Gerakan Wahabi di Indonesia (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Seketika terjadi Pemilihan Umum, orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi”. Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Continue reading

“Dongeng Kaum Tasawuf Mendewakan Raja (9) (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Raja-raja itu sendiripun telah berusaha mengisi jiwanya dengan Tasawuf, baik Tasawuf yang campur aduk, ataupun Tasawuf menurut Sunnah Nabi. Gunanya ialah untuk penambah “wibawa” dan kebesaran disertai kemurnian jiwa, sehingga beroleh kekuatan memerintah.

Kitab-kitab Tasawuf yang dalam-dalam disuruh menyalin ke dalam bahasa Melayu. Naskah- naskahnya yang asli disimpan dalam perbendaharaan istana. Guru-guru yang besar didatangkan dari luar negeri, baik dari tanah Arab atau dari India. Di zaman Sultan Iskandar Muda Mahkota ‘Alam Aceh berduyunlah guru-guru Tasawuf itu datang, sehingga di dalam abad ketujuh belas, masa pemerintahan beliau, perbendaharaan perpustakaan Islam menjadi kaya karena usaha demikian. Sampai terjadi pertikaian fikiran yang mendalam di antara golongan Hamzah Fansuri dengan golongan Nuruddin. Continue reading

“Dongeng” Kaum Tasawuf Mendewakan Raja (7) (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Dongeng-dongeng kuno baik pusaka orang Hindu atau pusaka orang Griek (Yunani) sangat besar pengaruhnya ke dalam “Ilmu Tasawuf” setelah datang zaman kemundurannya. Di dalam kitab-kitab “Veda” kuno tertulis kepercayaan orang Hindu tentang asal usul kejadian alam ini. “Indra” adalah Dewa Yang Paling Agung, dialah yang disebut Dewata Mulia Raya atau Sang Hyang Tunggal. Dia juga lambang dari langit. Dia dibantu oleh dua dewa lagi, yaitu “Radera” dan “Ageni”. Di samping itu adalah dewa yang menciptakan maut, yang dinamai “Gama”, kemudian itu disebut pula dari fajar, yaitu Usyasa”. Kepercayaan Hindu yang paling tua ini, jauh sebelum kepercayaan Brahma tentang Wishnu, Krishna dan Shiwa. Continue reading

Islam dan Majapahit (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Meskipun telah hidup di zaman baru dan penyelidik sejarah sudah lebih luas daripada dahulu, masih banyak juga orang yang mencoba memutarbalikkan sejarah. Satu di antara pemutarbalikan itu ialah dakwaan setengah orang yang lebih tebal rasa rindunya daripada Islamnya, berkata bahwa keruntuhan Majapahit adalah karena serangan Islam. Padahal bukanlah begitu kejadiannya. Malahan sebaliknya. Continue reading

Usaha Kedua Kali Merebut Malaka (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Awal Abad Kedelapan Belas

Kekuasaan Kompeni Belanda telah bertambah besar. Satu persatu Kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Indonesia ini telah dilemahkan. Kerajaan Mataram pusaka Sultan Agung, Kerajaan Banten pusaka Sultan Hasanuddin demikianpun yang lain-lain. Tidaklah dapat lagi naik takhta kerajaan. Tinggallah sebuah Kerajaan Melayu yang masih besar dan berkuasa penuh, yaitu di Kepulauan Riau. Kerajaan Riau di abad kedelapan betas adalah seakan-akan Kaisar Melayu. Dia meliputi Johor, Lingga, Pahang, Terenggano, Indragiri dan Kampar. Bahkan Sultan-sultan Melayu, terutama Kalimantan Barat pun mengakui pertalian adat istiadat ke Riau. Seumpama Mempawah, Sambas, Sukadana, Matan, Sanggau. Dan seketika Syarif Abdurrahman keturunan bangsa Said Al Qadri Jamalul Lail mendirikan Kerajaan Pontianak, adalah memohonkan kebesaran ke Riau juga. Continue reading

Dekat Malaka Akan Jatuh (Hamka)

(dikutip dari buku Dari Perbendaharaan Lama, 1963, karangan Hamka)

