Televisi dan Pemirsa Buatan

Kecaman terhadap media televisi yang dianggap memuat teks-teks kebodohan telah lama dikumandangkan banyak orang. Program-program seperti kuis, sinetron, gosip, mistik, kekerasan, dan sebagainya, dilabeli dengan berbagai cap: anti-logika, anti-kecerdasan, atau selera primitif. Dan seperti biasa, tombak-tombak intelektual ini ditangkis dengan tameng yang diproduksi paham positivisme dengan merk ‘selera masyarakat’.

Dari sekian banyak teori tentang hubungan media dan khalayak, kiranya ada tiga yang bisa dikemukakan disini. Pertama, Teori Jarum Hipodermik. Teori ini mengemukakan kekuatan media yang begitu dahsyat hingga bisa memegang kendali pikiran khalayak yang pasif tak berdaya. Kekuatan media yang mempengaruhi khalayak ini beroperasi seperti jarum suntik, tidak kelihatan namun berefek.

Kedua, Teori Agenda Setting. Dengan napas yang nyaris serupa, teori ini mengatakan jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka ia akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Pada teori ini, media tidak menentukan what to think, tetapi what to think about. Teori ini berdiri atas asumsi bahwa media atau pers does not reflect reality, but rether filters and shapes it, much as a caleidoscope filters and shapes it (David H. Heaver, 1981). Dari sekian peristiwa dan kenyataan sosial yang terjadi, media massa memilih dan memilahnya berdasarkan kategori tertentu, dan menyampaikan kepada khalayak – dan khalayak menerima – bahwa peristiwa x adalah penting.

Dan yang ketiga adalah Teori Kegunaan dan Kepuasan (uses and gratification theory). Teori ini secara radikal menandai pergeseran fokus pandangan dari apa yang media lakukan untuk khalayak menjadi apa yang orang lakukan terhadap media. Asumsinya tentu saja karena khalayak itu sangat aktif. Para pendukung teori ini menyatakan bahwa orang secara aktif menggunakan media massa untuk memuaskan kebutuhan tertentu yang dapat dispesifikasikan (Lull, 1998). Dan karenanya terpaan media belum tentu diterima dan ditiru oleh khalayak.

Kiranya teori yang terakhir inilah yang dipakai oleh Ishadi SK – saat berpolemik di harian Kompas (25-9-2003 dan 3/10/2003) – dalam menangkis kecaman garang para pengkritik. Saya setuju saat ia mengatakan kekerapan terpaan sebuah acara apakah itu kriminal, erotis, atau acara populer lain tidak otomatis berpengaruh terhadap perilaku penonton. Seorang anak yang menonton pembunuhan ribuan kali di televisi tidak serta merta menjadi pembunuh ketika dia dewasa (25/9/2003).

Tak heran ketika merespon protes Direktur Pendidikan Sekolah Menengah Umum Diknas, Suharlan, tentang banyaknya tayangan mistik yang membuat pemikiran kita mundur sekian abad ke belakang (Kompas, 26/8/2003), Ishadi dengan enteng menjawab bahwa itu mengada-ada dan simplistis. Secara teoritis, kajian tentang dampak media massa (televisi) memang tidak bisa dijawab dengan hitam putih.

Namun demikian, ‘kematian’ tentang studi efek media massa harus benar-benar dicermati. ‘Kematian’ itu tidak boleh ditanggapi sebagai pembenaran untuk melakukan program pembodohan dan anti-logika. Sebab ‘kematian’ tersebut bukan hanya berarti khalayak belum tentu terpengaruh oleh terpaan media, melainkan juga belum tentu tidak terpengaruh! Oleh karena itu logika Ishadi tadi tampak sedang menggali kuburannya sendiri.

Konstruksi Realitas

Noeng Muhadjir (2000) mengatakan bahwa saat hendak melakukan penelitian, banyak orang langsung berbicara populasi, teknik sampling, merumuskan masalah, mendesain tata relasi, merancang instrumen instrumen kuantifikasi data, dan seterusnya, tanpa menyadari bahwa dia telah menjadi penganut filsafat ilmu tertentu.

