Mudik adalah Fenomena Gagalnya Desentralisasi

2009 Oktober 10
by Tengku Muhammad Dhani Iqbal

Setiap kali lebaran menjelang, drama sosial mudik selalu terjadi. Dari satu titik, jutaan orang bergerak menyebar ke berbagai titik. Banyak orang menganalogikan mudik sebagai kembai ke asal, kembali ke fitrah, dan semacamnya yang seolah terkait spiritualisme. Tapi sesungguhnya itu bohong belaka. Mudik adalah fenomena gagalnya negara mewujudkan desentralisasi.

Di situs jaringan sosial facebook, banyak sekali yang mengucapkan selamat mudik. Sebagian besar diantara mereka, termasuk tulisan-tulisan di berbagai media, mengaitkannya dengan kembalinya manusia kepada fitrah; bahwa manusia selalu akan kembali ke asal. Yang menarik, mungkin dengan nada bergurau, beberapa diantara pengguna facebook itu menyebutkan supaya mudik dipatenkan supaya Malaysia tidak meniru lagi.

Tapi tentu saja Malaysia, juga negara-negara lain, tidak akan meniru. Fenomena sentralistik yang keterlaluan memang hanya ada di Indonesia. Hampir seluruh kawasan di Indonesia, yang luasnya luar biasa ini, memandang Jakarta sebagai daerah yang menyilaukan. Meski Jakarta adalah kota yang amburadul, tapi banyak orang menghayati bahwa itu jauh lebih baik ketimbang daerahnya.

Dengan sendirinya mudik melambangkan sebuah persoalan yang serius. Dibalik mudik, tercermin sebuah tata kelola pembangunan negara yang sentralistik, yang tidak pernah berubah meski pemerintahan berganti-ganti. Padahal, Muhammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia, sudah menyerukan perlunya otonomi daerah yang seluas-luasnya. Namun seruan itu tak digubris. Dan putra Sumatera itu pun akhirnya mundur pada 1956; meninggalkan Sukarno yang otoriter.

Tapi mundurnya Hatta tidak berdampak pada terwujudnya otonomi daerah. Janji Sukarno untuk menjadikan Indonesia sebagai negara federal pada beberapa kerajaan, macam Kerajaan Ternate, kemudian diingkari. Indonesia tiba-tiba mengkristal pada ide Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan semboyannya berupa “Jakarta adalah segalanya”. Sontak keistimewaan dan potensi-potensi banyak kawasan menjadi meredup.

Akibat sentralisme yang dianut Indonesia, konsekuensinya tidak main-main. Selain kawasan-kawasan perbatasan yang tidak terurus, setiap tahun ratusan nyawa orang Indonesia melayang akibat kecelakaan saat arus mudik atau arus balik. Dan ini terus terjadi setiap tahun. Bahkan, selain angka orang-orang yang mudik tak kunjung surut, jumlah mereka yang pergi meninggalkan daerah asal menuju Jakarta juga terus meningkat.

TM. Dhani Iqbal

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: Anda dapat menggunakan XHTML dasar di komentar Anda. Alamat surel Anda tidak akan pernah dipublikasikan.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS