Bisakah Unisba Dikoreksi?

2006 Agustus 4
by Tengku Muhammad Dhani Iqbal

Sepulang pesantren sarjana Unisba awal tahun 2004 kemarin, ada kilatan terang benderang yang mendadak menerangi kegelisahan mahasiswa selama ini terhadap Unisba. Saat melihat kilatan itu, saya merasa dejavu, dimana ketika itu saya berdiri di depan gerbang utama kampus, dan lamat-lamat muncul susunan huruf dalam bahasanya yang halus, nyaris tak terbaca: “Unisba memang bukan lembaga pendidikan”.

Pada dasarnya ukiran tulisan tersebut tidak membutuhkan tingkat pengetahuan yang tinggi untuk bisa dibaca. Tidak dibutuhkan keahlian seorang antropolog tatkala mereka meneliti sejumlah tulisan Jawa Kuno atau Mesir Kuno. Seseorang sebenarnya hanya cukup untuk melihat struktur gerbang utama kampus yang terdiri dari properti-properti non-estetis.

Tulisan itu adalah jawaban bagi keluhan atas perpustakaan yang ditutup satu jam saat azan Dzuhur berkumandang, padahal tempat yang juga sakral itu sendiri bakal ditutup pukul 3 siang. Ia menerangi bagi kegelisahan atas ketiadaan profesor-profesor atau segelintirnya dosen-dosen yang berkiprah dalam dunia luas. Ia memunculkan diri tatkala dosen mengajar dengan monolog dan teks book versi teori purba. Ia adalah lantai bagi ruangan kelas yang disesaki lebih dari 60 orang, meski rasio ideal dosen-mahasiswa 1:25. Prinsipnya, ia adalah aksioma bagi seluruh kekesalan!

Gejala itu saya temukan saat pesantren diselenggarakan di kampus Tamansari. Saat itu si penceramah, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Unisba, Miftah Farid, mengatakan bahwa materi yang disodorkannya, yakni seputar visi 3 M Unisba, sebenarnya tidak begitu akrab baginya. Spontan saya melongo, dan tiba-tiba timbul dengungan bak lebah di kiri kanan saya. Bagaimana bisa seorang petinggi kampus tidak familiar dengan visi tempat dimana dia menjabat?

Itu pertama. Yang kedua, Farid juga menceritakan betapa hebatnya pemikir-pemikir Islam, sembari menguraikan polemik antara kaum filosof dengan sufi. Positifnya, dia mengagungkan relevansi kemajuan dengan perbedaan-perbedaan dalam dunia Islam. Tapi negatifnya, saya melihat dia seperti mensinisi adanya potensi manusia untuk melebihi kemampuan sejumlah tokoh pemikir muslim Arab. Buktinya, dia menyudahi ceramah dengan berhenti pada keunggulan (serangan) Al-Ghazali terhadap filsafat.

Saya yang gatal ingin ngomong segera mengacungkan jari. Saat itu saya mempertanyakan dua hal. Pertama, kenapa dia tidak membicarakan orang Yunani, padahal orang Arab itu sendiri berkutat dengan apa yang dipikirkan orang Yunani? Mengapa orang muslim saat ini selalu saja terpusat pada masa lalu, padahal orang Arab itu sendiri justru selalu berpusat pada Allah, yang tak jarang menggunakan referensi-referensi individual?

Kedua, mengapa penceritaan polemik berhenti di Al-Ghazali? Padahal setelah Al-Ghazali menuding para filosof – Plato, Aristoteles, Ibnu Farabi, Ibnu Sina – kacau pikirannya, ada Ibnu Rusyd yang menuding balik bahwa bukan filosof yang kacau, tapi pikiran Al-Ghazali yang kacau.

Untuk pertanyaan pertama, Farid menjawab singkat, bahwa itu dikarenakan konteks pembicaraan yang tentang keislaman. Sehingga tidak relevan jika harus berbicara jauh hingga ke filosof-filosof Yunani, Mesir atau Cina. Jawaban ini tentu saja mencengangkan. Farid tampak hendak mengulangi kesalahan Barat yang senantiasa membuang peran penting filosof muslim Arab dalam dunia sains! Pengisolasian suatu fakta sejarah yang – meminjam istilah Hegel – sesungguhnya berada dalam suatu totalitas membuat saya berpikir: benarkah pengetahuan untuk mahasiswa memang disediakan dalam bentuk kotak-kotak sempit?