Kebiasaan ini umum terjadi, pun dalam dunia komunikasi/televisi. Saat hendak mengetahui jumlah penonton, pihak peneliti langsung menentukan populasi beserta sampelnya untuk kemudian digeneralisasi sebagai fakta bahwa sekian persen orang menonton program A. Atau seperti dalam iklan, 7 dari 10 perempuan Indonesia menggunakan shampo B. Dalam ilmu komunikasi di Indonesia, pendekatan Objektif-Positivistik-Kuantitatif semacam ini memang masih mendominasi.

Dalam filsafat ilmu, hukum generalisasi dan reduksi yang linear ini sedang mengalami krisis hebat. Sebab ada keyakinan bahwa setiap manusia itu berbeda dan unik. Masyarakat bukanlah terdiri dari satu entitas yang homogen (yang karenanya bisa diukur), tetapi terdiri dari banyak ragam kepribadian yang kompleks. Dan karenanya perilaku aperiodik instabil akan selalu dapat ditemukan pada sistem-sistem yang dalam kacamata statistik sederhana.

Dan kenapa pendekatan kuno ini masih menjadi mainstream dalam ilmu komunikasi, jawabannya bukanlah karena ia begitu diminati dan karenanya tidak ditinggalkan, seperti yang dikatakan oleh agen-agen (asing) pendukungnya. Sebab, mengikuti Deddy Mulyana (2001), itu tak lebih karena para mahasiswa telah diberi ‘kacamata kuda’ begitu masuk perguruan tinggi. Dalam mata kuliah Metode Penelitian Sosial atau Metode Penelitian Komunikasi, mahasiswa langsung dicekoki dengan konsep-konsep berbau positivistik, seperti hipotesis, variabel bebas, variabel terikat, populasi, reliabilitas, validitas, dan sebagainya.

Setelah kita menjernihkan mengapa pendekatan kuantitatif masih saja mendominasi ilmu komunikasi di Indonesia, dan mengetahui betapa teks-teks kultural yang dihasilkan sejumlah program televisi banyak menuai kecaman, maka perdebatan selanjutnya, menurut hemat saya, adalah dasar dari semua ini, yakni apa yang disebut pendekatan behaviorisme radikal, yang juga masih merupakan anak dari Positivisme.

Selama ini cara mengetahui apakah seseorang sedang menonton sebuah program acara adalah melalui alat yang disebut peoplemeter, dimana alat ini dipasang di televisi responden terpilih. Diharapkan setiap anggota rumah tangga yang menonton televisi akan memencet tombol di handset dan memencet lagi seusai menonton.

Penelitian yang dilakukan berdasarkan perilaku permukaan ini sesuai dengan kaidah behaviorisme radikal. Mereka berpendapat bahwa satu-satunya cara sah secara ilmiah untuk memahami semua hewan, termasuk manusia, adalah dengan mengamati perilaku mereka secara langsung dan seksama. Lebih jauh behaviorisme radikal menolak gagasan bahwa manusia memiliki kesadaran, bahwa terjadi suatu proses mental tersembunyi yang berlangsung pada diri individu diantara datangnya stimulus dan bangkitnya perilaku.

Pendekatan ‘gila’ ini segera mendapat respon dari sejumlah aliran filsafat, seperti interaksionisme simbolik. Para penganutnya memandang bahwa pendekatan behaviorisme radikal tidak memungkinkan seorang peneliti untuk mendapatkan latar alamiah dari apa yang sedang diteliti. Menempatkan manusia dalam lingkungan buatan akan membuat subjek berperilaku tidak alamiah karena tahu sedang diteliti, sebagaimana hewan juga akan berperilaku lain ketika mereka berada dalam lingkungan buatan seperti kebun binatang, apalagi laboratorium (Mulyana, 2001).

Mereka, kata kaum interaksionis simbolik, tidak akan mampu membedakan manusia dengan hewan. Padahal aktivitas tersembunyi (kesadaran) inilah yang justru membedakan perilaku manusia dengan perilaku hewan. Mereka membuang kehendak bebas manusia untuk menyalakan televisi sebagai sekedar mengalihkan perhatian sambil menunggu temannya datang, sekedar membaca runing text yang terus bergerak di layar bawah televisi, atau sekedar tidak terlalu sunyi.

