

Sikapnya ini bukannya tanpa dasar. Ia, rupanya, adalah orang yang dipercaya Sultan Jawa bernama Hamengkubuwono IX untuk menjaga Gunung Merapi. Melihat sikapnya kini, betapa setia dan romantisnya lelaki renta ini – sebuah sikap yang nyaris punah bagi mereka yang berpendidikan modern. Ia bahkan berani menentang instruksi pemerintah yang diserukan Sultan Hamengkubuwono X, yang tak lain anak dari Raja yang memerintahkannya dulu.

Ia menyiratkan pesan tegas: jangan ganggu hubungan rakyat, termasuk dirinya, dengan Gunung Merapi. Ada hubungan emosional diantara mereka. Ada harmoni. Ada hubungan psikologis. Ada hubungan kejiwaan. Katanya, paku pulau jawa itu tidak akan apa-apa.

Beberapa hari kemudian Mbah Maridjan dikabarkan hilang. Namun, ternyata ia justru berada di sekililing Gunung Merapi. Tujuannya untuk berkomunikasi dengan Gunung Merapi agar jangan merusak. Entah berhubungan atau tidak, Gunung Merapi memang sempat tenang, tak beringas. Pada saat yang sama ia meminta semua orang agar jangan menyakiti Gunung Merapi dengan menyebutnya wedhus gembel.

Intelektual mana yang tidak terperangah dengan sikap Mbah Maridjan! Bahkan pemain sinetron sekalipun, seperti yang dimunculkan di tv-tv gratisan, ikut-ikutan berkomentar dengan tawa yang sinis.

Bisa dipahami memang. Manusia yang lahir belakangan ini, terutama di kota besar, adalah manusia satu dimensi, manusia elektrik, manusia otomatis, manusia materiil yang tak terbiasa berurusan dengan sesuatu yang imaterial, termasuk makna. Sulit bagi orang yang biasa menggunakan indera semata untuk memahami Mbah Maridjan.

Namun sebenarnya itu sikap yang a historis! Pasalnya, jauh sebelum ilmu pengetahuan materialisme muncul dan berkembang di Eropa, Nusantara sudah dipenuhi oleh berbagai nuansa spiritual. Tak ada manusia Indonesia yang sesungguhnya bisa merasa asing dengan mistifikasi. Manusia sudah lama dianggap sebagai makhluk ekologis, yakni hanya sebagai salah satu makhluk yang harus menyesuaikan diri dengan makhluk-makhluk lain di alam ini.

Tetapi, apakah gunung juga sebuah makhluk? Sulit untuk menjawabnya secara lugas. Namun, bila dicermati, sikap Mbah Maridjan terhadap Gunung Merapi sesuai dengan kesamaan kosmologis awal di berbagai pelosok bumi, bahwa tidak ada satupun entitas yang dianggap independen. Tidak ada satupun yang terjadi begitu saja dengan sendirinya. Semua dianggap berhubungan, berjejaring, seperti jaring laba-laba. Di senggol seutas, utas lain akan bergetar.

Narasi-narasi mistik memang kerap imajinatif. Namun, meski kisahnya terdengar sirkuler dan ganjil, bagi mereka yang tidak terbiasa, itu bukan berarti mereka adalah kaum pemimpi yang ketinggalan jaman. Apalagi pemahaman dunia yang sirkuler itu sebenarnya sudah diadopsi oleh epistemologi kontemporer, bahwa alam memang tidak bekerja secara linear dan mekanis, melainkan chaos; alih-alih menyamakannya dengan kerja pikiran. Alam selalu menyatakan diri sebagaimana orang yang memandangnya.

Sementara itu, juga dalam epistemologi kontemporer, ada kesamaan mendasar yang bisa ditemui antara dunia sains dan mistisisme dalam upayanya menguak alam yang membisu. Pertama, wilayah alam yang didapat keduanya tidak dapat diakses langsung dengan indera-indera biasa. Dalam sains, wilayah itu adalah dunia atom dan subatom. Sedangkan dalam mistisisme, wilayah itu adalah kesadaran tak biasa yang di dalamnya jangkauan indera terlampaui.

Untuk mendalami fakta-fakta yang diperoleh itu, sains melakukan serangkaian eksperimen buatan. Sedangkan mistisisme melakukannya dengan cara kontemplasi, sebuah praktek pemahaman langsung ke dalam realitas, sebagaimana yang dilakukan Mbah Maridjan ketika bersila dan menunduk di lereng Gunung Merapi.

Dan inilah yang menjadi kesamaan kedua itu, bahwa observasi keduanya masih harus diinterpretasikan dan interpretasi itu harus dikomunikasikan melalui bahasa. Dan karena bahasa manusia terbatas, artinya terlampau abstrak untuk mewakili realitas, maka interpretasi itu sendiri pada gilirannya menjadi tidak akurat, tidak lengkap, atau tidak terpahami.

Dengan demikian, tak layak jika orang menertawakan atau melecehkan Mbah Maridjan. Apa yang disebut Pencerahan itu tidak pernah bersifat universal. Bukankah istilah Pencerahan adalah Fay ce que voulsdras (berbuatlah sekehendak hatimu)? Bukankah Pencerahan adalah sebuah kondisi kesadaran dimana manusia adalah ukuran segala-galanya, sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Protagoras jauh sebelum abad 16 di Eropa?

Pencerahan selalu bermain di tingkat sektoral karena setiap geografi, setiap masyarakat, bahkan setiap manusia, memiliki kekhasannya masing-masing. Untuk kasus Merapi, tentu Mbah Maridjan yang lebih tahu mengenai “siapa dan bagaimana” Gunung Merapi. Lebih jauh, ketika Mbah Maridjan menyatakan Gunung Merapi tidak meletus, dan itu terbukti, sungguh itu merupakan tamparan keras untuk ilmu pengetahuan.

 

Mei 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s