Keseimbangan

Suatu saat bumi bertanya kepada matahari, “kenapa kau mau terus menerus menyinariku, sehingga membuat makhluk-makhluk hidup terus berkembang, sementara aku tidak memberikan sesuatu apapun kepadamu?” Si matahari menjawab bagaikan seorang tentara… “Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu semua karena aku adalah kebenaran mutlak sebagai penyinarmu dan planet-planet yang lain. Adalah sebuah kesalahan jika kau menganggap tidak memberikan apapun kepadaku, keberadaan kau merupakan alasan keberadaanku agar tetap ada”.

Di dalam bumi sendiri, ada beberapa orang yang saling berdialog yang kurang lebih memiliki pola pikir yang sama. “Aku adalah kekasihmu, yang mengetahui siapa dirimu untuk saling berbagi. Mungkin cintaku sama dalamnya dengan pria-pria lain yang juga mencintaimu, tetapi aku yakin bahwa hanya aku yang dapat melihat apa-apa yang mereka tidak lihat pada dirimu. Kaulah Yin-ku”. Demikian seorang lelaki berkata kepada gadis pujaannya. “Kau adalah pasanganku, setiap napasmu adalah napasku juga, setiap lelahmu adalah lelahku juga. Andai kau tahu betapa hati ini bagaikan tungku kompor yang meletup-letup ingin keluar”. Si gadis menjawab tak kalah cerdasnya.

Tak jauh dari tempat kedua anak manusia berlainan jenis itu berada, terdapat perdebatan seru didalam sebuah ruangan yang dikenal sebagai gedung parlemen. Disana eksekutif berdebat membela diri dari serangan legislatif yang gencar. “Bagaimana mungkin kebocoran dana tidak diketahui oleh para birokrasi Departemen Keuangan ? Untuk apa mereka selama ini digaji ?” ujar parlemen ketus. Namun eksekutif tak kalah sengitnya. “Ini adalah kesalahan pemerintahan yang dulu. Dan bagi kami itu merupakan sebuah lingkaran setan yang susah sekali untuk menentukan mana duluan yang akan digunting. Dan jika anda menyinggung gaji, apakah anda kira kami pantas mendapat gaji sedemikian untuk menyusun pekerjaan yang maha berat ini ? Artinya gaji kami tidak seimbang dengan tanggung jawab serta godaan pasar gelap yang selalu dihadapi”.

Tiga percakapan dengan dimensi yang berbeda tadi memiliki cerita yang juga berlainan. Tetapi yang paling esensial dari ketiganya adalah keseimbangan. Keseimbangan menjadi hal pokok dalam berinteraksi. Ketika sesuatu tidak lagi menemui padanannya untuk menyeimbangkan makna, maka ia akan mudah goyah, pincang bahkan mati – seperti bumi yang akan hancur jika tidak ada matahari, laki-laki yang tidak memiliki pasangan jiwa, dan negara yang pincang jika eksekutif dan legislatif kuat sendirian.. Ketika kita berbicara makna, berarti juga membicarakan kesadaran sebagai sesuatu yang memproduksi makna. Dan seperti yang kita tahu, semenjak lahir kesadaran kita selalu berganti. Entahlah jika ini bisa dikatakan kesadaran yang mati lalu tumbuh yang baru atau kesadaran juga berevolusi, yang pada tingkat globalnya mengakibatkan selalu terulangnya sejarah. Karena pola pikir yang lama yang bahkan telah melakukan pelanggaran dengan saksinya sejarah, sering kali dipakai kembali oleh generasi yang lebih muda. Entah itu karena kesamaan bahasa – bahasa merupakan wakil makna-makna dan makna-makna kadang-kadang mewakili tradisinya masing-masing -, kesamaan suasana psikologis atau kesamaan dalam pola pikir – pola perjuangan – tradisionil yang statis dan cenderung bersifat pemaksaan.

Karena keseimbangan merupakan faktor yang mendominasi alam kehidupan, maka wajarlah jika setiap pemikiran pasti memiliki pemikiran tandingan yang sama logisnya. Dan entah kenapa pula tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya tentang surga dan neraka, agama dan teori evolusi dalam memandang adanya manusia, sosialisme dan kapitalisme, laki-laki dan perempuan – waria tidak dapat kita masukkan disini karena mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan keseimbangan karena mereka terlalu serakah untuk menggabungkan kedua unsur keseimbangan ke dalam satu jiwa tanpa melibatkan fasilitas alam kehidupan lain seperti perempuan jika ia laki-laki dan sebaliknya – dan juga siang dan malam. Semuanya memiliki pemaknaan hitam dan putih. Hitam dan putih ini haruslah diketahui sampai kapan ia akan terus berputar dan saling mengisi serta apa yang menjamin ia terus berputar dan mengisi. Pertanyaan-pertanyaan ini menurut saya perlu agar kita mengetahui benarkah manusia merupakan makhluk terlantar atau tidak, benarkah manusia tercipta akibat kesalahan atau ketaksengajaan alam atau tidak. Sebuah pertanyaan yang siap dibarengi oleh pertanyaan pantulan.


Ada yang mencoba menjelaskan bahwa hitam dan putih ini dijamin dan digerakkan oleh Tuhan, yang dalam bahas Hegel disebut Roh Semesta Alam. Hawking termasuk orang yang percaya terhadap tesis ini. Namun Darwin tetap dalam erangannya. Ia mengatakan yang menjamin perputaran ekologi termasuk manusia adalah keseimbangan. Sementara Marx mengatakan perjuangan. Untuk dapat bertahan hidup maka diperlukan perjuangan. Saya mengartikannya sebagai tawar menawar antara hidup dan perjuangan. Sebenarnya sama saja istilah itu. Semuanya saling menuntut dan berbagi. Itulah alasan kenapa orang selalu berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, ketawa dari
sana kemari, menunggu bus di halte yang sesak – demi pekerjaan agar dapat bertahan hidup. Intinya yang menjamin segala aktivitas manusia (perjuangan) itu dalam mencukupi kebutuhannya adalah keseimbangan.

Namun seperti yang saya katakan diatas, pemikiran ini juga memberikan sebuah kerancuan berpikir secara logika. Jika suatu keseimbangan ditopang oleh keseimbangan yang lebih besar, lantas apa sebenarnya keseimbangan itu ? Sampai dimana keseimbangan besar tadi dapat menampung keseimbangan kecil yang akan selalu berkembang menjadi besar ? Mungkinkah keseimbangan ditopang oleh keseimbangan lagi ? Seorang teman mengatakan mungkin saja keseimbangan itu adalah Tuhan.Ketika kita berbicara Tuhan rasanya sulit sekali untuk disentuh oleh logika. Pembuktian Tuhan ada sama susahnya dengan membuktikan Tuhan itu tidak ada. Berangkat dari sini saya hanya bisa berharap semoga Tuhan itu ada, sehingga kita bukanlah makhluk-makhluk terlantar yang setelah mati lantas hilang begitu saja. Serta surga bukanlah ilusi orang-orang tertindas dan neraka bukanlah harapan orang-orang otoritas – dalam bentuk apapun – yang membenci para anti kemapanan yang telah mereka bentuk. Sekali lagi, semoga kita selalu mendapatkan keseimbangan agar dapat bertahan hidup.

Oktober 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s