Ateisme Religius

Dalam pemahaman masyarakat kebanyakan, ada semacam desakan untuk mengetahui mana yang Theisme dan mana yang Atheisme. Saya tidak tahu apa gunanya. Namun, kalau kita pikirkan sejarah, motivasi, dan hasilnya, rasanya selama ini pembedaan tersebut dilakukan secara dangkal dan simplistis.

Kita semua sudah tahu bahwa sekitar 600 tahun yang lalu, pasca keruntuhan peradaban muslim Arab, orang-orang Eropa mulai menampakkan semangat untuk maju. Mereka menyebut abad ini sebagai Zaman Revolusi Ilmiah. Namun demikian, masih ada satu penghalang bagi mereka untuk berkembang, yaitu agama. Ketika itu, tercipta iklim dimana agama, atau pemuka agama, selalu berseteru dengan ilmuwan-ilmuwan atau penguasa kota. Apa-apa dilarang dengan alasan bertentangan dengan norma Tuhan.

Berkat peran Guttenberg, kitab suci akhirnya bisa terbit secara massif. Kitab yang biasanya dipegang segelintir orang itu kini bisa dibaca oleh siapa saja. Lalu muncul pemikiran kolektif, siapakah yang selama ini mengaku-ngaku wakil Tuhan dan selalu mengatasnamakan Tuhan itu.

Gelombang pemikiran seperti ini makin lama makin menggelembung dengan hasil dikeluarkannya agama dari Filsafat-Sains, yang merupakan pencapaian intelektual manusia sendiri – tanpa wahyu. Selama ini mereka menganggap kegiatan ilmiah selalu diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Kini, manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, bukan didasarkan atas campur tangan Illahi.

Tercatat ada beberapa faktor yang membuat mereka mulai meninggalkan agama. Dan menariknya, ini semua kurang lebih terjadi di abad yang sama. Pertama, problem di sekitar Yesus atau Isa yang tidak meninggalkan karya tulis sama sekali. Mereka bingung karena, ditangan para “sahabatnya”, ajaran-ajaran Isa malah jadi bertentangan satu sama lain dalam banyak masalah pokok. Mereka menduga, ketika berbondong-bondongnya masyarakat Romawi memeluk agama Nasrani, hal itu telah mengakibatkan merosotnya baik dasar umum teknologi maupun tingkat umum minat terhadap ilmu pengetahuan (Hart,1982).

Kedua, raja mulai terlibat dalam ketegangan dengan Paus dan dengan kota-kota. Timbul dikotomi antara Raja sebagai penguasa negara dan Paus sebagai penguasa rohani. Kemudian terjadi perdebatan untuk mengeluarkan agama dari kehidupan formal kenegaraan. Negara hendak dibangun atas dasar rasionalitas. Inilah yang disebut sebagai Reformasi Eropa, yang menandai munculnya istilah sekuler dan non-sekuler. Kelak muslim pun terseret akan kesalahkaprahan ini.

Dan yang ketiga, ketidakrelevanan ajaran Gereja. Menurut Gereja, melalui pendeta Ptolomeus, bumi adalah pusat dari semesta (geosentrisme). Namun, menurut Copernicus, paham tersebut sama sekali keliru. Dan dari hasil penelitiannya, ia membantah bahwa bukan bumi yang menjadi pusat alam semesta, melainkan matahari (heliosentrisme).Semenjak itu gereja mengalami goncangan hebat. Dunia ini dan manusia didapati bukanlah pusat. Manusia seakan menemukan dirinya hanyalah puing. Ajaran-ajaran Gereja mulai terlihat usang dan dogmatis. Kaum pendeta itu seakan mendapati dirinya sedang digerogoti dari segenap penjuru, terutama oleh Filsafat-Sains.

Ketidakpercayaan terhadap agama mulai menjalar di benak setiap orang. Mereka merasa tertipu. Lambat laun ini menjalar pada pengingkaran terhadap metafisika atau roh. Kiranya ini tidak begitu mengherankan, sebab saintisme kemudian diartikan orang sebagai adanya kesesuaian dengan dogma rasionalis yang memandang intelegensi manusia sebagai ukuran seluruh inteligibilitas. Artinya, saintisme membatasi rasionalisme tersebut hanya dalam batas-batas ilmu pengetahuan saja. Sementara roh manusia sendiri direduksikan hanya sampai dimensi ‘ilmiah’. Dan akhirnya segala realitas disamakan dengan hal yang dapat dimengerti secara inderawi. Karena bagi saintisme, seluruh realitas tidak lain daripada materi, sebagaimana yang pernah diproklamirkan oleh filsafat Positivisme.

