Saya bermimpi, Sultan Negara Ngajogjakarto Hadiningrat menolak keistimewaan yang ada pada kawasannya jika negara lain tak juga diberi keistimewaan.
Saya bermimpi, Gubenur Jakarta meminta pemerintah pusat dengan amat serius untuk memindahkan sejumlah pusat bisnis di luar dirinya.
Saya bermimpi, Aceh akan memulangkan kekhususan yang melekat pada dirinya jika negeri lain tak juga diberi kekhususan.
Saya bermimpi, Papua… ah… saya tak berani bicara soal Papua…. Melanjutkannya membuat saya ikut sakit.
Saya bermimpi, bertemu YB Mangunwijaya dan dikuliahi bahwa berdirinya Indonesia dahulu dapat dirujuk pada Ernst Renan, le desir d’etre ensemble, dambaan menyatukan diri, kepada kawan sesama bumiputra yang dihisap, diperbudak oleh pihak yang sama, rasa senasib sepenanggungan, solidaritas pada kaum hina, menderita, yang dibuat bodoh, yang dibuat macam babu, jongos, lebih rendah dari cacing tanah, yang tak memiliki kesetaraan, kesempatan, yang selalu kalah bersaing.
Saya bermimpi, bahwa dalam mimpi itu, saya sedang naif dan sedang susah tidur.