Gelagat Yang Kian Gawat

Alkisah, datanglah empat peneliti dari negeri maju ke sebuah negeri terbelakang untuk meneliti cara pandang manusianya dalam memandang dirinya sendiri. Dikarenakan kebudayaan setempat mirip dengan apa yang disebut ‘masyarakat tertutup’, maka mereka menggunakan beberapa dosen dan mahasiswa di universitas-universitas yang ada di negeri tersebut sebagai informan key. Ini penting mengingat kaidah penelitian yang mereka anut mengharuskan mereka untuk menyeburkan diri pada subjek. Tapi, baru sebulan pikiran mereka berubah. Tiba-tiba saja mereka tak tertarik lagi untuk meneliti cara pandang orang kebanyakan. Kini, mereka malah tertarik untuk mempelajari universitas-universitas beserta segenap civitas akademiknya.

Pemicunya sederhana. Kedatangan mereka bertepatan dengan agenda ospek (orientasi studi pengenalan kampus) yang serentak di gelar di seluruh perguruan tinggi di negeri terbelakang tersebut. Saat itu, salah seorang dari mereka memberitahukan kenyataan yang ia dapat kepada teman-temannya yang bertebaran di berbagai kampus. Ia memaparkan bahwa di universitasnya, agenda orientasi studinya berisi tentang manajemen aksi saat demonstrasi, diantaranya bagaimana menghadapi barisan aparat kepolisian, bagaimana menyikapi bentrokan, bagaimana menghadapi water cannon, dan sebagainya.

Tak disangka, penemuannya itu ditanggapi oleh seorang rekannya yang berada di universitas lain. Rekan itu berkata bahwa ia pun menyaksikan bagaimana agenda orientasi studi di universitas tempat ia “menumpang” ternyata diisi oleh lagu-lagu rap, yang kemudian dikomentari bagus oleh para civitas akademiknya melalui logat khas etnik setempat.

Mendengar berbagai penuturan ini, seorang rekan ketiga langsung nimbrung dengan mengatakan bahwa di universitasnya agenda tersebut malah diisi oleh acara jojing di sebuah pub. Dan yang menarik, acara di pub tersebut ternyata dihadiri oleh sejumlah dosen, bahkan dekan fakultas yang bersangkutan.

Di panggung pub tersebut, ujar rekan ketiga, terpasang sound system pemutar kaset yang mengumandangkan musik pop Amerika, keras-keras memekakkan telinga. Sementara itu, ruangannya dihiasi oleh janur, kursi lipat, busana keagamaan, hari raya keagamaan, gaya rock and roll, pidato yang diselingi bahasa Arab dan daerah setempat, serta setting ruang bergaya kota metropolitan yang tidak mirip bikinannya. Rekan ketiga ini lantas mengutip Clifford Geertz yang menamakan situasi seperti ini sebagai perlombaan multikultural. Sebuah paska-modernisme asli kampung yang dirancang untuk goyang dangdut.

Saat rekan ketiga masih bercerita dengan tawanya yang tertahan, seorang rekan keempat langsung mengusulkan bahwa fenomena sejumlah universitas-universitas di negeri ini rasanya baik jika dijadikan tema penelitian bersama. Sesaat semuanya diam, dan diam-diam mereka setuju.

Bagi mereka, ini sangat menggairahkan. Meneliti universitas tanpa budaya ilmiah sepertinya lebih seksi ketimbang mempelajari bagaimana monyet-monyet bisa diajari untuk berdiri dan baris berbaris; atau, mempelajari kinerja otak kelompok anasir dari golongan masyarakat-mahasiswa yang masih saja eksis dalam wilayah militer dan sipil.

Agar tak merusak latar alamiah subjek penelitian, mereka tentu saja membutuhkan sejumlah informan key. Maklumlah, civitas akademik negeri itu agak minder kalau ketemu orang asing, dan ini bisa merusak penelitian, sebagaimana tikus yang jika dikerangkeng akan menampilkan perilaku yang berbeda dibanding jika ditempatkan di tempat luas. Kalau ketemu peneliti asing, sikap kaum itu suka mengada-ada, belagak sok pintar, pura-pura diskusi, membaca buku, atau suka memirip-miripkan budayanya dengan budaya negeri maju.

