Air Bah Filsafat Dalam Novel

SETELAH air bah melanda novel Cantik itu Luka (Yogyakarta: AKY Press, 2002, 517 hlm) karya Eka Kurniawan (lihat Media Indonesia, 2 Maret 2003), kini peristiwa yang sama dengan tema berbeda menerjang novel Sabda dari Persemayaman (Jakarta: Grasindo, 2003, 320 hlm) karya Tengku Muhammad Dhani Iqbal. Novel ini ditulis dengan semangat berfilsafat yang menggelegak. Maka, terbentanglah pemikiran filsafat sejak zaman Thales dan Anaximenes mengalir menuju “Gelombang Ketiga” Alvin Toffler hingga ke teori Quantum, Bootstrap, dan teori Chaos. Dari sudut deskripsi filsafat, novel ini jelas bermaksud menyajikan hamparan panorama filsafat. Ia secara cukup rapi diselusupkan ke dalam kegelisahan tokoh utamanya, Satar. Dengan cara itu, pengarang tidak hanya memperalat tokoh itu untuk kepentingannya menyampaikan pemikiran filsafat yang disetujui atau yang tak disetujuinya, tetapi juga menempatkannya sebagai corong untuk mengkritik sistem pendidikan di negeri ini–yang menurutnya sudah amburadul. Jadi, disana kita akan menjumpai kritik atas positivisme Karl Marx, kekaguman pada cogito ergo sum-nya Descartes, atau hamparan gagasan para filsuf.

Di antara itu, gambaran hingar-bingar gerakan mahasiswa, masuk sebagai protes atas sistem pendidikan kita. Dua gagasan besar itulah yang hendak diangkat Iqbal dalam novelnya ini. Dalam sejarah sastra dunia, langkah yang dilakukan Dhani Iqbal–yang memasukkan filsafat dalam novel (: sastra)–sungguh bukanlah hal baru. Ibn Thufail (1106-1185) yang terkenal lewat salah satu karyanya, Hayy Ibn Yaqzhan dipandang telah menyampaikan bentuk ekspresi postulat Neo Platonisme tentang keserasian hubungan antara agama dan filsafat, akal dan wahyu. Voltaire (1694-1778) melalui novel-novel satirisnya dianggap sengaja meledek filsafat Leibniz, terutama problem filsafat deisme. Nietzsche dalam The Spoke Zarathustra mengumandangkan semangat menjadi manusia unggul (uebermensch). Albert Camus dalam Sampar (La Peste) dan Orang Asing (L’Etranger) seperti hendak menegaskan kembali sosok dirinya sebagai seorang eksistensialis dalam berhadapan dengan kehidupan yang absurd. Beberapa contoh itu menunjukkan betapa sastra dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan gagasan filsafat. Belum lagi jika kita bicara Bhagavad-Gita atau kisah-kisah mitologi Yunani.

Di Indonesia, cara itu juga sudah banyak dilakukan novelis kita. Beberapa di antaranya, periksa saja, misalnya, Atheis–Achdiat Karta Mihardja, menampilkan tokoh Hasan yang pencari, Rusli yang ateis, dan Anwar yang chauvinis. Sementara itu, dalam Debu Cinta Bertebaran, Achdiat mengangkat perdebatan filsafat dan estetika dalam dunia seni.

Goa Biru Grotta Azzurra–Sutan Takdir Alisjahbana, lain lagi. Di sana, Alisjahbana mengangkat problem politik dan kebudayaan yang berantakan akibat pemerintahan yang represif dan korup. Sementara Ali Audah dalam Jalan Terbuka menyajikan kegelisahan tokoh utamanya dalam mencari Tuhan. Lebih rumit lagi sejumlah karya Iwan Simatupang, khasnya Ziarah. Filsafat eksistensialisme yang melekat dalam diri Tokoh Kita seperti menyatu dalam segala tindakan tokoh itu. Sementara Kuntowijoyo dalam Khotbah di Atas Bukit menampilkan tokoh Barman yang sedang bergulat dalam lingkaran panteisme Jawa dan filsafat eksistensialisme.

Sejumlah novel itu diracik-olah, dibungkus-kemas, dan disusunsajikan melalui tindak laku, tindak pikir, dan tindak cakap–monolog atau dialog–tokoh-tokohnya. Dengan cara itu, filsafat atau ideologi yang diusungnya telah menjadi milik tokoh-tokoh itu. Dalam hal ini, pengarang telah membentuk tokoh-tokoh rekaannya sebagai–manusia–yang berfilsafat; tokoh yang berkepribadian ideologi atau menjalankan filsafat tertentu. Filsafat jadinya tidak disajikan secara artifisial, tidak dalam bentuk textbook thinking, melainkan sudah menjadi bagian integral dari tindak laku, tindak pikir, dan tindak cakap tokoh-tokohnya itu.

