SYAHRINNISAD ingat ketika ayahnya berdiskusi dengan Soekarno dan Hatta.
“Mereka bicara dalam bahasa Belanda. Ayah saya ditanya Sukarno, ‘jadi Pak Sultan mau bergabung dengan republik?’ Ayah saya bilang, ‘maaf saja, saya mau republik, tapi sistemnya federal.’ Tapi Hatta bilang, jangan dulu federal, nanti saja belakangan’,” tuturnya. read more…
Namaku Luka. 10 tahun yang lalu aku tiba di Jakarta. Kutinggalkan kota Medan demi sebuah perbaikan nasib. Bapakku hanya supir sudako yang sering sakit-sakitan, dan Emakku jualan sayur setiap pagi. Aku pergi bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk mereka. Sebab, abangku yang bekerja di Aceh sudah tewas dibunuh, entah oleh siapa. Aku sendiri sudah tak berpikir soal pendidikan. Itu terlalu mewah. read more…
“Dari jendela saya merayap di tengah kegelapan. Di bawah gedung, saya melihat beberapa penjaga Kejaksaan Agung tengah berjaga-jaga. Saya berharap mereka tak mendongak ke atas… Kaki saya gemetar. Selain takut ketahuan penjaga di bawah gedung, saya juga takut jatuh. Wah, kalau jatuh bisa ko’it.” read more…
Kasus tewasnya beberapa wartawan di kapal Lavina 1 semestinya tidak hanya dibaca sebagai tragedi-dramatik yang herois dari profesi jurnalis. Ia sebetulnya lebih memberi pesan bahwa negeri ini bukanlah negeri hukum. read more…
“Tak ada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi”. Ini adalah pameo politik yang sudah sangat terkenal. Ia menjadi pembenaran kala sebuah persekutuan pecah. Dari dulu sampai sekarang, dipusaran kepentingan abadi inilah para aktivis bertarung. read more…







Goodreads Indonesia ini dib...