Negara Bagian Ternate

2008 Mei 27
oleh Tengku Muhammad Dhani Iqbal
Negeri Ternate

SYAHRINNISAD ingat ketika ayahnya berdiskusi dengan Soekarno dan Hatta.

“Mereka bicara dalam bahasa Belanda. Ayah saya ditanya Sukarno, ‘jadi Pak Sultan mau bergabung dengan republik?’ Ayah saya bilang, ‘maaf saja, saya mau republik, tapi sistemnya federal.’ Tapi Hatta bilang, jangan dulu federal, nanti saja belakangan’,” tuturnya. read more…

Ayong dan Serpihan Gergaji

2007 Agustus 14
oleh Tengku Muhammad Dhani Iqbal

Dua buah rel kereta api membelah wilayah Pademangan Timur dan Pademangan Barat, Jakarta Barat. Seorang lelaki botak bertubuh tegap sedang membungkuk-bungkuk tepat di atas rel itu. Di pukul dua belas siang, kepalanya bersinar ditimpa matahari. Di sekililingnya serpihan kayu berserakan. Berselang seling dengan sampah yang menyerak. Satu dua kambing hilir mudik di sekitarnya. read more…

Bunga Liar Untuk Negeri

2007 April 8
oleh Tengku Muhammad Dhani Iqbal

Namaku Luka. 10 tahun yang lalu aku tiba di Jakarta. Kutinggalkan kota Medan demi sebuah perbaikan nasib. Bapakku hanya supir sudako yang sering sakit-sakitan, dan Emakku jualan sayur setiap pagi. Aku pergi bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk mereka. Sebab, abangku yang bekerja di Aceh sudah tewas dibunuh, entah oleh siapa. Aku sendiri sudah tak berpikir soal pendidikan. Itu terlalu mewah. read more…

Menyelidik Sebagai Sebuah Panggilan

2007 April 8
oleh Tengku Muhammad Dhani Iqbal

Menelisik Lorong Gelap

“Dari jendela saya merayap di tengah kegelapan. Di bawah gedung, saya melihat beberapa penjaga Kejaksaan Agung tengah berjaga-jaga. Saya berharap mereka tak mendongak ke atas… Kaki saya gemetar. Selain takut ketahuan penjaga di bawah gedung, saya juga takut jatuh. Wah, kalau jatuh bisa ko’it.” read more…

Heroisme Dan Konyolnya Negara

2007 Maret 17
oleh Tengku Muhammad Dhani Iqbal

Kasus tewasnya beberapa wartawan di kapal Lavina 1 semestinya tidak hanya dibaca sebagai tragedi-dramatik yang herois dari profesi jurnalis. Ia sebetulnya lebih memberi pesan bahwa negeri ini bukanlah negeri hukum. read more…

Menyoal Politik Samar-Samar

2006 November 15
oleh Tengku Muhammad Dhani Iqbal

“Tak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi”. Ini adalah pameo politik yang sudah sangat terkenal. Ia menjadi pembenaran kala sebuah persekutuan pecah. Dari dulu sampai sekarang, dipusaran kepentingan abadi inilah para aktivis bertarung. read more…