Masyhurlah nama Malaka di akhir abad kelimabelas, sebagai sebuah negeri besar di sebelah Timur ini. Dia terletak dan berdiri di antara dua Kerajaan Besar yang megah, yaitu Cina dan Hindustan. Dan Hindustan ketika itu diperintah oleh raja-raja keturunan Afghanistan Islam. Continue reading

Federalisme, Unitarisme, dan Kedaulatan Rakyat yang Saling Menimpa

Beda federalisme/persatuan dan unitarisme/kesatuan:

Federalisme: wilayah-wilayah beserta manusia beserta teritorinya, juga aturan main (tertulis atau tak tertulis) dalam kehidupannya, sudah ada terlebih dahulu. Wilayah ini kemudian masuk ke dalam suatu wilayah yang lebih besar. Tujuan penggabungan ini umumnya untuk bekerjasama dalam mencapai taraf kehidupan yang lebih baik. Karena sudah ada lebih dahulu, maka ia besifat otonom. Daulatnya tak lepas. Pada wilayah yang lebih besar itu ia pun mendelegasikan sejumlah kewenangan untuk diurus oleh pengurus/pemerintah wilayah besar itu. Continue reading

Musuhmu adalah Kawanku, Catatan Pendek Ihwal Bendera Israel

Bendera Israel kini menjadi bahan perbincangan dimana-mana. Ia terkait dengan satu peristiwa pembakaran bangunan-bangunan, termasuk masjid, dan penembakan di Tolikara, Papua. Beberapa (semua?) media Islam nampaknya meradang, seperti sakit hati. Sebab Israel dalam kosmologi orang Islam adalah musuh. Ia menjadi begini kira-kira: negara dimana ia berpaut ternyata berkawan dengan musuhnya. Continue reading

Jejak Republiken dan Konservatif dalam Aksara dan Pelafalan

Pernah mendengar orang-orang tua menyebut “masalah” dengan “mas’alah”? Rupanya perbedaan pengucapan itu punya jalan cerita yang tidak main-main. Masih adanya orang yang menyebut “mas’alah” nampaknya merupakan sisa dari sesuatu yang hendak dihapus oleh kelompok Republiken di masa silam. Continue reading

Mengapa Republik Indonesia Serikat? (YB Mangunwijaya)

Mengapa Republik Indonesia Serikat?
Oleh: YB Mangunwijaya

Majalah D&R, 1 Agustus 1998 – Edisi 22/03 – 1/Agustus/1998

Bhinneka Tunggal Ika adalah definisi negara federal, satu-satunya kemungkinan mempersatukan Indonesia secara adil, damai, saling memekarkan di abad ke-21, yang sudah lain sama sekali dari situasi abad ke-20.

MENGAPA Kroasia Herzegowina, Bosnia, dan lain-lain menyempal dari Negara Kesatuan Yugoslavia? Itu terutama karena sepak-terjang Serbia yang ingin mendominasi daerah-daerah tadi demi impian besar Serbia Raya. Aksi menimbulkan reaksi. Jika satu bagian negara terlalu bermain tuan besar, sedangkan bagian lain disuruh menjadi satelit untuk tidak mengatakan dijajah, apalagi apabila suatu negara terdiri dari suku-suku dengan kebudayaan serta agama lain, jelaslah secara alamiah amat mudah separatisme timbul, dengan segala kekejaman seperti yang kita lihat di bekas Yugoslavia itu. Continue reading

“Islam Nusantara”? Kau Sajalah

“Islam Nusantara” ini lama-lama akan menjadi sekte nampaknya. Ia menciptakan frase “Islam Arab” sebagai tangga untuk dapat hadir dengan definisi-definisinya sendiri. Pembelahan ini mengingatkan orang pada Snouck Hurgronje dan kelompoknya, yang memberikan teori adanya yang original, terisolir, dan siap ditemukan. Continue reading

Kaum Bermata Tajam dan Kosong

Modernisme itu membawakan satu keseragaman. Lihatlah sorot mata penganutnya. Tatapannya kosong. Standar diktat untuk kaumnya sudah dibuat, sudah selesai, dan tinggal dijalani dimanapun, kapanpun, oleh siapapun.