Tapi dalam hal ini, para peneliti tidak begitu kesulitan untuk mencari informan key. Sebab, di negeri tersebut ternyata masih banyak mahasiswa-dosen yang berkacamata, kurus, pendiam, rambut tak terurus, berkepala botak, dan jalannya terbungkuk-bungkuk saking beratnya buku-buku yang ada di dalam tasnya. Singkatnya, masih ada mahasiswa-dosen yang bertindak sebagai pemikir.

Keesokan paginya, keempat peneliti itu membagi tugas. Masing-masing tetap berada di universitas tempat mereka menumpang. Dan mereka sepakat untuk tidak memberitahukan perubahan ini pada siapapun, kecuali pada mereka yang dipercaya sebagai informan key. Alasannya seperti tadi, agar tidak merusak latar alamiah.

Namun dalam prosesnya, napas mereka sering berhenti saat menemui sejumlah data. Bagaimana tidak. Mereka mendapati banyak sekali apa yang disebut “demonstran penunggu koran”, alias demonstran pencari isu. Mahasiswa tampak bingung hendak dikemanakan kawanan yang sudah dikadernya. Dijual? Demikian pertanyaan para peneliti itu, seakan terwarnai oleh kebingungan para mahasiswa.

Lalu, minimnya dosen yang menulis. Tapi, data ini tidak begitu mengagetkan mereka. Sebab, banyak dosen di negeri terbelakang itu memang sudah terkenal sebagai orang-orang yang sebenarnya menjadikan profesinya sebagai alternatif terakhir, setelah ditolak di mana-mana. Kelompok dosen itu secara umum, terkenal seantero dunia sebagai penyampai laporan penelitian di negeri maju pada para mahasiswa yang berada di wilayah geografis, sosial, kultur, psikologis, politik, yang berbeda (untuk dibingungkan).

Suatu saat, informan key melaporkan data baru, bahwa ada sejumlah mahasiswa yang belakangan gemar membuat media massa cetak. Bagi para peneliti, itu tidak aneh. Para mahasiswa itu mungkin berasal dari pers kampus, atau sedang membuat tugas, atau sedang menyiapkan media-media revolusi yang berisi propaganda-propaganda. Tapi, si informan key segera menyodorkan media yang dimaksud. Dan terperangahlah para peneliti.

Apa pasal? Media yang dijual seharga lima ratus perak itu ternyata media hiburan seputar gaya hidup dan gosip-gosip seputar mahasiswa. Kaum mahasiswa itu menyebut dirinya hedonis, meski para peneliti yakin mahasiswa-mahasiswa itu tidak mengenal siapa Aristippos. Yang menjengkelkan, meski isinya memuat berbagai gaya hidup mirip anak muda metropolitan, isi beserta pembuatnya sama seperti kasus mahasiswa di pub tadi, sama-sama kampungan. Ini terlihat dari kemiskinan kosa kata, tema, gaya bahasa, dan wajah sampul.

Dan setelah ditilik benar-benar, dengan bantuan informan key, diketahui bahwa pendapatan para mahasiswa itu, dalam skala nasional, berada dalam wilayah pra-sejahtera (jangan dilihat dari skala internasional!). Pendapatan seperti ini tentu tidak memungkinkan mereka untuk masuk dalam wilayah kaum jetset, suatu kaum yang ingin mereka laporkan pada pembaca, suatu kaum yang pastinya tidak akan membaca media terbitan para mahasiswa itu.

Tiga bulan kemudian, para peneliti sudah kembali ke negeri asalnya. Ini artinya mereka hanya empat bulan berada di negeri terbelakang itu. Satu bulan untuk berpikir pindah topik, dua bulan untuk mendapatkan data, dan satu bulan lagi mereka gunakan untuk menggeleng-gelengkan kepala.

November 2003 (dimuat di Harian Media Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s