Gejala indoktrinasi ini semakin bertambah tatkala pesantren sudah bergerak ke kampus Ciburial, yakni saat adanya ceramah setelah sholat Maghrib di mesjid kampus yang berada di gunung itu. Ketika itu si penceramah • yang tidak saya kenal • melontarkan gagasan bahwa perempuan tidak diciptakan untuk jadi pemimpin dalam perang. Spontan seorang mahasiswa dari sebuah fakultas mengacungkan jarinya untuk menyemburkan sederetan nama perempuan yang pernah menjadi pemimpin dalam perang.

Tapi si penceramah itu langsung membuat tembok argumentasi: itu bukan perang dijalan Allah! Dan entah kenapa kemudian dia langsung berkata bahwa Aisyah, istri Nabi Muhammad, tidak patut ditiru ketika memimpin perang melawan Ali.

Segera saya mengacungkan jari dan langsung menyodorkan fakta tentang Cut Nyak Dien. Akan tetapi dengan enteng dia mengatakan Cut Nyak Dien hanyalah mengikuti perjuangan suaminya. Jadi tidak bisa disebut pemimpin.

Sontak pikiran saya kacau. Terbersit perasaan bahwa si penceramah sebenarnya tidak bisa berpikir. Dan ini saya lontarkan dalam bentuk pertanyaan: pernahkah anda melakukan penelitian bahwa Aisyah itu salah dan bagaimana seluk beluk perang di Aceh? Dan jawabannya bikin hati semakin mangkel. Sambil berkacak pinggang dan bersandar di dinding, dia mengibaskan tangannya seraya berkata, “Sudahlah…”

Wasiat Dalam Pendidikan?

Setelah cukup lama hidup di Unisba, saya melihat kemandegan Unisba sebenarnya sama sekali bukan masalah dana, infrastruktur, atau kecilnya gedung, sebagaimana yang dinilai oleh banyak pihak. Luas gedung tidak identik dengan kemajuan. Masalah ini sebenarnya masalah ide atau konsep, yang telah didegradasikan secara benar dalam praktik-praktik primitif indoktrinatif.

Simaklah ucapan Pembantu Rektor III Affandi Iss di Media Indonesia, suplemen Media Kampus (3/11/03) tentang pembentukan karakter mahasiswa Unisba. “… selain diharapkan bisa menjadi suri tauladan di kalangan masyarakat, juga bisa melaksanakan keinginan para pendiri dan penggagas Unisba, yakni sebagai seorang cendikiawan muslim.”

Bagi saya, di kalimatnya itu terkandung potensi konservatif anti-kemajuan. Apa sebab? Sejarah membuktikan bahwa berbagai pesan atau tanda selalu lepas dari sumbernya • apalagi cendikiawan muslim sendiri merupakan suatu konsep yang sangat abstrak. Selalu ada pembiakan tanda hingga suatu saat tanda itu sendiri tak lagi bisa dikenali, termasuk oleh si pencetusnya sendiri. Tanda membiak dari satu kode sosial ke kode lainnya, dari satu tradisi ke tradisi lainnya, dari satu jaman ke jaman lainnya.

Dalam proses pembiakan itulah Unisba mengalami penggerogotan martabat dan kualitas pendidikan dari dalam dirinya sendiri, yang konsekuensinya mengancam kelangsungan hidup. Mereka terus merasa benar dengan wasiat itu meski sederet fakta terus menggunung, seperti nyaris seluruh dosen Unisba bukan ilmuwan melainkan pesuruh yang disuruh mengantarkan catatan pemikiran orang lain kepada mahasiswa yang kemudian disuruhnya mencatat. Hanya segelintir dari mereka mampu membuat buku serta mencatatkan namanya di gelanggang akademis. Atau dikalangan mahasiswa sendiri, dimana banyak sekali aktivis lembaga kemahasiswaan Unisba yang kini jago kandang belaka, yang hanya berani bergelut di seputar masalah administratif.

Hingga detik ini saya tidak mampu membayangkan apa pembelaan kaum konservatif itu terhadap data-data faktual ini. Dan sulit membayangkan apabila mereka ternyata masih saja percaya bahwa wasiat itu sebagai yang benar dan karenanya terus menerus dijadikan jargon. Sebab semestinya mereka sudah harus mengetahui bahwa pendidikan secara prinsipil bukanlah indoktrinasi!