Lalu lihatlah mata kaum itu. Tatapannya tajam. Berbinar. Tak ada kekosongan di sana. Ia takkan tersentak jika dikejutkan. Ada api dalam dadanya yang panasnya keluar dari mata itu. Kaum itu tak modern. Logikanya tak standar bagai kerja mesin, tetapi bagai gerak gelombang laut, bagai alam pikiran.

Bahasanya Sama, Logatnya Berbeda

Mengapa ada dialek atau logat yang berbeda dari suatu bahasa yang sama?

R. Clyde Food, dalam esainya “Malay Words in English” (1895), pernah menjelaskan bahwa adanya perbedaan dialek pada bahasa Melayu dikarenakan watak dari aksara Arab-Melayu/Jawi itu sendiri. Aksara ini, seperti diketahui, tak menggunakan harakat atau tanda baca. Alhasil, abjad-abjad yang tersebar luas ini, yang terkait dengan sebaran Islam, dapat dibaca sesuai intonasi sendiri-sendiri. Continue reading

Plularisme, eh, prurarisme, eh, pluralisme, eh plurarisme, eh…. apa nama kau?

“Oh, samalah kalau begitu. Kami juga pluralisme”.

Begitu respon seorang kawan atas pertanyaan ihwal haluan pandangan saya yang tak seberapa ini (ke luar) dalam satu diskusi. Saat itu saya menjawab “multikulturalisme”. Ini topik biasa dalam percakapan dengan kawan yang sama-sama baru kenal.

Respon itu secara bersamaan mengingatkan saya pada dua hal. Pertama, rumah makan. Itu macam bertanya engkau makan apa? Oh ikan. Saya sayur. Selesai. Continue reading

Tentang Istilah Agama dan Adat

Sewaktu kuliah, seorang dosen menggambar sebuah segitiga. Di pucuk adalah Allah, dan dua sisi lain dibagi pada agama dan manusia. Agak-agak lupa juga waktu itu bagaimana beliau mendudukkan relasi ketiganya. Seingat saya itu membingungkan, khususnya dalam penjelasan bagian “agama”, dan khususnya bagi saya yang mahasiswa tak seberapa itu. Entitas apa rupanya “agama” ini? Continue reading

Catatan Pendek Ihwal Pengaruh dan Karakter pada Bahasa Melayu

Tiap bahasa memiliki karakter. Ia punya dunianya sendiri, dan menjadi jalan untuk memandang yang-ada secara khas. Dan inilah yang membuat kerja-kerja penerjemahan menjadi sesuatu yang menakutkan: tak semua memiliki timbangan dan padanan semakna. Tapi bukan hal ini poinnya, melainkan apa yang terjadi ketika ia kemudian hari berjumpa dan mempengaruhi bahasa di luar dirinya, yang memiliki watak berbeda.

Pada bahasa Melayu, misalnya, sejumlah bahasa dunia telah memberikan perbendaharaan kosa katanya, lengkap dengan nilai-nilai atau cara pandang terhadap dunia (worldview) yang terkandung di dalamnya. Cara pandang dunia yang diberikan itu pada gilirannya turut membentuk karakter bahasa Melayu itu sendiri.. Continue reading

Sekilas Ihwal Kamus Bahasa “Indonesia”

Sewaktu baru-baru bekerja di media massa, ada satu editor yang namanya cukup terkenal. Ruangan dia banyak buku. Mulutnya jarang bicara. Kacamatanya setebal pantat botol.

Satu waktu dia bilang Kamus Besar Bahasa Indonesia itu salah menulis kata ‘telepon’. Menurut dia, apa-apa yang berasal dari kata yang ujungnya pakai huruf ‘p’ harusnya berubah menjadi ‘f’. Sebut saja ‘saxophone’ menjadi ‘saksofon’, ‘microphone’ menjadi ‘mikrofon’, ‘megaphone’ menjadi ‘megafon’, ‘homophone’ menjadi ‘homofon’, dan seterusnya. Karena itu, ‘telephone’ semestinya menjadi ‘telefon’, bukan ‘telepon’. Continue reading

Negeri Taklukan

Konon, ada empat ciri dari apa yang disebut negara: punya batas wilayah, pemerintahan/hukum, masyarakat, dan pengakuan dari entitas di luar dirinya.

