Babak Belurnya Pendidikan

Suatu ketika salah satu pejabat rektorat di sebuah universitas marah besar kepada sekelompok mahasiswa. Ia marah kepada kelompok itu karena telah menempelkan simbol-simbol palu arit yang melambangkan sistem filsafat komunisme di sekeliling kampus. Setelah itu terjadi pertemuan antara keduanya. Dan seperti sudah diduga, kelompok mahasiswa ini serta merta dituduh atheis.

Terang saja kelompok ini merasa geli campur marah. Dengan kesal mereka mempertanyakan kepada pejabat itu apakah beliau sudah membaca beberapa karya Karl Marx seperti Manifesto of The Communist Party, German Ideology, Economic-philosophical Manuscript, Das Capital, atau beberapa karya tentang Marxisme-Komunisme. Tapi apa kata si pejabat universitas itu? Dengan tanpa malu-malu ia mengatakan tidak tertarik mempelajari hal-hal seperti itu.

Kalau gelandangan yang mengucapkan itu tentu tidak mengkhawatirkan. Tapi ini seorang pejabat universitas yang kebetulan datang dari disiplin ekonomi. Ada tiga yang menjadi pertanyaan kita. Pertama, tidak tahukah pejabat itu bahwa Marx adalah seorang ekonom? Kedua, tidak tahukah dia bahwa sejarah dunia akan berkata lain seandainya tidak ada Marx? Dan ketiga, bukankah Alvin Toffler dalam Gelombang Ketiga-nya telah mengatakan bahwa yang disebut buta huruf dewasa ini adalah bukan orang yang benar-benar tidak bisa membaca, melainkan orang yang tidak tahu tentang Marx?

Ketidaktahuan seorang akademisi tentang Marx adalah ironis yang pertama. Sedangkan ironis yang kedua adalah ketika seorang akademisi, dan tentu saja, kebanyakan dosen agama, mengatakan bahwa inti dari komunisme adalah atheisme. Tapi apakah benar demikian? Ada baiknya kita melihat perkataan Marx sendiri tentang agama: “Agama adalah keluh kesahnya makhluk tertindas, jantungnya dunia yang tidak punya hati, karena itu ia merupakan roh dari suatu keadaan yang tak memiliki roh sama sekali. Ia adalah candu rakyat.”

Apakah dengan kalimat demikian Marx bisa dikatakan Atheis? Bukankah Marx – dengan sikap kokoh untuk membebaskan manusia dari penindasan – justru bereaksi kepada Ludwig Feuerbach yang mengatakan Tuhan itu hanyalah proyeksi pikiran belaka? Apakah jika seseorang tidak pernah mengucapkan kata-kata Tuhan lantas bisa disebut Atheis? Apakah agama itu adalah Tuhan itu sendiri? Lantas bagaimana dengan kaum mistikus-Sufi? Bukankah dalam beberapa golongan spiritual, dalam Yahudi misalnya, untuk menyebut nama Tuhannya, Yahweh, akan dianggap mengerdilkan Tuhan itu sendiri? Bukankah apa-apa yang disebut Marx sebagai penderitaan manusia pada prakteknya memang seringkali ‘ditampung’ oleh kelompok keagamaan dengan anggapan yang wajar? Bukankah dulu MUI seringkali tidak berbuat apa-apa, jika tidak mau disebut sebagai alas kaki, ketika Orde Baru melakukan banyak tindak penghisapan terhadap rakyatnya sendiri?

Dengan ini menjadi jelas bahwa pengetahuan yang dimiliki orang-orang sejenis pejabat kampus tadi benar-benar menggelikan. Padahal jika komunisme kita letakkan pada sistem sosial-kultur, maka setiap usaha yang menentangnya, termasuk yang membakar buku-bukunya, adalah usaha untuk menghambat terjadinya keadilan. Akan tetapi pada saat yang bersamaan kita juga harus memaklumi bahwa inilah salah satu bentuk propaganda Orde Baru yang berhasil: menciptakan hantu komunisme yang diidentikkan dengan atheis di tengah-tengah masyarakat yang ‘terkesan’ religius. Apalagi buku-buku komunisme memang dilarang, hingga hanya sedikit orang yang bisa membacanya.

