Masih Saja Timpang

Konferensi Asia-Afrika (KAA) adalah sejarah dari sebuah bentuk perlawanan. 50 tahun yang lalu, saat KAA digelar di Bandung, masih ada 28 negara yang belum merdeka. Mereka berkumpul untuk menyatukan pandangan, kekuatan, serta strategi, disaat berantakannya keadaan internal bangsa-bangsa penjajah akibat Perang Dunia II.

Kini, 50 tahun kemudian, negara-negara peserta konferensi ini sudah merdeka. Masing-masing negara sudah dikelola oleh kaumnya sendiri, kecuali Palestina. Namun, bagaimanakah wajah negara-negara ini setelah puluhan tahun memperoleh kemerdekaannya? Ternyata, perasaan senasib atas ketidakadilan dan ketidakmakmuran masih juga dirasakan secara kolektif oleh negara-negara tersebut – sebuah perasaan yang juga dialami oleh para pendahulu.

Kalau demikian, adakah yang berubah, selain negara yang sudah dikelola oleh kaumnya sendiri? Sudan, misalnya. Dari semenjak kecil, melalui media massa, saya selalu disuguhi perut-perut yang buncit karena busung lapar, tubuh-tubuh yang kurus kerempeng, dan keluarga-keluarga yang menangis hebat karena bencana kelaparan terus memangsa orang-orang yang dicintainya.

Namun, fenomena tersebut bukan hanya milik Sudan. Wajah-wajah menderita masih bertebaran di seantero negara peserta konferensi, termasuk Indonesia, dengan tingkatan yang berbeda-beda. Apa yang sebetulnya terjadi pada negara-negara di Asia dan Afrika? Mengapa setelah sekian lama memperoleh kemerdekaan, kemakmuran tak juga bisa diraih dan merata?

Jawabannya tentu saja bukan pada masalah kutukan takdir yang diderita bangsa-bangsa bukan-kulit putih. Juga bukan masalah tentang adanya ras-ras pilihan, dimana ras yang bukan pilihan harus selamanya menderita sampai mati. Ini lebih pada masalah kesadaran dan perjuangan. Manusia adalah makhluk yang senantiasa memiliki catatan-catatan sejarah. Berdasarkan catatan itulah manusia dituntun saat bertindak dan berhubungan dengan orang lain.

Dalam konteks Indonesia, catatan itu ada pada zaman kerajaan-kerajaan dan Proklamasi Kemerdekaan 1945. Ingatan akan nenek moyang kita sebagai orang-orang yang hidup di zaman kerajaan, menembus batas-batas nasional, seperti penggunaan pakaian khas saat menikah – salah satu momen terbesar bagi kebanyakan orang Indonesia – atau berusaha menjalankan hidup sebagaimana nenek moyangnya lakukan, seperti bertutur kata (bahasa daerah), berperilaku terhadap orang tua, alam, dan sebagainya.

Dan ketika kita berurusan dengan negara-negara lain, ingatan akan proklamasi juga turut mencuat. Ketika ada pagelaran kebudayaan yang diadakan di luar negeri, dan kita menggunakan atribut-atribut daerah, kita tetap mengatakannya sebagai budaya dari Indonesia.

Akan tetapi, dunia, termasuk Indonesia, mulai memasuki zaman informasi, dimana di dalamnya perubahan-perubahan begitu cepat terjadi. Karakter seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Manusia menjadi kehilangan cirinya sebagai makhluk yang menyejarah.

Artinya, ingatan bahwa kemakmuran itu bertumpu pada kekuatan-kekuatan nasional berupa material, telah ditabrak oleh kenyataan bahwa sumber kemakmuran itu kini didasarkan pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi. Dan tidak satupun dari unsur ini yang berhubungan dengan nasionalisme. Ilmu pengetahuan tidak membutuhkan jarak, teknologi tidak memerlukan paspor, dan informasi bisa bertiup ke mana-mana seperti angin. Tidak ada yang bisa menghentikannya, termasuk negara.

Meski demikian, unsur-unsur pencapaian kemakmuran itu memiliki pusat, yaitu di bangsa-bangsa Barat yang terkenal sebagai bangsa yang pernah menjajah, termasuk Jepang. Bangsa-bangsa inilah yang menciptakan semua itu, yang membuat negara-negara konferensi kepayahan, dan kemudian berperan sebagai konsumen belaka. Sebagai konsumen, tak ayal mereka terus terhisap dan terdikte.

Lantas, siapa yang salah? Apakah negara-negara konferensi memiliki masyarakat yang malas berinovasi? Apakah negara-negara Barat terlalu cepat? Ataukah ini sebuah konsekuensi sejarah dari ketertinggalan negara-negara konferensi akibat pernah dijajah ratusan tahun lamanya?

Tidak satupun dari pertanyaan itu memiliki jawaban yang mengenakkan. Akan tetapi, apapun alasannya, yang terjadi adalah ketidakadilan. Negara-negara konferensi tidak memiliki daya untuk membuat atau menguasai teori-teori ilmu pengetahuan, teori-teori teknologi, dan menciptakan arus informasi. Negara-negara konferensi hanya mengonsumsi teori-teori yang diciptakan dan berkembang di Barat.

Negara-negara konferensi masih berkutat dimasalah pengentasan kemiskinan. Masih jutaan orang hidup sebagai orang miskin. Dan bagaimana bisa mengharapkan orang yang susah hidupnya untuk berperan sebagai subjek dalam penciptaan teknologi, ilmu pengetahuan, atau arus informasi? Alih-alih, ia sendirilah yang senantiasa menjadi objek.

Ketimpangan ini sudah ibarat langit dan bumi. Barat begitu digdaya dan terus berinovasi dengan ilmu dan teknologinya dalam menciptakan informasi sebagai sebuah kebutuhan hidup. Sedangkan negara-negara konferensi hanya bisa protes tanpa tahu harus bagaimana. Yang ada di pikiran negara-negara konferensi ini tak lebih bagaimana mencari hutang dan menambalnya di kemudian hari.

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Masih relevankah teriak-teriak sembari mengacungkan kepalan tangan dengan geram? Tentu saja masih. Masing-masing kita harus terus saling mengingatkan bahwa ketidakadilan telah dan masih terjadi sebagai hasil dari rentetan penjajahan dulu.

Namun, yang lebih penting dari itu adalah pendidikan. Bersamaan dengan protes-protes itu, masing-masing negara konferensi harus memiliki landasan yang sama bahwa pendidikan tidak hanya berkepentingan dalam memanusiakan manusia, tetapi juga dalam rangka melawan penghisapan “tak berbentuk” ini. Dan pendidikan bukan hanya masalah dana, tetapi juga metodologi dan teori-teori. Mungkin akan lama waktu yang kita butuhkan untuk mengejar ketertinggalan yang menyakitkan ini. Namun, rasanya hanya inilah yang bisa kita lakukan.

April 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s