Lalu, ada empat ciri telah takluknya suatu negeri:

– kepemimpinan suatu negeri harus atas izin dan restu penakluk
– membayar pajak kepada penakluk
– diberlakukannya hukum penakluk ke negeri tersebut
– penakluk dapat leluasa membuka lahan-lahan dan mengirim orang-orangnya di negeri taklukan.

Penaklukan fisik biasanya diikuti mental. Medium bacaan, televisi, radio, akan dimobilisir untuk tujuan ini. Kotak-kotak televisi pun akan dibagikan gratis atau dijual murah sekali. Yang penting, negeri taklukkan dapat mengidentifikasi dirinya bukan lagi sebagaimana dirinya, tetapi sebagai bagian dari penakluk. Dia akan merasa terlibat dengan segala dinamika penakluk, dan tak lagi merasa itu fatamorgana. Apa yang dihore-horekan penakluk akan dihore-horekan juga oleh negeri taklukan. Kira-kira, ini sepadanlah dengan kegembiraan sebagian kaum yang ditaklukkan Belanda karena penakluk menang perang lawan Perancis, di masa silam.

Jika penetrasinya lemah, atau negeri taklukannya kuat, penaklukan itu akan menjadi pelitur saja di atas kayu. Tapi jika penetrasinya kuat, atau negeri taklukannya lemah, maka jalan cerita satu kaum, betapapun berabad-abad tegaknya, tamatlah sudah. Barangkali.

Jemputan untuk Mendukung LenteraTimur.com

Beberapa malam lalu ada kabar yang membesarkan hati. Satu pembaca LenteraTimur.com yang kemudian menjadi kawan baik berkenan menyisihkan sedikit dari penghasilannya untuk media ini. Bukan besaran angkanya yang membuat kami menarik nafas dalam-dalam, tetapi keinginannya supaya media ini tidak menjadi mendiang. Continue reading

Bajau, Terombang-Ambing di Antara Negara-Negara yang Baru Berdiri

Kemerdekaan negara-negara modern seperti RI, Malaysia, dan Filipina yang kemudian menyekat mereka diantara garis-garis batas negara, yang sesungguhnya bagi pemahaman orang seperti Bajau Pela’u ini adalah absurd dan tidak dapat menghalangi orang secara fisik untuk bergerak dilautan bebas.

Continue reading

Bhinneka Tunggal Ika, Semboyan Pencampuran Agama Hindu dan Buddha

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika memiliki konteks pencampuran agama, yakni Hindu dan Buddha. Ia muncul di dalam negara Hindu Majapahit, Jawa. Catatan di bawah ini adalah cuplikan dari esai “Harmoni dalam Ajaran Buddha” (Iwan Setiawan) dalam buku Toleransi dan Perkauman – Keberagaman dalam Perspektif Agama-Agama dan Etnis-Etnis (halaman 97, 2014). Continue reading

Joko Kian Menyerupai Sukarno

Sampul buku "Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung", 1987.

Sampul buku “Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung”, 1987.

“Satu-satunya yang gigih menyokong Indonesia adalah RRT di Peking, namun Rusia sendiri dengan negara-negara satelitnya memperlihatkan sikap acuh tak acuh di dalam pertikaian Malaysia ini, tulis Anak Agung.