Penggeneralisasian bahwa semua adalah materi sebenarnya memiliki akar pada filosof Rene Descartes. Menurutnya, manusia itu memiliki dua unsur, yaitu Res Extensa, yang diibaratkan dengan mesin yang bersifat inderawi dan pada hakikatnya sama, serta Res Cogitans, yang diartikan sebagai pemikiran, yang dapat mengetahui Res Extensa.Oleh Sang Raksasa Sir Isaac Newton, paham Res Extansa tadi diambil untuk dipakai sebagai salah satu pijakan penting dalam membuat diagram semesta. Hasil pemikiran Newton adalah naiknya Materialisme ke atas mimbar pengetahuan! Konsekuensinya, setelah sebelumnya Agama ditendang oleh Filsafat-Sains, kini Filsafatlah yang diceraikan oleh Sains. Sebab, begitu kerja empiris eksperimental menjadi lebih sentral dalam dunia ilmu, maka Filsafat oleh para ilmuwan alam dipandang sebagai pengganti teologi belaka, yang sama-sama bersalah atas pernyataan-pernyataan kebenaran a priori yang tak dapat diuji. Semenjak itu kriterium kebenaran berubah total seiring berubahnya tujuan ilmu pengetahuan. Kebenaran dipandang sebagai adanya kesesuaian antara matematika dengan realitas. Namun, yang penting disini adalah, walaupun Newton percaya pada Tuhan, pemikirannya tentang alam semesta sama sekali tidak menyisakan tempat buat sesuatu yang dianggap Tuhan.

Bagi beberapa orang, pemikiran Newtonian ini semakin memantapkan pendapat para filosof Atheisme tentang peniadaan Tuhan. Namun bagi beberapa yang lain, khususnya kaum Idealis Eropa, seperti Hegel, hal ini dipandang berbeda. Dengan berpijak pada Newton, mereka mengatakan bahwa filsafat sebelum Eropa adalah berlawanan dengan alam. Mereka menganggap bahwa dulu Roh tidak dihormati karena dianggap menyatu dengan ciptaannya. Karena itu mereka meninggikan Roh tersebut pada martabat yang seharusnya dan alam melanjutkan posisinya yang tepat.

Hal ini membawa manusia untuk memandang Tuhan yang satu untuk ditinggikan. Sedangkan seluruh alam hanya merupakan jubah kemuliaannya, dan karena itu dikeluarkan karena jasanya. Artinya, yang spiritual membicarakan dirinya secara mutlak bebas dari yang bersifat inderawi. Alam direduksi menjadi sesuatu yang hanya bersifat lahir dan tidak bersifat “misteri” sama sekali.

Kita bisa lihat bahwa ini adalah basis dari Hukum Kausalitas. Karena tidak ada sisa ruang dalam Ruang-Waktunya Newton, maka penciptaan ini semua segera diberikan kepada Tuhan sebagai The Creator, yang bagi beberapa ilmuwan lain dipandang sebagai sekedar pengisi celah (the God-the gaps) yang dipaksakan (dimana para ilmuwan Atheis selalu berkeyakinan bahwa suatu saat nanti celah itu bisa disumbat oleh sains dengan memuaskan).

Namun demikian, kita mesti melihat kepada Aristoteles yang sebenarnya sudah mengindikasikan hal ini. Aristoteles menolak gerak mundur tanpa batas atau sampai tak terbatas. Dan karena manusia merasa mesti menemukan sebab paling pertama, maka ia mentasbihkannya sebagai The Unmoved Mover, Penggerak Yang Tak Bergerak. Ia memisahkan entitas yang bergerak dan entitas yang menggerakkan. Filosof Arab dan Eropa kelak banyak yang terpengaruh dengan filsafat Aristoteles ini. Karena itu pula, banyak diantara mereka yang menyebut bahwa Tuhan sebenarnya tidak mengetahui partikel semacam kita. Ia hanya menggerakkan dan kembali terpusat pada diriNya sendiri (filosof muslim Arab yang meyakini hal ini kelak dikafirkan oleh Al-Ghazali).