Mereka yang merasa dirinya intelektual dan paling beragama (biasanya orang tua) cenderung untuk tidak mau tahu dengan hal seperti ini. Dan tak heran jika mereka pun tidak tahu bahwa inti ajaran komunisme adalah kajian dan perlawanan terhadap sistem produksi yang timpang. Marx bekerja keras untuk mengetahui mengapa tenaga kerja harus menjadi komoditas? Mengapa sistem kapitalisme melahirkan buruh yang teralienasi dan nilai lebih? Mengapa pemilik modal yang menguasai sistem produksi, padahal pekerjaannya dilakukan oleh tenaga kerja (proletar)? Dengan kata lain, inti komunisme adalah bagaimana membuat dunia ini adil!

Cita-cita komunisme ini rasanya diketahui oleh seluruh intelektual di muka bumi, kecuali barangkali orang-orang sejenis pejabat universitas tadi. Dan orang-orang sejenis pejabat itu pun rasanya tidak mengetahui bahwa paradigma positivisme yang mereka gunakan dalam penelitian jelas berbau Marxis! Marx begitu terinspirasi oleh hukum-hukum positivisme untuk mengubah kehidupan masyarakat. Pengakuan Marx bahwa dirinya telah menemukan hukum-hukum perkembangan masyarakat pun dilandasi oleh asumsi-asumsi positivisme. Dan sebagai seorang positivis, Marx berambisi untuk membangun masyarakat yang berdasarkan hukum-hukum ilmiah (Watloly, 2001). Inilah alasan kenapa Marx membangun sebuah teori tentang Sosialisme Ilmiah. Dengan kata lain, secara epistemologis hukum-hukum komunisme adalah ilmiah, karena didasarkan atas hukum-hukum Materialisme-Positivistik!

Inilah ironis yang ketiga, yaitu ketika orang-orang sejenis pejabat itu menuduh mahasiswa komunis, tapi pada saat yang bersamaan paradigma yang digunakannya di dalam kampus adalah Positivisme! Yang tak kalah ironisnya adalah mereka pun tidak mengetahui bahwa paradigma yang masih menjadi mainstream ini, termasuk marxisme di dalamnya, selain diakui merusak (Jalaluddin Rakhmat), juga telah diakui sebagai sebuah penyakit peradaban (Fritjof Capra).

Untuk menghemat ruang, rasanya kita tidak perlu lagi menguraikan secara panjang lebar apa itu positivisme, materialisme atau marxisme-komunisme. Sebab kita bisa mengetahuinya lebih lanjut dari banyak buku-buku. Tapi yang pasti, hukum-hukum positivisme yang kuantitatif minded ini secara nyata telah melahirkan sarjana-‘sarjana pohon pisang, sekali berbuah sesudah itu mati’ (Profesor Andre A. Hardjana). Dan karenanya skripsi-skripsi yang dilakukan kaum kampus, baik dosen maupun mahasiswa, sama sekali jauh dari berguna. Mereka terlalu terlena dengan menganggap dunia realitas sudah dapat digenggam melalui ready-make theory-nya. Dengan kebodohan yang akut, mereka ini masih saja mempercayai hukum objektivitas yang mengisyaratkan bahwa apapun masalah yang diteliti, pastilah akan sama jika dikaji/dibaca oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Mereka tidak tahu bahwa kehadiran teori Realitivitas, Quantum, Bootstrap, dan belakangan teori Chaos, telah merevolusionerkan asumsi umum tentang cara memandang dunia.

Tapi sebagaimana seorang positivis, mereka memang tidak berusaha mendapatkan realitas apa adanya. Sebab paradigma yang dianutnya itu memang memerintahkan mereka untuk merekonstruksi realitas, seperti yang tercermin dalam teknik sampling. Dan tak aneh ketika ada pengakuan bahwa setiap entitas masing-masingnya adalah unik, maka ilmuwan jenis ini pun seketika menjadi tumpul. Penelitian-penelitiannya pun segera masuk keranjang sampah karena sudah tidak up to date lagi, mengingat betapa pesatnya proses dinamika perubahan perkembangan masyarakat, terutama semenjak revolusi komunikasi yang mendudukan pengetahuan-informasi ke tempat terhormat.