Djati Koesoemo yang dikutip Garin Nugroho (1995) mengatakan, “orang yang menonton televisi belum tentu suka akan tontonan itu. Seringkali mereka menonton sambil ngedumel”. Dan dalam kasus-kasus seperti ini, sebagaimana diungkapkan James Lull (1998), “penggunaan media oleh khalayak tak dapat dianggap benar-benar merupakan respon terhadap kebutuhan biologis atau psikologis. Kalaupun dinyatakan begitu, itu jelas berlebihan”.

Kaum behavioris ini seperti tidak sadar bahwa mereka sedang mengkonstruk pemirsa yang mereka inginkan melalui alat (tool). Mereka bagaimanapun bisa dipandang telah mereduksi perilaku manusia kepada mekanisme yang sama dengan yang ditemukan pada hewan lebih rendah! Dan ini adalah sebuah penghinaan!

Di tengah kekacauan Sistem Sosial-Kultur Indonesia, kita memerlukan suatu keterbukaan untuk melampaui batas-batas metodologis yang disediakan para provider asing itu. Dan keterbukaan itu, seperti kata Agus Nggerwanto (2001), memerlukan seperangkat intuisi yang reflektif agar mampu mengalami lompatan imajinatif untuk melampaui yang partikular menuju pemahaman yang menyeluruh, yakni media massa tidak saja berfungsi untuk melayani selera-budaya, tetapi juga mendidik-cerdaskan selera-budaya!

April 2004

40 thoughts on “Televisi dan Pemirsa Buatan

  1. Pingback: Definisi Episte… | enizuliana

  2. saya mahasiswa komunikasi Broadcast, sekarang ini saya sedang mencari judul skripsi, karena harus ngumpulin outline cesepatnya. saya mau membahas tentang artificialnya program acara musik Dahsyat di RCTI, yang menampilkan penonton rekayasa, mereka dibayar untuk menjadi fans band2 yang tampil di acara tersebut.
    Hal tersebut bisa ga dijadiin suatu masalah? tapi saya sendiri masih bingung dengan rumusan masalahnya, bisa tolong dibantu ga? apa yang harus saya angkat dari tema itu, dan teori apa yang digunakan?
    makasih banyak sebelumnya.. tolong dijawab yaa.. :))

  3. Kalau saya jadi Anda, saya akan undang seorang pemikir yang dapat menjelaskan apa dan bagaimana peta filsafat ilmu pengetahuan. Terimakasih komennya ya….

  4. saya suka membaca blog anda, walau baru kali ini. saya senang mengamati sekeliling lalu bercita-cita ingin membuat penelitian ttg hal hal yang sangat mudah ditemui sehari hari. tapi kendalanya adalah knp ya dosen dosen “senior” yg tidak mengerti malah membatasi konsep penelitian itu. katanya “kl bikin penelitian itu yang ber “isi” gitu..” lha kan penelitian ttg hubungan suami dengan istrinya itu menarik (menurut saya..hehehe).. kl anda jadi saya bagaimana menanggapi situasi seperti ini..so boring here..

  5. bagai mana caranya mengukur minat seseorang dalam mononton suatu tayangan??
    thanx before

  6. saya astrid, mahasiswi ilmu komunikasi univ Lampung. saat ini saya sedang mengerjakan skripsi yang berjudul “persepsi masyarakat terhadap program acara dialog interaktif di stasiun TV Lokal”.
    yang ingin saya tanyakan:
    1. menggunakan metode kualitatif atau kuantitatif, sebab ke2 pembimbing saya menyarankan metode yang berlainan?
    2. teori komunikasi yang cocok? karena SOR Theory dirasa kurang cocok.
    terimakasih.

  7. Rika, keberadaan sesuatu terhadap sesuatu yang lain tentulah berdampak. Mau diteliti apanya? Seberapa besar dampaknya? Kalau begitu, Kamu harus mengisolasi responden di dalam kamarnya.

    Terima kasih juga ya. Semoga sukses skripsinya.

