Kesadaran Yang Melayang

Ketika kita berbicara tentang manusia dengan segala konsekuensi yang mampu dibuatnya, mau tak mau kita juga harus memeriksa sedikit tentang konsep negara yang menelungkungi seluruh komunitas secara rohaniah dan geografis, baik itu konsep negara klasik maupun konsep negara modern seperti sekarang. JJ Rousseau berpendapat, negara dibentuk atas dasar kontrak masyarakat yang berjanji menciptakan suatu lembaga atau mekanisme untuk mengatur mereka. Dengan pelimpahan wewenang dari masyarakat, negara memiliki peluang dan kemampuan untuk mengatur setiap sendi kehidupan masyarakatnya. Namun dalam perkembangan berikutnya, perdebatan tentang relasi negara dan masyarakat selalu menempatkan negara dalam posisi superordinat dan rakyat sebagai subordinatnya.

Dalam perspektif Antonio Gramsci, supremasi kekuasaan dapat beroperasi dalam dua cara yaitu dalam bentuk penindasan dan kepemimpinan intelektual serta moral. Pada bentuk yang pertama, sudah jarang kita kita temui di dunia ini, dan walaupun ada, lambat laun bisa dipastikan ia akan mengalami pergeseran paradigma. Yang lebih berbahaya adalah bentuk kedua. Kemampuan intelektual dan moral dapat dipakai untuk merasionalisasikan setiap kebijakan kekuasaan yang bisa jadi merugikan rakyat. Untuk hal ini Foucault mengatakan, kekuasaan dapat membentuk kesadaran setiap individu dari masyarakatnya mengenai apa-apa yang pantas, wajar dan rasional. Dan jika ada individu yang menyimpang dari kemapanan kesadaran yang telah direkonstruksi tadi, maka ia pun akan dicap gila atau berbahaya ! Dan tentu kita sudah tahu apa yang akan diperbuat negara terhadap orang gila atau berbahaya itu.

Jika ada individu yang seperti digambarkan Foucault tadi, maka ia akan menjadi minoritas, terasing, dan “terpaksa” lepas dari lingkungan sosialnya, yang bagaimanapun juga tetap merupakan bagian dari struktur banyak orang. Tapi mayoritas atau penguasa seakan tidak respect atau menggubrisnya sama sekali, sebab telah menjadi ketentuan tak tertulis bahwa setiap masyarakat pasti menolak kehadiran seorang gila. Gila tentu dimaksudkan sebagai manusia yang memiliki tingkah laku dan pemikiran yang berbeda dari mayoritas yang telah dibentuk sistem penguasa. Padahal gila bukanlah seperti itu. Seorang gila adalah orang yang hidup dengan pikirannya sendiri. Dan sebagai manusia ia bebas menentukan pilihannya. Dan hanya orang-orang yang berpikirlah yang memiliki peluang besar untuk mengalami keterasingan. Setelah itu, ia pun otomatis juga kehilangan tempat bernaung dalam sebuah negara mayoritas atau telah lepas dari struktur kemasyarakatan yang ada. Walaupun tetap disadari bahwa eksistensinya yang berwujud raga atau tubuh masih hadir di bumi ini. Ia menjadi terasing dari lingkungannya. Dengan kata lain, ia telah terbuang oleh sistem kehidupan bermasyarakat yang telah dibentuk penguasa negara, atau alienasi seperti kata Marx.

Perkembangan Yang Mendukung
Tidak sampai disitu saja, kehadiran teknologi dan kemampuan ekonomi juga makin memperlebar jurang antara individu dengan mayoritas. Teknologi seperti internet tidak membutuhkan teman-teman atau banyak orang untuk mengaksesnya, tetapi cukup memiliki banyak uang saja untuk menemui atau mendapatkan kebutuhannya di dalam internet. Dengannya, terdapat sebuah realitas lain di muka bumi ini. Kita dapat mengapresiasikan emosi seperti senang, tertawa, sedih, menangis, gusar, dan sebagainya dalam sebuah dimensi lain, dimana dimensi yang biasa kita “pakai” selalu menggunakan sentuhan manusia, kontak mata dan hembusan angin. Jasad kita berada dalam satu sisi realitas dan sisi lainnya yaitu pikiran kita ada di tempat lain. Teknologi telah memisahkan pikiran dari jasadnya ! Pada perkembangannya, dimensi ini mengalahkan dominasi negara dalam pikirannya untuk kemudian menggantinya.

Perkembangan jaman, khususnya era Descartes diabad 15 dan 16, telah membawa suatu pengaruh besar kepada generasi jaman dulu hingga sekarang, yaitu jaman dimana keberadaan posisi rasional mengalahkan mitos-mitos. Pendekatan kepercayaan dalam mengetahui alam dan isinya mulai tergusur oleh pendekatan-pendekatan ilmiah, suatu pendekatan yang memungkinkan untuk semua orang mengetahuinya. Abad itulah yang menandai Jaman Revolusi Ilmiah.

Banyak orang bilang, gejala prilaku manusia yang kadang kala tidak nyambung, tulalit, disebut manusia cyber, manusia abad 21. Ia begitu karena kesadarannya mulai meninggalkan realitas. Masing-masing punya persepsi yang berbeda tentang realitas yang berbeda pula. Teknologi adalah segala hasil transformasi alam menjadi suatu dunia artifisial atau alam kedua. Teknologi merupakan hasil transformasi pemikiran. Sesudah kesadaran menjadi teknologi, hasilnya ini sekarang ganti memerintah kesadaran (Franki Budi Hardiman dalam Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, 125).