Continue reading

Perusahaan Televisi Laksana Belah Bambu, Satu Diinjak Satu Diangkat

Dulu, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dan Remotivi pernah melakukan protes atas tayangan Primitive Runaway, produk PT Televisi Transformasi Indonesia. Caranya: berunding dengan mediasi pihak ketiga. Hasilnya: gagal. Perusahaan hanya mengganti nama produknya menjadi Ethnic Runaway dengan konsep yang sama. Continue reading

Soal Representatif dan yang Tak Sepadan

‘Representative’ berkata dasar ‘present’. Secara leksikal, ia bermakna ‘hadir’. Dengan begitu, ‘representative’ bermakna ‘ia yang hadir kembali’. Makna pada ‘representative’ ini dengan sendirinya mengandung syarat bahwa ‘yang hadir kembali’ itu haruslah memiliki identifikasi yang serupa dengan yang ‘present’. Continue reading

Sedikit Soal Ilusi Demokrasi

Saya masih belum paham mengenai isu Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah yang sedang diributkan ini. Maksudnya, mengapa orang melakukan protes terhadap keberlakuannya? Maksudnya lagi, mengapa protes tak dilakukan pada simpul komunitas/faksi/provinsi masing-masing?

Sejumlah kelompok, macam Kontras, berencana melakukan penggalangan Kartu Tanda Penduduk dari siapapun yang menolak aturan pemilihan kepala daerah itu, darimanapun wilayahnya. Dan klaim-klaiman atas nama rakyat, publik, dan yang besar-besar dan anonim mulai bermunculan. Tapi tahu darimana kebenarannya? Betapapun tidak ada yang setuju, katakanlah, ia harus tetap diandaikan ada yang setuju. Sebab takkan ada yang tahu dimana dan berapa besar mereka yang menolak dan mendukung kecuali dilangsungkannya satu referendum mengenai hal ini. Continue reading

Berhulukan Keyakinan

Orang yang gemar menggunakan terminologi ‘Sengkuni’, ‘Mahabarata’, ‘Wayang’, ‘Baratayuda’ dan semacamnya sebetulnya bisa dilacak asal keyakinannya.

Sebaliknya, orang yang sering menggunakan istilah ‘Sunnah’, ‘Badar’, ‘Zakat’, ‘Zapin/Jepen’, ‘Laila Ma’jnun’ dan semacamnya pun dapat dilacak hulunya.
Continue reading

Pidato Natsir di Parlemen Republik Indonesia Serikat Tanggal 3 April 1950 Tentang Pembentukan Negara Kesatuan

Catatan:
– Dikutip dari buku Capita Selecta Jilid 2 dari M. Natsir, yang diterbitkan Juli 1957. Diterbitkannya buku ini pada 1957, di Jakarta, dapat menjadi bahan pemikiran tersendiri, mengingat Natsir dan kawan-kawan sedang dalam masa perang dingin melawan pusat.
– Dari tulisan ini, tampaknya Natsir tak dalam posisi pro maupun kontra terhadap federalisme maupun unitarisme. Dia hanya membicarakan, dan mencoba menentukan, nasib negeri yang darimana dia bukan berasal. Kelak, PRRI dimana dia ada justru amat pro pada federalisme.

 

Saudara Ketua,

Dalam menentukan sikap fraksi saja terhadap mosi ini, fraksi adalah terlepas dari soal „apakah kami dapat menerima oper semua keterangan2 jang tertjantum dalam mosi ini atau tidak !”. Djuga mendjauhkan diri dari pada pembitjaraan soal unitarisme dan federalism dalam hubungan mosi ini, sebab pusat persoalannja tidak ada hubungannja dengan hal2 itu, akan tetapi djauh dilapangan lain. Continue reading

Negara dan Agama, Catatan Lima Baris

Relasi negara dan agama sudah menjadi debat tak berkesudahan. Ada dua kutub yang bertolak belakang dalam memandang peran dan hubungan keduanya. Yang satu memandang negara harus ikut dalam pemahaman agama. Yang lain mengatakan negara tak usah ikut-ikut dalam soal agama.

Kedua pandangan ini sebetulnya memiliki akar kultur dan sosial di Kepulauan Melayu ini. Dan akar itu berbeda-beda. Yang satu, pada masanya, keislamannya didinamisir oleh negara yang berbentuk kesultanan. Pematangan kajiannya dilakukan melalui madrasah-madrasah. Di sini, sang sultan memiliki otoritas keagamaan bersama, katakanlah, dewan datuk.