  8. Saya sedang menyusun skripsi mengenai dampak iklan bertema animasi terhadap perhatian dan minat beli konsumen.
    yang menjadi pertanyaan saya:
    1. teori komunikasi apa yang pas digunakan
    2. indikator yang digunakan untuk membuat angket
    terimaksih banyak

  9. oya tolong dijawab ya maz ne emailku,sempetein waktu bwat ngirim jawabnya di mailku aya_khalin_88@ yahoo.com
    trimakasih ya mas iqbal

  10. khalin
    saya mahasisa unijoyo mau menayakan kekuatan media dalama pmilihan iklan??? mohon dijwab ya, mator seklangkong

  11. Eby,
    Maaf, saya tidak menonton ANTV, apalagi silat lidah dan semacamnya. Dari namanya, sepertinya itu bukan hal yang penting. Itu terdengar sama dengan goyang pinggul atau lidah bergetar. Hahahaha… Saran saya, kerjakanlah sesuatu yang lebih bermanfaat, besar, dan menantang.

  12. aku eby, mahasiswa komunikasi Unsoed. saat ini saya sedang menggarap skripsi, pengennya si mengkritisi about tayangan silat lidah gitu di Antv. menurut anda, Silat lidah itu gimana? tapi mo dikaitkan dengan gender gt….thx b4

  13. Resti,

    Waduh, kamu dapat pikiran mencari hubungan itu darimana sih? Saya ada ide. Bikin aja penelitian tentang Hubungan Suami Dengan Istrinya.
    Mungkin lebih menarik.

    Salam,
    Iqbal

  14. Saya Resti,mahasiswa fikom yai jakarta
    saya sedang skripsi dgn judul”hubungan menonton iklan tv dg kegiatan merokok mahasiswa fikom univ….?
    yang ingin saya tanyakan:
    1.teori apa yg digunakan untuk variabel x dan y?
    2.indikator yang digunakan untuk membuat angket?
    3.apa teknik sampel dan skala penilaian yg digunakan?

    saya mohon bantuannya karna akhir agustus deadline
    trima kasih

  15. 1. Dalam filsafat, dosenmu itu positivis. Sungguh, ini sebuah pendekatan yang gagal dalam memahami kenyataan! Seeing is believing. Tidak! Siapa yang bisa menjamin ketika melihat tv maka saya melihat elemen-elemennya?! Bagaimana kalau saya melamun, sekedar menunggu tamu, menunggu tayangan berikutnya, atau menunggu habisnya iklan di channel lain?

    2. Kamu melupakan isi kepala manusia. Pendekatan behavioristik macam ini benar-benar keterlaluan, menganggap manusia sama dengan hewan yang tidak memiliki akal pikiran! Seakan tidak ada ruang lagi antara tubuh dan bangkitnya sebuah perilaku.

    3. Kenapa kamu tidak tanya balik dosenmu, kenapa harus mencari teori itu? Apa tujuannya? (Pasti dosenmu sudah tua kan?)

    4. Pendekatan macam begini sama dengan pembahasan yang mau mencari adakah hubungannya cahaya dengan kamera?! Hahahaha… Atau tanya dosenmu, adakah hubungan antara dia dengan baut?

    5. Saranku, kamu ganti saja temanya. Dan pakai pendekatan kualitatif. Biarlah lama, tapi berarti. Saya akan coba bantu.

    6. Jangan stres. Biasa itu. Tenang saja.

  16. terima kasih telah menanggapi permasalahan saya yang sudah membuat saya nyaris putus asa…semula saya membuat penelitian denga 3 variabel, elemen (x1), terpaan(x2) terhadap sikap masyarakt …. namun setelah sidang sidang judul, pihak penguji mengatakan bahwa elemen iklan dan terpaan media tidak bisa dipisahkan, karena terpaan dengan indikator atensi, durasi dan frekuensi juga merupakan bagian dari elemen… seperti misalnya… jika kita melihat iklan di TV maka kita akan memperhatikan(=atensi) bagian dari elemen itu.. misal lagunya enak.. warnanya serasi… akting aktornya bagus., dsb….sehingga otomatis tidak dapat dipisahkan…dengan melihat otomatis sudah ada atensi…. nahhh… setelah saya gabungkan, terjun lapangan, meneliti, dan saya mencapai bab akhir ternyata pihak dosen meminta teori yang mengatakan bahwa elemen dan terpaan tidak bisa dipisahkan…. saya sudah mencari di toko buku, internet, bahkan di perpustakaan mengenai teori bahwa kedua hal itu tidak bisa dipisah.. dan hasilnya nihil… oleh sebeb itu saya mohon bantuannya… sebab jika memang teori itu tidak ada, maka saya terpaksa melakukan penelitian saya dari awal untuk terjun lapangan dan menganalisa secepat munkin mengingat deadline yang sudah mendekati pada tgl 4 juni… terima kasih banyak…