Apa yang dapat dilakukan negara dengan segenap instrumennya dalam mengatur negara jika warga negaranya berprilaku demikian ? Konsep negara pertama kali berlalu lalang di Athena dengan para filsuf-filsufnya. Inti yang didapat ketika itu – sebagaimana yang diuraikan pertama kali oleh JJ Rousseau –, negara merupakan hasil kesepakatan satu komunitas sebagai tempat berlindung dalam rangka penertiban dan kesejahteraan, dimana kesemua tujuan itu bertujuan untuk memberikan rasa nyaman bagi penghuninya, baik secara lahiriah maupun batiniah. Dalam konteks perkembangan aktual, definisi lahiriah dan batiniah kini mulai tidak jelas. Manusia dengan kesadarannya mulai terlihat tertata teratur dalam sebuah ketidakteraturan global. Saya tidak tahu, apakah hal ini memiliki kecenderungan untuk menjadi global village-nya Marshal McLuhan atau malah menjadi apa yang dikarakteristikkan dalam “masyarakat” gelombang ketiga-nya Alvin Toffler.

Jika mayoritas berprilaku demikian, tentu tidak jadi masalah – untuk internal tidak masalah – tapi jika minoritas ? Untuk menuju perubahan global tadi, tentu memerlukan proses yang sangat lama. Di dalam proses itu terdapat unsur ekonomi dan penguasa negara yang bisa jadi mendukung atau menghambat. Selama berproses, tentu terdapat social impact kepada individu-individu lainnya. Dan itu bisa jadi berwujud prilaku yang menyimpang dari kemapanan. Tentu orang-orang seperti ini tidak disukai penguasa. Ia akan dianggap sebagai lalat pengganggu. Dan ia akan diasingkan oleh negara yang memiliki kemampuan untuk membuat state impact kepada mayoritas warganya, walaupun hal itu disebabkan oleh perkembangan teknologi manusia itu sendiri. Karl Marx pernah mengatakan keterasingan itu disebabkan kekuatan ekonomi dan teknologi yang sanggup memarginalkan si individu tadi.

Teknologi memang sebagai perpanjangan indera, termasuk indera orang lain. Yang menang atau yang kaya dapat menangkap pikiran kita dalam bentuk iklan-iklan yang menyediakan kebutuhan kita melalui media
massa, dalam sebuah citra yang bergerak. Para pemenang itu memiliki konsep tersendiri dalam menangkap kesadaran, seperti yang dikatakan Peter York yang dikutip oleh Yasraf Amir Piliang; … rumuskan kelompok konsumer anda (menyelusup ke dalam kulit mereka), dan aspirasikan (
gaya) mereka, kemudian layani mereka (1999, 142). Dan kemudian ditegaskan menjadi tetapkan tujuan, gariskan prosedur, mobilisasikan sumber daya (Clifford Geertz, 1998, 179). Artinya kebutuhan kita selama ini merupakan kebutuhan yang diciptakan, kebutuhan hasil rekonstruksi, yaitu kebutuhan yang diciptakan oleh penguasa kapital. Ia sebenarnya tidak berguna bagi manusia secara hakiki. Kebutuhan tersebut diciptakan dalam rangka memperkuat “kaki-kaki” kapitalisme dalam menelusuri dan mencengkram pikiran-pikiran manusia. Teknologi telah memisah manusia-manusia per individu, dan memisah kesadaran dari raganya. Sehingga menimbulkan alternatif kepada manusia, ikut dengan sistem tadi atau tertinggal dan hancur terlindas.

Dengan begitu, keterasingan yang diderita manusia sekarang adalah ketidaksadaran akan keterasingan yang berorientasi kesadaran akan keterasingan masa depan. Sehingga bisa disebut, manusia adalah makhluk-makhluk yang terciptakan dua kali yaitu pertama, diciptakan Tuhan dengan Adam sebagai manusia utuh pertamanya atau berasal dari sebuah evolusi kehidupan seperti yang digambarkan Darwin (masih belum jelas) dan kedua, otak-otak yang telah tersedia di kepala manusia, dibentuk dan diisi oleh kekuasaan-kekuasaan negara atau kekuasaan kapital sesuai dengan yang diharapkannya, untuk menunjang kelestarian kekuasaan kelas penguasa.

Hal ini sangat fenomenal. Raga manusia boleh jadi terkungkung dalam dimensi ruang dan waktu, tetapi pikirannya dapat melayang kemana pun ia mau. Hal ini jika boleh dianalogikan memiliki kemiripan dengan mimpi.
Ada yang mengatakan, di internet kita melakukannya dengan sadar, sementara dimimpi tidak. Jika demikian, ketika kita bermimpi ada anjing berlari kearah kita, kenapa kita lari ? Kenapa kita tidak balas mengejarnya dan menggigitnya ? Itu karena kita tetap sadar bahwa anjing yang berlari kearah kita itu akan menggigit kita, dan itu berbahaya. Di internet pun demikian. Jika tadi dikatakan kita surfing di internet secara sadar, maka apakah kita dapat menemukan kebutuhan yang kita sadari secara sadar dan bebas, kecuali memasuki terlebih dahulu pintu-pintu yang telah ditentukan. Dengan kata lain, kesadaran dalam dunia maya telah dibentuk kedalam simbol-simbol yang telah dikonstruksi.
Ada posisi yang seimbang antara mimpi dan internet. Artinya teknologi telah mampu menyaingi kehidupan realitas dengan cara membuat kehidupan tersendiri dengan apa yang disebut hiper realitas.

Juni 2001

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s