Sementara yang lain, keislamannya didinamisir oleh kelompok-kelompok masyarakat, melalui pesantren-pesantren. Hal ini dikarenakan negaranya ketika itu masih berbentuk kerajaan bercorak Hindu. Jadi, kuatnya tekanan Islam yang datang dari bawah, dari kelompok-kelompok masyarakat itu, membuat negaranya terpaksa mensekulerkan diri. Sebab, dengan sekulerisme, Hindu tak hilang Islam pun dapat.

Kedua kultur ini kemudian mendadak berada dalam satu panggung dengan format yang bersusun tunggal, tak beragam.

Wallahu a’lam bissawab.

Sekolah Adalah Pangkal Masalah

Satu waktu, di Jakarta, sekelompok anak muda punya hajatan. Mereka mendiskusikan suatu hal yang diselangi dan ditutup dengan macam-macam nyanyian.

Saat itu, yang menarik hati bukanlah pada diskusinya. Bukan pula narasumber atau peserta yang hadir. Yang menggelitik tak lain adalah nyanyiannya. Bukan liriknya, tapi cara berpikirnya.

Nyanyi? Cara berpikir? Apa maksud? Continue reading

Kemiskinan Sebagai Keniscayaan?

Sampul buku "Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung".

Sampul buku “Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung”.

Seorang kawan, Farhan Ali Afsar dari Mandar, Sulawesi Barat, mengirimkan saya sebuah berita: seorang anak mati bunuh diri dengan minum racun serangga karena malu tak bisa bersekolah. Peristiwa yang terjadi di negeri Farhan itu kemudian dimuat di halaman satu koran lokal Jakarta, Media Indonesia, Jumat (12/4).

Saya tak ikut dalam hiruk pikuk kawan-kawan lain yang juga dikirimkan Farhan atas berita tersebut. Percakapan yang terjadi memang bukan soal apakah bunuh diri tersebut masalah psikologi atau sosiologi, tetapi lebih mengarah pada kemiskinan dan peran kepala daerah, dengan nada miris, prihatin, kutuk mengutuk, dan seterusnya.

Catatan sekadarnya ini tak hendak menyasar pada hal ihwal otonomi daerah. Siapapun tahu perihal otonomi di Indonesia adalah tak jelas. Kata orang, ia macam kepala dilepas buntut dipegang.

Saat Farhan ment-tag-kan saya kejadian bunuh diri tersebut, kebetulan saya baru membaca sebuah buku. Judulnya Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung –Menjunjung Tinggi Keagungan Demokrasi dan Mengutuk Kelaliman Diktatur (1987). Ini adalah percakapan dua petinggi Indonesia melalui surat. Yang pertama adalah mantan Perdana Menteri Negara Republik Indonesia (NRI), mantan Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat), dan mantan Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Yang kedua adalah mantan Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT) dari Bali. Continue reading

Dominasi Perspektif

“Tiga imam, Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, dan Daud Beureuh adalah pejuang, mereka juga ulama. Bagi republik, mereka pahlawan sekaligus lawan. Berjasa luar biasa, namun berada di persimpangan zaman yang beranjak senjakala. Tak cuma DI-TII, Indonesia harus menghadapi Permesta, PRRI, RMS, dan pemberontak lain yang masih saudara… Di masa lalu, pemerintah juga lalai. Demi kepentingan politik, sengaja memelihara anak singa, tanpa sadar singa tetaplah seekor singa.” Continue reading

Membubarkan DPR

Kasus skandal Bank Century sebetulnya mengingatkan kita bahwa lembaga Dewan Perwakilan Rakyat sesungguhnya entitas yang aneh. Berhari-hari menghabiskan waktu dan uang, namun di ujung tak bisa berbuat lebih. Dan kini mereka hendak melakukan hal yang sama untuk kasus mafia pajak. Dalam semangat reformasi, lembaga tersebut memang perlu dipikirkan untuk dihilangkan. Bukan karena ia warisan Belanda, tetapi juga ia menjadi sesuatu yang tidak diperlukan dan tidak efisien dalam semangat desentralisme. Bahkan, dalam banyak contoh kasus, ia merugikan. Continue reading