Konsepsi Ketuhanan semacam ini lantas menggiring kita untuk berpikir bahwa Tuhan adalah personal. Tapi kaum Atheis terus mendesak. “Jika Dia benar-benar ada, kenapa Dia begitu angkuh? Kemana Dia ketika terjadi ketidakadilan? Kemana Dia ketika terjadi pembantaian? Mengapa Dia langsung berbalik badan ketika kita sudah diciptakannya?” Dan seterusnya. Dengan pertanyaan-pertanyaan tajam semacam itu, mereka dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Mereka mengatakan bahwa Tuhan itu hanyalah proyeksi pikiran belaka. Mereka menolak takdir manusia yang dijadikan budak bagi Tuan Besar itu. Mereka menolak Diktator.

Kaum Atheis itu memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah ilmuwan-filosof yang mati-matian menentang campur tangan Tuhan. Untuk itu mereka menciptakan berbagai macam ilmu pengetahuan yang benar-benar canggih dan rasional. Satu hal yang pasti, kaum Atheis ini sangat gigih dalam belajar. Mereka begitu serius menuntut ilmu karena mereka adalah kaum Atheis, kaum yang mengandalkan diri sendiri.

Namun, ada kekeliruan fatal dalam diri kaum Atheis ini. Para filosofnya sungguh-sungguh keliru ketika menyangka bahwa mereka tengah membawakan pemahaman baru tentang peniadaan Tuhan. Sebab, argumen peniadaan Tuhan itu sebenarnya telah diucapkan berabad-abad yang lampau justru oleh kaum monotheis ketiga agama besar dunia. Tepatnya oleh kaum mistik muslim, yang kemudian diikuti oleh mistikus Yahudi dan belakangan Kristen. Bagi kaum mistikus, Tuhan adalah Ketiadaan yang darinya kita berasal dan kepadanya kita akan kembali.

Dulu orang selalu meyakini bahwa ketiadaan akan menghasilkan ketiadaan pula. Namun mereka lupa, bahwa setiap perayaan terhadap sesuatu apapun, sesungguhnya itu merupakan perayaan terhadap ketiadaan yang melatarbelakanginya. Kita tidak akan merayakan 17 Agustus 1945 jika sebelum itu telah ada kemerdekaan. Ingat pula angka nol yang diartikan sebagai ketiadaan. Meskipun nol adalah tiada, ia ada untuk memberikan landasan bagi yang ada, yaitu angka satu dan seterusnya.

Dalam Islam, sebenarnya kemauan belajar dan berpijak pada diri sendiri bukanlah barang baru. Al-Quran yang telah muncul berabad-abad sebelum Eropa bangkit, telah secara tegas menyatakan bahwa kegiatan menuntut ilmu juga merupakan religius. Adaada 105 kata ilmu dan 704 kali dengan kata kejadiannya yang menyiratkan manusia untuk selalu menuntut ilmu. Dalam Islam, orang yang berpengetahuan berbeda derajatnya.Bahkan ada satu surat yang, menurut saya sangat berani, sangat menarik dan begitu terbuka. Kira-kira surat itu berbunyi; “bahwa manusia yang membantah Allah tanpa pengetahuan, tanpa ilmu, tanpa kitab yang menerangkan, apalagi sambil memalingkan kepala karena tidak peduli atau sombong, akan mendapat kehinaan dan azab yang membakar” (lengkapnya lihat Al-Qur’an, Al-Hajji ayat 8-9).

Dengan penekanan kuat untuk belajar ini, lantas atas alasan apa orang-orang bisa mengklaim bahwa ini Atheis dan ini Theis? Jika seseorang dikenal sebagai Atheis tapi setiap hari ia belajar, bisakah kita menyebutnya sebagai Atheis hanya karena ia tidak mengaku Islam dan belum membaca Al-Qur’an? Bukankah Ateisme yang konsisten dan bersemangat justru bisa menjadi lebih religius ketimbang Theisme yang memalukan, tertutup dan penuh ketakutan?

Secara konseptual, Islam telah dipuja puji oleh banyak kalangan. Hanya saja, yang menjadi masalah adalah, mengapa terjadi diskontinuitas antara sebuah perintah dengan orang-orang yang justru mengaku sebagai pemeluknya? Bagaimana ceritanya hingga Islam dianggap sebagai domain yang mengerikan? Kini memang banyak kita temukan dimana para pemuka agama Islam berlaku persis seperti petinggi Kristen di abad pertengahan dahulu, dengan membakukan karakter Islam. Pembakuan seperti itu bisa dibaca sebagai pengkotakkan.

