Kemiskinan Sebagai Keniscayaan?
Seorang kawan, Farhan Ali Afsar dari Mandar, Sulawesi Barat, mengirimkan saya sebuah berita: seorang anak mati bunuh diri dengan minum racun serangga karena malu tak bisa bersekolah. Peristiwa yang terjadi di negeri Farhan itu kemudian dimuat di halaman satu koran lokal Jakarta, Media Indonesia, Jumat (12/4).
Saya tak ikut dalam hiruk pikuk kawan-kawan lain yang juga dikirimkan Farhan atas berita tersebut. Percakapan yang terjadi memang bukan soal apakah bunuh diri tersebut masalah psikologi atau sosiologi, tetapi lebih mengarah pada kemiskinan dan peran kepala daerah, dengan nada miris, prihatin, kutuk mengutuk, dan seterusnya.
Catatan sekadarnya ini tak hendak menyasar pada hal ihwal otonomi daerah. Siapapun tahu perihal otonomi di Indonesia adalah tak jelas. Kata orang, ia macam kepala dilepas buntut dipegang.
Saat Farhan ment-tag-kan saya kejadian bunuh diri tersebut, kebetulan saya baru membaca sebuah buku. Judulnya Surat Menyurat Hatta dan Anak Agung –Menjunjung Tinggi Keagungan Demokrasi dan Mengutuk Kelaliman Diktatur (1987). Ini adalah percakapan dua petinggi Indonesia melalui surat. Yang pertama adalah mantan Perdana Menteri Negara Republik Indonesia (NRI), mantan Perdana Menteri Republik Indonesia Serikat), dan mantan Perdana Menteri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Yang kedua adalah mantan Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT) dari Bali. (more…)
Sang Diktator dan Seputar Konfrontasi dengan Malaysia
Aneh ya, di Hongkong kami bisa masuk, secara resmi, diijinkan di Jakarta. Padahal Hongkong adalah jajahan Inggris 100%, dengan seorang Inggris sebagai gubernur penguasa tertinggi. (more…)
Mimpi
Saya bermimpi, Sultan Negara Ngajogjakarto Hadiningrat menolak keistimewaan yang ada pada kawasannya jika negara lain tak juga diberi keistimewaan. (more…)
Batik, Simbol Diskriminasi
“Kau dan aku berbeda. Tapi apakah kau dan aku memiliki peluang tumbuh yang sama?” (more…)
Selidi
Dia yang berpikir jarang
Tiba-tiba datang
Dengan kesimpulan selidi terbilang
Lalu ucap meluruskan dari yang sebatang
Dominasi Perspektif
“Tiga imam, Kartosuwiryo, Kahar Muzakar, dan Daud Beureuh adalah pejuang, mereka juga ulama. Bagi republik, mereka pahlawan sekaligus lawan. Berjasa luar biasa, namun berada di persimpangan zaman yang beranjak senjakala. Tak cuma DI-TII, Indonesia harus menghadapi Permesta, PRRI, RMS, dan pemberontak lain yang masih saudara… Di masa lalu, pemerintah juga lalai. Demi kepentingan politik, sengaja memelihara anak singa, tanpa sadar singa tetaplah seekor singa.” (more…)
Tuanku
Oh duli tuanku tujuh ke atas
Langit putih menyambar petir gelegar
Hamba di tujuh ke bawah bak burung di biru sunyi
Limbung lagi tak berarah (more…)
Membubarkan DPR
Kasus skandal Bank Century sebetulnya mengingatkan kita bahwa lembaga Dewan Perwakilan Rakyat sesungguhnya entitas yang aneh. Berhari-hari menghabiskan waktu dan uang, namun di ujung tak bisa berbuat lebih. Dan kini mereka hendak melakukan hal yang sama untuk kasus mafia pajak. Dalam semangat reformasi, lembaga tersebut memang perlu dipikirkan untuk dihilangkan. Bukan karena ia warisan Belanda, tetapi juga ia menjadi sesuatu yang tidak diperlukan dan tidak efisien dalam semangat desentralisme. Bahkan, dalam banyak contoh kasus, ia merugikan. (more…)
Ayin Oh Ayin
28 Januari 2011, Artalyta Suryani alias Ayin akhirnya bebas. Ia bisa menghirup udara segar. Tapi bagi saya, ia tak sekedar berita. Ia menjadi salah satu pengalaman berharga saya sebagai seorang kacung kampret. (more…)
Indonesia-Malaysia, Hubungan Pelik Pascakolonial
Bayangkan jika peta Indonesia tidak seperti sekarang. Bayangkan jika Pulau Jawa terbelah menjadi dua negara, satu Indonesia, satu, sebutlah, Javanesia. Sebutlah Yogyakarta menjadi bagian dari Indonesia dan Jawa Tengah menjadi bagian negara lain itu. Akankah ada polemik soal siapa pemilik blangkon? Akankah pelaut tradisional di nonperairan masing-masing disebut pencuri? (more…)
Mendung November
Aku merindu pada ia
Yang diam tafakur
Dengan teh dan buku di tangan
Pada mendung November
Mimpi Besar Asia Tidak di Indonesia
Berkali-kali materi kebudayaan Indonesia dipergunakan oleh Malaysia untuk kepentingan pencitraan. Pertanyaan utama semestinya bukanlah ada apa dengan dengan Malaysia kini, tetapi sedang mimpi apa Indonesia selama ini? (more…)
Mudik adalah Fenomena Gagalnya Desentralisasi
Setiap kali lebaran menjelang, drama sosial mudik selalu terjadi. Dari satu titik, jutaan orang bergerak menyebar ke berbagai titik. Banyak orang menganalogikan mudik sebagai kembai ke asal, kembali ke fitrah, dan semacamnya yang seolah terkait spiritualisme. Tapi sesungguhnya itu bohong belaka. Mudik adalah fenomena gagalnya negara mewujudkan desentralisasi. (more…)
Tak Ada Sales, Jurnalis Pun Jadi
Kondisi tubuh yang kepayahan tak begitu saya hiraukan hari itu. Demam, flu, dan tulang yang berderik saya bawa serta memenuhi sebuah panggilan. Dalam satu percakapan telefon, saya diminta bergabung dengan sebuah koran mingguan baru skala nasional yang segera diterbitkan. (more…)
Sebut Dia Herdjuno Darpito!
Kenapa Ikrar Nusa Bhakti tidak memberikan judul lengkap pada tulisannya yang berjudul Kesengsem kepada Sultan (Kompas, 1/11)? Mengingat banyaknya sultan di negeri ini, bukankah seharusnya Ikrar memberikan judul Kesengsem kepada Sultan Jawa? (more…)
Kolonialisme Dalam Sepotong Sabun
Malaysia pernah melarang produk iklannya menggunakan orang asing sebagai model. Tindakan ini belakangan diikuti Indonesia dengan alasan melindungan industri periklanan dalam negeri. Namun dalam perkembangannya, dari segi isi, kehormatan sebagai orang Indonesia justru kebobolan. (more…)
Puisi Melayu di tahun 1695
Carmen Malaicum
oleh Thomas Hyde, 1695
Rajah di negeri Ingeriz perempuannya
Bermati dan Rajah bergheraq hatinya
Telah men-dengar itu dan segalah
Ra’ayatnya denghan dia jughah tatkalah
Di dalam landarah amat cintah bernangis
Rajah akan perempuannya men-nangis
Mariam bintang ke dalam su’rgah cayah
Ampir malaikat bermumin bercayah