  17. Dhyanna,
    Kayaknya pertanyaanmu belum tuntas. Tuntaskanlah dulu, seperti apa apa maumu sebenarnya. Nanti kita diskusikan. Dan kenapa harus bertanya teori? Kenapa tidak tanya subtansi persoalan yang sedang kamu hadapi? Misalnya, apakah memungkinkan elemen dan terpaan terpisah? Tapi ini misalnya saja. Karena pertanyaanmu belum jelas.

    Thx
    Iqbal

  18. saya mahasiswa tingkat akhir komunikasi sedang melakukan penelitian mengenai iklan teh TV botol sosro… iklan sendiri memiliki 6 elemen, sedangkan dalam iklan mengandung terpaan media.. apa ada teori yang menyatakan bahwa elemen dan terpaan merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan?? thx

  19. saya lasty, mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual smester 6. saya sedang ada ada tugas PRA Tugas AKhir, membuat prancangan visual untuk kampanye cantik tanpa tembakau”
    nah saya juga harus membuat paper nya (semacam makalah yg berisi konse dan landasan teori)
    yang mau saya tanyakan adalah..jika saya memvisualkan dengan contoh: badan si cewek keluar asap (mxd kalau merokok maka bdn anda akan sgt bau asap!) saya membawanya konsep visualnya hiperbolis+humoris. apakah benar ada teori koumnikasi dengan pendekatan hiperbolis? apa istilahnya dalam ilmu komunikasi?
    terimakasih.
    tolong bales ke email saya.

  20. Bowo,
    1. Kupikir kalimat “batasan-batasan kreativitas” itu sendiri sudah paradoks. Sebab, kreativitas itu sendiri artinya out of mainstream. Mainstream yang punya batas (berdasarkan konsensus), sedangkan kreativitas tidak.
    2. Pemilihan media untuk apa? Jika tulisan, tulisan apa dulu? Jika iklan, iklan apa dulu? Dan apa yang dimaksud dengan “pas”?

    Iqbal

  21. saya bowo eryanto bekerja pada sebuah perusahaan media kebetulan saya suka nulis di beberapa mediacetak
    ada beberapa pertanyaan yang saya butuhkan untuk pertimbangan tulisan saya

    1.batasan-batasan kreativitas sebuah iklan yang menjual itu apa aja ya bos?

    2.pemilihan media yang pas itu bagai mana ya bos , menurut pandangan dan pengalaman anda ?

  22. Coba cari dan baca buku James Lull, judulnya (kalau tidak salah) Media, Komunikasi, Kebudayaan-Sebuah Pendekatan Global. Thx. Kalau sudah baca, baru kita diskusi.

  23. saya masih belum mengerti tentang teori uses and gratifications. tolong untuk dijelaskan lebih dalam karena saya mendapat tugas tentang teori tersebut. dan sebaiknya buku apa yang akurat yang bisa saya gunakan?