Pendidikan bukanlah masalah wasiat-wasiatan. Pendidikan bukanlah suatu proses transfer pengetahuan. Pendidikan adalah suatu proyek untuk memanusiakan manusia, dimana setiap konsepsi teoritis harus ditumbuhkan dari dalam diri setiap mahasiswa. Pendidikan adalah tamansari bagi pusaran gagasan-gagasan alternatif yang cerdas!

Dengan kondisi faktual Unisba seperti saat ini, prosesi pendidikan Unisba tidak akan pernah melahirkan cendikiawan muslim, atau apapun labelnya. Sebab prestasi dalam suatu bidang akan muncul bila ada motivasi berupa kebanggaan atas institusi tempat ia berada. Kebanggaan itu akan membuat seseorang menekuni secara sungguh-sungguh apa yang tengah ia lakoni.

Akan tetapi kebanggaan itu tidak akan pernah ada meski mahasiswa disuruh tidur dengan jas almamater. Kebanggaan itu hanya akan hadir bila mahasiswa dididik oleh profesor-profesor radikal, dosen-dosen yang tidak terbelakang dalam kebudayaan, konsep, dan teori, senior-senior mahasiswa bernyali, teman-teman seangkatan pintar-pintar, marak jurnal-jurnal ilmiah bermutu, ada keterbukaan dalam setiap kebijakan, kampus kompetitif dan berpengaruh di dunia ‘nyata’, dan petinggi-petinggi, termasuk rektor, komit terhadap kampusnya. Tanpa fundamen-fundamen ini, jangan harap ada pendidikan. Atau jangan harap para sarjana sepuluh tahun lagi masih bisa menemukan keberadaan almamaternya.

Sering saya mencubiti diri sendiri untuk meyakinkan bahwa saya sedang tidak berada di sebuah rumah sakit jiwa atau penjara, yang para penghuninya memang dituntut untuk mengikuti apa kehendak pengajar.

Januari 2004

21 Tanggapan leave one →
  1. 2006 September 2
    EDI permalink

    Anda Benar,

    Namun berikan juga jalan keluarnya bagaimana caranya agar para seniornya pandai-pandai, para dosennya betul-betul devoted dan committed pada upaya pengembangan cara berfikir para mahasiswanya. Cara berfikir yang baik selalu kreatif dalam menghadapi tantangan masa depan, bukan hanya nasional, tetapi juga gobal. Untuk itu, misalnya metode pemberian kuliah juga harus bersifat dialog bukan monolog. Hal ini secara tidak langsung juga mendorong mahasiswa untuk banyak dan gemar membaca, khususnya dalam menyampaikan argumentasi dan logika secara ilmiah dan sistematis.

    Salam untuk kemajuan Unisba.

  2. 2006 September 20
    Bachtar permalink

    Saya sependapat dengan saudara Tengku Dhani Iqbal, bahwa sebenarnya Unisba yg kita cintai ini masih jauh daripada cita-cita yg sering didengungkan yaitu menjadikan seorang yg mujtahid, mujadid dan mujtahid. Bagaimana Unisba dapat mencetak mahasiswanya menjadi seorang “cendikiawan muslim” apabila pembimbing atau dosennya saja masih ketingggalan dalam hal mentransfer ilmu yg mereka miliki? Salah satu cotoh yg kongkrit berapa banyak dosen Unisba yg telah menamatkan S2nya dengan hasil yg memuaskan? lalu berapa pula yg telah mencapai gelar doktor atau S3. Saya rasa Unisba hanya bisa menghitung dengan jari jumlah dosennya yg mencapai hasil ini. Tetapi hal ini bukan hal yg paling mendasar dalam menciptakan manusia yg berjiwa 3M tadi. Hal yg paling mendasar adalah kemampuan dalam mentransfer ilmu yg tepat atau ilmu yg mengikuti jaman yg sedang kita lihat sekarang ini. Saya ambil contoh fakultas ekonomi berapa dosennya yg mampu menterjemahkan ilmu yg terkini?
    saya rasa mungkin hanya beberapa orang saja yg sanggup melakukannya. Sebagian besar lainnya hanya Nol Besar yg hanya bisa mendiktekan apa yg ada atau tertulis dalam teks Book tanpa bisa memperbandingkannya dengan keadaan yg terjadi sekarang ini.
    Maka dari itulah kalau kita mencintai atau menghormati Unisba dan ingin menciptakan manusia yg berjiwa 3M tadi rubahlah pemikiran para dosen menjadi pemikiran yg sangat maju dengan membaca jurnal-jurnal atau penelitian-penelitian baru yg nantinya dapat ditransfer kepada mahasiswanya. Kemudian pilihlah pemimpin di kalangan intern adalah pemimpin yg mempunyai Capabilitas yg cakap bukan orang-orang yg merupakan alumni Unisba tetapi tidak memiliki kemampuan apa-apa dalam bidang yg dipimpinnya. Dan kepada mahasiswanya belajarlah untuk dapat mengikuti kemajuan teknologi ataupun ilmu di bidang studinya masing-masing dan kembangkanlah kepribadian 3M tadi semaksimal mungkin dan tunjukkanlah bahwa memang kalian adalah orang-orang yg layak untuk menyandang kepribadian tersebut. Dan yg terakhir marilah kita sama-sama mengkoreksi diri dan bekerja sama untuk membangun kampus yg sangat kita cintai ini.