***

Jika dipandang dari semangatnya menyelusupkan pemikiran filsafat, Sabda dari Persemayaman sebagai novel pertama Dhani Iqbal, bolehlah dikatakan berhasil. Tokoh Satar sebagai alat untuk menyampaikan gelora semangat berfilsafat pengarangnya, juga digiring sedemikian rupa dan diberi ruang yang lebih leluasa untuk mengungkapkan kegelisahannya. Saat itulah pengarang berkesempatan mengumbar sesukanya pengetahuannya tentang filsafat. Dari sudut itu, ketokohan Satar jadi lebih merupakan representasi pengarang. Di sinilah problemnya. Sabda dari Persemayaman seperti sengaja mengabaikan estetika. Padahal, estetika justru menjadi bagian yang tak terpisahkan dari semangat novel (: sastra). Ia semestinya melekat–inheren–dengan segenap unsur yang membangun novel itu.Rangkaian peristiwa yang membangun cerita dalam Sabda dari Persemayaman itu sendiri sesungguhnya tidaklah terlalu istimewa. Kisahnya bermula dari pemecatan tokoh Satar. Mahasiswa ini, menurut pihak rektorat, telah bertindak indisipliner. Maka, gelombang solidaritas sesama mahasiswa berkembang jadi serangkaian aksi demonstrasi.

Sejak itulah, cerita dalam novel ini seperti terbelah dua. Satar asyik-masyuk dengan pergulatan pemikiran sendiri, sementara Eva–kekasihnya, Jojo dan sejumlah temannya yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan, berjuang melakukan pembelaan atas pemecatan itu. Kegelisahan dan pengembaraan pikiran Satar akhirnya berujung pada puncak pembebasan atas realitas: bunuh diri! “Sebuah loncatan spekulasi radikal dan spektakuler dari seluruh bentuk gerakan rasionalisasi manusia.” (hlm 235). Itulah kesimpulan tokoh Satar setelah terus-menerus diteror rentetan pertanyaan yang jawabannya justru melahirkan kembali pertanyaan. Setelah peristiwa kematian Satar, gelombang demonstrasi mahasiswa makin luas. Sampai di sini, pengarang seperti berhadapan dengan problem ‘air bah’. Gagasan-gagasan besar yang mula dihadirkan penuh semangat, mendadak serempak surut. Dan kegagalan aksi mahasiswa seperti terpaksa harus menjadi penutup cerita novel ini.

***

Berbeda dengan Cantik itu Luka yang ceritanya terfokus pada tokoh Dewi Ayu, simbolisasi pemicu chaos, Sabda dari Persemayaman terkesan terperangkap oleh dua tema yang hendak diangkatnya: panorama filsafat melalui tokoh Satar dan problem dunia kampus lewat gerakan mahasiswa. Cara ini tentu saja bukan tanpa risiko. Iqbal kadangkala lepas kontrol dan bias. Meski ia cukup cerdas mengumbar imajinasi filosofisnya, tidak jarang ia seperti tak sadar berbelok arah dan menceritakan sesuatu yang tak perlu. Jadinya, lanturan (digression) itu tak fungsional. Dalam hal inilah, Iqbal mestinya melakukan pemilahan dan pemilihan segala peristiwa yang hendak disajikan. Tanpa itu, ia tidak hanya akan lepas kendali dari keterjagaan pada tema cerita yang ditawarkannya, tetapi juga akan menyeretnya pada kecenderungan sekadar memanjang-panjangkan peristiwa.

Kesan itu tentu saja akan dengan mudah kita jumpai dalam hampir keseluruhan lakuan tokoh-tokohnya. Kecenderungan untuk memaparkan detail segmen lakuan itu, jauh lebih dominan dibandingkan dengan usahanya mendeskripsikan detail latar. Padahal, dalam setiap gerak tindak manusia, banyak sekali hal atau peristiwa remeh yang tak perlu diceritakan. Jadi, dalam hal tertentu, cukuplah kita mengungkapkannya sepintas lalu. Dalam hal itu, deskripsi tentang sesuatu perlu juga mempertimbangkan kelugasan dan kehematan bahasa. Terlalu royal tanpa ada signifikansinya bagi keseluruhan cerita, niscaya juga akan mengganggu kenyamanan kita mengikuti dan masuk ke dalam cerita. Itulah yang disebut hingar (noisy).

Dalam banyak hal, mesti diakui, Sabda dari Persemayaman telah berhasil menyajikan pemikiran filsafat yang rumit, jlimet, dan kering menjadi rangkaian gagasan yang mengalir ringan, enak diikuti, dan tak perlu berkerut dahi. Sebuah cara yang sungguh piawai. Anggapan bahwa filsafat sebagai ilmu yang menakutkan, sama sekali tidak muncul dalam novel ini. Boleh jadi, itulah salah satu kelebihan novel ini.

Di samping itu, keluasan wawasan Iqbal tentang filsafat dan cara bertuturnya yang ringan, niscaya dari tangannya akan lahir novel monumental. Sabda dari Persemayaman merupakan bukti kepengarangan sosok Dhani Iqbal yang potensial dan menjanjikan!

Maman S Mahayana – Pensyarah Fakultas Ilmu Pengetahuan BudayaUniversitas Indonesia, Depok
(Media Indonesia, Oktober 2003)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s