  24. Saya mahasiswi komunikasi dan pengembangan masyarakat di IPB.
    saya mengikuti mata kuliah metode penelitian kualitatif, rencananya tugas akhir mata kuliah ini yang berupa draf proposal skripsi, ingin saya jadikan draf proposal skripsi saya nantinya…

    bahasannya mengenai konsep kebudayaan asal yang sudah terabaikan dalam upaya pelestarian bahasa daerah….yang nantinya saya hubungkan dengan konsep komunikasi dalam keluarga…
    namun yang masih jadi kendala saya berupa perumusan masalah dan teori yang bisa dijadikan acuan… dan apakah topik ini sulit untuk dibahas atau justru terlalu dangkal…

    rekomendasi buku apa yang bisa saya cari sehubungan dengan bahasan saya…

    saya mengharapkan balasan ke email saya (nen9eulis3@yahoo.co.id)
    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih

  25. Saya Lina, mahasiswa London School, saya sedanga melakukan skripsi dengan judul penelitian ” Pengaruh iklan bendera susu bendera versi ” ini teh susu ” terhadap brand awareness “. Saya masih binggung dengan teori yang akan saya pakai yang kemudian dituangkan dalam bentuk variabel operasional. Tolong diberi petunujuk kira2 apa yang cocok dengan judul saya ini
    Terima kasih….
    Tolong dibls ke email saya y

  26. saya putri, mahasiswa kom Unsoed smstr 7. saya skrg sdg dlm perumusan judul skripsi, tp bingung. saya sangat tertarik dengan sebuah film dokumenter, tp saya lupa judulnya apa, dlm film tersebut diceritakan tentang hubungan seorang presiden dan rakyatnya yang demikian harmonis sampai2 rakyatnya enggan “ditinggalkan” presidennya tsb. saya pengen bgt merumuskan model komunikasi politik yang dijalankan oleh presiden ybs dalam bentuk bagan atau mungkin satu teori komunikasi politik baru. yang saya tanyakan, untuk memenuhi keinginan saya tadi, kira2 saya harus pakai metode penelitian apa? saya sgt menunggu jawaban Anda. klo bisa, tlg jawabannya dikirim ke email saya, sblmny, trima kasih…

  27. Dedi,
    Menurut saya, jangan dulu berpikir apa metodenya. Berkutat saja dulu pada masalahnya. Nanti juga ketahuan apa pisau bedah yang tepat. Tapi sebenarnya setiap persoalan punya kekhasannya sendiri. Jadi, bisa saja anda bikin metode sendiri. Metode itu ibarat pisau saja. Jika anda hendak membelah perut ayam, dan anda pikir cukup mengoyaknya dengan tangan, kenapa harus pakai golok, atau bedil?

  28. saya dedi mahasiswa kom UNS sedang mengadakan penelitian tentang isu poligami atupun uu poligami, metode apa yang cocok untuk kasus tersebut? kebetulan saya sedang mendalami tentang analisisi wacana, analisis wacanakah.. Terima kasih

  29. tolong dong bang iqbal, lagi buat praktek penelitian komunikasi.
    ada gak teori yang menghubungkan terpaan iklan televisi terhadap positioning produk(sbg follower/market leader).tlg bgt lagi dikejar dsteline nih.thanks
    please info ke email gw ->pegasusfantasy88@yahoo.com

  30. Ofie, saya pikir tidak ada kepuasan yang bisa diukur. Itu naif. Pengukuran hanya bisa dijalankan pada sesuatu yang memiliki keluasan (benda). Sedangkan manusia tidak hanya memiliki keluasan, tetapi juga kehendak, jiwa, akal, perasaan (res extansa dan res cogitan ). Jadi manusia terlalu dinamis untuk bisa didiamkan sebentar lalu diukur. Dan Ingkie, saya pikir berkutat di efek atau dampak media sudah membosankan deh. Tapi coba dulu baca bukunya James Lull, judulnya “Media, Komunikasi, Kebudayaan – Suatu Pengantar Global”. Di situ ada juga dia mengkoreksi McLuhan, nabi media itu.

  31. Saya Ingkie, Mahasiswa Komunikasi UI yang sedang menyusun skripsi mengenai dampak media, terutama media sms yang berkaitan dengan iklan sms…saat ini saya sedang mencari teori mengenai dampak media, yang bisa terbagi menjadi informatif, persuasif, dan koersif….kira2 hal tersebut ada di buku apa ya??yang bisa saya pakai sebagai referensi??? terimakasih banyak….

  32. Saya mau tanya, sebenarnya tingkat kepuasaan itu apa (esp media tv) dan bagaimana cara mengukur tingkat kepuasan itu? Indikatornya bagaimana? apakah ada dasar teorinya?

    terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s