  3. 2006 Desember 8

    Salam hangat dan sejahtera bagi ummat calon penghuni surga di dunia.

    Assalamu`alaikum…

    `Ini bukan Saran,Kritik,atau apapun yang bersifat melecehkan. Saya mohon maaf sebelumnya.

    Saya mengenal seseorang (bahkan tidak seseorang) yang dulu cikal bakal teman dunia dan akhirat namun dengan terjadinya fenomena yang tidak bisa saya kemukakan.., akhir cerita, saya di putusin dan hingga saya rela untuk memutuskan tali silaturahmi dengan seseorang tersebut.

    Ok kita sebut saja ” wanita “. W itu dia baik, ramah, pintar, penyayang, dan penurut namun ada hal lain yang membuat saya ragu, bahkan tidak masuk dalam pemikiran akal sehat dan buruk saya. Kebaikan dan semua yang ia miliki merupakan sesuatu yang jadi bumerang dalam hidup saya, sesuatu yang membuat bulu kuduk segelintir orang mungkin aneh, atau hanya hal biasa tapi lain bagi saya. Apa karena fenomena malam kota kembang atau ciri khas bagi kaum hawa yang meng-indentikan fashion dengan gemerlapnya kilau lampu kendaraan mewah serta gaulnya para kupu juga kumbang malam atau mungkin ini bagian ternd mode masa kini?.

    Saya tidak tahu pasti namun saya menyayangkan akan terjadinya fenomena ini. Karena bukan masalah ekonomi yang sering diperbincangkan banyak orang yang dampaknya, banyak orang yang rela untuk mempertontonkan atau memberikan sewaan dengan masalah yang berpariasi. Tolong mohon dengan sangat, bagi semua SIAPAPUN ANDA baik Mahasiswa/wi atau pun para Alumnus. Tolong jaga dan jangan perjualkan NAMA BAIK mungkin cukup hanya saya pribadi yang mengalami fenomena ini jangan dengan anda semua….

    Saya bukan seorang muslim sejati namun saya memiliki rasa, dulu memang saya penggemar dunia malam dan bahkan bersembunyi dibalik terangnya matahari kala pagi hingga sore hari. Karena…setiap apa yang saya dapati untuk madu sang para kumbang dan kupu tersebut saya selalu mendapatkannya di salah satu unipersitas di bandung (mohon maaf jika saya sebutkan) “Unisba”. Saya sangat menyayangkan dengan terjadinya hal ini bagi saya masalah pribadi adalah masalah yang harus saya selesaikan sendiri, namun jika hal itu menyangkut khalayak banyak bahkan hingga Organisasi atau Legalitas sebuah Lembaga apakah kita bangga dengan terjadinya fenomena seperti ini?.

    Semula saya tidak percaya bahkan dengan adanya denagan sebutan Kampus Biru bagi sebuah Lembaga/Universitas yang berlandaskan Islami (maaf). Karena W – W yang bersama dengan saya sepanjang kami menjalin hubungan dia mengaku jebolan Unisaba Fak,Hkm setelah saya cek ke-absahan data tersebut memang benar adanya bahkan sekarang pun masih ada yang menjabat sebagai Mahasiswi Unisba.

    Saya harap bagi anda semua untuk mengkaji membenahi diri, jangan pakai kerudung/jilbab kaum hawa hanya untuk luar saja tetapi bagian dalam kita mulai dari Hati, Fikiran, hingga legalitas kita dan semua yang dekat dan berkaitan dengan kehidupan kita baik dunia maupun akhirat kelak, juga para keturunan Adam yang sering melipatkan sarung dan pecinya ketika kita tidak bertemu bahkan mendengar sesuatu untuk menjaga legalitas kita untuk semua….