Belakangan kita sering mendengar tumbangnya ilmu-ilmu. Ada buku tentang matinya ilmu ekonomi, matinya ilmu politik, matinya ilmu komunikasi, matinya sosiologi, matinya ilmu pendidikan (pedagogik), dan pada tataran tertentu, ada yang mengisyaratkan kematian ilmu fisika (materialisme). Dari berbagai wacana itu ada satu pola kegagapan umum dalam menjelaskan masyarakat, yaitu adanya kesulitan ketika menemui suatu realitas ganda, bahkan paradoks.

Ambruknya ilmu itu dikarenakan paradigma yang dianutnya menghalangi para ilmuwan untuk melihat sebuah kesalahan dari suatu tatanan kemasyarakatan. Dengan menggunakan sudut pandang positivisme, teori-teori tidak lagi emansipatoris melainkan hanya fiksasi realitas dan mereduksinya pada apa yang terukur. Mata mereka tertutup dari realitas sebenarnya, bahwa semesta tidaklah terkunci dalam hukum-hukum kausalitas, linear, dan deterministik! Dan pada gilirannya, meminjam istilah Donny Gahral (2001), mereka-mereka itu menjadi intelektual teknis yang menggunakan keahliannya untuk mengabdi pada status quo. Sebab walaupun tetap mengakui bahwa masyarakat mengalami proses dalam tingkatannya masing-masing, namun pada dasarnya paradigma yang mereka anut justru bertentangan dengan makna proses itu sendiri. Penelitian-penelitian yang digunakan akademisi seperti itu justru menghasilkan penelitian-penelitian yang bersifat final. Dan ini dimungkinkan karena penekanannya akan ’ Ada’, dan bukannya ’Mengada’, sebagaimana dalam pemikiran post-modernisme.

Akibat lain adalah birokratisasi kampus yang sudah diluar akal sehat. Logika mati begitu berhadapan dengan aturan administrasi
baku yang diklaim siap pakai itu. Tidak ada lagi ruang untuk berdiskusi, meski salah satu cikal bakal sekolah itu sendiri, yaitu Akademia yang didirikan oleh Plato, bertumpu pada dialog. Pendidikan pun akhirnya menggunakan sistem bank, yaitu sistem transfer fakta-fakta yang harus dihafal oleh peserta-didik seperti layaknya suatu bank.

Kemudian ini menjadi sebuah lingkaran setan. Mahasiswa terseret untuk hanya mengejar IPK yang tinggi. Asumsinya adalah bahwa angka-angka IPK tersebut pastilah telah mengandung ilmu pengetahuan di dalamnya. Dan konsekuensi logisnya, banyak seminar-seminar atau pers-pers kampus hanya berkutat dipermasalahan yang tidak signifikan dan tidak bermutu. Mahasiswa merasa lebih tertarik untuk menjadi penghibur (entertain), meski hiburan yang ditawarkannya sungguh menggelikan, kalau tidak mau dibilang norak atau kampungan.

Pendidikan menjadi kacau balau karena menggunakan pendekatan positivistik yang mewujud menjadi sistem bank. Tapi karena diri sudah terlalu akrab dengan kebodohan dan kemalasan, sebagaimana pejabat kampus tadi, maka berbagai kecaman terhadap sistem pendidikan
gaya bank (kuantitatif) ini pun tak diindahkan. Kritik pedas Profesor Paulo Freire bahwa teaching is not transfering knowledge sama sekali tidak digubris. Termasuk peringatan keras dari Profesor Tilaar (2002) bahwa pendekatan
gaya bank ini mengandung bahaya mengembangkan budaya bisu.

November 2003

4 thoughts on “Babak Belurnya Pendidikan

  1. hmm.. gw rasa komentar si nmr 1 itu benar.. ada impact yg berpengaruh dengan pandangan si pejabat kampus itu.. dia besar sama seperti orang tua kita.. dan berani bertaruh,bila anda lakukan survey.. siapapun yang pernah besar dengan orba 80% tidak akan welcome dengan ideology komunisme..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s