Entah berkat propaganda Barat atau barangkali perilaku kebanyakan muslimnya sendiri, kini Islam dikenali hanya dari ketika ia sedang mengangkat tinggi-tinggi bendera yang bertuliskan kata Allah dalam bahasa Arab, meskipun dipinggangnya terselip sebilah golok dan kekuasaan primitif; ketika di KTP-nya tertera Islam; ketika ia sering mengutip kata Islam.

Mungkin segera terlintas dipikiran kita sebuah pertanyaan lain, lantas kemana universitas-universitas Islam di Indonesia? Bukankah universitas adalah tempat lahir dan matinya ide-ide? Bukankah semestinya universitas-universitas Islamlah yang mengkaji ini secara serius? Namun, begitu kita melongok ke dalam kampus-kampus Islam di Indonesia, ternyata petinggi-petingginya hanya mengurusi penampilan yang “islami”, serta “mencari-cari” orang yang menurut standarnya Atheis.

Alhasil, tidak ada penekanan keras serupa terhadap kecerdasan. Tidak ada “sweeping” terhadap orang yang dikamarnya tidak ada buku. Tidak ada “sweeping” terhadap orang yang tidak membaca atau menulis. Di sebuah kampus Islam, malah pernah terpajang stiker yang bertuliskan “Sudahkah Anda Berbusana Sopan?”, dan “Anda Sopan Kami Segan”!

Aneh memang. Penekanan pada penampilan dan memercayai sesuatu tanpa dipelajari sendiri telah membuat muslim sekarang begitu terbelakang, baik dalam ilmu, teknologi, maupun budaya.
Ada rasa kesal dan ingin melawan pada dunia Barat, namun tak ada upaya apapun untuk mengunggulinya. Pernyataan Karen Armstrong, dalam buku Sejarah Tuhan, rasanya bisa disetujui, bahwa belum pernah ada dalam sejarah dunia betapa suatu peradaban yang dulu identik dengan orang pintar kini begitu terpuruk dalam jurang yang begitu hina dan memalukan.

Oktober 2002

4 thoughts on “Ateisme Religius

  1. susah-susah mencari tuhan sampe jauh. pake memberinya istilah “tuhan/gusti/alloh, dsb” segala. Pantesan ada atheis. “Atheis=tak bertuhan” akan beda jadinya jika tuhan tidak pernah diistilahkan, demikian halnya dgn pengistilahan agama2.

    ia ada di dalam setiap kita. dan ia tak butuh nama.

  2. saya seorang atheis, saya tidak akan malu mengakuinya. di islam kita dilarang menyembah berhala karna berhala adalah benda mati, tidak bisa melindungi dirinya sendiri ( dibuktikan oleh ibrahim dengan menghancurkan berhala kaumnya ), sehingga tidak masuk akal menyembah berhala. tapi bagi saya lebih tidak masuk akal lagi kalau kita harus menyembah sesuatu yang tidak nyata. toh dia juga tidak bisa melindungi dirinya sendiri karna dia tidak nyata, dan sulit bagi manusia menghancurkan sesuatu yang tidak nyata. jika kita bisa menerima kalau tuhan bisa ada dengan sendirinya, kenapa kita tidak bisa menerima manusia juga bisa ada dengan sendirinya tanpa campur tangan siapapun. bagi saya yang atheis ketika melihat realita sungguh miris. banyak orang yang mengaku beragama malah seakan-akan memperdagangkan tuhannya, atau bahkan melanggar perintah tuhannya. contoh yang paling nyata: saat ramadhan stasiun televisi bersaing menampilkan sinetron religius, departemen agama ternyata jadi departemen paling korup se Indonesia. tapi banyak juga orang yang beragama yang baik tapi jumlahnya lebih sedikit. andai di Indonesia atheis disahkan maka dengan senang hati saya akan menggantik KTP saya yang islam menjadi atheis. saya orang atheis meki tak punya agama tapi saya tahu mana yang baik dan buruk dengan menggunakan akal pikiran dan hati nurani saya. ” Jika dicubit itu sakit, jangan mencubit “, ” jika ditolong/diberi sesuatu itu menyenagkan, tolong/berilah sesuatu seseorang “. bagi saya yang atheis, saya menghargai mereka yang beragama, entah itu islam, kristen, budha, atau hindu, tapi saya juga berharap mereka menghargai keyakinan saya. toh kita juga sama-sama mnusia, perbedaan pendapat itu yang wajar. selagi bisa saling menghargai tentu indah hidup ini.salam dari saya yang seorang atheis.

  3. Semua kata-kata yang keluar dari mulut manusia adalah polemik, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s