    Mohon maaf dengan segala kekurangan serta apapun yang dapat membuat negatif suatu permasalahan, saya mohon maaf.

    Hormat serta ucap syukur saya untuk semua juga pengalaman yang membuat saya dapat melihat bukan dengan kedua mata lahir saya yang merubah saya untuk selalu mengingat pada yang di-Atas yang selalu mengawasi kita sepanjang masa…

    Terimakasih..

    Wassalamu`alaikum…

  4. 2007 Januari 4
    Toing Bongkam permalink

    Maaf, ya saudara. bukannya coba menilik kembali atas apa yang anda utarakan.
    tapi kita manusia yang lengkap dengan segala kekuranganya, yang sudah digariskan oleh pemiliknya, mengapa kita tidak mencoba untuk menerima atas setiap jenis kekurangan yang dimiliki oleh orang lain/lembaga/apapun bentuknya yang selain dari diri kita sendiri. toh belum tentu apa yang kita pribadi pikirkan/tela’ah/baca atau usahakan itu akan benar/baik/diterima oleh selain dari diri kita. karena pada dasarnya tak ada yang mutlak di muka bumi. makanya sungguh tak laik bagi kita untuk coba menghakimi seseorang dgn kapasitas kita sebagai sesama manusia.
    bukankah manusia itu memiliki ability belajar dari kesalahan.

  5. 2007 Januari 24

    Dosen Unisba di koreksi?
    Hhhm…..

  6. 2007 Februari 10
    robbi sujarwo permalink

    unisba merupakan kampus konservatif, seperti halnya pesantren baik PMB dan calon sarjana. sama sekali tidak memberikan ilmu apapun kecuali para mahasiswa adalah mahasiswa

  7. 2007 Juli 30

    dosen unisba dikoreksi??
    emang pantes kok.

  8. 2007 Oktober 3
    angkatan 95 permalink

    Assalamualaikum semua……….

    numpang…kasih komentar ya…saya juga alumni..unisba…ketika baca ini..saya kaget..koq masalah g berubah berubah ya..padahal..itu masalah dari jaman saya juga…sama…dulu juga waktu pasantren di ciburial…n kuliah…banyak sekali..hal yang tidak terpuaskan. terutama jika proses belajar di kelas kayanya kebanyakan dosennya cuma text book…maaf ya..kadang kita jauh lebih tahu dari dosen….saya cuma berharap….dosen unisba lebih ditingkatkan lagi mutunya……bagaimanapun mahasiswa butuh..pendorong…untuk membuka wawasannya.

  9. 2007 Oktober 16

    Oktober 16th,2007 pada 21.30
    Ass……………….

    Dosen Unisba di koreksi/dibasmi?????
    Yayasan UNISBA lebih seleksi lagi dalam memilih calon untuk dijadikan “DOSEN”……
    Jgn yang msh punya nyali “ADU OTOT”
    Bukan membimbing mlh menjatuhkan dan kebanyakn mempersulit,,,,,
    Pdhl sudah dikoreksi oleh iklan layanan masyarakat “MAU PINTAR AJA MAHAL”
    Semoga para dosen mempunyai ahlak yang baik,bukan otot yang baik.
    Haturnuhun

  10. 2007 Desember 20

    Yup, benar sekali. Jalan pikiran para dosen di Unisba memang harus diluruskan. kasarnya, otak mereka harus dicuci ulang. Aku dulu kuliah di komunikasi, gak pernah merasa dapat ilmu apa-apa dari sana. Mata kuliah penulsian berita saja, yang ngajarin orang yang gak pernah punya pengalaman praktis di dunia jurnalistik. Itu dosen hanya ngandalin catatan dia waktu kuliah dulu saja. Benar-benar parah.

    Belum lagi menghadapi dosen dengan mentalitas orde baru, suka diangkat telornya. Dibaik2in. Kadung kesalnya, aku dulu kuliah cuma nitip absen doang. Trus beli buku dan belajar sendiri sambil main game komputer di kos-kosan he..he..he..

    Ngomong2 Anda dulu jurusan apa?

    -salam-
    http://iqbalfile.blogspot.com

  11. 2007 Desember 21

    Saya Jurusan Jurnalistik 97.
    Kalo Anda cuman titip absen doang, tanpa kritik, apa beda Anda dengan dosen2 itu?

  12. 2008 Februari 26

    Salam
    Mengritik orang itu mudah, yang “ter”sulit adalah mengritik diri sendiri. Introspeksi dan berbesar hati, dan menyadari kita makhluk Tuhan yang penuh dengan kekurangan, hal ini yang jarang sekali ada di diri manusia yang merasa dirinya “pintar”. Dan yang lebih parah adalah manusia “pintar” ini tidak memiliki cermin.

  13. 2008 Februari 28

    Siapa bilang kritik itu mudah? Membangun kritik itu tidak semudah memaki. Yang sulit adalah, menerima kritik tanpa perlu memaksakan diri untuk membalikan kritik tanpa dasar. Bahwa jika situ adalah dosen, anda sudah membuktikannya.

  14. 2008 April 8
    AksiomaMipa93 permalink

    Jangan pernah tergiur oleh Gedung yang Megah, tempat yg strategis tapi kaji masalah Internal kampus dari mulai Dosen, Akademik serta yg lainnya.
    Salam untuk para Dosen Unisba FMIPA,,
    tolong perhatikan para mahasiswa yang lambat untuk menyelesaikan kuliahnya. Mungkin peran aktif dosen juga menjadi peran bagi mahasiswa untuk menyelesaikan Kuliahnya.
    trimakasih.

  15. 2008 Juli 16
    Gonggo permalink

    Kok ribut soal dosen yang punya pikiran lain. Ya biarkan saja …anda seorang akademisi tentu tidak mempersoalkan perbedaan pendapat. Dosen berpendapat A anda berpendapat B, menurut saya justru itu sangat bagus bagi kelangsungan hidup kampus. Jangan alergi terhadap perbedaan. Coba semuanya pada introspeksi diri. Saya sebagai alumnus sangat prihatin dengan kualitas alumni Unisba sekarang kurang berbobot dalam urusan berpikir. itu pendapat saya kalau ternyata berbeda dengan lainnya, jangan marah lho….Salam semoga kualitasnya dapat ditingkatkan.

  16. 2008 September 6

    Mengintrsopeksi orang lain adalah hal yang paling gampang dilakukan di dunia ini karena sudah pasti nggak ada orang yang benar dan sempurna didunia ini. tapi…… satu hal yang paling sulit didunia ini adalah….”mengkritik diri sendiri” itulah Indonesia, orangnya jago ngomong tapi nggak jago berbuat.
    Kira-kira udah banyak nggak ya alumni unisba yang berhasil? kalau Ya…. makasih bangeut tuh buat dosen n akedemisi yang telah mendidiknya (nggak perlu syirik)

  17. 2008 September 6

    Benar juga kata aak. contoh kang ikbal ternyata beliau juga udah sukses dan beliau juga alumni unisba lho…mungkin ada baiknya beliau jd dosen di unisba kali ya…biar besok giliran beliau yang dikritisi lagi, ha..ha..ha (canda lho kang ikbal nggak perlu serius-serius amat apalagi sampai sewot segala) pake ilmu padi ya kang ikbal “makin berisi makin menunduk” kalau mau gitu lho…

  18. 2009 April 2
    ita permalink

    dengan segala kekurangan dan kelebihan dari universitas itu,.
    sebaiknya bagi kita yang juga pernah menimba ilmu disana jangan hanya mencaki maki apa yang buruk yang terjadi disana..lakukan sesuatu untuk perubahan..

    karena apabila kita hanya bisa mengeritik, berarti kita sama saja dengan apa yang kita ceritakan..

    unisba adalah kampus kita..
    almamater kita yang juga bisa menjadikan kita seperti saat ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya..
    hal yang buruk yang terjadi disana birlah menjadi cerita diantara kita para mahsiswa..tidak usah diumbar..walaupun saya yakin pihak lain pun sudah tau tanpa kita yumbar seperti ini..

    bagaimanapun ilmu yang kita dapat pasti ada..
    sungguh kasian dan sangat disayangkan bagi kalian yang tidak mendapatkan ilmu apapun selama kuliah di unisba..

  19. 2009 Juni 21

    assalamualaikum ..
    apa benar yang anda katakan.
    sebab saya mahasiswa baru unisba.tahun ini.

  20. 2009 Agustus 7

    saya alumni ekonomi unisba manajemen
    gw masih inget nh dosen affandi iss di pukul ma temen gw
    di kampus unisba

    salam

  21. 2009 Oktober 12
    ramdan angkatan 87 tarbiyah permalink

    tolong ditingkatkan kualitas dosen,jangan sampai ketinggalan dengan universitas-universitas yang lainnya,kedepannya moga unisba tambah maju

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS